Liz Nadiah

Liz Nadiah
Niat Yang Membelok


__ADS_3

Layar ponsel itu ditatap Liz Nadiah nanar. Ia baru saja menerima sebuah pesan dari sederetan nomor tanpa nama. Namun ia tahu, siapa pengirim pesan itu.


"Aku harus pergi. Ini kesempatanku," gumamnya dengan ekspresi mantap.


Tanpa mengganti busana dan hanya berpenampilan seadanya--selain tas selempang yang ia sampirkan di pundak kirinya, Liz Nadiah keluar dari kamarnya, tergesa.


Andromeda pergi mengurusi pekerjaannya sejak pagi tadi bersama Sean. Dan ia tak mungkin mengganggu pria itu.


"Nona mau kemana?" Magda bertanya ingin tahu. Di pinggangnya sekeranjang pakaian, nampak siap menuju mesin pencuci.


"Ah, Nyonya Magda. Kebetulan kau ada di sini. Bilang pada Andro, aku keluar sebentar, ada orang sakit yang memerlukan bantuanku."


"Tapi 'kan Nona bisa menghubunginya." Magda menyarankan.


"Aku takut mengganggunya. Jadi, jangan lupa kau sampaikan, ya."


Magda memandangnya geleng-geleng. Liz Nadiah telah melanting melewati pintu utama--keluar.


Tapi ... melihat bagaimana protektifnya Andromeda, sudah pasti tuannya itu tidak akan mengizinkan kekasihnya keluar seorang diri. Jadi yang dikatakan Liz Nadiah benar. Jika ia menghubunginya sekarang ... dalam lima detik, pasti pria konyol itu sudah berdiri di depan halaman, tanpa mempedulikan pekerjaannya lagi.


Akhirnya dengan gedikan bahu, Magda melangkah tak peduli meneruskan kembali rentetan tugasnya.


...---...


Sebuah taksi ditumpangi Liz Nadiah.


Matanya menatap keluar kaca di sampingnya, di mana selaksa demi selaksa jalanan dilaluinya, karena mobil masih bergerak melaju.


Udara cukup mendung. Mungkin hujan akan kembali turun tak lama lagi.


Sepasang telapak tangannya saling me.remas hingga berkeringat. Membayangkan apa yang akan ia katakan pada orang yang akan ditemuinya beberapa saat lagi.


"Sudah sampai, Nona!"


Suara supir itu membuatnya terperanjat. Mengembalikan angannya lagi pada kenyataan.


Dengan perlahan, tubuh kecil semampainya ia turunkan dari dalam taksi, setelah membayar nominal ongkosnya sedikit melebihi angka akhir yang tertera di argometer kendaraan tersebut.


"Akhirnya aku akan bertemu dengannya lagi." Liz Nadiah bergumam seraya menatap gerbang itu seolah akan menghadapi peperangan di baliknya.


"Nona sudah sampai? Tuan sudah menunggu Anda di dalam." Seorang wanita--mungkin asisten rumah tangga, datang tergopoh menyambut Liz Nadiah. Gerbang sudah dibukakan seorang satpam setelah wanita muda itu keluar.


Liz Nadiah hanya mengangguk dengan senyuman kaku. Lalu berjalan mengikuti wanita itu untuk masuk ke dalam rumah besar yang mulai ia injak bagiannya.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya aku menunggu di ruang tamu saja?" Kata itu dilontarkan Liz Nadiah saat sepasang kakinya mulai menginjak anak tangga pertama menuju kamar di lantai dua di mana sosok itu menunggunya.


Wanita berseragam hitam berkerah putih itu menggeleng. "Saya rasa Tuan ingin Anda menemuinya di kamarnya langsung, Nona."


Seraya mendesah, Liz Nadiah hanya pasrah mengayun kakinya kembali mengikuti wanita itu menaiki tangga.


Tak lama setelahnya.


Pintu setengah tertutup itu diketuk si wanita pelayan tiga kali banyaknya. Dan sahutan, "Masuk." Baru saja terdengar dari dalamnya.


"Silahkan, Nona." Liz Nadiah kembali mengangguk. "Saya permisi."


Cukup berat kaki mungil miliknya ia gerakkan memasuki ruangan yang selalu nampak remang itu.


"Masuklah. Jangan sampai kakimu kram dengan berdiri terus menerus di tempat itu!"


Entah kenapa ada perasaan tak nyaman menyelimuti hati Liz Nadiah saat ini. Apa yang akan ia katakan lagi saat nanti bertemu tatap dengan kakaknya?


Ya, kakaknya ... Zack Shangra!


Apakah pria itu sudah mengingatnya, atau belum?


Akhirnya, dengan segenap keyakinan yang ia kumpulkan dalam beberapa detik terakhir, Liz Nadiah menyibakkan pintu itu, lalu melangkah segontai siput. Lantai dingin di bawah pijaknya seolah memeperoloknya. Sesaat debaran jantungnya tiba-tiba berdentam sangat kuat.


"Apa kau sakit?" Pulasan cemas tipis mengiringi pertanyaan itu.


Zack Shangra tersenyum menanggapi. Dengan santai ia melangkah mendekati Liz Nadiah yang sudah mengambil posisi duduk di sofa yang ia tunjuk sebelumnya. "Sayangnya aku selalu sakit."


"Maksudmu?"


