Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
66


__ADS_3

Ratu Rimba hanya bisa tersenyum mendengar rencana rencana yang sudah dirancang Dekieta untuk masa depan.


Dekeita kembali menatap Ratu Rimba. "Yang Mulia, apakah saya boleh meminta satu hal lagi?"


Ratu Rimba menatap Dekeita, "apa itu Dekeita?"


"Saya ingin yang mulia membantu saya untuk menjadi permaisuri Pangeran Jeha." jawab Dekeita.


"Membantu? Membantu apa? Apakah aku wajib membantu putri Dekieta?"


Dekieta dengan semangat mengangguk. "Ya, yang mulia Ratu harus membantu saya."


"Baiklah mungkin aku akan membantu mu sedikit."


Dekeita tersenyum penuh kebahagiaan. Setelah pembicaraan itu selesai Dekeita pamit untuk kembali kekediamanya.


* Selang satu jam, Selir Hari berkunjung ke kediaman Dekeita. Dekieta menyambut ramah kedatangan selir Hari.


Karena Selir Hari termasuk tamu jadi Dekeita menghidangkan teh untuk menyambut Selir Hari.


"Silakan diminum teh nya selir." ucap Dekieta.


Selir Hari meminum teh buatan dari Dekieta. "Hemm harum sekali, apa ini teh asli dari perkebunan rakyat sini? Aku belum pernah merasakan teh ini sebelumnya." ucap Hari tenang.


Dekeita gugup karena tiba tiba Selir Hari bertanya tentang teh yang sebenarnya teh itu berasal dari luar negara padahal jelas jika keluarga kerajaan harus memakai, meminum, memakan produk dalam negeri untuk meningkatkan perekonomian tapi ternyata Dekieta melanggar, kalau Selir Hari tau pasti Dekieta akan kena hukuman. Dekieta terpaksa harus berbohong.


Dekieta menampilkan senyuman penuh kebohongan. "Tidak tuan putri, itu memang teh dari perkebunan daerah B, memang daerah B kurang memasok teh jadi teh daerah B kurang terkenal." jawab Dekeita tanpa berpikir terlebih dahulu.


Selir hari tau jika Dekeita berbohong, daerah B memang tidak memproduksi teh karena daerah B kebanyakan memproduksi tekstil daerah B bukan daerah pegunungan yang bisa untuk berkebun teh, kelas sekali kalau Dekieta berbohong tapi Selir Hari memilih diam karena kalau selir hari bertindak yang ada malah selir hari yang akan terkena imbasnya.


Kalau dirasakan teh ini berasal dari luar negara bahkan bisa dibilang teh ini sangat langka hanya orang orang kaya yang bisa membeli teh ini, kenapa Hari tau? Karena sebelum ada kebijakan harus memakai produk dalam negeri Hari sudah pernah membeli teh ini dan rasanya sama persis dengan teh yang dihidangkan oleh Dekieta.


"Tehnya sangat enak dan pas dilidah saya, terima kasih." Selir hari menaruh gelas teh diatas meja.


"Kalau boleh tau kedatangan selir kesini ada apa yah?" Dekieta mulai bertanya.


"Aku ingin mengatakan jika kamu ditugaskan didaerah rawan Dekeita, aku memilih mu karena kamu sudah banyak bertugas diseluruh negeri ini." jawab Selir Hari.

__ADS_1


"Daerah rawan? Tepatnya dimana Selir Hari?"


"Didaerah Ye, selama masa jabatan saya dan kamu tidak ada yang pernah berkunjung ke daerah Ye. Daerah itu rawan sekali dengan begal katanya juga setiap ada yang kesana tidak bisa pulang dan ditemukan meninggal." ungkap Hari.


Dekieta meremas jari jarinya, sebelum berangkat Dekeita sudah takut sendiri. Dekeita ingin menerima tugas itu tapi mengingat bahayanya daerah itu membuat Dekeita minder takut jika Dekieta pulang pulang hanya membawa nama. Dekieta tidak bisa dan tidak mungkin kesana.


"Bagaimana kamu akan kesana bukan? Sudah lebih dari tiga bulan kamu tidak pernah bertugas mengabdi kepada rakyat."


Dekeita termenung, sebaiknya sebelum menjawab Dekieta akan berpikir caranya menolak.


"Saya akan memikirkan kembali tentang tawaran itu selir." jawab Dekieta.


