
Rimba segera mencium Artira. Jika malam ini Artira tidak mau dengan nya maka dengan senang hati Rimba akan menggoda Artira sampai akhirnya Artira akan menghabiskan waktu dengan Rimba bukan dengan wanita lain termasuk Selir Hari.
Artira menolak ciuman Rimba dan tidak menikmati ciuman Rimba.
"Cukup Rimba, jangan seperti ini."
Rimba menyentuh tangan Artira, tapi Artira menyentak tangan Rimba. Rimba tidak suka karena Artira seperti menghindari Rimba.
"Kenapa kamu menolak ku?" tanya Rimba dengan nada sedih.
Tatapan memuja dari Rimba seketika meredup.
"Aku bilang cukup jadi jangan menggoda ku, aku sama sekali tidak tergoda." ucap Artira enteng.
Apakah Artira tidak berpikir dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Kalimat itu membuat harga diri Rimba tercabik cabik. Tetapi karena rasa cinta Rimba kepada Artira yang semakin membara membuat Rimba tidak bisa membenci Artira lama lama.
Rimba menunduk. "Ya sudah kalau seperti itu, tapi nanti malam kamu akan datang ke kediaman ku bukan?" tanya Rimba dengan hati penuh keyakinan.
Artira terdiam dirinya tidak bisa langsung menjawab pertanyaan dari Rimba.
"Aku tidak tau karena aku harus bertemu dulu dengan Hari, entah berapa lama nanti kita akan bicara."
Rimba masih tersenyum. "Tidak apa apa. Aku akan selalu menunggu Raja ku."
Rimba mengecup pipi Artira singkat. Biasanya kalau dikecup Artira akan membalas kecupan Rimba dengan ciuman tapi malam ini Artira diam saja. Ada yang berbeda dari Artira.
Semakin hari Artira semakin jauh dari jangkauan Rimba, saat jatah Artira bermalam dengannya Artira malah sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan Rimba yang menunggu Artira hingga tengah malam tiba. Rimba masih saja setia menunggu walaupun endingnya Artira tidak datang.
"Keluar lah, kamu harus istirahat Rimba."
Rimba mengangguk dan segera keluar dari ruangan kerja Artira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keluar dari ruangan kerjanya Artira akan melangkah menuju ke kediaman Hari.
Pengawal pribadi segera melangkah cepat menyamai langkah sang raja. "Yang mulia, apakah yang mulia akan bertandang ke kediaman Ratu?"
Raja menggeleng.
"Lalu yang mulia akan kemana? Apakah akan ke kamar pribadi yang mulia?"
"Bukan, aku akan menuju ke kediaman Selir Hari. Aku ada perlu dengan Selir Hari."
Pelayan pribadi Raja segera mengangguk dan melangkah kebelakang, tidak mungkin dirinya terus berjalan menyamai langkah Raja bisa bisa nanti kepalanya ditebas karena menyalahi aturan.
Raja Artira melangkah dengan penuh wibawa, selain berwibawa Raja Artira juga tampan dan ketampanannya menurun ke Anne yang cantik jelita, sayangnya Raja tidak punya keturunan laki laki.
Kediaman Selir Hari sudah sepi karena memang Selir Hari sudah beristirahat jadi pelayan pelayan yang ada dikediamannya mulai meninggalkan kediaman Selir Hari, disana hanya ada dayang pribadi selir hari.
"Yang mulia raja datang." teriakan pelayan pribadi Raja.
Dayang pribadi Selir Hari terkejut dengan teriakan pelayan pribadi Raja, dayang pribadi segera bangun dan memperbaiki penampilannya. Kenapa Raja datang tiba tiba? Bukannya malam ini seharusnya Raja ada dikediaman Ratu?
Belum sempat mengatakan kedatangan Raja kepada Selir Hari, Raja sudah berada didepan hadapan dayang pribadi Hari.
__ADS_1
"Apa Selir Hari sudah tertidur?" tanya Raja tanpa menoleh sedikit pun kepada dayang pribadi Selirnya.
Dayang pribadi mengangguk, kalau lampu kamar Selir Hari sudah padam artinya Selir Hari sudah beristirahat.
"Apakah saya perlu memberitahu Selir Hari?"
Raja menggeleng. "Aku akan langsung masuk saja."
Dayang pribadi Selir Hari segera membukakan pintu kamar Selir Hari. Raja segera masuk kedalam kamar pribadi Hari.
Raja menatap Hari yang sudah memejamkan matanya, tampak sangat pulas dan Hari masih saja cantik.
Hari nampak terganggu dengan suara langkah kaki. Hari mengerjakan mata dan terbangun karena kaget ada seseorang yang masuk kedalam kamar hari. Hari tidak tau kalau yang datang adalah Raja karena mata hari tidak jelas karena tidak ada penerangan, lampu lampu dan lilin dikamar Hari sudah padam.
