
Sedangkan dayang dayang yang berada disekitar Anne tersenyum, mereka sudah tau maksud bunga hidup yang dikatakan Yohan. Mereka tau melalui tatapan Yohan ketika memandang Anne penuh memuja.
Kenapa tuan putri mereka tidak peka sih?
Aduh jadi gemas sendiri dengan perasaan Anne dan Yohan. Kasihan Yohan yang cinta sendiri.
"Bagaimana tuan Yohan? aku ingin sekali melihat bunga yang indah itu." Anne terus memaksa Yohan untuk mengajaknya pada bunga bunga indah.
Yohan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Lucu sekali.
"Begini tuan putri, aduh bagaimana yah?" Yohan kebingungan sendiri.
Dayang dayang yang bertugas sontak tidak bisa menahan tawa mereka.
'Malu aku diketawain para dayang.' batin Yohan.
"Tidak bisa tuan putri karena bunga itu hanya mekar saat musim dingin." bohong menjadi alasan Yohan sekarang.
"Baiklah aku akan menunggu musim dingin." keputusan Selena.
Yohan tidak bisa berkata kata lagi karena mulutnya, Yohan jadi pusing sendiri.
Anne jadi penasaran kenapa para dayang tertawa? apa ada yang lucu?.
"Apa yang membuat kalian tertawa?" Anne bertanya karena penasaran.
Semua dayang menjadi gelagapan, mereka tidak bisa menjawab pertanyaan dari Anne.
"Tuan putri apa tuan putri tidak gerah berada ditaman? sekarang sudah tengah hari sebaiknya tuan putri segera kembali ke kamar." ucap Yeni berusaha membuat Anne tidak bertanya tentang kenapa Dayang tertawa.
"Baiklah ayo pergi ke kamar ku."
Anne segera meninggalkan Yohan. Yohan merasa lega kali ini karena Anne tidak bertanya lebih lanjut tapi tidak bisa dipungkiri kalau Yohan sedikit kecewa karena cepat sekali Anne pergi meninggalkan Yohan.
"Saya akan memperjuangkan tuan putri." gumam Yohan.
* Keesokan harinya para menteri mengikuti rapat bersama dengan yang mulia raja.
Para menteri serius mengikuti rapat ini.
"Aku ingin benteng diselatan lebih diperhatikan kembali." ucap Artira.
"Baik yang mulia." ucap menteri pertahanan dan perhubungan.
Menteri Kega sebagai kaki tangan Artira menatap Artira, "yang mulia lalu bagaimana kelanjutan dengan pembangunan pasar?" tanya menteri Kega.
"Percepat saja."
"Baik yang mulia, saya akan meninjau proyek pasar." ucap menteri Kega.
Artira menatap para menteri, "apa tidak ada yang mau dibicarakan lagi?" Artira bertanya.
Semua menteri diam karena memang semua sudah dibicarakan.
"Tidak ada kah? kalau begitu aku akan mengatakan berita bahagia." ucap Artira.
__ADS_1
'Berita bahagia?' batin para menteri kebingungan, kali ini berita bahagia apa?
"Apakah yang mulia ratu hamil?" celutuk menteri Kega.
Artira tersenyum sambil menggeleng. "Tidak, mungkin kabar baik itu menyusul."
"Lalu kabar baik tentang apa yang mulia?" tanya menteri Togo.
Artira tersenyum, "kalian tau bukan kalau aku memiliki putri selain putri Dekieta. Namanya putri Anne, aku memang menyembunyikan identitasnya selama beberapa tahun dan sekarang aku ingin mengenalkannya kepada warga." ungkap niat baik Artira.
Jajaran menteri dan kabinetnya kaget. Banyak yang langsung berbisik bisik.
"Maaf yang mulia tapi saya tidak setuju." ucap Menteri Kega sebagai perwakilan.
Setelah itu banyak menteri menyatakan ketidaksetujuan.
"Tapi saya setuju dengan acara itu yang mulia, tuan putri Anne juga layak mendapatkan penobatan." seru Togo.
Ternyata masih ada menteri yang sepihak dengan Togo.
"Walaupun banyak yang menolak tapi saya akan tetap melaksanakan acara itu dalam lima hari kedepan, saya harap para menteri juga mempersiapkan acara tersebut." ucap Artira tidak mau dibantah.
"Baik yang mulia." ucap semua menteri.
Artira mulai meninggalkan ruang rapat. Para Menteri juga sudah mulai meninggalkan ruang rapat. Didepan ruang rapat, Kega menghentikan langkahnya, menteri yang sepihak dengan Kega ikut menghentikan langkahnya.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya menteri Bala kepada Kega.
Kega menatap tajam kearah Bala, memangnya Bala tidak tau jika Kega juga sedang pusing memikirkan jalan keluar.
Kega mengepalkan tangannya kenapa kawannya ini berisik sekali.
