Liz Nadiah

Liz Nadiah
Pertarungan - Part 2


__ADS_3

Dengan wajah sebagian tertutup sehelai cadar putih yang dipasang melilit hingga ke belakang lehernya, menyatu dengan hijab, hingga hanya menyisakan mata bulat berbinarnya yang bening. Seragam yang juga putih--kebanggaan Bulan Bintang, ber-aksen hitam di tepian garis bagian depannya, membalut tubuh Liz Nadiah saat ini. 167 sentimeter tinggi badannya, dengan porsi tak terlalu kurus juga tak gemuk, cukup membuat wanita itu menjadi lain. Sangat pangling!


Ia berjalan yakin menuju arena tanding setelah pria andalan terakhir kubunya, tumbang. Menghasilkan skor pertandingan tiga banding satu. Terlalu tipis harapan untuk menang, mengingat kesemua sisa lawannya, adalah seorang pria--termasuk di antaranya adalah Samwise.


Semua mata terbelalak menatap Liz Nadiah yang mulai menaiki arena tarung. Tak ada siapa pun yang tak menyadari, bahwa andalan keempat Bulan Bintang adalah seorang wanita. Karena dilihat dari segi mana pun, sosok itu, tetap seorang wanita.


Gus Ammar menatapnya dari bawah arena setinggi pinggangnya itu, penuh kecemasan. Ia cukup menyesali, mengabulkan keinginan anak gadis angkatnya itu untuk bertarung, menggantikan kedua andalannya yang ... katakan saja, gagal tanding. "Jagalah Nadiah, Ya Allah," gumamnya penuh harap.


Berlainan dengan kecemasan Gus Ammar, ketiga sisa Pilih Tanding milik Rose Gold, justru merasa ini tidak benar. Apa kata dunia, mereka akan menghadapi seorang wanita? Namun isi pikiran dan rasa gengsi itu terpaksa mereka redam, karena pihak panitia mengesahkan keputusan itu.


Samwise, sepertinya pria itu tak menyadari, bahwa yang berada di atas arena itu adalah Liz Nadiah. Karena cadar yang dikenakan wanita itu cukup rapat menyembunyikan keaslian wajahnya. Ia nampak tersenyum remeh menatap ke atas arena. "Wanita yang merindukan akhirat," gumam Samwise mengejek.


"Jangan mengalah, Tuan. Hadapi aku, seperti kau menghadapi seorang pria!" ujar Liz Nadiah pada pria lawannya yang masih menatapnya tak nyaman.

__ADS_1


Akhirnya, wasit mengisyaratkan sebuah gerak, agar kedua petarung bersiap dengan kuda-kudanya.


Liz Nadiah sejenak merapalkan do'a dalam hati, memohon perlindungan untuk dirinya. Urusan kemenangan, hanya masalah keberuntungan, pikirnya realistis.


...---...



Saat ini mobil yang dikendarai Sean tengah merayap dalam kemacetan. Andromeda cukup kalut dibuatnya. Sepasang matanya terus mendikte setiap detail tempat yang dilaluinya. Sejak kemarin--selepas menemui Zack Shangra di hotel, Andromeda nyaris belum mengistirahatkan tubuhnya. Hanya kurang dari satu jam ia menyempatkan diri untuk tidur, menjelang subuh tadi. Setelahnya, ia kembali mengajak Sean untuk melanjutkan pencariannya terhadap Liz Nadiah.


Kemana ia harus mencari?


Kemacetan semakin mengular, dan mobil mereka dengan sintingnya hanya diam--tak bergerak sama sekali.

__ADS_1


Setelah hampir dua puluh menit lamanya, mobil itu akhirnya memiliki kesempatan untuk bergerak, meskipun merangkak. Namun yang dilakukan Sean di luar rencana Andromeda. Pria asisten itu malah membelokkan mobil yang dijalankannya ke suatu tempat.


"Hey! Apa yang kau lakukan?!" Andromeda berseru terkejut.


"Aku lelah, Tuan Muda. Percuma kita paksakan," kata Sean seraya menginjak pedal remnya. "Kita istirahat dulu saja. Tunggu sampai macetnya terurai."


Mobil itu sudah terparkir di sebuah halaman luas, di mana puluhan mobil lainnya juga terparkir di sana.


Kepala Andromeda terlihat menoleh ke arah jalanan. Dan benar apa kata Sean, semua kendaraan di jalanan itu kembali diam. Entah akan sampai kapan.


Sean sudah turun dari mobil itu. Wajahnya nampak mengedar ke segala arah--berniat mencari sesuatu untuk mengisi kerongkongannya yang kering. Sampai pasang matanya jatuh pada sebuah poster raksasa di depan bangunan luas yang menjulang di hadapannya. Ia berseru semangat. Mengetuk kaca mobil Andromeda yang tertutup. "Tuan Muda! Tuan Muda!" panggilnya.


Andromeda yang tengah bersandar lelah di kursinya, melengak menatap Sean yang terlihat bersemangat memanggil-manggilnya dari luar. Dengan malas ia menurunkan kaca mobil di sampingnya itu. "Ada apa?" tanyanya dengan wajah risih.

__ADS_1


Terlihat Sean mengarahkan telunjuknya ke arah poster raksasa di depan sana. Meski cukup jauh jarak pandangnya pada poster tersebut, namun tulisan juga gambarnya cukup jelas ditangkap penglihatan Andromeda. Setelah cukup menatapnya, ia lalu mengalihkan pandangnya kembali ke arah Sean--cukup mengerti dengan keinginan asistennya itu, tak terkecuali dirinya.


__ADS_2