
Anne menghentikan langkahnya ketika Anne mendengar keributan. Ketiga dayang dan Yohan ikut menghentikan langkahnya. Dalam hati mereka bertanya tanya kenapa ada keributan disekitar pasar.
Yohan yang penasaran akhirnya mendekat, dan alangkah terkejutnya Yohan saat melihat seseorang tergeletak dengan Sarah bercucuran dan juga lengan tangan yang patah.
'Orang ini, orang yang menarik tangan tuan putri.' batin Yohan.
Yohan bertanya tanya karena apa orang ini bisa menerima karna yang super kejam seperti ini.
Menunggu Yohan yang tidak berbalik, akhirnya Anne mendekat dikerumunan orang orang itu. Ketiga dayang juga mengikuti Anne. Anne mengintip disela sela pundak orang orang, tapi karena didepannya banyak yang lebih tinggi dari Anne jadi Anne tidak melihat asal usul keributan.
"Bagaimana tuan putri? apa anda menemukan penyebab keributan?" Ena bertanya sudah seperti detektif saja.
Anne menggeleng, Anne belum tau penyebab keributan.
Dora menepuk pundak orang yang ada didepannya, "tuan, ada kejadian apa? sehingga membuat orang orang berkerumun?" Dora bertanya.
"Ada orang meninggal, meninggalnya tidak wajar." jawab orang itu.
Ena, Sarah dan Anne mendengarkan itu. Mereka bergedik ngeri padahal mereka belum melihat mayat itu.
"kenapa mayatnya meninggal tidak wajar tuan? apakah terkena campak?" Ena bertanya.
Orang itu menggeleng, "bukan terkena campak tapi mayat ini sepertinya dibunuh dengan sadis, tangannya terpotong dan banyak darah bercucuran disamping mayat itu." ungkap tuan.
Mendengar itu membuat Anne ketakutan. Kenapa ada orang yang tega membunuh orang lain?.
Yohan datang, "ayo tuan putri, kita segera pulang saja."
Anne menggeleng, Anne ingin tau wajah orang yang tewas itu. Anne menatap Yohan, "tuan Yohan, aku ingin sekali melihat orang yang tewas itu, aku takut jika dia korban begal. kalau disekitar sini banyak begal maka harusnya kerajaan lebih memperketat penjagaan disekitar sini." ucap Anne.
Seseorang ada yang mendengar perkataan Anne, orang itu tertawa. "Kerajaan tidak akan mau melindungi rakyat kecil seperti kami, yang ada kami yang akan dibunuh oleh para pengawal." orang itu tertawa.
Anne tertegun, apakah kerajaan menganggap rakyat rakyat itu adalah sampah? mengapa bertindak demikian. Seharusnya kerajaan harus mengutamakan para rakyat karena rakyat adalah pondasi utama dari kelancaraan dalam semuanya.
"Ayo tuan putri, kalau kita menunda nunda maka bisa jadi kita akan sampai nanti sore." ucap Yohan memberitahu.
Anne mengangguk. Akhirnya mereka semua kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju kekerajaan.
Diperjalanan pikiran Yohan hanya tertuju pada mayat itu, siapa yang membunuh?.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selir hari dikerajaan sedang mengunjungi Dekieta.
"tuan putri, selir hari datang mengunjungi." ucap dayang didepan pintu kamar Dekieta.
Dekieta yang sedang berbaring dikasurnya segera bangkit, selir hari tidak boleh melihat Dekieta yang sedang bermalas malasan.
Dekieta segera merapikan gaunnya. Setelah itu Dekieta langsung duduk dikursi.
"dayang, selir hari dipersilahkan masuk." perintah dari Dekieta.
Dayang yang mendengar perintah dari Dekieta langsung melaksanakannya. Dayang itu membuka pintu kamar Dekieta, selir hari pun masuk kedalam Dekieta.
Selir hari memperhatikan seluruh bagian dari kamar Dekieta.
Selir hari duduk berhadapan dengan Dekieta.
"Selamat pagi ibu." sapa Dekieta untuk Selir Hari.
Selir hari tersenyum, "jangan panggil aku ibu Dekieta, aku hanya ingin dipanggil selir."
Setelah itu tidak ada percakapan, Selir hari sibuk meneliti kamar Dekieta, sedangkan Dekieta sedang mengerutu kesal karena Selir hari tidak mau dipanggil dengan sebutan ibu.
