
Tangan Artira tidak tinggal diam, tangannya sudah bergerilya disemua bagian tubuh Hari. Hari meremang dan menyukai Artira yang menyentuhnya. Hari melenguh kenikmatan.
Hari mendesah menyeruhkan nama Artira. Artira dibuat gila dan semakin bergairah karena ulah Hari.
Mereka menikmati malam hari dengan menyatukan diri mereka.
* Setelah memadu kasih dengan Selir Hari, Artira dan Selir Hari belum tertidur.
Artira segera turun dari atas tubuh Hari. Artira membalikan tubuhnya dan menatap Hari.
"Hari ada yang akan ku bicarakan dengan mu."
Hari menoleh menatap Artira. Terlihat kening Artira penuh dengan peluh sama dengan Hari.
"Apa?" tanya Hari.
Artira menceritakan tentang Surat Yohan tanpa sedikitpun diubah ubah, Artira menceritakannya dari awal sampai akhir.
"Jadi bagaimana pendapat mu tentang surat itu?" tanya Artira kepada Hari.
Hari terdiam sebentar.
"Aku tidak mengenal laki laki yang menyukai putri Anne, tapi keputusan ku tergantung Anne kalau Anne setuju maka aku akan setuju kalau Anne menolak aku juga menolak."
"Begitukah?"
Hari mengangguk.
Karena mereka berdua lelah setelah mengarungi kenikmatan berdua akhirnya mereka berdua istirahat tertidur untuk menyelami lautan mimpi.
* Pagi hari saat Hari terbangun, Artira sudah tidak berada disampingnya.
Selir Hari mengubah arah pandangnya kesamping. Hari menatap bagian ranjang yang tadi malam ditiduri oleh Artira.
Hari mendengus kesal. "Selalu saja begini padahal tadi malam kita menghabiskan waktu bersama."
Hari kecewa karena saat bangun tidur tak ada tubuh Artira, Artira meninggalkannya. Hari merasa seperti terbuang.
Hari segera menyingkap selimut dan segera mandi untuk memulai hari seperti biasanya.
* Rimba yang sudah cantik membahana keluar dari kamar pribadinya dengan raut kesal yang sangat ketara.
Tadi malam Rimba menunggu kedatangan Artira untuk ke kamarnya tapi sampai tengah malam Artira belum saja datang, dan dayang pribadi Rimba segera bertanya kepada pelayan pribadi Artira dan apakah kalian tau jika dayang pribadi Artira mengatakan jika Artira sedang bermalam dengan Hari. Saat itu juga Rimba kesal dan akan membalasnya besok.
Saat ini Rimba melangkah membawa gaun cantiknya. Rimba melangkah menuju kediaman Hari.
Kediaman Selir Hari sudah ramai dengan dayang dan pengawal tidak seperti semalam saat Artira datang.
Dayang pribadi Hari kaget dengan kedatangan Ratu, Dayang pribadi berfirasat tidak baik pasti karena kedatangan Raja tadi malam. Dayang pribadi selir hati hanya bisa berdoa dalam hati, semoga saja tuhan melindungi tuannya.
Rimba segera membuka pintu kamar Hari dengan kasar, Rimba masuk dengan langkah angkuhnya.
Hari terlihat kaget tapi Hari segera menormalkan wajah terkejutnya.
"Selamat pagi Yang mulia, tumben sekali yang mulia pagi pagi sudah sampai disini." Hari berusaha untuk terlihat baik baik saja.
__ADS_1
Rimba menatap tidak suka kearah Hari.
"Seorang Ratu apakah patut membuka pintu dengan kasar?"
Rimba semakin kesal kepada saingannya ini.
"Aku tidak suka dengan sikap mu yang semena mena Hari!"
Hari mengerutkan keningnya, "semena mena bagaimana?"
Rimba memutar bola matanya malas.
"Kamu sudah tau jawabannya Hari, bukannya tadi malam Yang mulia datang kesini dan menghabiskan waktu bersama mu? Padahal seharusnya kamu tau jika malam tadi jatah ku."
Hari tertawa kecil.
Rimba sudah jelas terlihat cemburu.
"Memangnya kenapa? saya juga istri dari Raja. Raja bebas memilih tidur dengan siapa saja."
Rimba mengepalkan kedua tangannya. Hari memang selalu membuat Rimba kesal.
"Aku tidak suka kedekatan mu dengan Yang Mulia Raja!" sentak Rimba.
Selir Hari merasa senang karena Rimba cemburu, 'rasakan pembalasan ku.' batin Hari.
"Yang mulia anda terlihat sangat cemburu."
"Yah memang aku cemburu, memangnya salah aku cemburu kepada mu yang jelas jelas menggoda Yang mulia."
Selir Hari kembali tertawa, Rimba lucu sekali? Apa katanya Hari menggoda Artira? padahal jelas jelas Artira sendiri yang tergoda padahal Hari tidak menggoda Artira.
