
"Jangan lupa beri hukuman jika wanita itu benar benar jahat, kalau bisa langsung bunuh saja." celutuk warga lain yang diangguki warga lainnya.
Mereka tidak mungkin membiarkan kejadian tahun lalu kembali terulang hanya karena mereka lengah dan baik hati menerima orang asing. Semoga saja keputusan ketua daerah Ye benar dan dirinya tidak akan menyesalinya.
"Biarkan mereka beristirahat terdahulu pak, setelah wanita kaya itu bangun, saya akan aja bicara." ucap ketua daerah Ye.
Warga mengangguk mengerti, mereka melanjutkan kegiatan mereka masing masing yang sempat tertunda.
Matahari sudah hampir tenggelam, para dayang dan pengawal juga sudah mulai banyak yang membersihkan badan.
Anne baru saja bangun, sekarang tujuan Anne adalah mandi. Anne membuka pintu tenda.
Ena, Dora dan Sarah serta dayang lain yang melihat Anne sudah terbangun segera mendekat kearah Anne.
"Tuan putri, apakah tuan putri ingin berendam?" tanya Sarah.
Anne mengangguk, badannya semua lengket mungkin karena keringetan saat perjalanan dan Anne belum mandi jadi badannya lengket.
Anne langsung diarahkan ke arah pemandian. Disana sudah ada bath up dan bunga bunga serta air. Tempatnya juga sudah ditutup dengan alas alas dari daun kering. Yah, beginilah kehidupan ketika mereka sedang bertugas.
Anne dan dayang masuk kedalam bilik itu. Gaun luaran Anne segera dilepas oleh para dayang, Anne mandi menggunakan gaun dalaman. Anne segera berendam didalam bak penuh air dan bunga, air dari bak itu wangi semerbak bunga, entah para pengawal dan dayang mencari bunga dimana, tapi air ini wangi.
Anne menutup matanya ketika merasakan dinginnya air, jiwa Anne merasa lebih tenang. Para dayang yang bertugas segera menggosok kulit putih Anne tidak lupa ada yang bertugas menimba air.
Setelah selesai mandi, para dayang menyiapkan makanan sarapan untuk Anne.
"Terima kasih." ucap Anne.
Para dayang tersenyum menanggapi.
Setelah selesai rutinitas pagi hari, Anne mulai berbaur dengan para warga. Terlihat sekarang para warga lumayan akrab dengan Anne, walaupun mereka ada yang masih takut dengan Anne.
Tapi banyak juga yang menolak kehadiran Anne disini, mereka bahkan menyindir Anne secara terang terangan.
Anne menatap Sarah.
"Kenapa wajah tuan putri cemberut? Apakah ada yang membuat tuan putri tidak nyaman disini?" tanya Sarah.
Anne menggeleng, Anne hanya kepikiran apakah Anne bisa menyelesaikan tugas pertamanya dengan baik? Anne takut jika tugas pertama Anne gagal.
"Tuan putri sepertinya banyak pikiran." bisik Dora kepada Ena tapi Anne dan Sarah masih bisa mendengar bisikan itu.
__ADS_1
Anne tersenyum menanggapi bisikan Dora itu. Ena yang tau jika Anne mendengar segera memukul pelan bibir Dora.
"Kamu tuh yah kalau bisik bisik lirihkan suara mu Dora." peringatan dari Ena.
Dora meringis karena merasakan sakit pada bibirnya.
"Yah aku tidak tau jika tuan putri mendengarnya." bisik Dora kepada ***.
*** menghela nafas lelah, pusing Ena kalau melihat kelakuan Dora.
"Saya jadi kurang percaya diri jika bisa menyelesaikan tugas ini." ucap Anne tiba tiba.
Ketiga dayang yang mendengar ucapan Anne itu ikutan sedih.
"Tuan putri harus percaya diri. Jangan menyerah tuan putri." Anne dapat semangat dari Sarah.
"Apakah tidak apa apa jika seorang putri tidak memenuhi tugasnya? saya takut dihujat nanti saat pulang ke kerajaan." Anne jadi galau.
Mereka berempat jadi sedih bersama sama. Kasian juga menjadi Anne, ternyata hidup menjadi Putri masih ada masalah.
"Kita coba lagi tuan putri, mungkin warga sini jika kita sudah lama disini pasti akan luluh juga bukan? Yang penting kita semua tidak pernah membuat masalah." seru Dora.
Anne tersenyum senang ternyata masih banyak yang mendukung Anne. "Terima kasih Dora." ucap Anne tulus.