Kini tubuh tegapnya ia tekuk--duduk di sofa lainnya di samping Liz Nadiah. "Tidak ada," sangkal Zack Shangra. "Aku memintamu ke sini, hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu."


Tanpa bertanya, Liz Nadiah mengerutkan dahinya memperhatikan gerak-gerik pria di dekatnya itu, menelisik.


Sebuah kotak berukuran 30x30 sentimeter, diambil Zack Shangra di atas sebuah meja ber-vas bunga lily di dekatnya. "Bukalah."


Sejenak saja Liz Nadiah menatap Zack Shangra. Tentu seulas keruh raut bertanya yang ia tunjukkan sebagai ganti sebait pertanyaan ... 'apa ini?'.


Benda kotak itu sudah berada di genggamannya.


"Buka saja."


Dengan perlahan, penutup kotak berbahan kardus itu disingkap Liz Nadiah. Sekejap, guratan bingung menyapa ke bagian dalam dirinya saat ia mulai menangkap isi dari dalam kotak tersebut. "Apa maksudnya ini?"

__ADS_1


"Itu pakaian terakhir yang digunakan Kahfi ... Kakakmu, saat hari di mana ia menjemput ajalnya."


Terkejut bukan kepalang!


Mata membulat dengan mulut sedikit menganga, Liz Nadiah masih merasa--mungkin ia salah dengar. "Apa maksudmu ... Kahfi ... sudah meninggal?"


Zack Shangra mengangguk. "Ya. Aku mencari tahunya untuk membuktikan ucapanmu, yang saat itu, kau mengangapku adalah dia. Dan sekarang kau melihat buktinya ada di depan matamu," jelasnya dengan raut meyakinkan. "Jika kau masih tidak yakin, aku akan membawamu melihat kuburannya di tengah hutan ...." Bait demi bait penjelasan dituturkan Zack Shangra untuk meyakinkan wanita di depannya yang saat ini mulai terisak karenanya. ".... Aku bukan Kahfi, Nadiah. Aku bukan kakakmu!"


Wajah meyakinkan Zack Shangra membuat Liz Nadiah bergeming. Tak sebait pun kata mampu ia lontarkan untuk menyangkal dalam beberapa saat.


Namun ....


Tunggu!!


Ada yang tak beres!


Iya!


Kenapa saat itu Diraga mengatakan bahwa Zack Shangra adalah Kahfi? Apakah pria tiran itu hanya mempermainkannya?


Tidak! Liz Nadiah menggeleng. Jika dia bukan Kahfi, kenapa Muana bisa menjadi tawanan Diraga di bukit itu? Dan itu cukup menjadi rantai yang menghubungkan pada kenyataan, bahwa Zack Shangra ... tetap adalah Kahfi. Baju yang telah terkoyak dengan bercakan darah mengering di tangannya itu, pasti hanya tipuan yang diciptakan Diraga Madewa untuk meracuni pikiran Zack Shangra, demi menunaikan segala niatnya atas pria muda itu.


"Kenapa?! Kau masih tidak percaya?" Zack Shangra menatapnya tak mengerti. Kenapa ekspresi wanita itu tiba-tiba berubah seolah menyangkal apa pun yang dituturkannya dengan susah payah juga panjang lebar?


"Ya! Ayahmu sendiri ... Diraga Madewa, yang mengatakannya padaku, bahwa kau adalah Kahfi, kakakku!" Liz Nadiah menegaskan.


Zack Shangra terperanjat. "Ayahku ...? Darimana kau mengenal ayahku?"


"Dia menculikku. Menyekap dan nyaris melecehkanku di dalam sebuah bangunan tua di tengah hutan," ujar Liz Nadiah seraya mengingat masa-masa kelam itu. "Dia mungkin mengira aku akan mati di tangannya, karena itu dia dengan mudah mengatakan padaku tentang siapa kau ... Kahfi!! Tapi sayangnya, Allah masih menyayangi aku. Dia membiarkan aku selamat dari cengkramannya dan berhasil melarikan diri!"


Zack Shangra tepekur dalam ketidakpercayaan. "Tidak!" Ia mencoba menepis. "Kau pasti bohong!" sangkalnya menatap Liz Nadiah dengan mata memerah menahan perasaannya.


Air mata Liz Nadiah mulai luruh kembali. "Tidak, Kahfi! Aku sungguh tidak berbohong! Bahkan dia menyekap ibumu di penjara mengerikan itu." Liz Nadiah terisak menyesalkan. Dengan perlahan dan hati-hati, selanjutnya ia terus menceritakan segala kejadian yang dialaminya selama penculikan itu. ".... Dan sekarang aku kehilangannya."


Mata Zack Shangra semakin memanas. "Ibu ...." Jantungnya berdebar melewati sewajarnya.


"Ya. Akan aku pastikan, bahwa aku tidak salah tentangmu, Kahfi!" Liz Nadiah terus berusaha meyakinkannya, menggali apa pun yang bisa mengembalikan ingatan pria itu tentang siapa dirinya. Walau akhirnya kebencian itu akan kembali dihadapinya nantinya.


Zack Sangra berdiri terhuyung. Dengan perasaan kacau, ia meremas kepalanya yang mulai merasakan sakit yang mencengkram tak tertahankan.


Sampai akhirnya ....


BRUKKK

__ADS_1


"KAHFII!!!"


__ADS_2