
Segelas air putih disodorkan Qinay pada Shinar.
"Terima kasih," ucap Shinar melempar senyum pada Qinay yang mulai menurunkan tubuhnya, turut duduk di samping Liz Nadiah. Hanya anggukan kecil dipulas senyuman tulus Qinay gerakkan sebagai balasan.
"Sekarang bisa ceritakan, apa yang terjadi padamu sebenarnya?" Liz Nadiah mulai membuka percakapan. Satu telapak tangannya terangkat untuk menyelipkan anak-anak rambut Shinar yang menjuntai acak di depan kening hingga menutupi matanya yang sembab.
Gelas bening dengan ukiran bunga di sekelilingnya itu masih terapit kedua telapak tangan Shinar. Ditatapnya wajah Liz Nadiah yang tengah menatapnya ingin tahu, lalu beralih pada Qinay yang juga tak jauh berbeda.
"Aku ...." Sesaat menunduk menatap gelas ditangannya, untuk sekedar menepis ragu. "Aku ... aku telah dijual ibuku sendiri pada Nyonya Mercy, untuk dijadikan seorang lachur." Menyusul sebulir air mata yang jatuh membentur telapak tangannya.
Ungkapan Shinar membuat dua pasang mata milik Liz Nadiah dan juga Qinay terbelalak tak percaya.
"Apa katamu? Kau dijual ibumu sendiri?" Liz Nadiah mengulang, memastikan.
Shinar mengangguk membenarkan. Menggigit bibir bawahnya dalam tunduk seolah saling jabat dengan pundaknya yang mulai berguncang.
"Maaf, apakah yang kaumaksud ... ibu kandungmu sendiri?" Qinay bertanya ragu.
Sekali lagi, Shinar mengangguk. Tangisnya mulai pecah menganak sungai. Terlalu miris menjadi dirinya. Seorang anak yang dilahirkan hanya untuk diperlakukan seperti barang. Dan parahnya, ibu kandungnya sendiri yang melakukan transaksi biadab itu.
Sekian tahun terendam dalam dera siksa ibu dan saudari tirinya, Qinay merasa jauh lebih beruntung. Karena kekerasan yang dialaminya, bukan dilakukan oleh orang yang berharga dalam hidupnya.
Berlainan dengan Shinar ....
"Ibu membenciku. Karena aku anak dari hasil perkosaan, oleh seorang perampok." Dengan suara bergetar, Shinar mulai menjelaskan. "Aku tahu semua dari mulut Ibu sendiri. Sampai kutanyakan pada Nenekku kebenarannya. Dan hasilnya ...." Ia menundukkan kepalanya semakin dalam. "... persis seperti yang dikatakan Ibu. Aku benar-benar seorang anak haram."
Tentu sangat memahami perasaan gadis itu, Liz Nadiah merengkuh tubuh dingin Shinar ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menumpahkan segenap luka hati di dadanya. "Kau pasti kuat. Jangan takut. Aku akan sebisa mungkin melindungimu."
Semua anak seharusnya dicintai. Meski dari jalan apa pun ia dihadirkan ke dunia ini. Anak itu hanya seonggok daging yang bahkan tak pernah meminta atau melakukan tawar menawar, dari rahim yang mana ia ingin dilahirkan. Tuhan menitipkan setiap anak pada setiap ibu, bukan tanpa alasan. Jika tidak bisa mencintainya hanya karena jalan kehadirannya yang nista, setidaknya ... hargailah ia sebagai sesama makhluk yang memiliki perasaan.
__ADS_1
Ibunya Shinar ... jelas termasuk contoh dari golongan orang-orang yang celaka!
Qinay tak sanggup membendung lagi air matanya. Baginya Liz Nadiah adalah satu contoh luar biasa yang kebaikannya tak terukur oleh apa pun. Ia merasa beruntung bertemu wanita itu.
Di tengah irama sendu ketiganya, suara ketukan di pintu berhasil mengusik. Dalam dua detik, ketukan itu berubah menjadi gedoran. Membuat ketiganya terheran saling melempar pandang.
"Biar aku saja, Kak." Qinay mulai berdiri, kemudian menuju pintu seraya mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.
"Nona, tolong! Tolong orang itu!!" Telunjuk milik seorang pria tua mengarah pada halaman rumah Liz Nadiah.
"Siapa?" tanya Qinay sedikit melongokan kepalanya ke depan, mengamati sesuatu yang ditunjuk oleh lelaki tua itu.
"Ia kecelakaan di ujung jalan desa," jawab pria itu dengan wajah cemas.
