Liz Nadiah

Liz Nadiah
Restoran Arab


__ADS_3

Hiasan lampu-lampu berbentuk hexagon seukuran kepalan tangan, ramai tergantung di langit-langit restoran dengan nuansa kearab-araban itu. Sekelilingnya berbagai lukisan kaligrafi dengan ragam tulisan dari penggalan-penggalan kata mutiara Arab, seolah saling bicara.


Kursi rotan aesthetic dengan alas duduk busa berbalut kain sintetik, juga sandaran berbentuk lingkaran dengan pagar-pagar kecil vertikal berjejer di bagian tengahnya, telah penuh terisi oleh para penikmat kudapan yang menjadi menu utama restoran yang kini tengah ramai diperbincangkan di Media Sosial itu. Pasalnya, baru seminggu dibuka, tempat tersebut sudah disesaki pengunjung dari berbagai kalangan di kota itu.


Musik mp3 nuansa padang pasir terdengar memenuhi seluruh area yang lumayan luas itu. Bahkan terlalu luas untuk ukuran sebuah restoran. Panggung mini setinggi setengah meter di bagian ujung ruangan nampak masih kosong. Beberapa alat musik di atasnya masih setia menunggu sentuhan pemainnya, yang mungkin akan menunjukan skill-nya sesaat lagi. Terlihat dari beberapa orang pria yang salah satunya memegang sebuah gitar di bawahnya--bersiap-siap.


Beruntung, Andromeda masih mendapatkan jatah satu set kursi, dan itu adalah kursi terakhir yang letaknya paling tengah dengan penerangan paling maksimal, karena di atasnya, lampu hexagon raksasa menyorotnya tanpa batas, seolah menunjukan bahawa dialah rajanya.


Andromeda nampak mencolok dari sekian banyak pengunjung yang jumlahnya mungkin mencapai ratusan malam ini. Banyak pasang mata yang memandangnya terkagum-kagum. Cukup risih sebenarnya bagi Andromeda, dengan karakternya yang tak terlalu suka keramaian. Tapi terpaksa ditahannya. Karena Liz Nadiah yang memilihnya saat perdebatan konyol mereka di sepanjang perjalanan tadi--sebagai syarat balik yang diajukannya pada Andromeda. Entah apa alasannya.


Saat ini waktu menunjukan pukul 19.05.


Perjalanan dari area sebelumnya menuju tempat yang dipijak mereka saat ini cukup memakan waktu. Kemacetan mengular sepanjang jalan. Hal yang lazim terjadi setiap akhir pekan seperti saat ini. Andromeda dan ... tentu saja Liz Nadiah, sempat berhenti di masjid lainnya untuk melaksanakan ibadah maghrib mereka, lalu melanjutkan perjalanan kembali setelahnya.


Dan saat ini ....


Segaris senyum menggelitik nampak terpulas ringan di paras rupawan Andromeda. Di seberang mejanya, Liz Nadiah nampak asyik menikmati sepiring kushari yang terhidang lengkap dengan tiga jenis saus di sampingnya, ditatapnya seolah sedang menonton sebuah pertunjukan drama komedi.


Di belakang gadis itu, jas putih kebanggaannya tersampir apik pada sandaran kursi. Menyisakan tunik selutut, hijab instan biru, dan jeans keabuan yang disponsori sepatu teplek hitam polos tanpa aksen. Sesederhana itu.


"Apa perutmu akan kenyang dengan terus memandangiku seperti itu, Tuan?" celetuk Liz Nadiah dengan tetap fokus pada makanannya.


Andromeda terkekeh kecil. "Ya, kau benar, wajahmu memiliki efek mengenyangkan," sahutnya. Kemudian menyendok sedikit makanannya, mengangkat hingga ke depan wajah, dipandanginya sejenak, lalu kembali berkata, "Bahkan makanan ini saja merasa minder dibandingkan denganmu."


Kali ini Liz Nadiah tergoda--emosinya. Ia mengangkat wajahnya menatap pria itu, sebal. "Kaupikir aku angin yang bisa membuat perutmu kembung?!"

__ADS_1


Suara kekehan Andromeda terdengar lebih nyaring. "Maka akan kubuat lambungku seribu kali lebih lebar, agar bisa menampung angin itu lebih banyak."


Liz Nadiah spontan memelototi pria itu. "Dasar gila!"


Andromeda tergelak, meraup serakah semua perhatian ke arahnya. Mengalahkan merdu dan kerennya penyanyi pria yang baru saja melantunkan sebuah lagu di panggung sana.


Tak seperti biasa, Andromeda nampak tak terusik dengan semua itu. Saat semua orang fokus ke arahnya, ia sendiri malah menendang fokusnya pada Liz Nadiah yang kini memasang ekspresi tak nyaman, sehubung perhatian sekeliling yang kini lurus seolah menghakiminya, namun memuja Andromeda.


Pria ini ... benar-benar tak tahu malu!


