
Keesokan paginya.
Sosok pria yang berdiri di teras kecil itu cukup membuat Andromeda terkejut. Meskipun dalam posisi memunggungi, dia jelas mengenal postur yang tingginya hanya sebatas lehernya itu. "Sean."
Pemilik nama itu berbalik sontak. "Tuan Muda." Ia mulai maju mendekat dengan kedua tangan terangkat tanpa sadar ... hendak memeluk Andromeda. Wajahnya tentu saja memasuki mode girang. "Syukurlah Anda baik-baik saja."
Tangan kanan Andromeda bergerak menepis. "Jangan peluk aku. Aku masih waras."
Sean mengerucutkan bibirnya. "Lalu Tuan pikir aku tidak waras?" Ia mencebik. Dan di lima detik kemudian, ekspresinya perlahan beringsut datar lalu mengerut sesaat setelahnya--terheran. "Tuan Muda memakai baju siapa?"
Nyaris Sean menggelakkan tawa melihat tampilan asing Andromeda yang baru disadarinya, terlihat sangat aneh dan juga konyol. Namun ditahannya demi tak memancing kemarahan dari sumber keuangannya itu.
Andromeda menunduk. Menelisik penampilannya sendiri dari dada hingga ke ujung kakinya yang tak beralas. Setelan kaos oblong dan sarung itu masih membalut mesra di tubuh tegapnya. "Aku tidak tahu. Saat sadar, baju ini sudah melekat di tubuhku," terangnya jujur. Lalu berbalik dan melangkah memasuki rumah itu, kemudian duduk di salah satu bagian kursi, bersandar dan bersilang kaki. Seolah rumah itu adalah miliknya sendiri.
"Sadar?" Kening Sean kini mengernyit. "Memang Tuan Muda kenapa?" Ia turut mendudukkan dirinya di kursi lainnya di samping Andromeda.
Pertanyaan Sean mengingatkannya kembali pada kejadian naas yang menimpanya dua hari lalu. Lantas dalam sekejap, tatapan tak bersahabat dilayangkan Andromeda pada Asisten Pribadinya itu.
Sean merasakan atmosfer luar biasa dari tatapan menusuk Sang Tuan. Bulu kuduknya mulai menegak hingga diusap belakang tengkuknya itu tak nyaman. Wajahnya tentu saja meringis kaku. "A-ada apa, Tuan?"
Hunusan mata elang Andromeda berakhir dua menit kemudian. Waktu yang cukup untuk membuat Asistennya itu ketar-ketir. "Kau beruntung. Aku sedang malas berurusan dengan interview, tes fisik dan sejenisnya, untuk merekrut asisten baru."
Kalimat itu diujar Andromeda dengan santai. Ia masih belum menyadari, perihal kedatangan Sean, juga dari mana asistennya itu tahu dia berada di tempat itu saat ini. Sedangkan ia belum sempat menghubungi kembali nomor rumahnya setelah berdebat dengan Liz Nadiah kemarin siang.
Mata Sean terbelalak, beriring dengan detak jantungnya yang terlonjak. "Ma-maksud, Tuan Muda?"
Sebenarnya ia cukup tanggap dengan kalimat sinis Andromeda, namun tak cukup jelas untuk menentukan nasibnya ke depannya.
"Kenapa kau meninggalkanku di perkebunan? Kau tahu, aku hampir mati sesak gara-gara kau."
Masih terdengar kalem, namun lebih menambah ketakutan di hati Sean yang mungkin akan beku sebentar lagi.
Ritme jantung pria muda itu pun dua kali lipat bertambah cepat. "Be-benarkah itu, Tuan Muda?"
"Kaupikir aku bercanda?" tanya Andromeda dengan mata berkilat. "Kau tidak lupa tentang hubunganku dengan hujan, bukan?"
__ADS_1
Sepasang mata sayu Sean membingkai cukup lebar. "Ma-maaf, Tuan Muda. Sore itu aku ...." Selanjutnya demi memastikan juga mempertahankan posisinya di samping pria angkuh itu, Sean dengan panjang lebar menjelaskan alasannya meninggalkan Andromeda, saat hari di mana atasannya itu terseret air sungai hingga hampir menjejak kematian.
"... jadi aku mengira, Anda sudah kembali dan malah aku yang tertinggal."
"Dasar bodoh!" hardik Andromeda. "Kaupikir aku pulang pakai apa?!"
Perdebatan antara boss dan asistennya tersebut berlangsung hingga butiran peluh memandikan Sean dalam ketegangan. Andromeda nyaris tak memberinya celah untuk membela diri.
