Liz Nadiah

Liz Nadiah
Menemukan


__ADS_3

Sepasang kaki panjang Andromeda baru akan menapak tanah, setelah turun bergelantungan dari dalam helikopter melalui tangga yang dijuntaikan. Seorang polisi membantu menyambut dan memegangi tubuhnya dari bawah.


"Hati-hati, Tuan."


"Terima kasih," ucap singkat Andromeda. Polisi itu hanya mengangguk dengan sikap sempurnanya, lalu mulai beralih membantu Sean yang juga turut mengekor.


Pandangan Andromeda mulai berkeliling menelisik sekitaran area terjal itu. Kakinya bergerak pelan terjurus lurus pada kobaran api yang sedikit mulai mengecil tepat di kaki jurang.


Hari masih gelap. Jam di pergelangan tangan Andromeda baru menunjukkan pukul 01.05 dini hari. Masih cukup lama untuk melihat sang surya menyembul dari tirainya.


Dari kejauhan terlihat orang-orang dari pemadam kebakaran mulai bekerja dengan peralatan seadanya. Perasaan Andromeda semakin bergejolak dalam harap cemas, juga kesakitan yang terus-menerus meninju hatinya.


Seraya menunggu api dipadamkan, Andromeda berkeliling melihat-lihat ke sekeling masih di sekitaran TKP, untuk setidaknya mengalihkan perasaan gusarnya.


Namun tanpa dirasanya, langkah kakinya perlahan merangkak semakin jauh dari kerumunan orang-orang yang tengah sibuk memadamkan api. Sean bahkan tak menyadari kepergiannya. Pria asisten itu masih serius mengamati--apakah Nonanya benar-benar terpanggang di dalam mobil, atau tidak!


Dengan perasaan yang entah dilukiskan dalam bentuk apa, bermodal cahaya dari flash ligt ponselnya, Andromeda terus menyusur tempat itu. Menapaki dedaunan kering yang berserak memenuhi hampir seluruh kawasan terjal di sekitarnya.


Sampai sesaat kemudian ....

__ADS_1


Terlihat tubuh tegap Andromeda membungkuk, lalu berjongkok--seperti ada sesuatu yang menarik perhatian di bawah kakinya. Telapak tangannya mulai terjulur menyibak dedaunan kering di hadapannya--mengambil sesuatu.


"Bukankah ... ini gelang yang kuberikan pada Nadiah?" ia bergumam dengan mata membesar. "Gelang yang membuatku mengenalinya di arena tanding waktu itu," lanjutnya seraya mengangkat tinggi-tinggi benda yang baru saja ditemukannya dengan mata berbinar.


Ia memasang matanya lekat-lekat seraya berdiri. Benda itu nampak diputar-putarnya dengan satu tangan, sedang tangan lainnya ia gunakan untuk menyorotkan cahaya senternya pada benda itu guna memperjelas pengamatannya. "Aku tidak mungkin salah. Aku masih jelas mengingatnya. Ini gelang milik Nadiah!"


Jika gelang itu bisa berada di sini, bukankah itu artinya ... ada kemungkinan Nadiah melewati tempat ini sebelumnya? Andromeda menerka-nerka, melahirkan harapan.


Kini gelang itu digenggamnya erat-erat. Kemudian dengan tergesa, ia mengedar pandangnya ke sekeliling seraya berjalan berputar-putar. "Aku yakin dia masih hidup! Aku pasti menemukannya!" tekadnya.


Samar dari kejauhan terdengar suara-suara memanggilnya, termasuk suara Sean. Namun Andromeda nampak tak mempedulikannya dengan tetap fokus pada gerak pencariannya.


"Nadiah," desisnya. "Aku menemukannya." Namun ketika kakinya beranjak untuk mendekat, ia menghentikannya tiba-tiba. "Zack!"


Mulanya hanya wajah Liz Nadiah yang ia tangkap dari balik akar besar pohon itu. Namun setelah kian dekat, ada wajah lain yang bergerak merangkum seraya menciumi wajah istrinya. Ia menelan ludah dalam ketidakpercayaan. "Kurang ajar!" geramnya.


Kemudian dengan langkah-langkah lebar, Andromeda bergerak menghampiri kedua orang berlainan tempat dalam hatinya itu dengan wajah tersiram emosi.


"Lepaskan istriku!!" serunya seraya menurunkan tubuh, lalu menarik dan merengkuh tubuh lemah istrinya dari pelukan Zack Shangra.

__ADS_1


Kecemasannya telah berganti amarah dalam tekanan kecemburuan. Ia bahkan melupakan bahwa kedua orang itu baru saja mengalami hal mengerikan.


Zack Shangra terperanjat karena terkejut. Awalnya ia mengira, cahaya senter yang ia tangkap adalah milik para aparat yang tengah melakukan pencarian. Lalu dengan perasaan senang, ia mengecupi wajah Liz Nadiah yang masih terpejam itu, seraya berkata, "Mereka menemukan kita, kau akan selamat, Nadiah. Bangunlah."


Namun di luar dugaannya, ternyata yang datang itu adalah sosok yang paling tak ingin dilihatnya. "Andromeda," gumamnya tercekat. Kedua telapak tangannya bahkan masih melayang sisa melepaskan paksa tubuh Liz Nadiah yang kini berpindah ke pelukan Andromeda.


"Sayang ... kumohon bangunlah. Buka matamu. Aku datang." Terlihat Andromeda menepuk-nepuk pelan pipi istrinya yang sangat terasa dingin disentuhnya, dengan raut cemas. "Kita bahkan belum menikmati kamar pengantin yang dihadiahkan orang tuaku untuk kita di hotel."


"Kamar pengantin," gumam Zack Shangra dengan keterkejutannya. Bibirnya yang pucat nampak gemetar. Dadanya mulai bergemuruh tak enak.


Andromeda mengalihkan wajahnya ke arah pria itu. "Dengarkan aku, Zack!" katanya dengan nada sedikit geram. "Nadiah ... sudah kunikahi!" cetusnya.


Zack Shangra membelalak tak percaya.


"Itu artinya ... dia adalah istriku! Camkan itu!" Kemudian dengan sekali gerak tangkas, seolah hanya merangkum setumpuk kapas, Andromeda bangkit seraya membawa serta Liz Nadiah dalam gendongan di bagian depan tubuhnya. "Aku akan panggil petugas untuk menolongmu," katanya pada Zack Shangra tanpa menoleh, lalu mulai berjalan meninggalkan tempat itu.


Dalam pandangan menyakitkan, teriring ringisan kental di wajahnya, Zack Shangra menatap punggung kekar Andromeda yang perlahan semakin menjauh. Seketika keremangan malam menyelimutinya. Tak ada lagi cahaya yang sesaat lalu dibawa Andromeda. Bulan bahkan hanya membentuk sabit dengan cahaya samar jauh di atas kepalanya. Suram. Tak ada lagi Liz Nadiah yang beberapa saat lalu dipeluk dan dikecupinya sesuka hati. Ia sendiri.


Mungkin jika yang membawa gadis itu berlalu adalah petugas penyelamat, ia pasti akan merasa tenang. Namun ini ...

__ADS_1


"Mereka sudah menikah," gumamnya getir. "Nadiah telah menjadi miliknya. Dan aku mungkin tak akan lagi punya kesempatan. Walaupun sekedar mengajaknya mati bersama untuk yang kedua kali."


__ADS_2