
Anne dan para pengikutnya menikmati makanan diaula pesta. Sekitar 15 menit Anne sudah merampungkan makannya.
Salah satu pengurus acara mendekat ke arah Anne. Dia memberi hormat terlebih dahulu kepada kepada Jeha, Dekieta, Yohan dan Anne.
"Tuan putri, maaf menganggu waktunya, sekarang sudah waktunya pesta berakhir, tuan putri dimohon untuk memberikan kata kata penutup." ungkap petugas.
Anne masih belum menjawab, Anne menatap wajah petugas itu, sesungguhnya Anne gugup karena tidak pernah berbicara didepan orang banyak, Anne takut mempermalukan dirinya dan keluarga kerajaan.
"Putri Anne? Kamu dengar apa kata petugas itu? Kenapa diam saja?" cercah Dekieta.
Dekieta harus membuat Anne terlihat seperti tidak mampu karena agar Jeha agar sadar dan memilih Dekieta daripada Anne.
Jeha pindah bersebelah dengan tubuh ramping Anne. Jeha menepuk pundak Anne. "Tuan putri, jangan takut untuk berbicara didepan orang banyak. Saya dulu pertama kali juga gugup, tapi karena saya terus menerus melakukan itu membuat saya jadi terbiasa dan tidak gugup,"
"jadi mulai dari saat ini tuan putri bisa mencoba berbicara didepan orang banyak." lanjut Jeha.
Jeha memberikan nasehat dan juga dukungan kepada Anne. Benar benar romantis sekali bukan.
Yohan yang melihat itu hanya bisa menunduk, Yohan kali ini cuman bisa diam karena Yohan sendiri jarang sekali berbicara didepan publik, kerjaan Yohan hanya berbicara kepada khalayak kecil tidak seperti Anne dan Jeha.
Anne mendengar semua ucapan Jeha, Anne akan mencoba untuk berbicara didepan banyak orang, semoga saja kali ini berjalan dengan lancar.
"Baik saya akan memberikan kata kata penutup."
"Terima kasih tuan putri, mari ikuti saya." petugas acara itu mulai meninggalkan tempat dimana berkumpulnya Anne, Jeha, Dekieta, Tuv dan Yohan. Anne mulai menjauh dari kumpulan itu.
"Saya ijin pamit yang mulia pangeran Jeha, Tuan Yohan, putri Dekieta." Tuv memberikan hormat dan mulai melangkah mengikuti Anne, ingat tugas Tuv itu melayani Anne, jadi jika Anne tidak berada disini seharusnya Tuv juga tidak berada disini.
__ADS_1
* Anne sudah berdiri diatas panggung, semua mata tertuju kepada Anne.
Sebelum mengucapkan kalimat penutup, Anne tersenyum terlebih dahulu.
"Selamat siang semuanya, terima kasih telah datang diacara pesta pengangkatan saya sebagai seorang putri, saya sangat berterima kasih kepada kalian semua yang sudah meluangkan waktu datang kesini. Saya merasa terhormat karena kedatangan anda semua. Saya harap pesta ini bisa membuat ikatan kerja sama, kekerabatan yang dahulu merenggang kini mulai menyatu kembali. Maaf jika pesta ini kurang sesuai dengan ekspetasi anda semua, saya selaku yang berkepentingan meminta maaf sebesar besarnya. Kalau begitu saya akan menutup pesta ini, terima kasih semuanya." Anne menjauh dari mic kemudian hormat kepada tamu yang hadir sebagai tanda berterima kasih.
Riuh tepuk tangan menggema diseluruh aula pesta. Jeha dan Yohan semakin terpana dengan Anne.
Anne mulai turun dari panggung.
Yohan ingin menemui Anne, karena Yohan akan segera pergi pulang jadi Yohan akan pamit terlebih dahulu kepada Anne.
Barata pengawal Jeha segera mendekat. "Yang mulia pangeran, sebaiknya anda segera kembali, kerajaan tidak boleh ditinggal terlalu lama." Barata mengingatkan Jeha.
"Aku belum diangkat menjadi raja tapi kenapa aku sibuk sekali, apa kamu tidak bisa menggantikan ku Barata?" Jeha bertanya.
Jeha akhirnya pergi tanpa pamit kepada Dekieta ataupun Anne.
Aula pesta sudah sepi dan sunyi, semua tamu sudah kembali ke kediaman masing masing.
Keluarga kerajaan juga sudah kembali ke kediaman masing masing untuk beristirahat, seperti Anne sekarang yang sedang berganti baju karena baru saja mandi sore.
"Wah saya lihat wajah tuan putri bahagia sekali." ucap Ena.
Kalian tentunya tau bukan Ena? Anggota dari tiga serangkai? Dayang dayang yang pernah dekat dengan Anne, tenang saja mereka masih dekat dengan Anne.
"Aku bahagia karena aku senang saja." ungkap Anne.
__ADS_1
Ena tersenyum, Ena juga merasa senang karena Anne senang.
Ena merapikan baju Anne yang dipakai, "sudah selesai tuan putri, sebentar lagi waktunya makan malam." ucap Ena.
Anne menatap dirinya didepan cermin. "Terima kasih Ena karena sudah membantu ku."
"Itu sudah tugas saya sebagai pelayan tuan putri, kalau begitu saya pamit tuan putri." Ena dan para dayang lain mulai meninggalkan kamar pribadi Anne.
* Dekieta saat ini lebih memilih jalan jalan setelah pesta dari pada beristirahat. Dekieta ingin menikmati udara disore hari ini.
Dekieta menghentikan langkah kakinya ketika mendengar krasak krusuk omongan tetangga yang tidak berfaedah.
"Kau tau aku tadi sangatlah gemas dengan tingkah putri Dekieta." gemas dalam artian ingin mengoyak wajah Dekieta.
"Memangnya kenapa?" partner bicaranya bertanya.
"Apakah tadi kamu tidak lihat? Aku saja merasa marah sekali dengan tingkah putri Dekieta, mentang mentang dia putri." partner bicara yang lainnya ikut menimpali.
Parti yang juga ikut mendengarkan pembicaraan itu ingin sekali menghampiri wanita tukang ghibah itu tapi langkah Parti berhenti karena Dekieta menahan tangan Parti.
Parti menengok memandang wajah Dekieta tidak percaya, kenapa Dekieta masih diam? biasanya Dekieta paling tidak bisa menahan dirinya karena orang yang suka membicarakannya.
"Kira dengarkan saja dulu mereka berbicara sampai mana." Dekieta sedikit berbisik.
Saat ini Dekieta memandang ketiga wanita itu dengan tatapan seperti singa yang akan menerkam mangsanya. Dekieta diam diam sangat juga.
"Jadi kenapa? aku dari tadi fokus dengan para tuan tuan yang hadir."
__ADS_1