
"Dayang disini sudah cukup bukan tuan putri?" Dayang senior bertanya.
Anne kembali memperhatikan para dayang yang tersisa.
"Kalau aku minta sendiri disini, apakah boleh dayang senior?" Anne bertanya.
Dayang senior menggeleng, "tidak bisa tuan putri."
"Yah, kenapa?"
"Kita dibayar dengan bekerja kepada tuan putri, tapi jika tuan putri menyuruh kita tidak bekerja maka kami memakan gaji buta."
Anne menggeleng. "Hanya sebentar dan satu kali ini saja. Yah, yah aku benar benar ingin sendiri."
Dayang senior menggeleng. "Tetap tidak bisa tuan putri."
Karena sudah kesal akhirnya Anne memilih untuk melanjutkan kegiatannya yang membaca buku.
Anne bahkan tidak sadar jika Dayang senior meninggalkan kediaman Anne.
Dayang senior berjalan menuju kekediaman Yang Mulia Raja.
Sampai didepan ruang kerja Raja, pengawal pribadi segera membukakan pintu karena pengawal pribadi tau jika yang berkunjung adalah dayang senior.
Melihat kedatangan dayang senior membuat Raja penasaran.
"Ada perlu apa kamu kemari?" Yang mulai raja bertanya.
Dayang Senior melakukan penghormatan terlebih dahulu.
"Saya datang ingin mengungkapkan sesuatu Yang Mulia." ucap Dayang senior.
Kening Raja Artira mengkerut. "Apa itu?"
Dayang senior menghirup udara terlebih dahulu. "Selir hari memberikan hukuman kepada Tuan putri Anne karena telah meninggalkan kerajaan tanpa sepengetahuannya. Rencananya hari ini Putri Anne akan menjalani hukumannya tapi karena kondisi putri Anne yang tidak memungkinkan, apakah hukumannya bisa ditunda terlebih dahulu?" Dayang senior merasa kasihan dengan putri Anne. Dayang senior melakukan ini agar keadaan Anne bisa membaik.
"Dihukum? Selir hari menghukum Anne?" Raja tampak terkejut.
Dayang senior mengangguk. "Benar yang mulia, Selir hari menghukum tuan putri."
"Saya kesini hanya ingin menyampaikan itu dan meminta keringanan, saya sangat kasian dengan keadaan tuan putri yang kelelahan." lanjut Dayang senior.
Mendengar bahwa anaknya dihukum membuat Raja Artira kesal dengan selir hari. Tangan Raja Artira mengepal.
"Kamu boleh pergi, bicaralah dengan Anne bahwa hukumannya sudah tidak ada." perintah dari Raja.
__ADS_1
Dayang senior mengangguk dan meninggalkan ruangan kerja Raja.
*Raja Artira berjalan tergesa gesa, pelayan dan para dayang mengikuti langkah Raja dengan perasaan was was, biasanya kalau Raja berjalan seperti ini maka akan ada masalah besar. Raja sudah jarang berjalan seperti ini, membuat orang yang melihatnya menjadi takut.
Raja Artira berhenti melangkah didepan pintu kamar Selir Hari. Raja Artira menatap pintu kamar dengan tatapan tajam, entah kenapa Raja Artira begitu kesal dengan Selir Hari.
Dayang senior yang bertugas melayani Selir hari segera mendekat kearah Yang Mulia Raja. Dayang senior tidak lupa untuk memberi penghormatan terlebih dahulu.
"Apakah yang mulia ingin bertemu dengan Selir?" dayang senior bertanya.
Tidak ada jawaban dari mulut Artira. Artira menatap dayang senior dengan tatapan malas.
"Beri tahu kepada majikan mu untuk keluar dari kamarnya." ucap Raja Artira dingin. Sifat Raja Artira yang dingin membuat siapa saja menelan ludah saking takutnya.
Dayang Senior segera mengangguk dan langsung membukakan pintu untuk Raja Artira. Selir hari tentu terkejut dengan kedatangan Raja Artira yang begitu mendalam, bukannya Raja Artira selalu datang saat malam hari? kenapa sekarang datang dipagi hari seperti ini?. Selir Hari menatap wajah Raja Artira, Selir hari was was melihat wajah kaku dari sang pujaan hati.