"Kamar mu rapi, tapi kenapa selimut diatas ranjang mu tidak rapi? apakah kamu tadi bermalas malasan? kamu tidak membaca buku pelajaran?" Selir hari bertanya dengan nada ketus.
Dekieta menoleh menatap ranjangnya. Sial kenapa Dekieta lupa merapikan selimutnya, pasti karena ini Selir hari tau Dekieta bermalas malasan diatas tempat tidur.
Dekieta akan berbohong kepada Selir Hari, agar selir hari tidak melaporkan ini kepada Ratu ataupun Yang Mulia Raja.
"Tidak, saya tadi mencari benda yang hilang diatas tempat tidur, jadi karena itu aku merusak tatanan selimut yang sudah rapi." bohong Dekieta.
Selir hari memperhatikan wajah Dekieta, Selir hari sebenarnya tahu bahwa Dekieta berbohong, tapi selir hari tidak akan memperpanjang urusan.
"Dari dulu kamu selalu bermalas malasan belajar, kamu mau menjadi ratu bukan? kalau mau menjadi ratu maka tingkatkan ilmu mu, cari ilmu sebanyak mungkin agar kamu bisa menyelesaikan semua permasalahan dikerajaan mu. kalau kau teru terusan bermalas malasan maka kerajaan mu akan hancur."
Tangan Dekieta mengepal. Dekieta diam mendengar ucapan dari Selir Hari.
"Apa aku harus setiap hari berkunjung dikediaman mu Dekieta? apa aku harus selalu meminta mu untuk belajar?"
__ADS_1
"Sekarang kamu harus belajar!" perintah dari Selir hari yang tidak mungkin dibantah oleh Dekieta.
"Baik selir." ucap Dekieta.
Selir hari segera bangkit dan keluar dari kamar Dekieta.
Selir hari menatap kepala dayang dikediaman Dekieta. "Tolong pantau tuan putri, jangan sampai tuan putri tidak belajar, mengerti?" perintah dari Selir hari.
Dayang itu mengangguk dan akan mematuhi perintah dari Selir Hari.
Selir hari pun berjalan meninggalkan kediaman Dekieta.
Sedangkan Dekieta didalam kamarnya sedang mengamuk, melempar buku buku berisi ilmu.
"Enak sekali dia memerintah ku. Apa yang dia inginkan hah." kesal Dekieta.
Teriakan Dekieta didengar sampai keluar ruangan, tapi dayang dayang tidak peduli walaupun mereka tau tuannya sedang marah.
"Tuan putri sebaiknya anda segera belajar." nasehat dari kepala dayang.
Mendengar ucapan kepala dayang membuat Dekieta menahan emosinya, kali ini Dekieta kembali kalah dengan Selir Hari, Dekieta membawa salah satu buku, dan Dekieta membaca buku itu.
*Selir hari jalan jalan disekitar danau, Selir hari selalu sedih melihat danau yang indah ini entah kenapa, harinya selalu kecewa.
"Yang mulia, apa anda membutuhkan teh hangat?" tawar kepala dayang.
Teh hangat sangat bermanfaat untuk merilekskan perasaan yang gudah. apalagi kalau teh itu masih hangat, semua rasa kecewa, sedih akan hilang.
Selir hari menggeleng. "Aku tidak mau teh, aku akan kembali ke kediaman ku."
"Apa yang mulia tidak ingin mengunjungi Yang mulia raja?" kepala dayang bertanya, mungkin harapannya saat selir hari bertemu dengan Yang mulia raja maka hari Selir hari akan menjadi bahagia.
Lagi lagi Selir hari menggeleng. Hari ini memang hari Selir hari entah kenapa selalu khawatir akan suatu hal yang akan terjadi dimasa depan.
"Apa aku bisa menemui putri Anne?" lirih Selir hari bertanya kepada kepala dayang.
Kepala dayang itu mendongakkan kepalanya dan menggeleng. "Tuan putri Anne sedang tidak berada dikediamannya sejak kemarin." jawab kepala dayang.
Sontak Selir hari menoleh dengan tatapan tidak bisa diartikan.
__ADS_1
"Dia meninggalkan kerajaan atau dia hanya keluar dari kediamannya?"