Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
68


__ADS_3

Dayang senior berjalan mendekat kearah Ratu Rimba.


Ratu Rimba menoleh menatap kedatangan Dayang senior.


"Kamu sudah melakukan apa yang aku inginkan bukan?" tanya Ratu rimba.


Dayang senior mengangguk.


"Bagus, kamu memang bisa dipercaya. Dan diandalkan." puji Ratu Rimba.


Dayang senior tersenyum senang karena mendapatkan pujian dari majikannya.


"Kamu membebaskan tugas para dayang selama berapa jam?"


"Saya membebas tugaskan selama tiga jam yang mulia." jawab dayang senior.


Ratu Rimba menganggukkan kepalanya.


"Sekarang aku akan mengganti baju. Setelah aku keluar kamu harus masuk kedalam kamar ku menjaga ada yang mencari ku." Ratu Rimba memberi perintah.


Dayang senior menganggukan kepalanya tanda mengerti. Dayang senior segera keluar dari kamar Ratu Rimba.


Ratu Rimba sudah memilih gaun berwarna cream ada ornamen bunga bunga diatas kain gaun itu, tidak lupa Ratu Rimba juga memakai cadar agar tidak ada yang mengenali Ratu Rimba.


Ratu Rimba dengan cepat sudah mengganti gaunnya dengan gaun berwarna cream itu. Tidak lupa Ratu Rimba memasangkan cadar. Ratu Rimba juga mengganti tatanan rambutnya agar penyamaran kali ini berhasil.


Ratu Rimba sudah sering melakukan penyamaran, tapi tidak banyak yang tau yang tau hanya dayang senior dikerajaan ini.


Setelah mengecek tampilannya, Ratu Rimba segera melangkah mengambil kipas didalam kolong lemari. Ratu Rimba segera melangkah keluar dari kamar mewahnya.


Dayang senior menatap Ratu Rimba.


"Cepatlah masuk." perintah dari Ratu Rimba.


Dayang senior mengangguk dan melangkah masuk kedalam kamar mewah milik majikannya. Dayang senior juga tidak lupa mengunci pintu ketika sang Ratu sudah mulai melangkah menjauh.


Ratu Rimba berjalan sambil memperhatikan sekitarnya takut jika ada orang yang akan tau keberadaan dan mengenali Ratu Rimba.


Ratu Rimba sudah lumayan melangkah jauh dari kediamannya.


Ternyata saat ditengah perjalanan Ratu Rimba bertemu dengan Selir Hari. Ratu Rimba segera menunduk dan melakukan penghormatan.


Selir Hari yang melihat itu tidak peduli dan melanjutkan kembali langkahnya.


Ratu Rimba menoleh kebelakang dimana ada selir hari yang masih berjalan. Ratu Rimba menatap sengit kearah Hari.

__ADS_1


'Cih kalau bukan karena penyamaran aku tidak akan Sudi hormat kepada mu.' batin Ratu Rimba.


Ratu Rimba kembali meneruskan perjalanannya yang sempat tertunda.


Disisi lain Selir Hari menghentikan langkahnya dan menoleh kearah belakang. Selir Hari tentu kenal dengan wanita yang memakai gaun peach itu.


Selir Hari tersenyum tipis, wanita itu memang benar licik tapi sepertinya perempuan itu akan terjebak dengan rencana liciknya sendiri.


Selir Hari kembali melanjutkan langkahnya setelah melihat jika wanita bergaun peach itu sudah tidak berada disekitarnya.


* Ratu Rimba menaiki tangan menuju ruang pribadi dari laki laki yang berada dipihaknya. Ratu Rimba mengangkat gaunnya karena sedari tadi Ratu Rimba susah berjalan karena gaun Ratu Rimba panjang menjuntai.


Ratu rimba membuka pintu ruangan itu, dikursi sudah duduk seorang laki laki yang lebih tua daripada Ratu Rimba. Ratu Rimba semakin melangkah kedalam ruangan itu.


"Silahkan duduk, adiku." perintah laki laki.


Ratu Rimba menjatuhkan bokongnya diatas kursi empuk.


Menteri Kega tidak lupa memberikan Ratu Rimba minum dan hidangan lezat.


"Minumlah."


Ratu Rimba meminum teh dari luar negeri itu.


"Ada perlu apa Ratu negeri ini datang berkunjung kesini?"


Ternyata cangkir teh yang dipegang Ratu Rimba juga buatan luar negeri. Wah kaya raya sekali menteri yang satu ini.


"Seorang menteri apakah bebas membeli barang dari luar negeri? Bukannya sudah ada peraturan jika warga negara ini tidak boleh membeli produk luar negeri?" Rimba bertanya pada sang kakak laki laki.