Selir hari segera berdiri dan memberikan penghormatan.
"Ada perlu apa yang mulia datang kesini?" dengan suara lembut Hari bertanya.
"Kamu benar menghukum Anne?" Artira tidak ingin basa basi.
Selir Hari mendongak menatap Artira dengan tatapan kaget, dari mana Artira tau jika Hari menghukum Anne?
Selir hari mengangguk. Tangan Artira mengepal.
Mulut Hari tercekat tidak bisa berkata kata. Hari benar benar ketakutan sekarang.
Artira meraih tangan dari Hari. Artira mengengam tangan Hari dengan erat. Tangan Hari kesakitan.
"Lepas." ucap Hari
Namun bukannya terlepas Artira malah mempererat genggamannya.
"Aku peringatkan kamu sekali lagi Hari, kalau kamu berani seperti ini maka akibatnya kamu yang akan terkena masalah dengan Rimba." ucap Artira.
Hari jadi kesal karena Artira mengucapkan nama Rimba. Hari tidak suka dengan Rimba. Hari menyentak tangan Artira. Hari menatap tajam Artira.
"Ingat yang mulia, aku tidak akan kalah dari kalian berdua."
Setelah itu Hari meninggalkan kamarnya. Artira menatap kepergian Hari dengan hari yang sedih, Hari masih belum bisa menerima Rimba.
Artira meninggalkan kamar Hari. Artira tidak lupa meninggalkan pesan untuk Hari, pesan tentang pembebasan Anne dari hukumannya. Kalau Hari semakin membenci Artira maka akan Artira terima dengan lapang dada, dari jauh jauh hari yang ada bukan rasa sayang yang berkumpul dari Hari hanya rasa sakit yang semakin bertambah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Dayang senior segera kembali kekediaman Anne. Disana Anne masih sibuk dengan buku bukunya.
"Tuan putri." Dayang senior Yeni menyapa Anne.
Anne menatap Dayang senior, kemudian Anne kembali fokus pada buku bukunya.
"Ada apa Dayang senior?"
"Tuan putri bisa beristirahat, hukuman dari Selir Hari sudah tidak berlaku." ungkap Dayang senior.
Mata Anne tidak lagi fokus pada tulisan sekarang Anne fokus menatap Dayang senior. Anne terkejut dengan berita yang disampaikan dayang senior.
"Apa? hukumannya sudah berakhir? apa sekarang sudah sore? tapi sepertinya masih siang?" Anne menatap langit, langit masih cerah jadi masih siang.
"Saat ini masih siang tuan putri."
Anne menatap Yeni dengan tatapan kebingungan.
"Lalu kenapa hukuman ku sudah berakhir?"
"Saya datang kepada Yang Mulia Raja, saya meminta keringanan untuk tuan putri agar tidak dihukum." ungkap Dayang Senior.
Anne semakin tidak percaya. "Kamu datang kepada Yang Mulia Raja? hanya untuk hal seperti ini?"
"Apa Yang Mulia raja marah saat mendengar aku dihukum?" Anne penasaran.
Yeni mengangguk, "Yang Mulia terlihat murka."
Anne terdiam, ternyata ayahnya bisa khawatir kepada Anne.
"Lalu apakah Ayah marah kepada Selir Hari?"
"Saya tidak tau tuan putri, tapi sepertinya Yang Mulia Raja murka kepada Selir Hari." ungkap Yeni.
Anne menghela nafas kasar, kasian sekali jika selir hari terkena amukan dari Raja.
"Aku jadi kasian dengan Selir Hari." ucap Anne.
Yeni menatap kebingungan kepada Anne. "Kenapa tuan putri khawatir dengan Selir Hari?"
Anne menunduk. "Walaupun aku dihukum, tapi menurutku hukuman ini ringan. Aku malah ingin berterimakasih karena hukuman selir hari aku bisa full belajar." ungkap Anne.
"Hukuman ku sudah berakhir bukan? aku akan keluar." lanjut Anne.
Anne segera membereskan tumpukan buku. Yeni panik, "tuan putri mau kemana?"
__ADS_1
Anne segera memakai sandalnya. "Aku ingin mencari selir hari." jawab Anne.
Yeni segera mendekat, "mau apa? sebaiknya tuan putri beristirahat saja, kesehatan tuan putri menurun."