"Kau istirahatlah. Aku ke luar dulu." Liz Nadiah bergerak menghampiri Qinay, setelah mendapatkan anggukan dari Shinar. Ia berjalan menuju luar dan mendapatkan pemandangan mengenaskan dari seorang pria yang tengah dibopong ke halaman rumahnya. "Kenapa dia, Pak?!" tanyanya seraya mendekat.
"Dia kecelakaan, Nona. Mobilnya membentur pohon di ujung jalanan desa." Pria lain yang turut mengantarkan memberi jawaban.
Setelah menangkap dengan jelas wajah korban kecelakaan itu, mata Liz Nadiah seketika melebar. "Bukankah orang ini ...?" Ia nampak terkejut, melihat pemilik wajah itu, ternyata adalah orang yang dikenalinya. "Tolong angkat dia, bawa masuk ke dalam. Qinay tolong bukakan pintunya!"
Semua sigap mengikuti arahan sang dokter.
Klinik itu dibangun di bagian kanan halaman rumah Liz Nadiah. Luas keseluruhan bangunannya tak lebih dari tiga puluh meter persegi. Isiannya masih nampak kosong, selain sebuah ranjang pasien, satu meja kerja Liz Nadiah dengan dua kursi berseberangan mengapitnya, juga satu lemari kaca mini berisi obat-obatan yang belum penuh terisi.
Tubuh terkulai pria itu telah dibaringkan di atas ranjang mini setinggi pinggang orang dewasa, yang diletakkan di pojok kanan ruangan. Liz Nadiah mulai terlihat sibuk menangani luka-luka ringan yang ada di wajah dan lengan pria itu, dibantu Qinay yang berperan sebagai asisten. Sedang dua pria yang telah membawa korban kecelakaan itu, telah berpamitan pergi, dengan sepeda motor milik salah satunya. Yang juga digunakan untuk membawa si pria naas ke tempat Liz Nadiah tersebut.
"Kak Nad, kaukenal pria ini?" Qinay bertanya ingin tahu.
"Ya. Dia ...."
__ADS_1
Belum sempat kalimat itu diselesaikan Liz Nadiah, sosok yang terbaring di hadapannya telah membuka mata. Terlihat pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. "Nona. Aku di mana?" tanyanya dalam pandang yang masih terlihat kabur, namun cukup jelas untuk mendeskripsikan bahwa sosok yang berdiri di sampingnya adalah seorang wanita.
"Kau berada di tempatku, Tuan," jawab Liz Nadiah tersenyum.
"Di tempatmu?"
"Ya."
Detik itu pula, ketiga orang yang berada di ruangan itu terkejut bukan kepalang, sontak menoleh bersamaan ke suatu arah, di mana pintu baru saja didorong keras dari luar oleh seseorang. "Mana Sean?" tanya orang itu dengan wajah kesalnya.
"Kau," tegur Liz Nadiah pada sosok yang kini berdiri di hadapannya.
Untuk sesaat orang itu terdiam menatap Liz Nadiah. Kemudian mengalihkan pandangnya pada pria yang tergolek di atas brankar. "Hey! Kau apakan mobilku, Sialan?!"
"Ampun, Tuan Muda. Aku tidak sengaja!" Sean menempatkan kedua tangannya di depan dada, seolah gerakan itu bisa menghalau kemarahan pria di sampingnya, yang tak bukan adalah Andromeda. "Kepalaku tiba-tiba pusing saat menyetir. Ditambah kau terus menelponku," cebiknya dengan bibir mengerucut.
"Kau ... malah menyalahkan aku?!"
"Berhenti!" Liz Nadiah menghardik. Menarik kemeja yang dikenakan Andromeda cukup kuat ke belakang, saat pria itu hendak mencengkram kerah kemeja Sean. "Dia baru saja sadar. Apa kau gila, huh?!"
Qinay beringsut mundur ketakutan.
Pria itu sangat tampan ... tapi tidak waras.
"Dia sudah merusak mobilku! Kautahu itu?!" seru Andromeda masih dengan raut kesal.
"Aku tidak peduli pada mobilmu!" balas Liz Nadiah berseru. "Kau bisa memperbaiki atau bahkan membelinya lagi, Tuan Muda Kaya Yang Terhormat! Tapi nyawa asistenmu ini, apa kau bisa menggantinya, huh?!"
Andromeda membuang wajahnya ke lain arah, entah kenapa tatapan tajam Liz Nadiah membuatnya seolah membeku. Lalu dengan santai ia berkata, "Biarkan saja. Palingan dia bertemu gada malaikat."
__ADS_1