Liz Nadiah

Liz Nadiah
Pengakuan - Kesempatan


__ADS_3

"Nadiah ... menikahlah denganku!"


Tak salah kata Andromeda sebelumnya, ini jelas mengejutkan Liz Nadiah.


Apakah pria itu sedang bercanda?


Sepasang matanya bergerak ke sana kemari, menyapu setiap detail wajah Andromeda--mencari kebenaran atau hanya sekedar candaan.


Dan itu cukup sulit dibedakan!


"Aku tak sedang bercanda, Nadiah," Andromeda menambahkan seolah bisa membaca ekspresi Liz Nadiah. "Aku tidak tahu tepatnya kapan perasaan itu muncul." Matanya masih terus menatap gadis itu. "Tapi yang jelas ... aku sudah jatuh cinta. Jatuh cinta padamu."


Mengejutkan untuk kedua kali.


Dan sekali lagi, Liz Nadiah masih mencoba menelisik--belum mau mengeluarkan suaranya. Karena sepanjang ia mengenalnya, pria ini selalu penuh lelucon. Ia khawatir Andromeda tiba-tiba tertawa, jika ia tanggap dengan serius nantinya.


"Aku tak menuntut keyakinanmu tentang perasaanku. Aku hanya butuh sedikiiit saja kepercayaanmu. Aku tak sedang bermain peran. Aku sungguh ingin kau menjadi pendampingku, Nadiah."


Entah karena tatapan Andromeda yang semakin melembut, atau karena hal lain, Liz Nadiah cukup dibuat resah dengan pernyataan itu. Sesaat kemudian, terlihat kedua bening matanya menitikkan butiran air.


Andromeda cukup bingung menatapnya. "Apa yang membuatmu menangis?" Sebelah telapak tangannya terangkat menyapu basahan bergaris turun di pipi Liz Nadiah.


Liz Nadiah menggeleng tipis. "Andro, apa kau serius dengan perkataanmu?" tanyanya tanpa perduli pada pertanyaan pria itu sebelumnya.


Andromeda tersenyum. Rambut klimis yang disisirnya rapi ke belakang nampak berkilau, meski tak ada cahaya matahari menyorot, karena hujan cukup deras menyerbu menjelang sore ini. Ia mulai mengangkat tubuhnya, lalu sedikit membungkuk meraih ujung pundak Liz Nadiah menuntunnya untuk berdiri sama sepertinya.


"Hanya orang sakti yang bisa bermain-main dengan ajakan pernikahan. Dan aku sama sekali tidak sakti," tutur Andromeda sekenanya.


Wajah yang menjulang di hadapannya itu ditatap Liz Nadiah sedikit masam. Baru juga bertanya, sudah membuat lelucon, pikirnya. Apa hubungannya orang sakti dengan ajakan pernikahan? Pria ini ....


"Jadi bagaimana? Apa kau bersedia?" sambung Andromeda meminta kepastian.


Seharusnya Liz Nadiah berbahagia dengan itu. Karena ia bukan tipe wanita yang suka berbasa-basi.


Saat memikirkan keputusannya, tiba-tiba wajah Kenan Lingga melintasi pikirannya. Mengingat bagaimana ia menolak ajakan pernikahan pria itu beberapa bulan lalu.


Lalu bergerak mundur pada penantian panjangnya selama dekat dekat pria dokter itu di kota sana. Sebuah penantian kosong, yang seolah hanya disiram perhatian--tanpa kepastian.

__ADS_1


Lalu saat ini ... Andromeda ... bagaimana?


"Diammu kuanggap setuju!"


Liz Nadiah terperangah kali ini. "A-apa?"


"Ya, kau diam. Berarti kau bersedia menjadi istriku," ujar Andromeda dengan senyuman miringnya.


"Ta-tapi, Andro--"


"Baiklah, Nadiah. Besok kita terbang ke Kanada menemui Momy dan Dady-ku." Tanpa perduli jawaban Liz Nadiah, Andromeda melenggang pergi begitu saja, meninggalkan gadis itu dengan wajah terpelongo--bingung.


Sesaat pintu ditutupnya dari dalam, Andromeda terdiam sejenak. Menyelipkan kedua telapak tangan ke dalam saku celana. Bibirnya menyunggingkan senyuman lucu menggelitik, kemudian terlihat berubah menjadi kekehan kecil, seolah puas dengan tindak tanduknya pada gadis itu sesaat lalu. "Aku pastikan, pasangan dalam buku nikahmu ... hanya namaku, bukan Kenan Lingga, atau siapa pun!"


Lain halnya dengan Andromeda, Liz Nadiah masih berdiri tepekur. Kedua tangannya terkulai di kedua sisi tubuhnya. "Apa benar aku menerima Andromeda?" gumamnya gamang.


Perkenalan mereka bahkan belum memakan banyak bulan dalam kalendar. Ia belum tau pasti, bagaimana kepribadian pria itu sebenarnya. Tapi ... kenapa ia tak mampu mengatakan tidak, setegas ketika ia menolak Kenan Lingga?


Tujuannya pun masih juga belum tercapai hingga kini.


"Besok ... Kanada ...?" Lagi-lagi Liz Nadiah bergumam. "Apa Andromeda serius akan membawaku pada orang tuanya?"



Jauh di Kota S.


Tuxedo hitam lengkap dengan segala atributnya, masih membalut apik di tubuhnya. Daun-daun di jalanan ber-aspal itu nampak berhambur ketakutan, ketika mobil yang dikendarai Kenan Lingga melewatinya dengan kecepatan mendekati maximum.


