Liz Nadiah

Liz Nadiah
Antara Diraga, Zack dan Kahfi


__ADS_3

Liz Nadiah terlihat tak lagi peduli dengan celotehan Andromeda beberapa saat sebelumnya--tentang hal konyol yang sama sekali belum pernah masuk ke dalam agenda kehidupannya, selama berada di kota yang kini ditinggalinya. Kecuali berbulan lalu, sebentuk harapan samar yang diberikan Kenan Lingga, pada lorong waktu dan latar yang berbeda--itu jelas lain.


Berikutnya, obrolan tentang penculikan Liz Nadiah, juga belasan orang yang tertawan di bukit jauh sana, menjadi bahasan serius yang cukup membuat Andromeda dan Tirta Patih terperangah. Kali ini penjelasan yang dituturkan Liz Nadiah lebih terperinci dari sebelumnya, yang dia ungkap pada Andromeda.


"Apakah ini ... Zack Shangra yang kaumaksud, Nona Nadiah?"


Sebuah ponsel dengan layar menyala, disodorkan Tirta Patih pada Liz Nadiah, yang kemudian juga tertangkap mata Andromeda.


"Tebakanku juga orang itu, Tirta," kata Andromeda setelah melihat jelas potret yang terpampang di layar ponsel itu. Sebuah foto hasil unggahan di media sosial milik Zack Shangra, berlatar hotel baru yang saat ini tengah dikelola oleh pria amnesia itu.


Tirta Patih mengangguk menyetujui, lalu mengalihkan fokusnya kembali pada Liz Nadiah yang tepekur menatap foto itu tanpa kedip. Kemudian malah terlihat berkaca-kaca sesaat kemudian.


"Nadiah. Kau tidak apa-apa?" Telapak tangan Andromeda dengan lembut menepuk pundak gadis itu.


Cukup berhasil mengalihkan dimensinya, Liz Nadiah mendongak menatap Andromeda. Nampak dua tetes hasil kedipan matanya terjatuh melewati pipinya. "Aku tidak apa-apa," sahutnya seraya mengusap sisa basahan itu.


"Lalu bagaimana, Nona Nadiah? Apakah orang di foto itu, benar Zack Shangra yang kaumaksud?" Tirta Patih mengambil tanya, memastikan.


Dengan gerak perlahan, Liz Nadiah menganggukkan kepalanya. "Anda benar, Tuan Tirta. Dia orangnya."


Jawaban itu spontan membuat Andromeda terkejut.


Jika begitu ... itu artinya ... Nadiah adalah adik satu ayahnya Zack Shangra?


Mulanya, ia hanya menebak asal saja. Lalu menepis pikirnya dengan kilah, 'mungkin ada Zack Shangra lain di kota sebesar ini'. Namun dugaannya sama sekali tak meleset. Itu memang Zack Shangra yang ia kenal--beberapa bulan lalu.


Berlainan dengan Andromeda, semburat perasaan terhenyak terlukis di wajah Tirta Patih.


"Diraga Madewa bukan orang sembarangan," celetuknya. "Kita tidak akan mudah menghadapinya. Dia bahkan bisa lolos dari hukum, dalam kasus besarnya beberapa tahun lalu, hanya dengan jentik jarinya. Sampai saat ini, kasus itu masih rapi, tanpa tercium media sebait pun."


Andromeda mengalihkan wajah berkerutnya pada pria itu. Ekspresinya berganti dengan tampilan seolah tak percaya.


Benar, ia lupa ... Zack Shangra adalah puteranya Diraga Madewa, juga pamannya Jennefit Moon.

__ADS_1


Jadi ... yang menculik Nadiah, adalah pria tua itu?


"Kasus besar semacam apa yang kaumaksud, Tir?" Andromeda ingin tahu.


Liz Nadiah turut memasang wajah penasaran.


Sejenak Tirta Patih menghembuskan napas beratnya. Sedikit terselip keanehan di antaranya--seperti sebuah rasa yang sulit ia jelaskan. "Kasus pembunuhan berantai. Dengan pengambilan organ dalam dari korbannya, untuk diperjualbelikan ke luar negeri," ungkapnya, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa yang didudukinya.


Jawaban itu tentu saja membuat sepasang manusia di hadapannya terkejut kembali, namun kali terasa lebih menyentak.


"Pembunuhan berantai?" Liz Nadiah mengulang dengan wajah tercengang.


..........



Jendela kamar itu dibiarkannya terbuka sangat lebar. Angin menghembuskan diri dengan percaya diri ke dalamnya.


Di atas meja di dekat pintu, senampan makanan lengkap dengan susu dan buah-buahan, masih nampak utuh tanpa disentuhnya. Zack Shangra masih bergeming dalam diamnya. Tiga hari sudah ia mengurung diri di dalam kamar. Pikirannya masih kacau. Wajah tampannya bahkan terlihat semakin kusut tanpa sentuhan perawatan yang biasa dilakukannya.


