
Sepasang kaki tegak berdiri di depan halaman sebuah rumah. Bergeming ... menatap pemandangan tak lazim yang cukup mengguris sisi lain dirinya. Kedua matanya bergulir menyapu bangunan sederhana di depannya itu--telah porak poranda.
Tak ada yang tersisa, selain dinding-dinding yang berdiri dalam kepasrahan. Semua dalam keadaan hangus menghitam. Kepulan asap bahkan masih terlihat di beberapa sudut, seolah mengatakan 'tak boleh ada yang tersisa secuil pun'.
Berantai tanya memenuhi kepalanya.
Apa yang terjadi?
Kenapa rumah itu terbakar?
Kemana Liz Nadiah?
Apakah dia baik-baik saja?
"Maaf, apakah Tuan berniat mencari Dokter Nadiah?" Seorang wanita tua membuyarkan iramanya.
Ia menoleh sontak. Lantas dengan senyuman tipis ia menjawab, "Benar, Bu. Apa dia baik-baik saja?"
Wanita tua itu tersenyum--miris. Masih nampak kilatan prihatin dari sorot matanya yang kini menatap bangunan yang telah hangus itu. "Beruntung dia baik-baik saja, Tuan. Hanya ... Nona Qinay, dia meninggal karena terjebak dalam kebakaran itu," jelasnya.
Terdengar hembusan napas lega dari mulut pria yang tak lain adalah Zack Shangra itu. Ia tak peduli dengan Qinay atau siapa pun, baginya yang terpenting, Liz Nadiah dalam keadaan baik-baik saja. "Syukurlah. Tapi kenapa rumah ini bisa terbakar, Bu?"
"Semua masih dalam penyelidikan polisi, Tuan," jawab wanita itu seadanya.
Zack Shangra hanya mengangguk. "Lalu, di mana Nadiah sekarang?"
"Kalau saya tidak salah dengar, Dokter Nadiah ikut bersama Tuan Muda Andro."
Informasi yang didapatnya dari wanita tua itu, cukup membuatnya gagal paham. "Kenapa Nadiah bisa bersama Andromeda?" Seraya terus menggerakkan stir mobilnya, Zack Shangra bergumam dengan kerutan tebal di wajahnya. "Aku harus mencari tahu, apa hubungan mereka."
Sayangnya, tak ada penjelasan yang ia dapat tentang hubungan Liz Nadiah dan Andromeda. Hatinya cukup gamang menilai kenyataan itu.
Apakah Andromeda memang kekasihnya sejak awal?
Atau bagaimana?
Jika benar, maka ia berada dalam posisi sulit.
__ADS_1
Andromeda bukanlah pria sembarangan. Tak mungkin ia menunjukkan dengan terbuka rasa ingin memiliki Liz Nadiah di depan pria itu. Atau berdiri sebagai rival di hadapannya secara terang-terangan. Seperti yang biasa ia lakukan pada pasangan-pasangannya sebelumnya.
Tidak!
Penanaman investasi di kerajaan perkebunan Andromeda cukup menjanjikan keuntungan. Dan ia tak ingin mengecewakan papa kebanggaannya--Diraga Madewa.
Memikirkan hal itu cukup membuat kepala Zack Shangra merayang amarah, hingga ingin pecah rasanya.
Pedal gas diinjaknya maksimal. Ia harus memikirkan cara lain untuk mendapatkan Liz Nadiah--merebutnya dari tangan Andromeda. Tanpa menghancurkan kerjasama bisnis papanya.
Sebuah aquascape raksasa dengan bermacam tumbuhan yang ditata sedemikian rupa dalam rendaman air jernih. Ragam ikan hias berbagai jenis dan ukuran, bergelimangan ke sana kemari saling melengkapi dalam perbedaan. Sebuah mini air terjun lengkap dengan bebatuan dan segala tatanannya--nyaris menyerupai sebenarnya, sangat indah menjadi pelengkap di dalamnya.
Seharusnya keindahan yang terletak di taman belakang rumah Andromeda itu cukup membuat tenang dan memanjakan penglihatan. Namun tidak berpengaruh apa pun bagi Liz Nadiah yang saat ini berdiri terdiam di dekatnya. Seolah semua itu tak ada nilainya sama sekali. Hanya tatapan tanpa isi yang entah ia tujukan pada apa.
Pernyataan yang dikemukakan Tirta Patih beberapa jam lalu cukup membuatnya--antara bingung, sedih, juga rapuh, berbaur menjadi satu.
Diraga Madewa tak ditemukan di mana pun. Pria tua itu melarikan diri. Bahkan dalam data akses perjalanan di seluruh bandara atau pun pelabuhan, tak satu pun menyampirkan namanya sebagai penumpang. Dan Muana ... tak ada informasi apa pun yang didapatnya tentang keberadaan wanita itu. Zack Shangra belum dapat dimintai keterangan perihal keberadaan ayah angkatnya. Lelaki muda itu seolah ikut hilang menenggelamkan diri.
