Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
80


__ADS_3

3 hari surat Yohan baru saja sampai ditangan Raja Artira. Raja Artira baru mengecek surat surat yang ada, Raja Artira memang menyuruh pelayan untuk menyortir surat surat pribadi dan surat kepentingan khalayak banyak seperti surat dari pemerintahan dan setelah disortir Raja Artira mengutamakan surat pemerintahan dari pada surat pribadi.


Saat ini Raja Artira baru bisa membaca surat pribadi yang ditunjukan untuk dirinya. Surat pribadi banyak yang meminta keringanan hukuman, kebanyakan surat surat pribadi berasal dari tahanan.


Raja Artira geleng geleng kepala kenapa mereka semua meminta keringanan padahal jelas jelas kesalahan mereka berat. Mereka sepertinya lupa atas kesalahan mereka sendiri.


Raja Artira hampir bosan karena surat pribadi isinya hanya itu itu saja.


Raja Artira mengambil satu surat lagi diantara puluhan surat lainnya, Raja Artira tertarik dengan surat itu entah kenapa.


Raja Artira membuka lembaran surat itu. Ternyata surat itu dari Yohan gubernur daerah A. Tumben sekali Yohan mengirimkan surat, ada apa ini?


Raja Artira semakin penasaran dengan isi surat tersebut.


Raja Artira membaca surat tersebut, dan kalian tau apa isinya? Ternyata surat itu berisi Yohan ingin menjadikan Anne sebagai istrinya. Membaca surat dari Yohan membuat senyum merekah tapi tidak lama Raja Artira termenung.


Raja Artira takut jika Yohan hanya bermain main dengan Anne. Walaupun Raja Artira tidak dekat dengan Anne tapi Raja Artira juga menyayangi Anne. Rasanya tidak rela melepaskan Anne untuk laki laki lain padahal belum tentu mereka secepatnya melangsungkan pernikahan.


Raja Artira menyimpan surat itu kembali, dirinya akan berbicara tentang surat ini dengan Ratu. Raja Artira membutuhkan pilihan orang lain.


"Pengawal masuklah." perintah Artira.


Satu pengawal segera masuk kedalam ruang kerja Artira.


"Pengawal tolong panggil Yang mulia ratu untuk menemui ku." perintah dari Artira.


Pengawal itu mengangguk dan melangkah meninggalkan ruangan kerja Artira.


* Dayang pribadi Rimba datang masuk kedalam kamar pribadi Rimba setelah diijinkan masuk oleh Rimba.


Rimba menoleh karena kedatangan Datang pribadinya.


"Ada apa?" tanya Rimba.


Dayang pribadi menunduk, "Yang mulia anda diperintahkan untuk menemui yang mulia Raja." ucap dayang pribadi.


Mata Rimba memincing, ada apa? Sepertinya ada masalah yang harus diselesaikan berdua dengan Raja karena jarang sekali Artira memanggil Rimba ke ruangan kerja pribadinya.


"Bilang, aku akan kesana setelah aku bersiap siap."


"Baik yang mulia." Dayang pribadi segera melangkah menjauh.

__ADS_1


Dayang pribadi tidak lupa mengatakan kepada pengawal raja.


*Sekitar 8 menit kemudian Rimba sudah berada didepan pintu ruang kerja dari Artira.


Pengawal segera mengatakan kedatangan Rimba.


Artira yang mengetahui itu segera mempersilahkan Rimba untuk masuk.


Rimba dengan berjalan anggun masuk kedalam ruangan kerja Artira.


Rimba duduk dihadapan Raja Artira. Raja dan Rimba masih saling diam padahal Rimba sudah penasaran kenapa Artira memanggilnya.


Mungkin memang harus Rimba dulu yang berbicara mengingat jika Artira pria dingin yang tidak berbicara panjang lebar.


"Kenapa anda memanggil saya yang mulia?" akhirnya Rimba bertanya.


Rimba menatap wajah tampan dihadapannya, wajah yang tidak pernah membosankan untuk dilihat.


"Aku menerima surat dari seorang gubernur yang ingin menjadikan Anne sebagai calon pasangannya, apakah kamu setuju jika aku menyetujui permintaan gubernur itu jika kamu menjadi aku?" tanya Artira.


Diam diam Rimba tercengang atas fakta itu, jadi ada yang diam diam menyukai Anne? Dan orang itu adalah seorang gubernur?


Apakah orang itu bisa menjadi lawan ketika bersanding dengan Anne untuk melengserkan posisi Dekeita. Semoga saja tidak.


"Aku mengenalnya tapi aku dan dia tidak dekat hanya saling kenal untuk urusan pekerjaan." jawab Artira.