"Siapa kamu?" lirih Hari bertanya.
Pintu yang tadinya terbuka kini sudah tertutup karena sang Raja sudah masuk kedalam kamar selirnya.
Hari ingin beranjak keluar, kenapa dayang dayang tidak ada yang membantunya? Ouh iya Hari lupa jika dayang dayang pasti sudah beristirahat.
Hari meremas jari jarinya ketakutan. Laki laki dengan tubuh tinggi tegap itu tersenyum melihat ketakutan Hari yang nampak gemas Dimata nya.
"Apa kamu tidak mengenalku sama sekali?" ucap Artira dengan suara serak.
Hari mengerutkan keningnya.
Hari sepertinya mengenali suara ini, tapi Hari lupa lupa ingat.
Hari ingat bahwa suara serak itu mirip dengan suara Artira, tapi apakah benar Artira yang ada dihadapannya? Artira bukannya Artira bermalam dikediaman Ratu Rimba?
Artira melangkah semakin dekat dengan Hari semakin dekat membuat Hari semakin ketakutan.
Artira tertawa kecil melihat Hari.
"Kenapa aku tidak boleh mendekat istri ku?" Artira berkata dengan nada menggoda.
'Jadi benar dia Artira?' batin Hari.
"Yang mulia, kenapa anda disini? Anda membuat saya ketakutan."
"Bukannya malam ini seharusnya Yang mulia datang ke kediaman Ratu?"
Artira memandang Hari dengan memincingkan matanya.
Artira segera duduk ditepian ranjang Hari. Hari segera memandang wajah tampan Artira.
"Jadi ada apa Yang mulia?" tanya Hari.
Artira memandang Hari, "jadi kamu tidak suka jika aku datang mengunjungi mu?"
Mendengar ucapan Artira membuat Hati terdiam tidak tau harus menjawab apa.
Hari dan Artira saling diam.
"Hari." panggil Artira dengan suara lembut.
__ADS_1
Hari segera mendongak menatap Artira yang menatapnya tajam.
Artira mendekatkan wajahnya dengan Hari, Artira tergoda dengan bibir alami milik Hari. Artira memandangi wajah cantik Hari.
"Aku merindukan mu Hari. Sangat.. Aku sangat merindukan mu." lirih Artira.
Mendengar ungkapan Artira membuat Hari tersipu malu tapi tidak bertahan lama karena diotak Hari ada bayangan Rimba.
Hari memalingkan wajahnya. Artira yang melihat gelagat Hari kebingungan.
"Ada apa?"
Hari menatap Artira sebentar, "tidak apa apa."
Jelas Artira tau ada kebohongan.
Artira mengelus pipi mulus Hari. "Kamu tau Hari kalau aku tidak suka dibohongi, jadi ada masalah?"
Hari menunduk, "aku takut membuat Rimba marah." jawab Hari.
Artira tersenyum penuh makna. Artira mengangkat wajah Hari untuk menatap wajahnya.
"Jangan hiraukan orang lain."
"Rimba bukan orang lain, dia jugak istri mu apalagi dia ratu."
Artira menggeleng tidak suka jika Hari insicure dengan Rimba.
Artira langsung mendekatkan bibirnya dengan bibir Hari. Bibir itu sekian detik menempel hingga Artira gemas karena tidak ada pergerakan dari Hari, Artira segera ******* bibir Hari.
Hari tidak membalas bibir Artira yang bergerak lincah. Artira menghentikan kegiatannya.
"Ada apa lagi?" Artira hampir saja geram.
Dirinya sudah tergoda dengan kecantikan Hari tapi Hari seperti tidak menyukainya.
"Kamu tidak menyukai ciuman ku?"
Hari menggeleng.
"Kalau begitu balas ciuman ku." Artira menekan Hari untuk membalas ciumannya.
Menurut Artira jika ciumannya tidak dibalas maka Hari tidak mencintai Artira.
"Kalau kamu begini membuatku geram Hari." ucap Artira.
Hari segera mencium Artira hanya mencium tidak bergerak.
Artira yang mendapatkan kesempatan dengan cepat ******* bibir Hari.
Artira menghentikan ciumannya, Artira memandang Hari penuh cinta. "Aku mencintai mu sangat mencintai mu?" Artira mengakui perasaanya.
Hari tidak percaya, kalau Artira mencintainya tidak mungkin Artira menduakannya.
"Kamu tidak yakin dengan cinta ku?"
__ADS_1
Hari tersenyum kemudian menggeleng, Artira tidak boleh tau jika Hari meragukan cinta Artira.
Artira kembali ******* bibir Hari mengalunkan kedua tangannya dileher Artira. Hari membalas ciuman Artira yang memabukkan.