Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
Anne *


__ADS_3

Hari mengangguk lemah, biarkan saja semuanya terjadi sesuai rencana Aritra. Hari tidak ada kekuatan untuk mencegah penobatan Anne.


Artira menghadap Hari, setelah itu Artira memeluk tubuh Hari. Artira memejamkan matanya menikmati pelukannya dengan Hari.


"Aku merindukan mu hari, aku selalu merindukan pelukannya, jarang sekali aku memeluk mu seperti sekarang." ucap Artira serak.


Hari tidak lagi fokus, Hari menoleh dan ikut membalas pelukan Artira. Hari mengelus rambut hitam milik suami tercintanya.


"Aku juga selalu merindukan pelukan mu suami ku." ucap Hari lembut.


"Ayo kita habiskan malam yang panjang." Artira segera meluma t bibir ranum milik Hari. Hari dengan senang hati membalas perbuatan suami tercintanya mumpung masih bisa mereka lakukan.


*Anne bersenandung senang, entah kenapa mood Anne hari ini sedang baik. Anne berjalan jalan mengitari Kerajaan.


"Wah tidak menyangka aku bertemu dengan mu putri Anne." ucap seseorang dibelakang Anne dan dayang Anne.


Anne memutar tubuhnya kebelakang. Ternyata Dekieta kenapa sih di hari yang cerah dan bahagia Anne harus bertemu dengan Dekieta? sungguh membuat kesal saja. Anne jadi balik lagi ke mood biasa saja.


Anne memberikan penghormatan, dayang Anne mengikuti sikap Anne.


"Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan yang mulia." ucap Anne. Anne tersenyum manis.


Dekieta tersenyum tipis setipis kesabarannya.


Anne terkejut karena sekarang Dekieta memakai baju yang sama dengan Anne.


"Maaf yang mulia, sepertinya gaun yang mulai tampak familiar." ucap Anne.


Anne memandang gaun yang dipakai oleh Dekieta. Dekieta menyunggikan senyumannya.


"Yah memang ini gaun ku, sangat cantik bukan?. Aku juga pernah melihat mu memakai gaun ini. apa jangan jangan kamu meniru desain gaun ini? wah kamu terobsesi menjadi aku ternyata." ucap Dekieta sinis.


Anne menggeleng, "saya sama sekali tidak terobsesi menjadi seperti yang mulia. dan mengenai gaun itu, saya yang pertama kali memakai gaun dengan warna desain seperti gaun yang dipakai yang mulia sekarang jadi saya bukan plagiat." ucap Anne.


Dekieta meradang. "Jadi kamu menyindirku bahwa aku yang plagiat gaun gaun mu!? enak saja, kamu ngaca bukannya kamu yang selalu ingin menjadi diriku!" kesal Dekieta.


Anne tertawa. "Maaf yang mulai aku sama sekali tidak menyindir yang mulia, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."


Tangan Dekieta terkepal, apa Anne bilang Dekieta cepat sekali marah. Kesabaran Dekieta sudah seperti kertas yang terbagi bagi.


"Enak saja, aku yang pertama beli gaun ini, sebaiknya kamu jangan meniru gaya busana ku!" sentak Dekieta.


"Tapi yang mulai, gaun ku motifnya bukan bunga warna merah yang seperti yang mulai pakai saat ini, gaun ku bermotif bunga warna ungu." ucap Anne.

__ADS_1


Dekieta kaget merasa malu.


"Jadi saya bukan plagiat yang mulia bukan? karena motif bunga gaun ku berbeda."


"Kalau begitu saya pamit yang mulia." lanjut Anne meninggalkan Dekieta yang terdiam.


Anne sudah melangkah menjauh tapi Dekieta masih diam.


"Partiiiii." Dekieta berteriak.


Parti segera mendekat, "ada yang dibutuhkan yang mulia?"


Dekieta menatap kesal ke arah dayang pribadinya. "Kenapa kamu salah? katanya kamu bahkan mengingat ingat gaun yang dipakai oleh Anne, tapi kenapa masih salah? dasar tidak becus!" Dekieta kesal kepada Parti.


Parti menunduk takut dan juga ikutan sebal karena tingkah Dekieta yang seenaknya saja, untung masih Parti cariin gaun yang sama persis tapi masih saja kena marah.


'Dasar tukang plagiat.' batin Parti.


Parti tidak bisa mengucapkan kalimat itu secara langsung karena Parti takut jika nantinya Parti akan dihukum mati oleh yang mulia yang cantik jelita siapa lagi kalau bukan Dekieta.


"Apakah saya perlu mengganti gaun yang mulia? saya akan meminta designer pribadi untuk Menganti kain dan merancang kembali." ucap Parti


Parti masih baik menawarkan Dekieta gaun dengan desain yang sama cuman mengganti motif bunga bukan motif tapi warna bunga.


