Liz Nadiah

Liz Nadiah
Setumpuk Tanya


__ADS_3

"JENN, HENTIKAANN!"


PRAANGG!!


Asbak kaca itu telah hancur menempuh kehancuran di dasar lantai.


Jennefit Moon membeku dengan tangan masih tergantung dalam cekalan Zack Shangra. Benda itu dijatuhakannya karena terkejut. Zack Shangra datang sesaat sebelum ia mendaratkan niatnya menghantam Liz Nadiah.


"Lepas!!" Ia menggeram kesal setelah menyadari siapa yang telah mengacaukan niatnya. "Kenapa kau menghalangiku, Zack?! Aku ingin dia mati!"


"Jika termasuk pilihan, maka aku akan memilih kau yang mati!" Zack Shangra tak kalah geram. "Tak akan kubiarkan siapa pun melukainya. Termasuk kau!" tandasnya seraya menghempas kasar tangan wanita itu, hingga melambai kencang ke belakang melewati sisian tubuh pemiliknya.


Cukup menimbulkan ringisan kesakitan di wajah Jennefit.


Di bawah mereka, Liz Nadiah terdiam mendongak menatap keduanya. Sulit mengolah perasaannya yang kini campur aduk entah bagaimana.


"Kahfi," gumamnya selembut kesiur angin.


Mulanya ia ingin bertanya; Bagaimana keadaan pria itu sekarang? Apakah penyakitnya semakin parah, atau membaik?


Namun sesuatu perlahan meraba pikirnya, menggores perasaannya yang dangkal.


Membuat ulu hatinya serasa dihentak-hentak--menyakitkan. Kilasan ingatnya merangkak mundur pada kejadian dua bulan lalu, di mana Zack Shangra nyaris melecehkannya di dalam kamar hotel.


Ia membuang wajahnya ke lain arah. Terlalu memuakkan mengingat masa tolol itu. Perasaan ingin melindungi, mengobati, juga menyayangi--sebagai dasar pertalian antara kakak dan adik, kini terasa samar. Tak lagi vivid.


"Kau tidak apa-apa, 'kan?"


Intuisi Liz Nadiah membentuk penolakan. Entah kenapa, cukup sesak menatap pria itu. Wajahnya tak ia biarkan menoleh sedikit pun ke arah Zack Shangra yang saat ini telah bersimpuh rendah di hadapannya.


Jennefit Moon telah tak lagi terlihat berada di ruangan itu.


Liz Nadiah bahkan tak menyadari, kapan wanita itu berlalu.


"Nadiah, apa kau membenciku?"


Satu kedipan mata Liz Nadiah menjatuhkan butiran bening yang telah membayang di pelupuknya. Kini mata itu dipejamkannya. Ia masih diam, membatu di antara kekalutannya.


Telapak tangannya terasa hangat saat Zack Shangra meraih, lalu menggenggamnya. "Kita harus segera pergi dari sini, sebelum orang itu datang!"

__ADS_1


Kalimat itu sukses membuat Liz Nadiah terperanjat. Pandangannya ia hadapkan cepat ke arah Zack Shangra. "Apa maksudmu?" tanyanya jelas tak paham.


"Akan kujelaskan nanti! Waktu kita tak banyak!" Zack Shangra berdiri gegas. Nampak ia membungkuk, lalu menyelipkan kedua tangannya ke balik tubuh Liz Nadiah. Melakukan gerakan cepat melepas tali yang telah hampir dua jam lamanya membelenggu kedua tangan wanita itu.


Cukup mengejutkan bagi Liz Nadiah. "Siapa yang kau maksud dengan orang itu?"


"Diraga!" sambar Zack Shangra tanpa berpikir. "Ayo!" Lalu ditariknya tangan yang telah bebas itu untuk berdiri. "Kita harus cepat. Aku tak bisa menjamin Diraga bisa tertahan lama di tempat itu."


Kini diseretnya Liz Nadiah yang jelas masih memasang ekspresi bertanya-tanya.


Apa sebenarnya maksud Zack Shangra? Pikir Liz Nadiah penasaran.


Namun sepertinya bukan waktu yang tepat untuk menggali jawaban dari keingintahuannya.


"Tuan Muda mau membawa Nona kemana?" Seorang penjaga menghadang di depan pintu.


Zack Shangra nampak diam sejenak, sebelum akhirnya melayangkan pukulan telak di perut rata pria itu. Menyusul tendangan di bagian pinggangnya hingga tersungkur. "Jangan menghalangi jalanku!"


Teka-teki ini rasanya semakin berderet di kepala Liz Nadiah.