Menteri Kega juga meraih cangkir teh tersebut, cangkir teh tersebut diputar agar terlihat semua model dari cangkir tersebut.


"Kami para menteri yang punya kekuasaan pasti memiliki aset seperti ini, mereka menyembunyikan barang barang ini dari orang luar. Tapi kamu harus tau Ratu ku, jika didunia ini banyak yang melawan peraturan hanya untuk memenuhi ego mereka. Tapi tenang saja kami para menteri tidak akan dihukum." ucap Menteri Kega datar tanpa ekspresi.


"Kakak tidak takut membuat Jeha marah?"


Apakah sang kakak tidak tau kalau Jeha marah akan berakibat seperti apa? Apakah kakaknya lupa jika Jeha adalah Raja?


Menanggapi perkataan Rimba, Menteri Kega hanya tersenyum, Rimba memang kurang banyak tau.


"Kenapa aku harus takut dengan Raja? Ratu ku? Raja bisa aku kendalikan." ungkap Menteri Kega.


"Sudah jangan membahas tentang cangkir ini. Gara gara cangkir ini pembahasan kita sampai kemana mana. Kau tidak lupa bukan dengan maksud apa ketika kamu mau kesini?"


Ratu Rimba menunduk. "Aku ingin bercerita tentang putri Dekeita."

__ADS_1


Alis Menteri Kega mengerut, menteri Kega penasaran tumben sekali Ratu Rimba datang membahas Dekieta.


"Ada apa dengan Dekieta?" Menteri Kega bertanya, menteri Kega takut jika posisi Dekieta sudah lengser karena putri bungsu sang Raja.


"Apakah posisi Dekeita lengser?" Menteri Kega hampir saja emosi tapi Ratu Rimba segera menggeleng.


"Bukan itu, tapi ada hal lain."


"Apa itu? Jangan membuatku penasaran."


Ratu Rimba menghirup udara sebanyak banyaknya agar dirinya bisa tenang menghadapi kakaknya ini.


"Dekeita ingin dibantu menjadi permaisuri Pangeran Jeha." ungkap Ratu Rimba.


"Dekieta ingin aku membantunya." lanjut Ratu Rimba.


Menteri Kega mengurut keningnya, pusing mendera dikepala Menteri Kega. Kenapa Dekieta tidak mundur saja? Kenapa masih saja kekeh untuk menjadi pendamping kulkas seperti Jeha?


"Dia masih saja ingin menjadi permaisuri?"


Ratu Rimba mengangguk membenarkan.


Keras kepala sekali Dekieta, kenapa mirip dengan kepribadian Menteri Kega?


"Apakah kakak bisa membantu ku? Ini demi Dekieta." ungkap Ratu Rimba.


Ratu Rimba hanya bisa meminta pertolongan kepada sang kakak, karena dari dulu kakaknyalah yang membantunya disaat Ratu Rimba kesulitan.


"Kakak pasti akan membantu bukan?"


Kega dengan tegas menggeleng. "Aku akan membantu tapi bukan Dekieta yang menjadi permaisuri. Aku tidak bisa rela jika Dekieta menjadi permaisuri." ungkap Kega.


"Aku bisa membantu mu tapi tidak dengan kasus yang satu ini, aku tidak mau Dekeita menjadi Permaisuri Pangeran Jeha." tambah Kega.


Ratu Rimba dibuat bingung, padahal biasanya sang kakak akan menyetujui apapun permintaan bantuannya tapi kenapa yang satu ini susah sekali meminta Kega untuk membantunya?


"Kenapa memang kak? Apakah kakak tidak mau membantu Dekieta? Ingat kakak Dekeita itu keponakan kakak sendiri."


"Aku sudah bilang bukan, aku akan membantu tapi tidak dengan yang satu itu. Aku tidak setuju dengan kemauan Dekeita." Kega kesal.


"Berikan aku alasan kakak kenapa menolak membantu!"


Kega bingung kenapa yah Rimba tidak mirip sekali dengan dirinya, kenapa pikiran Rimba buntu? Tidak berpikir secara luas?


"Bayangkan saja, Dekeita putri pertama Raja kalau dirinya menikah dengan Jeha, pasti Dekeita akan menjadi permaisuri disana dan dibawah perintah dan kekuasaan Jeha."

__ADS_1


"Kalau Dekeita disini dirinya akan menjadi Ratu dan tidak ada yang bisa menekan Dekeita." tambah Kega.


Jadi Dekieta tidak boleh menjadi pendamping Kega? Agar masa depan Dekieta terjamin atau bagaimana nih?.


__ADS_2