
Video berdurasi beberapa menit itu ditatap Zack Shangra dengan senyuman puas. "Kena kau, Andromeda," ujarnya senang.
Video itu menunjukkan di mana Andromeda tengah membopong Jennefit Moon yang terkulai dari dalam rumah menuju mobilnya.
"Bagus, Jenn. Berkorban sedikit tidak akan membuatmu mati. Dan video ini ... akan dilihat Nadiah dengan mata berkaca-kaca," sambung Zack Shangra dengan kekehan kecil mengerikannya. "Ya, setidaknya sedikit taburan garam dariku agar lukanya cukup menyakitkan. Lalu membuat dunianya bersama Andromeda, bergeser padaku."
Dengan seringai iblis di wajahnya, Zack Shangra bangkit dari duduk tenangnya. Memasukkan ponselnya ke dalam saku bagian dalam jasnya, lalu mulai melangkah keluar dari rumah megah itu. "Sekarang saatnya aku mengambil peranmu, Tuan Andro. Menemani Nadiah menonton konser di Alun-Alun Kota," ujarnya seraya masuk ke dalam mobil, lalu melaju dengan congkak di antara keramaian yang cukup membuatnya senang malam ini.
--
Di sisi lain jalanan.
Kenan Lingga telah tiba di kota itu dari pukul 04 sore tadi. Usai berhasil mengantongi informasi dari warga desa, tanpa membuang waktu, pria itu bergerak menuju di mana Liz Nadiah berada. Setelah sebelumnya ia sempat berdiri membatu di halaman rumah milik Liz Nadiah yang telah hangus terbakar dengan serangan terkejut yang tidak main-main.
Perasaan sakit bercampur cemas membuat hatinya bergejolak tak karuan. Namun cukup tenang setelah mendapat kabar bahwa wanita pujaannya itu baik-baik saja, tapi juga sekaligus kecewa, karena yang dikatakan Andromeda, benar adanya--wanita itu memang telah dimilikinya.
Tapi sebisa mungkin Kenan Lingga menguatkan hatinya lagi-lagi. Menyemangati dirinya untuk tetap berjuang, sebelum aksi jabat tangan antara wali nikah Liz Nadiah dan Andromeda terjadi, ia masih punya kesempatan.
Dan saat ini ... jalanan dilalui Kenan Lingga dengan kecepatan maksimal. Kali ini ia mengendarai mobilnya sendiri dari kota asalnya, setelah memakan waktu hampir delapan jam lamanya di perjalanan. Ia harus menemui Liz Nadiah apa pun yang terjadi, berbekal keyakinan--setidaknya meskipun hanya setitik, di hati wanita itu ... pasti masih tercatat namanya.
Di kediaman Andromeda.
Liz Nadiah baru saja keluar bersama Sean, memasuki mobil bisnis Andromeda. Sesuai perintah atasannya, Sean akan membawa kekasih boss-nya itu ke Alun-Alun Kota, karena saat ini jam menunjukkan lebih lima menit dari waktu yang dijanjikan Andromeda pada wanitanya. Jadi dipastikan, pria itu tak akan kembali dulu ke rumahnya dan akan langsung menyusul ke tempat di mana mereka akan melalui waktu yang menyenangkan malam ini.
"Silahkan masuk, Nona." Pintu bagian belakang dibukakan Sean untuk Liz Nadiah.
"Terima kasih, Sean. Tapi aku di depan saja. Kau bukan supirku," tolak Liz Nadiah, seraya dengan cepat menyusupkan dirinya ke bagian depan mobil--duduk di samping kemudi.
"Tapi, Nona ...." Sean jelas tak setuju. "Kalau Tuan Muda tahu, bisa habis aku."
__ADS_1
"Dia tidak di sini. Ayo jalankan mobilnya!" hardik Liz Nadiah tenang saja.
Sean hanya mendesah. Lalu masuk dan memposisikan dirinya di balik kemudi--tak bisa menolak. Pasangan ini ... serasi sekali. Sama-sama keras kepala, kata hati Sean seraya menggeleng tak habis pikir.
Andromeda masih menunggu dengan cemas, di depan pintu ruangan IGD sebuah rumah sakit, di mana Jennefit Moon saat ini tengah ditangani dokter dan team-nya.
Satu jam sebelumnya, Andromeda mendapati gadis itu tergeletak di lantai dengan keadaan bersimbah darah--memotong nadinya sendiri. Ia sempat berteriak memarahi para pelayan dan seorang satpam di rumah Jennefit karena tak mampu mencegah aksi nekad nona mereka.