Apakah yang dilakukan Zack Shangra adalah sebentuk perlawanan pada Diraga? Tapi ... bagaimana bisa?


Sebentar!


ZAP


BUG


Satu lainnya maju dan menjadi jatah Liz Nadiah. Pria yang muncul dari arah depan itu dijungkalkannya dalam sekali hentak tendangan. Kedua telapak tangannya telah membentuk kepal sempurna dengan posisi zigzag.


Zack Shangra sempat terperangah dibuatnya. Namun lagi-lagi tak cukup waktu meladeni keterkejutannya, karena beberapa orang pria mulai berdatangan menghadangnya dan Liz Nadiah.


Pertarungan sengit tak terelakkan. Suara debug dan debam mengudara memantul memenuhi lorong.


Jennefit Moon menatap ngeri pemandangan di sejurus matanya memandang. Ia berdiri dengan tubuh bergetar di ujung koridor.


"Wanita itu ... dia ...? Mengapa bisa sehebat itu?"


Hingga keterkejutannya berganti rasa takut, saat Zack Shangra dan Liz Nadiah kini berlari ke arahnya dengan tangan saling terpaut berpegangan. Kedua orang itu telah menindas habis pria-pria suruhan Diraga Madewa, hingga terkapar.

__ADS_1


"Kalian ...!" Jennefit memundurkan tubuhnya perlahan dan ketakutan. Telapak tangannya tak sengaja menyapu sebuas vas bunga di atas meja, hingga membuat benda itu terjatuh lalu pecah berserakan di bawah kakinya.


Jantungnya kembali berdebug kencang. Pundaknya nampak naik menegang. Namun kembali mengendur ketika Zack Shangra hanya menatapnya tajam sejenak saja, lalu kemudian pria itu kembali menuntun larinya bersama Liz Nadiah, setelahnya--menunju pintu keluar.


..........



"Bedebah!!" Diraga Madewa berteriak murka. Ia keluar dari dalam mobilnya dengan langkah tertatih--sedikit pincang. Wajahnya meringis kental menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya.


Nampak sedikit luka dengan tetesan darah di bagian pelipis pria tua itu. Dilihatnya bagian dalam mobilnya. Ia kembali menggeram. Supir yang semula mengemudikan mobilnya nampak tak bergerak dengan kepala terbentur stir. Entah pingsan, atau mungkin mati.


"Anak sialan!!" geramnya lagi.


Tempat itu cukup sepi.


Tak ada orang atau kendaraan satu pun yang melintas di sekitarnya. Dan itu cukup menambah kepala Diraga semakin merayang.


Beberapa saat lalu, mobilnya ditabrak keras mobil lain yang ternyata dikemudikan oleh Zack Shangra. Diraga melihat jelas bagaimana putra angkatnya itu dengan sengaja menghantam mobilnya hingga terpelanting, dan berakhir menabrak sebuah pohon di tepian jalan.


Apa yang dipikirkan Zack Shangra? Hati Diraga bertanya. Anak itu masih bersikap manis beberapa hari lalu saat menyambut kepulangannya dari Luar Negeri.


Dan sesaat lalu, dengan ganasnya pemuda itu menghantam mobil yang ditumpanginya. Apakah anak itu mulai gila? Atau ....


Kini kepala Diraga mulai bekerja. Ia menepis sejenak pikirnya--tak mau membuang waktu memikirkan perubahan konyol Zack Shangra di saat sulit seperti sekarang. Pria itu nampak membungkuk, meraba-raba ke dalam mobilnya untuk mencari keberadaan ponselnya guna memintai bantuan--entah pada siapa.


Namun sesuatu di kejauhan sana mengalihkan perhatian dan menghentikan kegiatannya. Ia bangkit laju melangkah terpincang ke bagian tepi jalanan--menunggu.


Sebuah deru mobil lengkap dengan wujudnya, nampak bergerak merubah suara dan ukurannya dari kecil hingga perlahan membesar, seiring jarak laju yang terpungkas kian mendekat ke arahnya.


Sebersit harapan menyapa Diraga.


Siapa pun di dalam mobil itu ... semoga bisa membantunya. Segepok uang akan ia gunakan sebagai bayar jasa, pikir pria itu bersemangat.


Namun terkadang harap hanyalah harap.


Mata Diraga kini membelalak lebar, saat ditangkapnya sosok pengemudi di dalam mobil berwarna marun yang bagian kaca pintunya tak tertutup itu. Ia bergumam dalam ketidakpercayaannya, "Zack ... dan ... wanita itu!"


__ADS_1


__ADS_2