
"Kauyakin, tidak ingin kembali? Semua merindukanmu, Nad."
Sedikit mengangkat wajahnya menatap Kenan Lingga yang kini duduk mengisi sofa di seberangnya, Liz Nadiah dengan pelan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kenan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, juga ...." Sejenak terdiam, mengambil napas dalam. ".... Pada ibu, untuk mengabdikan diriku pada desa ini."
Satu hal lain yang menjadi alasan penguat Liz Nadiah menetap di desanya, tak bisa ia jelaskan pada pria itu. Tentang Malea Lupi. Ia mengetahui jelas perasaan teman seprofesinya itu, setelah melihatnya menangis di dalam toilet kamar mandi rumah sakit, seraya meracau penuh luka, karena Kenan Lingga tak pernah sedikit pun meliriknya. Juga catatan kecil yang ditulis Malea Lupi tentang perasaannya pada Kenan Lingga, membuatnya semakin kuat untuk meninggalkan pria itu. Meskipun di antara mereka tak pernah ada ketukan pasti sebuah ikatan.
Ada semburat kecewa di wajah Kenan Lingga. "Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi ... di mana ibumu? Boleh aku bertemu dengannya?"
Pertanyaan itu cukup menyentak Liz Nadiah.
Di alas sendu ia kembali menggeleng. "Dia tidak di sini. Mungkin di suatu tempat. Yang aku berharap suatu saat, aku bisa menemukannya."
Kenan Lingga jelas terkejut. "Maksudmu, Nad?"
Ditatapnya pria itu sekilas, lalu mengungkap, "Ibuku hilang."
....
Sepuluh tahun yang lalu.
Telapak tangan remaja Liz Nadiah yang pada saat itu masih berusia 16 tahun, terus melambai di dalam sebuah mobil yang merangkak semakin jauh, meninggalkan ibunya, Galuh Aisyah.
Wanita berusia 40 tahunan itu berdiri di tengah jalanan desa seraya membalas lambaian tangan Liz Nadiah dengan air mata yang memburai ... terlalu berat melepas kepergian putri satu-satunya itu.
Liz Nadiah dibawa oleh pamannya, Jaya Purnama, adik tiri Galuh Aisyah ke kota, untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, di atas jaminan pamannya tersebut tentunya.
Kesulitan hidup yang dialaminya selepas kepergian Shada Yasin-suaminya, membuat Galuh Aisyah menyanggupi keinginan Jaya Purnama untuk membawa Liz Nadiah ke kota. Dan ia sendiri menolak ikut karena suatu alasan. Paksaan Jaya Purnama berakhir hembusan napas mengalah.
Sedangkan Liz Nadiah tak bisa menolak, walau berat meninggalkan sang ibu dalam kesendirian.
"Pergilah, Nak. Ibu mohon." Telapak tangan Liz Nadiah terus digenggam Galuh Aisyah, dalam tangis mengharu biru, juga sedikit rasa terpaksa sebenarnya. "Jadilah pahlawan untuk desa ini. Jadilah dokter yang hebat, agar tak ada lagi penduduk yang meninggal karena terlambat diobati, atau karena kelaparan."
__ADS_1
Pesan ajaib ibunya itulah, yang membuat Liz Nadiah tak mampu mengatakan 'tidak', untuk menyanggupi. Pada akhirnya ia mengangguk meskipun dalam kegamangan.
Desa itu penuh dengan kesulitan, banyak wanita meninggal saat melahirkan karena terlambat penanganan, pun dengan bayinya. Banyak penduduk yang sakit lalu meninggal tanpa pertolongan medis ... karena kemiskinan yang kental.
Mereka mengandalkan hidup dari hasil tangkapan ikan di sungai atau menjadi nelayan di laut, dengan hasil yang sulit untuk menggapai kata 'cukup'. Atau pun menyadap karet dengan upah yang tak seberapa, karena para pengepul tak membayar mereka sesuai yang seharusnya. Terlalu ramai kecurangan dari orang-orang serakah yang menekan mereka hingga kesulitan merajai ... bahkan untuk sekedar bernapas sekali pun.
Desa itu seolah tertutup kabut, yang tak terjangkau tangan dingin pemerintah. Aparat desa terlampau berpangku tangan, membiarkan penduduknya digilas kesengsaraan. Entah apa kerja mereka kala itu.
Tiga tahun sebelumnya, Shada Yasin, ayah Liz Nadiah, meninggal saat melaut di cuaca yang tiba-tiba buruk di suatu malam. Pria itu tenggelam bersama beberapa awak dalam kapal nelayan yang karam dihantam gelombang badai. Lalu ditemukan tak bernyawa keesokan harinya di ujung pesisir tak jauh dari desa itu. Ia meninggalkan anak dan istrinya dalam derita yang cukup menguras air mata setelah kepergiannya.