"Maaf, Tuan. Tapi Nona Jenn terus mengusir dan melempari kami dengan barang-barang yang dipegangnya." Setidaknya seperti itu kalimat pembelaan yang didengar Andromeda dari para pekerja di rumah Jennefit Moon. Setelahnya, pria itu membopong lalu melarikan Jennefit Moon ke rumah sakit yang saat ini ia jejaki.
Andromeda terlihat mondar-mandir dengan satu tangan berkacak pinggang dan satu lainnya ia gunakan untuk memijat keningnya yang cukup terasa pening.
Kenapa harus ia peduli? tanya hatinya tak habis pikir.
Tapi ia manusia yang punya hati, bukan? Sisi lain dalam dirinya menepis.
Bagaimana mungkin ia diam saja membiarkan wanita itu berteriak-teriak histeris dengan ancaman bunuh diri yang sungguh menggetarkan sisi kemanusiaannya. Namun jelas, alasannya bukan karena gadis itu pernah mengisi hatinya. Bukan!
"Sean ...," gumamnya setelah melihat sederetan huruf atas nama asistennya itu, lalu mengangkat panggilannya segera. "Ya, Sean."
"...."
Mata Andromeda membesar seketika. "Nadiah ...." Ia lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 20.43. "Ya, Tuhan. Aku sudah cukup terlambat!"
"...." Suara cempreng Sean kembali terdengar memanggilnya.
Dengan cepat Andromeda kembali meletakkan ponsel itu di telinganya. "Sean, katakan padanya tunggu aku. Kurang dari setengah jam, aku pastikan sudah sampai di sana!" Panggilan ditutupnya sepihak.
Tanpa berpikir lagi, Andromeda melanting dengan cepat meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Namun baru beberapa jarak kakinya melangkah ....
"TUAN!!"
Dan langkah itu pun terhenti!
Andromeda membalik tubuhnya, menatap seorang dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan di mana Jennefit Moon ditangani.
Demi apa pun, ini adalah masa paling dilema sepanjang hidupnya.
Kekasih yang menunggunya, atau mantan kekasih yang membutuhkannya?
Andromeda benar-benar terjebak situasi membingungkan. lagi-lagi jam tangan itu diliriknya gusar.
Suara hentak sepatu milik dokter itu terdengar mendekatinya. Andromeda mendongak menatapnya, menunggu apa yang akan dikatakan dokter pria itu padanya.
"Sepertinya Anda sudah ingin pergi?"
"Benar, Dokter. Calon istriku sedang menungguku," jawab Andromeda apa adanya. Namun tak hilang tampilan gelisah itu di wajahnya. "Bagaimana keadaan Jenn? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya ingin tahu.
Terlihat dokter itu mengangguk memahami. Mungkin ia berpikir sebelumnya, pria tampan itu adalah kekasih pasien yang baru saja ia tangani. "Nona Jennefit baik-baik saja. Beruntung, lukanya hanya di dasar. Sayatan yang dibuatnya tak sampai menyentuh kedua pembuluh penting di bagian dalam luka itu sendiri. Dan sekarang ia ingin bertemu Anda. Saya sarankan temui saja dulu dia walau sebentar. Dia terlihat bersedih dan menanyakan Anda terus menerus selama kami menanganinya tadi."
Andromeda terhenyak. Di satu sisi, ia merasa lega, karena Jennefit Moon baik-baik saja. Namun juga semakin gelisah, karena itu artinya ... ia akan semakin terlambat menemui Liz Nadiah di Alun-Alun Kota. "Baiklah." Dengan wajah kelam, akhirnya Andromeda melangkah pasrah menuju ruangan di mana Jennefit berada.
"Andro." Berpulas wajah pucatnya, karena cukup banyak mengeluarkan darah dari luka hasil karyanya, Jennefit Moon mengangkat baring tubuhnya menyambut Andromeda yang sedari tadi ditunggu-tunggunya.
Terlihat paramedis meninggalkan tempat itu--memberi ruang kedua muda-mudi itu untuk saling bicara.
"Kau tak perlu melakukan itu hanya untuk mengundang kehadiranku, Jenn," kata Andromeda sarkas. Ia memilih berdiri sedikit berjarak lebih jauh dari wanita itu di ujung rnjangnya. "Karena aku tidak akan pernah berubah pikiran," tegasnya.
Mata Jennefit Moon mulai berkaca-kaca. Hatinya cukup terpental mendengar hal itu. "Tidak bisakah kaulihat aku kembali, Andro? Aku masih sangat mencintaimu. Apa kurangku dibandingkan wanita itu?" tanya dengan wajah memelas berurai air mata.
__ADS_1
Andromeda tersenyum kecut. Seperti biasa dengan gayanya--kedua telapak tangan ia sembunyikan di balik saku celana. "Aku bahkan tak perlu berpikir untuk menjawab pertanyaanmu."
^^^....^^^