"Kau jangan menambah beban pikiran ku, aku juga sedang memikirkan bagaimana caranya agar penobatan itu tidak terjadi." ucap Kega tegas.
"Bagaimana kalau kita culik saja putri Anne?" Bala berbisik.
"Dasar bodoh! kalau kita tidak bisa menculiknya. pikirkan cara yang benar." kesal Kega.
Bala jadi ikutan kesal karena dari tadi Kega hanya diam tidak ikut berpikir.
"Sepertinya kalian tidak bisa apa apa." sahut seseorang dibelakang tubuh Togo dan Kega.
Togo dan Kega menatap orang itu, orang itu mendekat dengan senyuman menggembang. Togo memberikan penghormatan kepada Kega.
"Yang Mulia sepertinya memiliki tekad bulat untuk penobatan Putri bungsunya, kalian sebaiknya diam saja tidak usah ikut campur." peringatan dari Togo.
Bala tersenyum remeh, "apa? diam saja? tidak bisa!" Bala dan Kega kesal karena Togo.
"Ku kira kamu berada di pihak ku Togo, ternyata aku salah." ucap Kega sambil menepuk pundak Togo.
Togo tersenyum ramah walaupun Kega menatapnya datar sedangkan Bala menatap Togo dengan tatapan permusuhannya.
"Saya hanya ingin membuat perubahan sedikit,"
"tidak baik juga kalau kita selalu egois dengan mengutamakan pilihan kita." lanjut Togo.
__ADS_1
Bala menutup matanya berusaha untuk mengatur emosinya. Apa Togo tidak takut mati? Togo menabuh genderang perang kepada Kega. Bala saja tidak berani kenapa Togo berani?
"Sebaiknya kita pergi." ucap Kega.
Bala mengangguk setuju dengan perintah Kega, Bala dan Kega melangkah menjauh meninggalkan Togo. Togo diam diam tersenyum.
"Kamu akan mendapatkan hukuman setimpal atas dosa mu yang terdahulu Kega." gumam Togo.
Setelah itu Togo meninggalkan depan ruangan rapat.
Berita tentang penobatan Anne tersebar cepat hingga sampai ditelinga seluruh penghuni Kerajaan seperti Dekieta.
Dekieta merasa kesal, kenapa juga adik bungsunya itu ahrus dinobatkan. Seharusnya yang mendapat penobatan adalah Dekieta, dinobatkan sebagai Putri mahkota.
"Aku kesal sangat kesal." Dekieta menghentakan kakinya.
Kekesalan karena Anne kemarin belum rendam eh ditambah hari ini mendengar penobatan Anne semakin membuat Dekieta kesal.
Datanglah Parti. "Yang mulia." Parti memberikan penghormatan.
"Kenapa? beraninya kamu masuk tanpa mengetuk pintu!" karena kesal kepada Anne, Dekieta jadi kesal dengan orang lain.
"Maaf atas kelancangan saya yang mulia. saya melakukan itu karena memang saya sudah terbiasa masuk keruangan yang mulia tanpa mengetuk pintu."
"Cepatlah jangan banyak omong, ada maksud apa kamu kesini Parti? kamu tidak akan kesini tanpa ada keperluan bukan?" Dekieta bertanya.
Parti menganggukan kepalanya ternyata Dekieta tau juga.
"Yang Mulia Raja meminta anda untuk ikut acara makan pagi yang mulia." ungkap Parti.
Dekieta tidak terkejut karena pasti dibalik makan pagi pasti ada niat terselubung dari Ayahandanya.
"Baiklah aku akan kesana."
"Saya akan menyiapkan para dayang." setelah itu Parti meninggalkan Dekieta.
Dekieta menatap kepergian Parti dengan tatapan sedih. Dekieta tidak rela jika Anne akan mendapatkan gelar putri.
Dekieta akan protes kepada Yang Mulia Raja.
Anne masuk kedalam ruangan makan pagi dengan langkah anggun saat sekali ketara bahwa Anne adalah seorang putri.
"Selamat pagi tuan putri." sapa dayang yang bertugas.
Anne tersenyum menanggapi sapaan dari para dayang. Anne segera duduk disebelah Selir Hari. Selir Hari menatap Anne malas.
Tidak lama datanglah Dekieta dan Ratu Rimba, mereka langsung duduk berhadapan dengan Hari dan Anne.
Mereka saling menatap tajam kecuali Anne karena Anne tidak akan menganggap mereka musuh kecuali mereka memang ingin menjadikan Anne musuh mereka.
Artira datang dengan langkah tegasnya, Artira langsung duduk. Anne dan ketiga keluarga kerajaan lantas berdiri dan memberikan penghormatan untuk Artira.
"Duduk lah." perintah Artira.
Mereka semua kembali duduk seperti semula. Para dayang langsung menyiapkan makanan yang akan dikomsumsi oleh Raja, Ratu, Selir dan para putri.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara mereka berlima segera memakan makanan pagi.