Liz Nadiah

Liz Nadiah
Asisten Rumah Tangga


__ADS_3

Udara pagi ini cukup sejuk. Awan-awan bergumpal layaknya kapas mengisi pelataran biru di angkasa. Matahari sudah setia dengan tugasnya, menyorot apa pun di bawah teriknya. Kesiur angin menjadi dayang yang patuh memberi kesejukan, untuk semua pengukir kisah di atas panggung yang penuh drama ini.


Secangkir latte hangat bertengger manis di sela jemari kanan seorang pria. Kimono putih selutut dengan tali pinggang yang tak diikatkan kencang itu, menampilkan dada bidangnya yang berotot.


Khas bangun tidur, rambut fringe-nya masih tampak acak-acakan. Ia berdiri santai menatap beranda pagi yang menenangkan dari bingkai jendela kamarnya yang menganga.


Sepasang lengan tiba-tiba merayap, melingkar mengunci tubuh pria itu dari belakang. Menyusul pipi halus yang ditempelkan menyamping di punggung kekar kesukaannya.


"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya wanita dengan gaun tidur satin pendek tanpa outer itu, dengan suara parau. Lekuk tubuhnya terlihat jelas, menonjolkan setiap bagian intim dari dirinya.


"Aku sengaja. Kau terlihat kelelahan sekali." Pria itu menyahut setelah menyesap lembut minuman hangatnya.


Bibir polos tanpa lipstik itu mengerucut. Sepasang matanya nampak masih berat untuk terbuka. "Bagaimana aku tidak kelelahan. Kau melakukannya sepanjang malam."


"Tapi kau menikmatinya." Pria itu berbalik badan usai meletakan cangkirnya di bingkai jendela. Mengangkat kedua tangannya lalu menyibak halus anak-anak rambut yang menjuntai menghalangi paras cantik di hadapannya. "Aku suka gerak pinggulmu. Aku suka suara desahmu." Senyum manisnya tersungging mempesona. "Sangat seksi."


Si wanita menarik bibir menanggapi kalimat erotis kekasihnya yang selalu tampan tak kenal waktu itu. "Benarkah?"


"Kau sudah merasakan bagaimana aku tak bisa menahan diri saat berdua denganmu seperti ini."


Masih memasang senyumnya, kedua tangan wanita dengan tinggi 168 sentimeter itu telah beralih melingkar di leher si pria. "Kalau begitu aku pun sama. Tak bisa menahan saat kejantananmu bereaksi di dekatku."


Untuk seorang pecinta wanita seperti ... sebut saja dia Zack ... Zack Shangra, kalimat seperti itu adalah kesenangan. Terlebih jika sudah terkupas menjadi desah dan erang yang menjadi backsound merdu tarian kelelakiannya. Ia merasa tak salah memilih wanita itu sebagai pasangan, juga sebagai ladang kebutuhan biologisnya. Menggairahkan, begitu Zack Shangra dan kejantanannya menilai.


Shasi Maretha, seorang model majalah fashion yang cukup terkenal di dunianya. Baru enam bulan lamanya wanita berambut sebahu itu mengenal Zack Shangra, melalui sebuah event peragaan busana di sebuah mall pada mulanya. Entah karisma semacam apa yang menerap dalam diri pria itu, sampai membuat Shasi Maretha cukup bisa dikatakan 'tergila-gila' oleh pesonanya. Hampir seluruh hidupnya, ia serahkan untuk pria itu tanpa perduli apa pun.


"Kita mandi bersama."


Tiga kata itu disambut baik oleh Shasi Maretha. Ia mengangguk tanpa ragu dengan senyum merekah menghias bibirnya. "Aku tidak ingin melewatkan itu," ucapnya, seraya mengecup sekilas bibir milik si pejantan.

__ADS_1


Tanpa bersahut kata, Zack Shangra langsung mengangkat tubuh yang mungkin hampir telanjang itu ke atas gendongannya layaknya Zorro. "Kita lanjutkan sampai kau tak bisa bangun."


"Dan aku akan selalu bangun sampai kakimu lemah bergetar."


"Hahaha." Zack Shangra tergelak. "Akan kupastikan kau mendapatkan gaun aneh itu siang nanti."


"Benarkah?" Shasi Maretha bertanya tak percaya. "Kau akan belikan untukku?!"


Pintu kamar mandi itu telah tertutup. Menelan kedua sejoli itu di dalamnya, usai Zack Shangra menendangnya dengan cukup kuat.


"Tentu. Setelah kau menaikkan suara desahmu hingga seratus oktaf."


..........


..........


Suara bariton itu hampir saja membuat sekepal jantung terlepas dari tempatnya.


Seraya membalik tubuhnya menghadap, dengan takut wanita 51 tahunan itu menyahuti, "Ti-tidak, Tuan. Saya hanya ingin memanggil Tuan Muda untuk sarapan."