Sampai kemunculan sosok berhijab yang bergerak dari arah luar, berhasil menginterupsi sidang konyol keduanya. Liz Nadiah, dengan menenteng sekantong kecil sayuran di tangan kanannya, gadis 26 tahun itu terpaku dua langkah lebih dalam di depan ambang pintu. Menatap kedua pria yang menguasai selingkup kursi di ruang paling depan rumahnya itu, bergantian.
"Kau dari mana?" Andromeda bertanya memecah.
Liz Nadiah mengerjap. Mengangkat sekilas kantong hitam itu lalu menjawab, "Ah, ini ... aku habis membeli sayuran di gerai depan sana." Terlihat sepasang matanya mendelik malas menanggapi suara itu.
Sean bangkit berdiri. "Apakah Nona ini yang menghubungi nomor rumah Tuan Muda tadi?"
Sebelum menjawab, sesaat Liz Nadiah menatap Andromeda yang cukup terkejut dengan pertanyaan Sean. "Umm ... iya, itu aku, Tuan," akunya.
Ternyata wanita itu benar-benar ....
Cukup risih dengan posisinya yang mungkin terlalu dekat dengan pria menyebalkan itu, Liz Nadiah beringsut memundurkan beberapa langkah kakinya, hingga melewati ambang pintu, lebih keluar. "Iya, kenapa?" jawabnya balik bertanya.
Andromeda tersenyum kecut. "Baiklah, sepertinya kau sudah sangat risih dengan keberadaanku di rumah ini."
"Kalau aku jawab 'iya' lagi, kau mau apa?" balas gegas Liz Nadiah menantang.
"Kau harusnya senang, pria tampan seperti aku berada rumahmu!"
"Dan aku tidak senang, karena pria tak tahu malu sepertimu, terlalu lama berada di rumahku!"
Sean menatap gadis itu takjub. Pasalnya, sudah selama tiga tahun lamanya ia bekerja sebagai asisten Andromeda, belum ada satu pun gadis yang berani bersikap frontal seperti Liz Nadiah. Kebanyakan dari mereka pasti langsung tunduk, dan berakhir mengejar hingga berbagai cara untuk mendapatkan perhatian pria itu.
Lalu Andromeda sendiri ... ia terlalu cuek dan nyaris tak perduli dengan hal yang berbau percintaan. Wanita-wanita rendah itu nyaris seluruhnya mendapatkan penolakan tegas darinya. Bahkan tanpa kata yang manis sebagai--setidaknya permohonan maaf atas ketidaksiapannya menjadi pasangan.
Di kepalanya mungkin hanya ada karir dan pekerjaan. Cukup aneh, di saat sebagian besar pria bertingkah layaknya Don Juan, dia yang memiliki tampilan paling pantas dengan gelar itu, malah tak sedikit pun menonjolkan rasa tertariknya.
__ADS_1
Apakah ia memiliki kelainan? Atau memang ada trauma tentang itu di masa lalunya? Seperti itulah pikir Sean selama ini menanggapi keanehan tuannya.
Tapi kepada Liz Nadiah ...?
Kenapa dia berbeda?
Banyak cakap terlontar, juga sepertinya ....
"Aydxx&!@$!"
Eh?
Sean mengerjap. Ia mendengar suara itu, namun .... "Apa Anda bilang, Tuan Muda?" Terlalu asyik bermain dengan asumsi di kepalanya, tak sedikit pun kalimat Andromeda berhasil ditangkapnya.
Satu sentilan kecil namun bertenaga, mendarat di kening Sean melalui ruas jari putih Andromeda. "Apa yang sedang kaupikirkan, huh?! Ayo pulang!"
Dengan ringisan di wajah, Sean mengusap-usap keningnya yang cukup ngilu akibat sentilan itu. "Tidak ada, Tuan, tidak ada. Ayo!"
Dengan langkah angkuh, Andromeda melenggang meninggalkan rumah itu, tanpa berkata lagi pada Liz Nadiah. Bahkan untuk sekedar mengucapkan terima kasih sekali pun.
"Maaf, Nona. Saya permisi. Terima kasih sudah menolong Tuan Muda Andro."
Liz Nadiah tersenyum. "Iya, sama-sama. Itu sudah menjadi kewajibanku," ucapnya lembut.
Ya, setidaknya ada Sean yang mewakilkan.
Bukan karena ia pamrih, hanya saja ... sikap Andromeda terlalu sinting untuk seorang pemimpin menurutnya. Meskipun hanya pemimpin perkebunan. Bagaimana ia memperlakukan para pekerjanya, jika sikapnya saja semaunya seperti itu?
Huh!
Ditatapnya BMW hitam yang mulai menjauh dari pandangnya. Akhirnya ... ia terbebas dari pria shameless itu.
Pergilah sejauh mungkin!
...🕊️🕊️🕊️...
__ADS_1