'Jadi mereka sudah pernah ketemu?' batin Rimba.


"Sepertinya saya yakin jika pria itu adalah pria baik." ucap Rimba.


Artira mengangguk setuju dengan perkataan Rimba karena sepengetahuan Artira, Yohan memang seorang pemimpin yang patuh dan bijaksana dalam memimpin tapi entahlah untuk urusan bersama dengan seorang wanita apakah Yohan baik hati atau tidak, Artira belum mengetahui itu.


"Apakah anda juga menyetujui jika orang itu menikah dengan putri Anne?" lagi lagi Rimba bertanya.


Raja Artira menghirup udara banyak banyak. "Aku belum bisa menyetujuinya, aku juga harus bertanya kepada Hari untuk meminta pendapatnya." ucap Artira.


Rimba yang mendengar ucapan itu berubah tidak suka, kenapa hari jadi ikut ikutan sih?


"Kenapa anda meminta pendapatnya? Apakah pendapat saya belum bisa membuat anda yakin?" kilatan amarah terlihat dari mata Rimba.


Kalau menyangkut Hari pasti Rimba akan marah, entah kenapa Rimba memang sensitif jika menyangkut dengan Hari, apakah Rimba takut kalah saing? Atau takut kalah kasih sayang?

__ADS_1


"Aku harus tetap meminta pendapat dari Hari, kamu tau kalau Hari juga berperan penting dalam kehidupan Anne." ungkap Artira.


"Baiklah saya mengerti yang mulia, tapi sebaiknya meminta pendapat kepada Selir Hari dilakukan besok pagi saja."


Rimba tidak mau jika Hari nanti akan menghabiskan waktu bersama dengan pria yang dicintai habis habisan oleh Rimba, Rimba tidak akan rela.


Artira menggeleng dan akan tetap akan bertemu dengan Hari.


"Anda akan bertemu Selir Hari disini atau anda akan menemui selir hari dikediamannya?" tanya Rimba dengan hati yang was was. Rimba mempunyai firasat yang akan membawa Selir Hari keberuntungan.


"Aku akan datang ke kediaman Hari." jawab Artira tanpa menengok dan menatap Rimba.


Rimba mengepalkan tangannya. Rimba berusaha menenangkan hatinya yang sakit seperti diremas remas.


"Sepertinya kali ini anda tidak adil yang mulia." ucap Rimba tiba tiba.


Artira memandang Rimba dengan alis terangkat satu, "tidak adil? Tidak adil bagaimana?" tanya Artira penasaran karena menurut Artira dirinya sudah adil.


"Anda akan mengunjungi Selir Hari tapi kenapa tadi saya malah disuruh kesini? kenapa anda juga tidak mengunjungi kediaman saya? Apakah anda lebih menyukai selir Hari?" tanya Rimba dengan mata yang menatap tajam. Rimba tidak akan menangis.


Artira geleng geleng kepala tidak percaya dengan ucapan dari Rimba. "Kenapa kamu selalu begitu Rimba? Kamu belum puas atas semuanya?"


"Tadi aku sibuk dan tidak bisa menemui mu dikediaman mu, aku hanya bisa menyuruh pengawal dan malam ini aku tidak sibuk dan bisa menemui Selir Hari dikediamannya. Aku juga harus secepatnya meminta penjelasan dari Hariz tolonglah beri pengertian." lanjut Artira.


Rimba menggeleng, Rimba beranjak berdiri dan melangkah mendekat kearah Artira. Rimba duduk disebelah Artira.


Rimba meletakan jari jarinya di pipi wajah Artira, Rimba membuat Artira menoleh ke arahnya.


"Dari dulu aku selalu kalah dengan nya." lirih Rimba.


Kalau sudah aku kamu artinya saat ini adalah waktu quality time Rimba, dan rimba tidak akan menghormati Artira sebagai Raja, quality time mereka tak kalah hanya ada mereka berdua.


Artira melengos menatap kearah lain selain menatap wajah Rimba.


"Kamu tidak pernah kalah Rimba. Yang ada Dia yang mengalah untuk kita berdua, tolong biarkan dia juga menerima cinta ku." lirih Artira.


Rimba menggenggam tangan Artira. "Dari dulu aku sudah pernah bilang bukan kalau cinta mu hanya untuk ku seorang Artira." ucap Rimba.


Artira melepaskan genggaman tangan Rimba.


"Kumohon Rimba, aku hanya akan menjelaskan masalah surat itu tidak lebih." ungkap Artira.

__ADS_1


Rimba tertawa sendiri mendengar ucapan dari Artira, "kamu bohong Artira."


Artira menggeleng berusaha untuk membuat Rimba percaya kepadanya.


__ADS_2