"Dia sudah bangun, dan kaudengar itu! Lalu kenapa hanya kautatap saja pintu itu dari tadi?" Pria tua dengan usia hampir setara dengannya itu memicingkan mata. "Kau sudah cukup tua untuk menguping pembicaraan anak muda seperti mereka!"


Wanita berseragam Upik Abu itu menggeleng cepat-cepat. "Tidak, tidak seperti itu, Tuan. Sa-saya ... saya hanya takut mengganggunya saja. Jadi saya hanya diam menunggu sampai Tuan Muda selesai berbicara." Kepala tegaknya kembali tertunduk. Sepasang telapak tangannya saling meremas ketakutan.


"Mereka tak akan berhenti sampai jarimu yang bergerak mengetuk pintu itu. Lain kali, bertindaklah seharusnya. Jangan berlaku seperti seorang penguntit!" tutur pria itu telak. "Kembali ke tempatmu. Biarkan anak-anak itu melakukan sesuka mereka." Kemudian berlalu dengan langkah congkaknya seperti biasa.


Punggung yang masih berbalut piyama milik majikannya itu, ditatapnya suram. "Kau telah menghancurkannya Tuan Diraga," gumamnya getir. Buliran air matanya bahkan telah jatuh menyentuh lantai. "Menghancurkan putraku." Kembali dipandanginya pintu kamar yang masih tertutup itu, pedih.


Suara-suara erangan penuh nafsu dari dalamnya mulai kembali mengganggu pendengaran wanita itu. Ia menggeleng menutup telinganya dengan kedua telapak tangan. Aku bahkan tak bisa berbuat apa pun untuk menyadarkannya.

__ADS_1


Kemudian berjalan cepat meninggalkan tempat itu dengan segera.



"Pagi, Pap." Zack Shangra sudah terlihat rapi, dengan balutan jas beralas t-shirt putih di dalamnya, berpadu slim fit jeans dongker yang semakin menyembulkan karismanya. Rambutnya disisir klilmis, tertata apik ke belakang. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Diraga Madewa, pria yang selalu disebutnya 'papa'.


"Pagi, Om." Disusul Shasi Maretha yang telah sempurna dengan penampilan seksinya seperti biasa. Kursi kosong di samping sang dicinta dipilihnya.


"Pagi, Zack, Shasi." Satu suapan roti dijejalkan Diraga Madewa ke mulutnya. "Muana, buatkan susu hangat untuk Shasi," titahnya pada wanita tua Asisten Rumah Tangganya itu.


"Baik, Tuan," sahut pemilik nama. Seluruh gelas-gelas itu telah diisinya dengan air putih. Sebelum berlalu, disempatkannya melirik Zack Shangra yang tengah asyik mengunyah roti berselai kacang itu, sekilas. Selalu ada debaran luar biasa di dalam dadanya acapkali berdekatan dengan pemuda itu. Jelas saja, dan akan selalu seperti itu.


Tatapannya disadari Diraga Madewa. Dan itu bukan kali ini saja. Satu desir kecurigaan kembali menyembah dalam pikir pria itu. Siapa wanita itu sebenarnya?


Muana baru bekerja di rumah itu sebagai Asisten Rumah Tangga tiga bulan lamanya. Awalnya Diraga Madewa menolak, karena usia Muana tak cukup meyakinkan untuk melakukan semua pekerjaan di rumahnya yang cukup luas dan besar itu. Ditambah ketidakpercayaannya pada orang lain, sulit diluluhkan, usai beberapa orang sebelumnya bertingkah sebagai pencuri di rumah itu, yang kemudian berakhir kehilangan nyawa di tangannya.


Satu-satunya pembantu kepercayaan yang juga berperan sebagai pemuas nafsunya, meninggal secara tragis empat bulan lalu setelah menyantap tiga butir anggur yang tertata di dalam keranjang buah di atas meja makan sebagai suguhan untuk para tamu Diraga sendiri.


Dan Muana, wanita tua itu memaksa dan terus memohon, juga berjanji akan membuktikan kemampuannya dalam bekerja.


Tujuh hari waktu yang diberikan Diraga Madewa untuk Muana membuktikan ucapannya. Dan itu berhasil. Tangan cekatannya cukup membuat pria itu merasa puas. Juga kejujurannya, menambah satu point plus dalam pandangan Diraga Madewa. Namun semakin lama, gerak-gerik Muana semakin dirasanya mencurigakan, dan itu hanya terlihat ketika Zack Shangra tengah berada di rumah.


Apa hubungan wanita itu dengan Zack Shangra?


Dengan kedua telapak tangan tersangga di bawah dagunya, Diraga Madewa menatap koridor kosong yang baru saja dilewati tubuh Muana yang berjalan menuju dapur, seolah berpikir.


Aku harus mencari tahu, tekadnya.


__ADS_1


__ADS_2