Awal-awal berada di kota, Liz Nadiah masih sering bertukar kabar bersama ibunya yang nebeng telpon, di kantor kelurahan. Namun semakin lama, Galuh Aisyah semakin jarang mengabarinya. Bahkan nyaris tak pernah setelah berbulan-bulan Liz Nadiah berada di kota itu. Dan kabar terakhir yang diterima dari Lurah di desanya, ibunya dinyatakan hilang, dengan keadaan rumah yang kosong, tak lagi terawat. Melahirkan misteri.
Liz Nadiah cukup terpukul dengan berita itu. Jaya Purnama melarangnya keras kembali ke desa untuk memastikan keadaan ibunya, karena suatu wabah yang tengah menimpa desanya saat itu. Hingga waktu mengubah segala kisahnya di kota sana.
...***...
Sean hanya bisa menunggu. Meskipun rasa bosan telah menimbun dirinya hampir satu jam lamanya.
Dengan keyakinan dan rasa bodo amat, akhirnya ia memutuskan untuk tidur di dalam mobil yang diparkirkannya tak jauh dari area danau tempat Andromeda menyendiri.
Sampai detik ini, Andromeda masih terdiam kaku, berleseh tubuh menekuk kaki, di depan sebuah danau di ujung kota. Sesekali dilemparkannya batu-batu kecil ke tengah danau hingga menciptakan gelombang melingkar, yang sama sekali tak membuatnya tenang.
"Kenapa dia harus muncul kembali di hadapanku, di saat aku telah mengubur dalam semua tentangnya?" Itu adalah kalimat ke sekian kali yang diucapkannya, sejak awal menjejak tempat itu.
Bayangan wajah Jennefit Moon, wanita yang hampir dinikahinya empat tahun yang lalu, terus membayang tak lepas memenuhi pelupuk matanya.
Ia meninggalkan acara jamuan makan di hotel itu sebelum usai sore tadi, setelah saling bertemu tatap dengan wanita yang ternyata keponakan Diraga Madewa, rekan bisnis barunya saat ini.
Jennefit Moon hanya membatu. Pertemuan itu terlalu mengejutkan untuknya juga Andromeda. Semua memandang keduanya heran. Dan Diraga Madewa, mungkin akan mendapatkan penjelasan dari Jennefit Moon sendiri setelah itu.
__ADS_1
Entah takdir apalagi yang akan menimpa Andromeda ke depannya.
Namun satu hal yang diyakinkan dalam dirinya kini ....
"Tidak! Aku tidak boleh lagi tergoda olehmu. Kau sudah meninggalkanku. Maka nikmati penyesalanmu saat ini!"
Itu pun jika wanita itu benar-benar menyesal.
Kilat kebencian terpancar jelas di sepasang mata Andromeda.
Larut dalam perasaannya, suatu gerak tiba-tiba mengusiknya. Ia melihat sebuah perahu di tengah danau, yang diisi oleh sepasang manusia yang mungkin ... suami istri, dilihat dari gamis dan hijab bercadar yang dikenakan si wanita, kontras dengan baju koko yang dikenakan si pria.
Keduanya tampak tenggelam dalam romansa teduh dengan lampu-lamu tumblr menghiasi sekeliling perahu kecil itu. Sesekali tertawa dalam obrolan ringan, juga sesekali saling membelai wajah. Dan itu ... cukup membuat iri siapa pun yang melihatnya.
Entah setan konyol mana yang merasuk ke dalam pikiran Andromeda, hingga pasangan romantis itu, seolah berubah peran menjadi dirinya dan Liz Nadiah.
Tanpa sadar, bibir Andromeda tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman. Bayangan itu terlalu indah untuk ditepisnya.
Hingga ....
"Tuan Muda! Mau sampai kapan Anda berdiam di sini?!"
"Ngg?" Kepala Andromeda bergerak spontan menatap Sean yang kini berdiri di sampingnya. Detak jantungnya cukup terpental, karena terkejut. "Kau!"
"Ini sudah hampir dua jam," keluh Sean seraya menurunkan tubuhnya, ikut mendudukan diri di samping Andromeda, menatap ke tengah danau yang terletak di dalam lingkup sebuah taman hiburan di bagian ujung kota itu.
Tempat itu cukup ramai di malam hari. Yang sebagian banyak pengunjungnya adalah muda-mudi berpasangan.
Andromeda mendengus kesal. "Satu porsi besar ratatouille, boleh kauhabiskan setelah ini," ujarnya tanpa mengalihkan pandangnya dari perahu kecil yang mulai menjauh ke ujung lain bagian dari danau itu.
Mendengar itu, Sean sontak berseru riang. "Wow! Benarkah itu, Tuan Muda?!"
__ADS_1
Namun sama sekali tak dipedulikan Andromeda. Pikirnya kembali pada bayangan Liz Nadiah dan dirinya di perahu kecil itu. Mengapa bayangan gadis dokter itu bisa dengan mudah menggantikan bayangan Jennefit Moon, gadis yang telah bertahun-tahun mengisi hatinya, bahkan hingga satu hari sebelum ia mengenal Liz Nadiah.
...🌸🌸🌸...