
Seperti rudal yang berdebam meluluhlantakkan ... menggempur lagi dan lagi.
Sesakit itu perasaan Kenan Lingga saat ini.
Mencintai, memiliki, percaya diri. Tapi kemudian cinta itu pergi dan tak ingin kembali. Miris.
Lalu siapa yang harus ia salahkan?
....
Dirinya sendiri!
Seandainya ia melarikan diri dari perjodohan itu sedari dulu, semenjak Liz Nadiah masih di sampingnya, dan mau lebih cepat bergerak, mungkin gadis itu sudah aman di sisinya kini--tanpa Andromeda atau siapa pun sebagai rival-nya. Rival yang akhirnya menyingkirkannya sejentik jari--nyaris tanpa perlawanannya.
Jas putih pembawa nama besarnya ia sampirkan di atas pundak kirinya dengan sedikit cubitan di bagian kerah di samping dadanya. Sepasang tungkai kakinya merambat gontai menuju ruang kerjanya yang terletak di ujung koridor sebelah kanan bagian dalam Rumah Sakit terbesar di kota itu.
Jangan tanyakan tentang ekspresi wajahnnya.
Nyaris melebihi induk kucing kehilangan anaknya. Dan ia tak peduli itu. Sekuat perasaan kehilangan itu menyerang dirinya, sekuat itu pula, ia melupakan sekitarnya. Seolah diseret ke tempat yang gelap dan kosong, tanpa gerak dan kehidupan. Terhempas!
"Relakan dia!"
Wajah lesu Kenan Lingga terangkat spontan. Didapatinya sosok berkacamata itu tengah bersandar santai bersidekap tangan, dengan sebelah kaki tertekuk menapak dinding, dan lainnya menahan bobot tubuhnya sedikit ke depan--di samping pintu ruang kerjanya.
"Sam."
Samwise beranjak, menegakkan tubuhnya, kemudian berdiri tepat di hadapan Kenan Lingga yang masih diam menatapnya dengan wajah kelam. "Maaf, Kenan," ucapnya dengan nada hati-hati. "Jika aku jadi Nadiah, maka hal yang sama, akan aku lakukan ...." Sejenak diam. " .... Memilih Andromeda," ujar Sam tanpa basa-basi.
Kenan melengak mendengar pernyataan sahabatnya itu. "Apa maksudmu?" tanyanya masih belum bisa mencerna. "Apa kau sedang meremehkanku, Sam?"
Menyelipkan keduanya tangannya ke dalam saku celana, Samwise tersenyum miring, sekilas membuang wajahnya, lalu kembali menatap Kenan Lingga. "Itu salah satu yang salah darimu, Kenan," imbuhnya. "Kau menyimpulkan suatu hal, hanya dengan sekilas penilaianmu."
Sejenak tertegun, sepasang netra Kenan Lingga tajam menyorot Samwise. Namun kemudian terlihat bergerak mengedar--mengamati keadaan. Cukup ramai lalu lalang orang-orang di sekitarnya. Dan itu bukan pilihan yang bagus untuk melakukan obrolan di luar tema 'medis', sesuai profesinya, pikir Kenan. "Masuklah, kita bicara di dalam!" putus pria dokter itu akhirnya.
Samwise mengangguk ringan menanggapi, lalu mulai berbalik mengikuti Kenan Lingga yang mulai memutar handle pintu di dekat keduanya.
Kenan Lingga nampak berdiri termenung. Menyandarkan punggungnya ke badan mobilnya, masih di parkiran rumah sakit itu. Kepalanya masih sibuk menelaan bait demi bait kalimat yang dijabarkan Samwise siang tadi.
Sam benar, kata hati Kenan. Aku memang tolol!
__ADS_1
Waktu bahkan mencemoohnya! Meratapi keadaan hanya akan menunjukkan kebodohannya sendiri.
Sudahlah!
Ikuti kemana waktu membawa dan menempatkan dirinya dalam panggung kehidupan ini.
Liz Nadiah ... jelas bukan pemeran utama wanita dalam garis takdirnya, Kenan mengakui akhirnya.
Bersamaan dengan itu ....
"Dia datang jauh-jauh dari Amerika, hanya untuk menemui kamu, Sayang. Tolong temui dia, kali iniii, saja. Mama mohon."
Kalimat itu sukses mengalihkan perhatian dan mengeluarkan Kenan Lingga dari debut batinnya. Ia menoleh ke asal suara. Tatapannya kini terjurus pada dua sosok wanita yang tengah berdebat di depan sebuah mobil dengan suara cukup keras beberapa jarak--terhalang tiga jejeran sepeda motor di balik mobilnya.
"Bukankah itu Lea," gumamnya seraya mengamati. "Dan wanita paruh baya itu ...."
Ia masih mencoba mengingat.
Sampai sesaat setelahnya ....