Mendapatkan semangat dari para dayang, Anne kembali berusaha untuk mendekatkan diri kepada warga desa Ye. Benar kata Sarah jika Anne tidak boleh menyerah.
Anne mengusap peluhnya diatas keningnya, biasanya Anne tidak akan berkeringat seperti ini walaupun beraktivitas berat tapi hari ini keringat mengucur deras.
*Ada teriak yang membuat warga desa Ye gempar, teriakan itu dari laki laki yang sedang menggendong seorang anak kecil.
Terlihat jika Anak kecil itu terluka parah diarea betis dan luka ringan diseluruh tubuhnya. Warga desa Ye segera menggerombol melihat dan memeriksa keadaan anak kecil itu.
Anne segera mendekat.
"Ya ampun ini kenapa bisa begini?" teriak ibu ibu frustasi.
Memang yah ibu ibu itu nomer satu membuat kepanikan.
Anne meringis melihat luka yang ada ditubuh bocah laki laki itu, seketika Anne juga merasakan sakit diarea tubuhnya.
"Kenapa ini? Apakah disergap babi hutan?" tanya bapak bapak.
__ADS_1
Bapak yang tadi menggendong anak itu menggeleng, "anak laki laki ku jatuh kedalam jurang, kasian sekali anak ku, malang sekali nasib mu." bapak itu menangis.
Ternyata memang bocah laki laki itu belum kembali kedesa Ye setelah pamit akan mencari akar ilang ilang yang ada berada ditengah hutan sampai malam bocah itu belum kembali membuat risau orang tuanya. Orang tuanya segera mencari keberadaan bocah kecil itu ditempat biasa mereka mencari ilang ilang, pada saat dicari bocah itu tidak ada disana tapi orang tuanya mendengar ringisan lirih dari bawah jurang segera mereka turun ke jurang dengan hati hati.
Hancur hati mereka ketika menemukan anaknya kesakitan dan penuh luka. Mereka segera membawa bocah laki laki itu kembali kerumah.
Ibu bocah laki laki itu bahkan sampai pingsan tau jika anaknya mendapatkan musibah.
Nafas bocah laki laki itu juga tersegal segal seperti menahan sakit yang luar biasa tapi hebat bocah laki laki itu masih bisa bertahan.
"Kita harus bagaimana ketua? Kita tidak punya uang untuk berobat ke tabib." risau orang tua bocah laki laki.
Masih ingat bukan? Jika desa Ye adalah desa termiskin, didesa ini benar benar miskin bahkan mereka banyak yang tidak punya koin, mereka bisa hidup mengandalkan makanan hasil dari dalam hutan. Anne jadi miris dengan kehidupan mereka.
Sang ketua mengusap wajahnya kasar, pusing tiba tiba mendera kepalanya. Ketua daerah Ye merasa kasian dengan anak kecil itu.
"Saya akan mencari uang ke pasar nanti uangnya akan aku berikan kepada mu." putus Ketua daerah Ye.
Yah dari puluhan warga yang bekerja keluar daerah hanya sepuluh orang, bagaimana daerah bisa berkembang jika orang orang hanya mengandalkan orang lain?
Orang tua itu masih menangis, "tidak bisa tuan, tidak bisa. anda mungkin kembali setelah lima hari kerja disaat itu anak saya sudah sakaratul maut." ucap orang tua itu.
Anne jadi kebingungan sendiri.
"Lalu saya harus bagaimana?" ketua daerah Ye terlihat sangat frustasi.
Para warga hanya saling pandang, mereka tidak bisa membantu secara finansial untuk berobat ke tabib mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk bocah lelaki itu.
"Apa memang ketua tidak punya uang sepeserpun sekarang? saya ingin meminta tolong."
Ketua daerah Ye menggeleng, dirinya memang tidak punya uang yang pas untuk ke tabib, dirinya hanya punya 4 koin saja.
Orang tua bocah kecil itu menangis, mereka sudah pasrah jika anak mereka tidak bisa selamat.
Anne yang melihat itu jadi ikutan menangis. Sedih sekali nasib keluarga bocah kecil itu, bukan cuman keluarga bocah kecil itu tapi semua warga di daerah Ye.
Dipikiran Anne terlintas buku tentang obat obatan. Anne terdiam.
'Benar kenapa aku tidak kepikiran jika ada tumbuhan yang bisa meredakan luka.' batin Anne.
Karena kepintaran Anne, Anne dapat mengingat tumbuhan itu, bahkan Anne hapal dengan ciri ciri daun penyembuh luka itu. Anne tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
__ADS_1