"Aku ke toilet sebentar." Menghindari ketidaknyamanannya, Liz Nadiah beranjak dari tempatnya. Berjalan cepat tanpa menunggu jawaban Andromeda yang masih asyik dengan tawanya yang sudah tak senyaring tadi.


Satu dari tiga kubikel toilet yang berjejer dipilih Liz Nadiah yang letaknya paling ujung. Dua lainnya nampak berpenghuni.


Liz Nadiah melakukan gerak berontak, mencoba melepaskan telapak tangan kekar itu dari mulutnya, juga menyiku bagian perutnya. Namun sia-sia. Ia terus diseret dari belakang tanpa bisa melihat manusia di balik tubuhnya. Jika hanya satu orang jumlahnya, ia pasti sudah bisa melepaskan diri dan melakukan perlawanan. Ada dua orang lainnya yang turut memegangi tubuhnya. Membuatnya semakin sulit untuk bergerak.


Kini mereka telah mencapai halaman belakang resto. Pandangan Liz Nadiah menangkap, seorang wanita berkostum formal dan satu pria berjas lengkap dengan dasinya, bersalaman dengan salah satu pria yang menyeretnya. "Terima kasih bantuannya, Mr. Syahid. Nona itu akan kami bawa pulang."


"Sama-sama, Tuan. Semoga nona Anda tidak kabur-kaburan lagi setelah ini," kata pria bernama Mr. Syahid itu dengan senyuman bangga.


Liz Nadiah melebarkan matanya. Ia bisa menebak, pria tua berwajah Arab itu pasti pemilik restoran. Tapi orang-orang ini ... siapa mereka? Kenapa berperan seolah ia adalah putri yang melarikan diri, lalu kini ditemukan dan akan dibawa pulang?


"Kami akan menjaganya lebih ketat. Terima kasih sekali lagi atas bantuan Anda. Kami permisi," kata pria kekar itu lagi sopan.


Ini jelas kamuflase!!

__ADS_1


Liz Nadiah mencoba berontak sekali lagi. Meronta-ronta keras berusaha melepaskan diri. Namun tetap tak berubah. Yang ada cekalan orang-orang itu semakin kuat merejangnya. Mulutnya bahkan telah dibalut lakban. Ia harus apa sekarang?


Sebuah mobil dengan pintu terbuka, baru saja terparkir di ujung area yang terhubung ke jalan raya, siap menelan tubuhnya. Liz Nadiah didorong masuk ke dalamnya secara kasar. Sesaat kemudian mobil itu melaju cepat setelah pria terakhir menyusupkan dirinya di samping kemudi. Entah akan kemana mereka membawanya.


Tolong aku, ya Allah ....


Liz Nadiah tak banyak kenal siapa pun di kota ini selain orang-orang di desanya, Qinay, Andromeda dan Sean, juga ... Zack Shangra. Tapi siapa di antara mereka yang memungkinkan melakukan ini padanya? Andromeda bahkan ada bersamanya tadi. Jelas bukan dia!


Apakah ini orang-orang Zack Shangra?


Gadis itu terus bergelut dengan pikirnya. Sedangkan mobil itu membawanya semakin jauh.



"Apa kaubilang?!" Andromeda tersentak mendengar penjelasan Mr. Syahid--pemilik restoran, atas pertanyaannya.


Ia menyusul Liz Nadiah ke toilet, usai cukup merasa bosan menunggu, dan berpikir, ini terlalu lama untuk sekedar buang air atau membasuh muka dan mencuci tangan.


Semua terjawab saat ia bertemu dengan pria tua berdarah Arab itu di sekitar area dapur, setelah tak menemukan Liz Nadiah di tempat yang dituju gadis itu tadi, laju berkeliling mencarinya ke tempat lain--masih di area restoran. Dan jawaban yang didapatnya jelas mengejutkannya.


"Kenapa kalian semudah itu percaya pada orang-orang itu?!!" Bentak keras Andromeda penuh amarah. "Dia datang ke tempat ini bersamaku! Dan kau tahu, Tuan ...! Dia tak memiliki keluarga satu pun di kota ini! Bodoh!!" teriaknya menggema.


Wajah Mr. Syahid terlihat ketar-ketir, hanya ucapan maaf kaku yang terus diucapkannya. Sesekali melirik pada asistennya yang berdiri di sampingnya, dan tentu saja wanita itu tak jauh berbeda dengannya, sama-sama ketakutan. Cukup memalukan bagi Mr. Syahid sebagai pemilik restoran, karena saat ini mulai banyak orang berdatangan ke tempat itu untuk menonton drama antagonis Andromeda yang cukup berani memarahinya dengan intonasi luar biasa keras.


"Kalian harus menemukannya!" kata Andromeda menatap geram pria itu dan asistennya. "Jika tidak ... jangan harap restoran ini akan memiliki pengunjung setelah ini!" Kemudian berbalik badan, menyusun langkah cepat meninggalkan tempat itu dengan wajah memerah geram bercampur cemas luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2