Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
Anne *


__ADS_3

Sinar matahari menyinari kediaman Anne. Anne sudah bangun dan sekarang sedang mandi.


"Saya akan mulai menaburi kelopak bunganya tuan putri." ucap dayang.


Anne menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Dayang dayang mulai menaburi kolam mandi dengan kelopak bunga berwarna warni yang mempunyai khasiat tersendiri.


Anne memejamkan mata saking nikmatnya berendam dengan ditemani banyak bunga. Air buat berendam pun semakin harum karena ditaburi kelopak bunga.


"Tuan putri, apakah tuan putri mau menambah air hangat?" tawar dayang.


Anne mengangguk, "aku ingin air hangat, rasanya pagi ini terasa dingin sekali."


"Benar praduga putri, karena dipegunungan tertinggi sudah muncul salju." ucap dayang.


"Apa aku bisa kesana?" Anne bertanya.


Dayang kemudian menggeleng, "tuan putri tidak bisa kesana, disana rawan bahaya."


Anne sudah menyelesaikan mandi paginya, kali ini Anne sedang sarapan. Anne memakan hidangan yang tersaji, setelah sarapan Anne melamun didalam kamarnya.


"Hemmm, aku bosan sekali." gumam Anne.


Anne memasukan wajahnya kedalam lipatan kedua tangannya. Dulu saat masih dikurung didalam kediamannya Anne tidak merasa bosan, tapi setelah mengenal dunia luar dan sudah menjelajahi bagian kerajaan walaupun belum sepenuhnya tapi Anne sudah merasa bosan, rasanya Anne ingin pergi lebih jauh, apakah para readers ada ide kemana seharusnya Anne pergi?


Terlintas dipikiran Anne, Anne ingin mengunjungi Yohan, eh bukan mengunjungi Yohan tapi jalan jalan disekitar daerah yang dipimpin oleh Yohan.


Anne mendongakkan kepalanya dan mencari keberadaan Tuv.


"Tuv." Anne memanggil Tuv.


Masih tidak ada sahutan dari Tuv.


"Tuv." Anne kembali memanggil Tuv, tapi Tuv tidak menyahut panggilan dari Anne.

__ADS_1


Anne merasa bahwa Tuv pasti tidak berada disekitar kamar Anne. Apa yang dilakukan Tuv kali ini? Anne jadi khawatir kalau Tuv akan mendapatkan fitnahan masal lagi. Anne menghembuskan nafas gusar berusaha membuang pemikiran negatif tentang Tuv.


Daripada menerka nerka pikiran lebih baik Anne langsung bertanya saja kepada Dayang yang berjaga didepan kamarnya.


"Dayang senior." kali ini Anne memanggil Yeri.


"Yah ada apa tuan putri? Apakah ada yang tuan putri butuhkan?" sahut Yeri masih didepan pintu kamar Anne.


"Apakah Tuv berada disekitar sini?"


"Tidak tuan putri, Tuv pergi sekitar sepuluh menit yang lalu." jawab Yeri.


Anne memilih untuk melangkah dan membuka pintu.


"Kemana Tuv pergi? Apakah dayang senior mengetahuinya Yeri?" Anne bertanya sambil menatap sekelilingnya ternyata benar apa yang dikatakan Yeri, Tuv tidak ada disini.


Yeri menunduk, "saya tidak tau tuan putri."


Anne menghembuskan nafas lelah.


Anne termenung sedang memikirkan tawaran dari Yeri, daripada Anne lelah karena bisa jadi Anne tidak menemukan keberadaan Tuv, lebih baik Anne memutuskan Yeri saja yang mencari keberadaan Tuv atau dayang lain, dayang dayang disini juga pasti lebih mengenal seluruh bagian kerajaan bukan?


"Dayang senior bisa memerintah dayang lain saja untuk mencari Tuv, nanti dayang senior tetap berjaga disini saja." ungkap Anne.


Yeri mengangguk hormat mematuhi perkataan dari Anne. "Baik tuan putri."


Anne kembali masuk kedalam kamarnya dan menunggu kedatangan Tuv, sedangkan Yeri segera menyuruh dayang untuk mencari Tuv.


Tuv memandangi pohon yang sedang berbuah, buahnya sangat lebat sekali, air liur Tuv hampir saja menetes.


'Aku tidak sabar untuk melahap buah itu.' batin Tuv.


Tuv memperhatikan sekelilingnya yang sepi tidak ada orang yang berlalu-lalang, kalau ada seorang pria atau pengawal pasti Tuv akan meminta bantuan agar bisa mengambil buah yang bergelantungan diatas pohon.


Tuv kembali mengedarkan pandangannya. Ada salah satu dayang yang dikenal Tuv sedang berlari kearah Tuv.

__ADS_1


"Bala bantuan datang." Tuv senang.


Dayang itu berhenti ketika dekat dengan Tuv, nafas dayang itu juga tersegal segal mungkin karena capek mencari Tuv.


"Ternyata anda disini kak Tuv, aku dari tadi mencari mu." ungkap dayang itu.


Tuv tidak mengindahkan perkataan dayang itu, Tuv menarik tangan dayang itu, dayang itu kaget.


"Aku mau dibawa kemana kak Tuv?" dayang itu bertanya dengan nada pasrah. Dayang itu tau tidak mungkin Tuv akan mengajaknya ditempat yang negatif.


Tuv melangkah tidak jauh dan segera menghentikan langkahnya ketika Tuv dan datang itu didepan pohon buah.


"Ada apa nih kak Tuv?" dayang itu bertanya karena penasaran kenapa Tuv membawanya didepan pohon.


"Tolong bantu aku petik buah itu." pinta Tuv.


Mata dayang itu melotot kaget.


"Saya harus manjat gitu?" tanya Dayang itu.


Tuv menggeleng. "Biarkan aku saja yang manjat." jawab Tuv.


Dayang terperangah tidak percaya, bagaimana mungkin dia akan membantu Tuv memetik buah sedangkan dirinya memakai gaun. "Bagaimana bisa kak Tuv, aku memakai gaun, sangat susah bergerak. Nanti kalau kak Tuv terjatuh bagaimana?"


"Tidak apa apa tenang saja." Tuv tenang.


Dayang masih tidak mau diajak kerjasama. Dayang harus mencari alasan untuk menolak ajakan dari Tuv.


"Ouh yah kak Tuv aku menemui mu karena Tuan putri Anne bertanya dimana kamu, sepertinya tuan putri membutuhkan mu."


Tuv mengangguk mengerti. "Lalu kenapa?" Tuv malah bertanya.


"Yah seharusnya kak Tuv harus kembali kekediaman tuan putri, jangan manjat pohon." ucap dayang itu.


Tuv menggeleng, "tidak apa apa, tuan putri Anne pasti tidak akan marah, aku jamin itu. Jadi kamu harus membantu ku mengambil buah itu." Tuv masih kekeh saja untuk meminta bantuan.

__ADS_1


"Susah kak Tuv, kita perempuan dan tidak dibekali untuk manjat memanjat, nanti saja ketika mendapatkan pengawal. Kita meminta bantuan mereka."


__ADS_2