Sebersit bayangan menyentak alam sadar Kenan Lingga. Dengan kedua mata terbelalak, juga tubuh terperanjat dari posisinya, ia menyadari, wanita seusia ibunya itu, pernah datang ke rumahnya bersama suaminya untuk membicarakan urusan perjodohannya dengan anak perempuan mereka.
Apakah itu artinya ....
Demi apa pun, itu sungguh menohok. Kenan Lingga tepekur diri di tempatnya. Tubuhnya seolah membeku. Namun terlihat kedua telapak tangannya mengepal sangat, dan semakin erat, hingga menonjolkan urat-urat di sekitarannya.
Jadi ... wanita yang akan dijodohkan denganku itu ... adalah Lea?
"Tolong lihat Mama, Lea!"
Ibu dan anak itu nampak masih berseteru dengan pendapatnya masing-masing.
"Tapi aku masih sangat menyayanginya, Mama." Malea Lupi tertunduk dalam. Air matanya telah luluh berjatuhan. Bukan keinginannya mencintai seorang pria hingga sedalam itu. Tapi apa yang harus dilakukannya, jika tetap saja cinta itu memaksa untuk terus bersarang di hatinya?
Kenan Lingga memang bukan cinta pertamanya, tapi kelembutan juga kepedulian pria itu, benar-benar membuat Malea Lupi jatuh cinta--sedalam-dalamnya. Meskipun peduli itu jelas hanya ia dapatkan atas dasar pertemanan. Juga ia mengetahui untuk siapa hati Kenan Lingga tertambat sebenarnya.
Tapi ia bisa apa?
"Lea, Mama mohon, Sayang. Temui Adore sekalii saja." Ibunya masih terus memohon. "Mama yakin, setelah kamu melihatnya, kamu pasti akan berubah pikiran. Adore pasti bisa membantumu melupakan Kenan."
"Ma--"
__ADS_1
"Lea tidak boleh melupakan aku, Tante!"
Jelas mengejutkan. Saling tatap antara ibu dan anak itu sontak tercerai, lalu menghadap satu titik yang sama di lain sisi.
Malea Lupi membelakakan matanya. Sedangkan ibunya, hanya tertegun menyikapi keterkejutannya.
Kenan Lingga telah berdiri di belakang Malea Lupi dengan tatapan tegas. "Aku tidak akan mengizinkan Lea melupakanku!" ulangnya menegaskan.
"Ke-Kenan." Malea Lupi tergagap kaget.
Kenan Lingga melangkah mendekatinya. Menekan kedua bahu Malea, lalu menggesernya untuk ia sejajarkan berhadapan dengannya. Ditatapnya lekat sepasang mata sayu wanita itu penuh kehangatan. "Jangan pernah berusaha untuk melupakan aku, Lea," pintanya lembut. "Karena mulai sekarang, aku akan terus mengingatmu sampai waktu tak lagi memberi ruang!"
....
Bodoh jika memilih tetap sombong--seolah bisa bertahan! Sementara cinta yang diharapkan bahkan hanya tersisa bayangan saja.
Jika ada yang lebih tulus, kenapa harus congkak melempar penolakan seolah tak membutuhkan?
Sedangkan kenyataannya, justru dengan ketulusan itu, bahagia bisa direngkuh tanpa goresan kecewa--selama mau memberi kesempatan!
....
Malea Lupi menutup mulutnya tak percaya.
Apakah ia sedang bermimpi?
Atau sesuatu tengah mempermainkannya?
"Kenan," suara lembutnya. Apa kau sedang bercanda?" tanyanya memastikan.
Kenan Lingga menggeleng cepat. "Tidak, Lea. Aku tidak bercanda. Aku sudah putuskan, aku ingin bersamamu."
Silahkan hujat dia sekarang. Beberapa saat lalu, ia masih meratapi Liz Nadiah yang jelas tidak untuknya. Dan sekarang, dalam hitungan menit saja, semua berubah, hanya dengan mendengar seuntai ketulusan cinta yang terucap miris dari mulut Malea Lupi.
"Tapi Nadi--"
Sebelum kalimat itu dituntaskan Malea Lupi, Kenan Lingga telah lebih dulu merengkuhnya dalam pelukan--memungkas telak lontaran katanya. "Maafkan aku, Lea. Maaf karena tak pernah mencoba untuk melihatmu."
Air mata haru Malea mengalir menganak sungai. Ia bahkan tak sanggup membuka lagi suaranya karena tercekat. Terlalu mengejutkan sekaligus memecahkan kantung bunga-bunga di hatinya, hingga berhambur menghias seisi jiwanya.
Wanita paruh baya--ibunya Malea, terlihat mengangkat tangannya, mengusap pipi-pipi tuanya yang telah basah tersiram haru. Ia tidak marah! Tidak!
__ADS_1
Tuhan mungkin telah membuka hati pemuda itu untuk benar-benar melihat ketulusan cinta milik putrinya.
Akhirnya ....