
"Papa benar-benar akan lama di sana?"
Diraga berbalik badan, terlihat telapak kiri tangannya masih sibuk mengaitkan kancing pergelangan kemejanya. "Jika semua sudah selesai, Papa pasti kembali cepat, Zack."
Zack Shangra masih berdiri di ambang pintu kamar Diraga. Sedikit terdengar hembusan napas berat dari mulutnya. "Kenapa firasatku mengatakan ... Papa akan kembali di bulan yang sama, namun di tahun berikutnya."
Diraga tersenyum menanggapi itu. "Kau mungkin benar, Zack." Kali ini ia mulai membalutkan jas hitamnya melapisi kemeja putih di dalamnya. "Karena sepertinya, cukup banyak yang akan Papa lakukan di sana."
Mulai menegakkan tubuhnya yang semua ia senderkan di bingkai pintu, Zack Shangra lalu berjalan memasuki kamar papanya itu. Digamitnya sebuah foto yang tersampir di satu bilah dinding, lalu ditatapnya cukup miris. "Aku menyayangkan sekali, kenapa rumah kita di sana harus terbakar. Jadinya aku tidak bisa melihat foto-foto masa kecilku bersama Mama." Dielusnya lembut foto seorang wanita paruh baya yang tersenyum itu di tangannya. "Mama sangat cantik."
Diraga kembali tersenyum. Menepuk-nepuk pundak pria muda itu penuh empati. "Simpanlah yang tersisa ini dalam hatimu. Itu jauh lebih berarti dibandingkan berlembar foto kenanganmu bersamanya. Karena meskipun foto-foto kenangan itu masih ada, tetap tak akan mengembalikannya pada kita."
Seulas senyuman getir mengiringi tatapan Zack Shangra pada pria itu. "Sudah kulakukan, Pa."
"Bagus! Sekarang kau ikut Papa. Ada sesuatu yang ingin Papa tunjukan padamu."
Tanpa berkata lagi, Diraga Madewa berjalan cepat keluar dari ruang kamarnya. Zack Shangra mengikutinya usai mengecup sekilas dan menaruh foto istri Diraga itu kembali ke tempatnya.
Sebuah kotak kertas dengan tutup berwarna senada, baru saja diambil Diraga dari dalam sebuah ruangan bertulisan 'Gudang' di bagian atas pintunya.
"Apa ini, Pa?" Zack Shangra bertanya dengan kening berkerut. Benda kotak itu kini sudah berada di tangannya.
"Isinya akan membuktikan, bahwa kau bukanlah Kahfi."
Jawaban itu spontan membuat sepasang kelopak mata Zack Shangra melebar, lantas dengan cepat ia membuka penutup kotak itu tanpa lagi berkata apa pun.
Sehelai baju koko tanpa kerah, yang mungkin memiliki dasar warna ... putih, terlihat sangat usang, dibentangkan Zack Shangra setelah menaruh perlahan kotak yang mengemasnya ke atas meja pajangan di samping kirinya. Kemeja itu telah tak utuh. Beberapa bagian dalam keadaan robek. Dan hampir sepertiga dari bagian baju itu, terdapat bercakan darah yang telah mengeras. Namun yang menarik perhatian Zack Shangra adalah ... bet bordir yang terpasang di bagian kiri dadanya, bertuliskan nama ... Kahfi Albareeq.
Mata Zack Shangra semakin melebar menatap dua suku kata nama itu. "Apa maksudnya ini, Pa?" tanyanya cukup terkejut, namun juga cukup penasaran.
Diraga menunduk sesaat, lalu kembali mengangkat wajahnya, menatap Zack Shangra penuh ketegasan. "Bukankah itu sudah jelas. Baju itu milik lelaki muda bernama Kahfi. Benar, wajah kalian mungkin mirip, juga usianya mungkin setara denganmu. Tapi dia jelas bukan dirimu, Nak."
__ADS_1
"Lalu?" Zack Shangra menuntut penjelasan yang mungkin lebih detail dari sekedar kalimat ambigu penuh teka-teki, seperti yang dituturkan Diraga barusan itu.
"Itu adalah baju terakhir Kahfi, yang ia gunakan di saat terakhir hidupnya," ungkap Diraga. "Baju sisa cakaran hewan buas, yang entah itu harimau ... atau mungkin serigala. Papa mendapatkannya dari pria pencari kayu bakar itu. Untung saja dia masih menyimpannya."
Zack Shangra terdiam. Baju itu masih ditatapnya. Ia tak bisa mendefinisikan perasaannya sama sekali, saat ini. Ia percaya ucapan Diraga. Namun entah kenapa, hatinya terasa perih menatap potongan kain lapuk di tangannya itu.
"Jadi, Zack ... jika orang-orang itu tetap bersikukuh menganggap kau adalah Kahfi, maka mereka salah besar. Dan kau harus bisa menegaskan itu. Jangan seperti yang lalu ...."