"Aku ingin kembali kekediaman ku, aku ingin mengganti gaun ini, dan buang gaun ini." dengan entengnya Dekieta berbicara seperti ini, memang yah kalau punya banyak uang suka membuang buang hanya karena barang yang diinginkan.


"Baik yang mulia." Dekieta melangkah dahulu, Parti dan dayang dayang Dekieta segera melangkah mengikuti langkah Dekieta.


* Anne duduk dipojokan gazebo taman bunga. Anne menggoyangkan kakinya. Anne senang karena bisa membuat Dekieta malu. Tanpa Dekieta sadari dayang dayang Dekieta tertawa karena ulah Dekieta sendiri yang meniru gaun Anne.


Anne menatap Yeni. "Dayang senior." Anne memanggil Yeni.


Yeni mendekat kearah Anne. "Apa ada yang diperlukan tuan putri?" tanya Yeni.


Anne mengangguk. "Aku ingin bertanya tentang sesuatu."


Yeni mendongak menatap Anne. "Tuan putri ingin bertanya tentang apa?"


"Dimana kamu mendapatkan gaun itu? apa sama dengan designer yang digunakan oleh Putri Dekieta." Anne bertanya karena panasaran.


Yeni menunduk. "Saya tidak tahu tuan putri. tapi sepertinya designernya memang sama, karena kain yang dipakai tuan putri dan putri Dekieta hanya diproduksi oleh designer dan pembuat kain itu." ungkap Yeni.


Anne menganggukkan kepalanya, "ya sudahlah, lain kali aku ingin bagian butik kerajaan saja yang membuatkan ku gaun." Anne bukan menyesal hanya saja Anne lebih baik melakukan itu untuk menghindari Dekieta yang mengatakan Anne plagiat, kalau gaun dari butik untuk tuan putri pasti ada perbedaannya jadi lebih baik Anne memakai gaun dari butik kerajaan.

__ADS_1


Anne menatap bunga bunga yang bergoyang karena Angin. Anne ingin seperti bunga, walaupun diterpa angin tapi Bunga masih bertahan pada tangkai dan indah.


"Indah sekali." gumam Anne.


"Tuan putri." teriak seseorang laki laki yang mengalihkan atensi Anne dan beberapa orang yang berada ditaman.


"Yohan?" Anne merasa familiar, apakah benar Yohan? tapi buat apa Yohan berada dikerajaan?


Yohan melangkah mendekat ke arah Anne. "Selamat siang tuan putri." sapa Yohan untuk Anne.


Anne tersenyum menanggapi sapaan dari Yohan. "Ada perlu apa kamu kesini Yohan?" Anne bertanya dengan senyuman yang tidak pernah luntur.


"Saya hanya ingin berjalan jalan disekitar kerajaan tuan putri." bohong sekali, padahal niat awal Yohan adalah untuk bertemu dengan Anne. Yohan sudah bucin padahal Anne belum tentu mau bersama Yohan.


"Ku kira kamu akan menemui yang mulia ternyata salah." ucap Anne.


"Tidak tuan putri, karena pertemuan itu masih lama."


Hening seketika, Anne memilih untuk menatap bunga bunga sedangkan Yohan masih berpikir untuk merangkai kata kata.


"Tuan putri suka melihat bunga bunga?" Yohan bertanya.


Anne mengangguk antusias, "semua orang didunia pasti suka dengan bunga."


"Yah memang dan saya juga sedang terpukau dengan bunga hidup, lebih indah dari pada bunga bunga disini." ungkap Yohan


Bunga hidup yang dimaksud Yohan adalah Anne, Anne yang selalu tampak indah dan cantik Dimata Yohan. Yohan terus menatap wajah wanita cantik yang kini sedang menatap Yohan.


"Bunga hidup? bukannya semua bunga disini hidup?" Anne kebingungan.


Wah Yohan kelimpungan jawab nya, kenapa mulut Yohan asal bicara sih? kan jadi susah sendiri cari alasannya.


"Maksud saya bunga hidup itu bunga yang lebih berwarna daripada bunga disini tuan putri." jawab Yohan.


Anne tampak curiga, "dimana bunga itu? apakah benar ada bunga yang lebih indah daripada bunga ditaman ini? dimana? aku ingin kesana." ucap Anne.


Yohan menatap Anne dengan tatapan yang sulit diartikan.


'Mampus.' batin Yohan


Yohan kelimpungan sendiri tidak bisa menjawab perkataan Anne, lidah Yohan kelu.


'Bagaimana ini?' batin Yohan panik.

__ADS_1


__ADS_2