"Rumahmu sengaja dibakar".
Informasi terakhir dari Tirta itulah yang paling membuat hatinya semakin terasa pedih. Kematian Qinay adalah unsur kesengajaan. Gadis itu terjebak karena seluruh pintu tak bisa ia buka, termasuk jendela untuknya bisa keluar melarikan diri dari selimut api.
"Tenanglah ... semua akan baik-baik saja. Kau aman di sini." Suara seksi itu berhasil mengusik alunan sendu Liz Nadiah. Andromeda datang dengan segelas teh hangat di tangannya. "Minumlah. Udara cukup dingin," tawarnya.
Dan memang sangat dingin, hingga menembus pori-pori. Hujan telah turun dari dua jam yang lalu, tak lama setelah Tirta Patih pamit undur diri.
"Terima kasih," ucap Liz Nadiah seraya mengambil cangkir beserta alasnya itu dari tangan Andromeda.
"Duduklah," pinta Andromeda. "Aku tak mungkin memijatmu saat kau pegal, karena terlalu lama berdiri di sana," imbuhnya. "Kecuali kau yang meminta."
Liz Nadiah mendengus. Ia berjalan mengikuti Andromeda yang telah lebih dulu duduk di sebuah kursi rotan di sudut teras.
Dengan perlahan teh itu disesapnya penuh perasaan.
Nampak bibir Andromeda tertarik ke samping melihatnya. "Sore nanti, kita akan berbelanja," celetuknya tiba-tiba.
Dan itu spontan memancing pandang Liz Nadiah ke arahnya. "Berbelanja? Maksudmu?"
__ADS_1
Dengan santai bersilang kaki, jemari tangan Andromeda mengusap halus pinggiran cangkir yang digenggam tangannya yang lain, seolah ada noda yang tengah dihapusnya dari benda itu. "Membeli baju-baju untukmu."
Liz Nadiah memasang wajah sedikit terkejut--hanya sedikit. "Baju? Untukku?"
"Hmm."
"Tapi ...."
"Kau tak boleh keberatan!" sergah Andromeda. "Itu pun jika tak ingin badanmu bau karena mengenakan pakaian yang sama setiap hari."
Perkataan Andromeda cukup menjelaskan.
Dan itu benar, seluruh pakaian miliknya telah tak bersisa dilalap api, selain yang dibelikan Andromeda semalam, yang kini melekat di tubuhnya. Hanya itu.
Liz Nadiah tak bisa mengelak, meskipun sebenarnya ia cukup keberatan, karena lagi-lagi Andromeda menambah tumpukan hutang atas dirinya. "Kau benar. Aku baru ingat setelah kau bilang itu barusan, kalau sekarang aku bahkan tak punya baju sehelai pun."
Andromeda menanggapi dengan senyuman tipis, "Tenang saja. Kita buat lemarimu penuh kembali."
Rasanya tak tahu harus menanggapi dengan cara apalagi, Liz Nadiah terdiam kaku menatap Andromeda. Pria menyebalkan itu ... kenapa jadi semanis ini?
"Daripada matamu kau buat ternoda terus menerus. Aku sarankan ..." Andromeda menyeringai jahil memandang wanita di hadapannya itu, "... kita halalkan saja!"
Untaian kata itu sontak menarik Liz Nadiah dari jerat pesona pria itu. Ekspresi tersentak memenuhi sekujur parasnya saat ini. "A-apa katamu?" tanyanya tergagap.
Cangkir kristal berisi teh hangat itu diletakkan Andromeda di atas meja yang menyekat antara dirinya dan Liz Nadiah. Suara berdenting sekilas terdengar dari alas gelas dan kaca penutup meja yang beradu. Setelahnya ia bangkit, lalu bergerak melangkah ke arah Liz Nadiah.
Dengan perlahan, Andromeda menurunkan tubuhnya--bersimpuh di hadapan wanita itu. Entah apa yang hendak dibuatnya.
Sedangkan Liz Nadiah sendiri masih membisu. Tubuhnya terlihat sedikit beringsut. Terpampang jelas kebingungan di wajahnya. Apa yang akan dilakukan pria itu?
Meskipun cukup ragu pada awalnya, namun dengan perlahan, telapak tangan Andromeda menggenggam kedua telapak tangan Liz Nadiah, setelah sebelumnya meletakkan terlebih dahulu cangkir teh yang digenggam wanita itu.
"Aku tahu ini pasti mengejutkanmu. Tapi ... aku rasa
... hanya dengan cara ini, aku bisa leluasa melindungimu."
"Ma-maksudmu?" Liz Nadiah memotong dengan kening berkerut. Cukup tak sabar walaupun terdengar kaku. Hatinya mulai berdebar tak karuan.
Tak ada raut bercanda. Wajah menyebalkan yang bahkan sesaat lalu masih nampak, kini berganti tatapan berharap yang siapa pun mungkin tak akan percaya ... dialah Andromeda.
__ADS_1
"Nadiah ... menikahlah denganku!"