"Baiklah kalau begitu hanya ini saja yang akan ku katakan, aku akan pamit." Selir hari bangkit dan melangkah meninggalkan Dekieta.


Setelah mengecek jika Selir Hari benar sudah menjauh, Dekieta menyuruh Parti untuk menemuinya.


Parti dengan langkah tergopoh gopoh mendekat kearah Dekeita.


"Ada apa tuan putri?" Parti bertanya.


"Parti kamu tau alasan apa yang masuk akal untuk menolak tawaran tugas?"


"Memangnya kenapa tuan putri? Bukannya biasanya tuan putri akan setuju?"


Dekeita menatap tidak suka kearah Tuv, "kamu tidak tau saja Tuv, ini bukan seperti biasanya. Kali ini aku harus bertugas didaerah rawan dan yah kamu tau daerah Ye? Daerah rawan begal dan aku akan ditugaskan disana, aku tidak mau mati sebelum aku menjadi Ratu." ungkap Anne.


Aduh gak habis pikir deh sama Dekeita.


"Lalu saya harus bagaimana tuan putri?" yang bingung Parti jadinya.


"Yah kamu cari ide buat nolak tawaran itu, bagaimana pun itu terlalu bahaya buat aku."


Parti jadi ikutan bingung dan ikut berpikir mencari alasan.


"Tuan putri bagaimana jika katakan saja kalau hari itu ada janji temu dengan para putri dari para menteri." ungkap Parti.


Dekieta menatap Parti dengan tatapan sinis, "kalau ide mu seperti itu tidak akan berguna yang ada pasti selir hari tetap memaksa ku untuk bertugas."

__ADS_1


Parti kena sembur Omelan dari Dekeita. Selalu saja begini Parti selalu salah.


"Apa tuan putri meminta pindah tugas? Seperti pindah daerah yang lebih aman?" Parti mengutarakan idenya.


Ide Parti lagi lagi ditolak oleh Dekieta.


"Apa tuan putri perlu pengganti? Yang berangkat adalah orang lain?"


Dekeita diam sejenak, sepertinya ide Parti lumayan cemerlang dan bisa digunakan.


"Wah tumben sekali kamu berhasil menemukan ide briliant parti." puji Dekeita.


Padahal juga setiap hari Parti cerdas, Dekeita saja yang tidak menyadari.


"Kalau begitu siapa yang akan menggantikan aku Parti?" Dekieta kembali bertanya kepada Parti.


Parti mengedikan bahunya tidak tau. Kali ini Parti memilih diam.


"Kasih aku saran dong Parti, kamu jangan diam saja." Dekieta kesal karena Parti diam saja.


"Saya juga sudah lelah tuan putri untuk berpikir, dan jangan memilih bahwa saya yang harus menggantikan tuan putri, ingat rahasia tuan putri ada padaku semua dan jika tuan putri berniat saya yang akan menggantikan anda maka saya akan membocorkan rahasia tuan putri." Parti mengancam Dekeita.


Dekeita semakin menatap Parti tidak suka.


Dekeita dulu sudah ingin mengganti pelayan pribadi tapi karena tidak cocok dengan kepribadian Dekieta yang penyuruh, pemarah dan selalu marah marah banyak dayang yang memutuskan berhenti dan malah banyak yang memilih pindah tugas, hanya Parti yang bertahan disisi Dekieta.


Kadang Dekieta bertanya tanya kenapa Parti bisa bertahan padahal kebanyakan memilih mundur, atau kepribadian Dekieta dan Parti sama? Entahlah Dekeita tidak tau menahu tentang ini.


"Aku tidak akan mengorbankan mu Parti, hanya kamu yang bertahan disisi ku, kalau aku mengorbankan mu maka aku tidak lagi punya pelayan pribadi."


Parti yang mendengarnya menjadi senang.


"Jadi tuan putri sudah memutuskan siapa yang akan menggantikan tuan putri?" Parti bertanya.


Dekieta menggeleng. "Aku belum menemukan korbannya Parti."


Parti menghela nafas, kenapa sih Dekieta selalu saja lambat kalau masalah begini?

__ADS_1


Tiba tiba terlintas wajah Anne dibenak Dekeita.


Dekeita tersenyum penuh misteri setelah sekelebat bayang bayang Anne hadir di otaknya.


__ADS_2