"Aku sama sekali tidak percaya, dari dulu kamu wanita penggoda."
Mendengar perkataan dari Rimba membuat Hati kesal bukan main.
"Siapa yang wanita penggoda? Bukannya wanita penggoda itu anda sendiri? Apa anda tidak berpikir bahwa ini karma perbuatan anda sendiri?"
"Seperti ini lah diri ku dulu yang menahan cemburu saat suami ku sendiri menghabiskan malam dengan wanita lain. Seperti diri anda sekarang, rasakan rasa cemburu anda sendiri." tambah Hari.
Rimba tidak suka dengan ucapan Hari, Rimba mendekat dan segera menampar pipi mulus Hari.
Hari memegangi pipinya yang sakit dan kemerahan, tamparan Rimba menyakitkan.
"Ingat dan dengarkan Selir, Aku akan tetap menang dan tidak akan kalah dari mu."
Rimba dan Hari saling menatap dengan tatapan permusuhan. Memang dari dahulu kala Rimba dan Hari tidak pernah akur.
Setelah pembalasan yang tidak seberapa itu, Rimba segera keluar dari kediaman Selir Hari.
Hari mengepalkan tangannya kesal.
Hari akan membuat Rimba bertekuk lutut dan Hari akan membalaskan sakit hatinya gara gara ulah rimba bertahun tahun yang lalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Hari ini Dekieta akan pergi untuk memenuhi penilaian calon permaisuri untuk Pangeran Jeha.
Dekieta sudah menggunakan gaun yang memang sudah disediakan oleh kerajaan dinasti pole untuk dipakai para calon permaisuri. Gaun itu tampak pas ditubuh ramping Dekeita.
Hari ini Dekieta juga mengaplikasikan make up diatas wajahnya agar Dekeita terlihat lebih fresh dan cantik dan juga Dekieta merias diri agar pangeran Jeha dan para menteri memilih Dekeita untuk menjadi pendamping Jeha.
Dekeita tidak sabar akan menanti dirinya ketika memakai mahkota.
Dekeita berjalan anggun untuk menaiki kereta yang akan Dekeita tumpangi.
Didekat kereta sudah ada Raja Artira dan Ratu Rimba, mereka akan meluangkan waktu melihat Dekieta pergi.
Raja sebenarnya tidak peduli Dekieta akan menjadi permaisuri didinasti pole dan Raja juga tidak mau ikut campur, biarlah menjadi pilihan Dekeita sendiri.
Disana juga ada Anne berserta Selir Hari mereka berempat akan melepas kepergian Dekeita.
Ada juga menteri Kega dan menteri lainnya, menteri Kega menatap Dekeita dengan tatapan tak terbaca.
Sebelum masuk kedalam kereta, Ratu Rimba mendekat kearah Dekieta, Rimba segera memeluk tubuh sang putri.
"Jangan sedih yang mulia."
Rimba mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Saya meminta restu kepada yang mulia supaya saya bisa lolos menjadi seorang permaisuri dan mendampingin pangeran Jeha." ucap Dekeita.
Ratu Rimba tidak bisa mengangguk karena niatnya memang tidak menjadikan Dekeita sebagai permaisuri di dinasti Pole, tapi hari ini Rimba akan berakting seperti menyetujui pilihan Dekeita.
Dekeita segera masuk kedalam kereta kencana. Dekeita berserta rombongannya sudah pergi menuju ke dinasti pole.
Melihat kereta itu sudah jauh, keluarga kerajaan segera kembali ke kediamannya masing masing.
Mereka bahkan tidak saling berbincang setelah kepergian Dekeita.
Keluarga yang dingin bukan? Tidak ada yang bersikap hangat.
Sedangkan menteri Kega masih berdiri disana. Dirinya masih memikirkan cara agar membuat Dekeita mundur dari pencalonan itu.
Ada seseorang yang datang mendekat kearah menteri Kega setelah orang itu mengecek kepergian semua keluarga kerajaan.
"Kamu datang?" tanya menteri Kega.
Orang itu mengangguk.
"Kamu sudah tau bukan tugas mu apa?"
Lagi lagi orang itu mengangguk.
"Bagus, kamu hanya tinggal memata matai putri Dekeita, dan setelah itu katakan kepada ku!" perintah Menteri Kega kepada orang itu.
Orang itu mengangguk, "baik tuan, saya tidak akan membuat tuan kecewa."
Menteri Kega menoleh kearah laki laki yang memakai baju serba hitam itu, "ingat jangan sampai putri Dekeita tau jika saya yang memata matainya."
Orang itu mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah kamu boleh pergi untuk melaksanakan tugas mu."
Orang suruhan menteri Kega segera pergi dan menteri Kega juga pergi meninggalkan tempat tadi.