Liz Nadiah

Liz Nadiah
Sebatas Inikah?


__ADS_3

Sejurus tatapan Zack Shangra menangkap sosok itu. Sosok yang berdiri tak tegak di tepi jalan--Diraga Madewa.


Sedikit ia melambatkan kemudi mobilnya, tepat bersejajar dengan posisi di mana Diraga berdiri. "Maaf." Kata itu ia ucapkan tanpa suara. Lalu menutup kaca mobilnya dan melaju secepat kilat meninggalkan pria tua itu dalam segunung murkanya.


"Siapa dia, Kahfi?" tanya Liz Nadiah ingin tahu.


Panggilan itu masih tak bisa membuat Zack Shangra nyaman. Aku bukan Kahfi! tolak kerasnya dalam hati. Wajahnya nampak memerah menahan geram yang sebenarnya cukup sulit ia redam.


"Kahfi! Orang-orang itu mengejar kita!" Liz Nadiah dengan kepanikannya. Tubuhnya berganti-ganti hadap--menengok ke belakang lalu ke depan, dan begitu hingga berulang kali.


Respond Zack Shangra cukup cepat. Di hadapkan pandangnya pada spion yang tergantung di atas kepalanya. "Sial!" ia mengumpat.


Benar saja! Beberapa mobil mengikutinya dari belakang. Termasuk mobil penyok miliknya yang ia gunakan untuk menabrak papa angkatnya beberapa waktu lalu. Karena saat ini yang ia kemudikan adalah mobil milik anak buah pria itu yang ... anggap saja dicurinya.


"Cepat, Kahfi!!" teriak Liz Nadiah semakin cemas. "Kita ke kantor polisi saja!" sarannya di antara kekalutan.


"Tidak! Itu bukan pilihan!"


"Apa maksudmu?!"


"Jika kau terus mengajak bicara, aku tak akan bisa berkonsentrasi menyetir!"


Liz Nadiah terdiam. Tak memungkir bahwa yang diucapkan Zack benar adanya. Kini ia memilih menundukkan kepalanya, mengisi hati dan jiwanya dengan baitan do'a. Semoga ia dan Zack Shangra bisa terbebas dari kejaran orang-orang itu, lalu meng-aminkan di ujung kalimatnya.


"Nadiah! Ambil ponsel di saku celanaku! Dan hubungi Martin!"


Liz Nadiah terkejut mendengar perintah itu. Ia menatap Zack dengan raut bingung.


"Di saku celanaku! Cepat!"


Seruan Zack membuat Liz Nadiah sedikit tertampar. Tanpa berpikir lagi, dengan cepat telapak tangannya terjulur, menyusup ke dalam saku di bagian depan celana yang dikenakan Zack Shangra.


"Hubungi Martin! Katakan padanya aku butuh bantuan!" seru Zack lagi seraya terus memacu mobil itu dengan kecepatan tak main-main.


Liz Nadiah nampak gemetar mengotak-atik ponsel yang kini telah digenggamnya. "Kata kunci!"

__ADS_1


"Apa?!" teriak Zack tak cukup jelas menangkap suara itu.


"Apa kata kunci ponselmu?!" ulang Liz Nadiah setengah berteriak.


"Nama lengkapmu!" sahut Zack.


Matanya masih terus mengamati dengan raut cemas ke bagian belakang mobilnya di mana orang-orang Diraga masih mengikutinya.


"A-apa?!"


"Cepat!"


"I-iya, baiklah," sahut Liz Nadiah sedikit kalang kabut.


Dan benar, deretan huruf membentuk namanya, berhasil membuka kunci layar ponsel milik Zack Shangra. Namun lagi, bukan saatnya untuk berdebat dengan pertanyaan yang sama sekali tak berguna untuk saat segenting ini. Ia harus mencari kontak bernama Martin.


Namun dilihat dari ekspresi wajahnya yang semakin kalut, jelas menunjukkan ada kesulitan yang nyata. Ia tak bisa menemukan nama itu dalam deretan nama di koleksi kontak milik Zack Shangra.


Sampai akhirnya ... muncul sebuah nama di kepalanya.


Tanpa buang waktu, Liz Nadiah menekan sederetan nomor cantik yang sangat dihafalnya.


"Andro!"


DEG


Mata Zack Shangra membesar seketika mendengar nama itu. Tapi ....


"Kahfi, awaaasss! Kau bisa menabrak!!" Liz Nadiah berteriak saat merasakan mobil yang ditumpanginya itu tiba-tiba bergelinjang ke sana kemari--oleng.


Namun kembali normal ketika Zack Shangra berhasil membanting dan mengatur kembali stirnya ke arah lurus. Kali ini ia sadar, sangat haram menggunakan perasaan dalam masa urgent seperti saat ini.


Liz Nadiah menghela napas lega. Berkali ia merapalkan syukur seraya mengelus dada. Sampai ....


"Nadiah!!"

__ADS_1


Teriakan di balik panggilan video yang dilakukannya kembali menghempasnya pada keadaan genting. "Andro!" Selanjutnya ia mulai bercakap sebisa mungkin dengan nada cukup keras, agar Andromeda bisa mendengar dan melihat keadannya dengan jelas.


"Oh, tidak!" Pedal rem diinjak Zack tiba-tiba.


"Ada apa, Kahfi?!"


Liz Nadiah menoleh panik ke sampingnya di mana Zack Shangra duduk dengan napas terengah-engah.


Di layar ponselnya, wajah Andromeda nampak semakin cemas--tiada tanding.


"Nadiah, ada apa?!"


"Kita terjebak," ungkap Zack Shangra tertegun.


Liz Nadiah menoleh perlahan, mengikuti arah pandang pria di sampingnya, dan .... "Ya, Allah, ya, Tuhanku!"


Sebuah jurang!


"KELUAR KALIAN!"


Sontak, teriakan itu membuat Liz Nadiah dan Zack Shangra sekejap beradu pandang, lalu menoleh bersamaan ke masing-masing sisi kiri dan kanannya.


"Kita terkepung," gumam Liz Nadiah putus asa. "Kita akan mati."


Orang-orang Diraga dengan jumlah tak main-main telah berdiri berkeliling di luar mobil yang ia dan Zack tumpangi. Meskipun tak cukup jelas karena hari semakin pekat, namun wajah-wajah bengis itu cukup menggambarkan raut-raut iblis yang mungkin akan menjadi malaikat pencabut nyawa untuknya juga Zack Shangra sesaat lagi.


Ditambah ... mereka bersenjata!


Bayangan menyesakkan kematian kini menguasai pikiran Liz Nadiah. Namun bukan takdir pasti itu yang ia takuti, melainkan ....


Andromeda!


Ia ingat ... siang tadi, ia dan pria itu baru saja mengikat janji suci--sah menjadi sejoli yang halal di hadapan Sang Pencipta.


Tapi kini ... waktu seolah menjungkirbalikkan keadaannya dalam sekelip mata.

__ADS_1


Beberapa bulan kebersamaannya bersama pria itu, cukup membuat hidupnya serasa berwarna. Sikap melindungi, kasih sayangnya, senyumnya, kekonyolannya ... kini terasa seperti debu menyesakkan yang menggumpal dalam hatinya.


Sebatas inikah?


__ADS_2