Kahfi dinyatakan hilang selepas kecelakaan bus itu belasan tahun lalu. Dan sampai saat ini ... tak pernah satu pun kabar yang menyatakan pria itu telah ditemukan.


Pada saat bersamaan, gemeletak logam beradu dari arah pintu, mengalihkan perhatiannya. Dengan cepat, dokumen-dokumen itu disembunyikan Zack Shangra di bawah bantal di sampingnya. "Papa."


Diraga Madewa muncul dengan senyuman ke-bapak-an. Pria tua itu lalu berjalan mendekat ke arah Zack Shangra yang masih terduduk bersandar pada kepala ranjang. "Papa dengar kau kurang sehat, Zack?"


Zack Shangra mengangguki. "Hanya sedikit tidak enak badan, Pa."


"Papa akan panggil Dokter Wang ke mari untuk memeriksamu." Kini Diraga memposisikan dirinya duduk di tepi ranjang putranya.


"Tidak perlu, Pa. Aku sudah merasa jauh lebih baik."


Diraga tersenyum. "Jika sudah lebih baik, kenapa makanan itu kaubiarkan hingga mendingin?" Sekilas mengarahkan tangannya ke arah meja berisi nampan makanan itu.

__ADS_1


"Aku akan memakannya nanti."


"Baiklah," kata Diraga tak ingin mendebatkan itu. "Zack ... Papa ingin bicara padamu," lanjutnya dengan raut dingin menatap anaknya.


"Sepertinya serius?" Zack Shangra menyergah ingin tahu.


Dengan senyuman tipis, Diraga mengangguk. "Kau benar, Nak."


"Katakan saja, Papa."


Diraga nampak bangkit dari tempatnya. Menyelipkan kedua telapak tangannya di saku celana, lalu berjalan menuju ke arah jendela yang menganga. "Papa akan keluar negeri, dalam waktu yang tidak bisa ditentukan," ungkapnya tanpa menoleh.


Zack Shangra nampak mengernyit. Dipandangnya punggung tua namun masih tegap itu dengan ekspresi penuh tanya. "Kenapa tiba-tiba? Ada apa?"


Beberapa ekor burung yang berjejer mengisi sebentang kabel di ujung jalan bagian depan rumahnya, ditangkap mata Diraga dengan cukup keruh. Namun bukan burung-burung itu penyebabnya--tentu saja. "Ada kepentingan bisnis, perihal perluasan bisnis klub yang akan Papa buka di salah satu kota, di negara itu."


"Lalu?"


Diraga mulai berbalik, menatap Zack Shangra, teduh. "Papa ingin kau mengelola semuanya dengan baik."


Zack Shangra menangkap ada hal lain dari wajah itu. "Kenapa aku merasa Papa sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"


Itu menakjubkan. Anggap saja keuntungan. Diraga selalu kagum dengan kemampuan mengamati ekspresi yang dikuasai anaknya. Padalah ia menyekolahkan pria itu hanya di jurusan bisnis. Tapi ternyata ada kelebihan lain yang cukup menguntungkannya, terlebih dalam urusan menggaet para investor besar untuk perusahaannya.


"Zack ...." Dengan langkah terseret, Diraga kembali berjalan mendekati anaknya, lalu berdiri menghadap pria muda itu dengan tetap mempertahankan telapak tangannya di dalam saku celana. "Papa hanya berpesan ... jangan percaya dengan kabar apa pun yang menyulitkan juga menghambat langkahmu. Kau anak Papa. Kau lahir dari rahim mamamu--Linda Madewa. Meski pun dia telah tiada, tapi dia akan sangat kecewa, jika kau memiliki keyakinan lain tentang keluarga kita."


Ada desiran perih melintasi lorong hati Zack Shangra. "Papa sudah tahu?"


Dengan senyum dan anggukan pelan, Diraga berkata, "Papa tahu. Pria bernama Kahfi itu cukup mengganggumu. Tapi Papa tegaskan padamu. Pria itu hanya orang yang kebetulan mirip denganmu. Dan Papa


... sudah menyelidiki tentangnya sebelum kau."


Zack Shangra cukup terkejut dengan hal itu. "Lalu? Bagaimana hasilnya?"

__ADS_1


"Dia sudah mati. Makamnya berada terpencil di ujung hutan. Masih satu wilayah dengan tempat di mana kecelakaan itu terjadi. Jasadnya ditemukan telah hancur mengenaskan. Sisa cabikan hewan buas di tengah hutan, oleh seorang pencari kayu bakar. Karena kebodohan akan komunikasi, juga minimnya pengetahuan tentang hukum, lelaki itu, memakamkannya seorang diri."


...👀👀...


__ADS_2