Kepala Zack Shangra terangkat menatap Diraga.
".... Keyakinanmu diguncangkan oleh gadis dokter itu," lanjut Diraga. "Untuk ke depannya, kau tak boleh lagi terpengaruh. Dia hanya seorang adik, yang merindukan sosok kakaknya yang tiada."
Sekelebat getir melintasi ulu hati Zack Shangra. Kalimat terakhir Diraga, entah kenapa, lagi-lagi terasa mencubit perasaannya. Liz Nadiah ....
"Jangan pikirkan apa pun tentang ini lagi. Kau sudah jelas menemukan jawabannya." Diraga menepuk singkat pundak bidang Zack Shangra. "Papa harus segera pergi. Jangan lupa jaga kesehatanmu. Minumlah obatnya seperti biasa, agar kepalamu tidak sakit-sakit lagi."
Zack Shangra mengangguki. "Baik, Pa. Papa hati-hati. Jaga kesehatan Papa juga di sana. Maaf aku tak bisa mengantar Papa ke bandara."
"Tidak apa-apa, Zack," balas Diraga tersenyum. "Satu lagi ... uruslah hotel dan lainnya sebaik mungkin. Jangan sampai merosot."
....
Mobil putih yang ditumpangi Diraga Madewa juga asistennya, mulai menjauh dari halaman. Zack Shangra masih berdiri di teras melepas kepergian pria yang selalu dianggapnya hebat itu.
Jarak menelan, kini tersisalah ia seorang diri di rumah besarnya.
Tapak kakinya terlihat bergerak gontai ke arah bagian belakang rumah di mana kolam renang berada, melalui jalanan samping.
Berenang mungkin akan membuatnya sedikit lebih segar, pikirnya.
Sebuah lemari kaca yang tersampir di depan toilet, dibukanya. Ia mengambil peralatan yang biasa ia gunakan untuk berenang.
__ADS_1
BYAAAARRRR
Zack Shangra menghempas keras tubuhnya ke dalam kolam sedalam tiga meter itu. Bergerak kesana-kemari layaknya perenang handal. Cukup membuatnya rileks.
Di sela kegiatan itu, tiba-tiba saja bayangan senyum Liz Nadiah kembali memenuhi pelupuk matanya. Perasaannya kembali gusar. Ia lalu menepikan diri, duduk di tepian.
Ada rasa tenang yang merambat ke dalam hatinya. Liz Nadiah ternyata benar-benar bukan adiknya. Kenapa kemarin ia sempat terbawa keyakinan gadis itu, bahwa ia adalah kakaknya?
Beruntung ... jawaban yang diperolehnya hari ini, membuatnya seolah mendapatkan kebebasan. Kebebasan untuk memenangkan hati wanita itu lagi--sesuai keinginannya semula. Ia akan kejar sampai mana pun. Sampai Liz Nadiah, benar-benar berpasrah di bawah kungkungan tubuhnya.
Seringai mengerikan kembali terpulas di wajah Zack Shangra. Keyakinan sekuat baja, telah ia kukuhkan.
Namun dengan tiba-tiba ekspresinya itu berubah terkejut, saat sepasang tangan merangkul lehernya dari belakang.
"Kita berenang lagi, ya."
Zack Shangra jelas mengenali suara itu. "Kenapa pulang tak mengabari aku?" tanyanya datar saja.
"Aku ingin membuat kejutan untukmu. Apa kau terkejut, Zack?"
"Ya, sedikit."
Sashi Maretha.
Tubuhnya telah hampir telanjang, dengan busana renang yang entah sejak kapan ia gunakan. Gadis itu mulai turun ke dalam kolam. Ditariknya tangan Zack Shangra kencang, hingga pria itu tersungkur, turun bersama dirinya. Laju dengan percaya diri, Shasi Maretha meraih tengkuk pria itu, mengalungkan lengannya, kemudian mengecupi bibir kekasihnya itu, berulang. Namun ada yang aneh. Shasi Maretha menatap wajah Zack Shangra, menelisik. "Kenapa kau tak membalasku?"
Zack Shangra tersenyum, juga menatapnya. "Aku hanya sedang menikmati kejutan darimu. Kali ini ... kau yang harus mendominasi," ucapnya seraya mendongakan dagu manis wanita itu.
"Akan aku lakukan jika itu alasanmu," Sashi Maretha menyahuti. "Aku kira ada wanita lain, yang menarik perhatianmu selama aku di luar negeri."
Zac Shangra tersenyum menanggapi. Katakan saja seperti itu, kata hatinya menjawab.
__ADS_1
"Tak ada yang lebih menggairahkan bagiku, selain dirimu."
Kalimat itu terasa seperti sebait puisi untuk Sashi Maretha. Ada binar kesenangan nyata di wajahnya. "Maka aku akan seribu kali lebih merawat diriku, agar kau selalu merasa puas hanya dengan sentuhanku saja."-