"Maafkan aku, Ma, Pa," gumamnya muram. "Aku terpaksa melakukan ini. Aku hanya tak ingin terjebak dalam kurungan sesal nantinya."


Ekspresinya nampak keruh--antara sesal, cemas, dan kilatan sebuah tekad, terkemas dalam satu pulasan di wajahnya.


Ia baru saja melarikan diri dari sebuah pertemuan. Pertemuan antar keluarganya dengan keluarga wanita yang akan dijodohkan dengannya.


Perasaannya tiba-tiba kacau, saat menjejak di halaman sebuah restoran mewah yang akan mempertemukannya dengan wanita pilihan kedua orang tuanya itu.


Tanpa berpikir lagi, Kenan Lingga melenggang pergi mengikuti perasaannya tanpa memperdulikan kedua orang tuanya juga keluarga wanita itu, yang telah menunggunya di dalam restoran dari satu jam sebelumnya.

__ADS_1


Satu belokan di depan dijejaki putaran roda mobilnya kini. Lantas tak lama berhenti di depan sebuah bangunan berlantai satu yang lurus menghadap ke sebuah mini lapangan bola. Ia melangkah ke dalam bangunan tersebut setelah menutup keras pintu mobilnya.


Dilihat dari tampilannya, bangunan itu seperti sebuah base camp. Banyak coretan beragam, mulai dari lukisan hingga grafiti memenuhi setiap dindingnya. Bangku-bangku kayu berbentuk kubus diletakan terpisah-pisah di beberapa titik.


Kobaran api di dalam sebuah tong besi menyambutnya di tengah ruangan. Kenan Lingga menghempaskan tubuhnya pada sebuah matras di sisi kanan berdekatan dengan pintu.


"Apa yang membawamu kemari, Pak Dokter?" Seorang pria terduduk santai di bangku kayu tak jauh darinya, dengan santai menghisap rokoknya--tersenyum menatap Kenan Lingga yang nampak jelas kekusutannya.


Dengan kedua tangan ia biarkan terlipat menutupi wajah, Kenan Lingga menjawab, "Aku baru saja melarikan diri."


Pria itu tersenyum. Mematikan rokoknya yang hanya tersisa setengah itu ke sebuah asbak di dekat kakinya. "Sepertinya masalahmu cukup berbobot, sampai kau datang kemari dengan pakaian mahalmu."


"Jangan mengejekku, Sam!" hardik Kenan Lingga. Ia lalu bangkit dari posisinya dengan malas--terduduk. "Kau pasti bisa membayangkan, bagaimana tak enaknya dipaksa menikah dengan orang yang tak kita harapkan." Disusul usapan kasar di wajahnya.


Pria pemilik nama Samwise itu terkekeh. "Sepertinya kawanku ini masih belum bisa melupakan dokter bermata bulat itu."


Kenan Lingga menoleh, memandang sahabatnya dengan raut nanar. "Aku rasa kau benar, Sam."


Samwise berjalan santai ke arahnya. Menurunkan tubuhnya lalu duduk bersisian dengan Kenan. "Apakah Nadiahmu itu sudah dimiliki orang lain?" tanyanya sedikit menoleh memandang Kenan Lingga. Kedua tangannya ia gunakan untuk mengunci lututnya yang tertekuk.


Semburat kelam menghias paras manis Kenan Lingga. Telapak tangannya terjulur mengambil sebuah bungkus rokok kosong di atas matras, yang kemudian dilemparkannya ke arah kobaran api. "Aku tak tahu soal itu, Sam," imbuhnya. "Tapi seorang pria menegaskan padaku, bahwa ia dan Nadiah ... akan segera meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan."


Kening Samwise nampak mengerut menanggapi. "Akan?"


Kenan mengangguk. "Iya, Sam," sahutnya lemah lalu menunduk memejamkan mata. "Tapi aku juga tak yakin. Pria itu terlalu misterius untuk kupercaya. Dan aku juga tak yakin, apakah dia pria yang baik atau tidak untuk Nadiah. Aku tak bisa menilainya hanya dengan satu kali pertemuan. Itu pun hanya beberapa saat saja kami berbicara."


Seulas senyum kembali disunggingkan Samwise. Tangannya bergerak menepuk-nepuk pundak bidang Kenan Lingga. "Jadikan ketidakyakinanmu itu sebagai jalan untuk membawa wanita itu kembali ke sisimu," ujarnya menyarankan. "Rebut kembali Nadiahmu itu darinya. Bukankah tadi kau bilang, pria itu hanya baru mengatakan 'akan'?"


Kenan Lingga kembali mengangguk. Kepalanya masih mencerna setiap bait kalimat Samwise. "Itu benar."


"Maka bukan berarti kesempatanmu mendapatkannya telah tertutup," ujar Samwise lagi. "Jangan menyerah dengan keadaan yang belum pasti. Selama cincin pernikahan belum mengikat mereka, kau tak perlu takut memperjuangkannya."


Mata Kenan Lingga tertegun menatap Samwise. Hatinya mulai kembali bergejolak. "Kau benar, Sam." Lalu mengalihkan tatapnya pada kobaran api yang tak juga padam di depannya. "Aku masih punya kesempatan," gumamnya dengan sorot teguh.


"Dan kau harus cepat!" sergah Samwise kembali meyakinkan.


"Ya!"

__ADS_1


__ADS_2