Liz Nadiah

Liz Nadiah
Nama Itu Lagi


__ADS_3

"Kahfi?" Nama itu lagi.


Raut tenang Zack Shangra berubah menegang. Ia menatap Liz Nadiah dengan kening berkerut juga kelopak mata melebar. Nama itu baru saja terucap dari mulut Liz Nadiah, yang detik ini masih menatapnya berurai air mata. Demikian itu berarti, Nadiah adalah orang ketiga yang mengiranya sebagai Kahfi.


"Tapi aku bukan Kahfi," elak Zack Shangra. Pria itu mengangkat tubuhnya, bergerak dua langkah menjauh ke belakang. "Aku Zack, Zack Shangra!"


Sejurus pandang dijatuhkan Liz Nadiah pada lantai kramik dengan corak kayu keabu-abuan di bawah kakinya setelah didengarnya tepisan tak terima pria itu. Hatinya bertalu meresah. Rasanya ia tak mungkin salah. Meskipun belasan tahun lamanya tak bersua, wajah itu masih diingatnya dengan sangat jelas. Wajah yang selalu memberinya senyuman hangat dan melindungi, sekaligus wajah yang akhirnya membencinya.


Liz Nadiah bahkan masih menyimpan selembar photo usang di dalam dompetnya, ketika ia dan Kahfi Albareeq berpose bersama di sebuah acara pernikahan kerabat ayahnya kala itu. Hanya wajah dewasa, bentuk tubuh dan gaya rambutnya yang berubah. Juga kacamata bulat minusnya yang tak lagi nampak bertengger di hidung mancungnya. Selebihnya tak ada yang bisa dipungkir.


Dia ... lelaki itu ... pasti Kahfi! Kahfi Albareeq! Kakak satu ayah dengannya, kata hati Liz Nadiah tetap menepis pengakuan meyakinkan pria itu.


"Siapa sebenarnya Kahfi yang kaumaksud?"


Liz Nadiah terkesiap, sontak mengangkat wajahnya melihat ke arah di mana Zack Shangra berdiri. Pria itu bertanya tanpa melihat ke arahnya. Hadapnya terjurus ke arah jendela terhalang kaca mati tanpa engsel di ujung ruangan. "Kahfi ...." Kalimatnya dihentikan Liz Nadiah untuk sekejap meraup udara yang sungguh terasa menyesakkan baginya. "Kahfi ...."


Zack Shangra berbalik badan menatapnya dari kejauhan--masih di posisinya. "Siapa? Siapa Kahfi?!" Ia menyergah pupus kesabaran.


Nama itu sungguh mengganggunya, semenjak ia mengambil peran bodoh sebagai pria bernama Kahfi itu, dalam rangka memudahkan membawa Shinar tanpa kecurigaan siapa pun. Tapi kenapa sekarang ia seolah malah terjebak dalam permainannya sendiri? Dan gadis di hadapannya ... pun turut menyebut nama pria itu sesaat yang lalu, dan menujukan padanya juga.


Dagu runcing dengan belahan manis Liz Nadiah terangkat tegak layaknya jarum kompas, berkiblat pada Zack Shangra, ekspresinya masih sulit didefinisikan. "Kahfi, Kahfi Albareeq ... dia kakakku!" ungkapnya meyakinkan. "Walaupun kami tak lahir dari rahim yang sama. Tapi kami punya darah dari satu ayah yang sama."


Sekepal tinju tak kasat mata baru saja menyerang jantung Zack Shangra. Pandangan dengan bola mata lebarnya menukik ke arah Liz Nadiah. Sepasang kakinya perlahan bergerak, gontai menghampiri wanita berjas putih yang masih terduduk lemah di tepian ranjangnya itu. "Lalu di mana lelaki bernama Kahfi itu sekarang?" tanyanya dengan nada pelan, namun cukup menegaskan ketidaksabarannya. Sorot matanya berkilat penuh intimidasi menusuk.


Liz Nadiah terpaku. Menengadah menatap durja tampan nan pucat milik Zack Shangra yang menjulang di depannya. Mata itu ... tatapan itu ... aku yakin aku tidak salah. Tatapan yang dilihatnya terakhir kali ketika mereka bercakap dua belas tahun yang lalu. Tatapan yang menegaskan kebencian dalam sorot matanya ... persis seperti yang tengah dilihatnya saat ini.


Kau bukan adikku! Kau dan ibumu adalah pencuri!

__ADS_1


Pundak Liz Nadiah berguncang hebat. Tangisnya memburai menganak sungai. Kalimat singkat tapi menohok itu, kembali terngiang di telinganya. Kalimat yang diucapkan suara remaja Kahfi Albareeq, selepas pemakaman Shada Yasin--ayah mereka, dengan penuh kebencian.


Masih tak dipahami Liz Nadiah. Siapa yang dengan tega menghasut kakaknya itu hingga membencinya, juga ibunya--Galuh Aisyah pada masa itu, sampai Kahfi menganggap ia dan ibunya sebagai pencuri--pencuri hidup dan kasih sayang ayahnya. Padahal Kahfi adalah sosok penyayang yang selalu menggendongnya saat hujan-hujanan di halaman rumah mereka seraya tertawa-tawa.


Perubahan itu terlalu menyakitkan!


Kahfi Albareeq memutuskan tinggal di asrama sebuah pesantren, untuk menghindari kebersamaan mereka. Dan Muana, wanita tegar baik hati ibunya Kahfi--istri pertama Shada Yasin, memilih pergi dari rumah dengan dua ranjang pengantin di dalamnya itu, karena menurutnya itu lebih baik, agar tak melukai hati putera kesayangannya. Padahal rumah itu adalah milik keluarga Muana sendiri. Galuh Aisyah hanyalah gadis sebatangkara yang terpaksa dinikahi Shada Yasin, karena suatu fitnah yang merebak di desanya saat itu atas keduanya.


Kekuatan iman yang besar, membuat Muana berlapang hati menerima Galuh Aisyah menjadi madunya. Sampai lahirlah Liz Nadiah dari rahim Galuh, melengkapi kebahagiaan mereka, termasuk Kahfi Albareeq yang juga bersukacita karena mendapatkan seorang adik. Namun semua tak berlangsung lama. Kematian Shada Yasin menjadi awal huru-hara di kehidupan mereka.


Sebentuk bisikan iblis menjungkirbalikan keadaan. Melebur keharmonisan mereka. Kahfi Albareeq tiba-tiba berubah memerangi. Entah karena apa ... dan siapa.


"Apa kau mulai bisu, Nona?!"


Liz Nadiah tersentak, menatap wajah Zack Shangra sontak. Sepertinya cukup lama ia bergumul dengan hati dan pikirannya. "A-aku ...." Entah kenapa bibirnya seakan menjadi kelu. Bayangan masa-masa kecilnya bersama Kahfi Albareeq, membuat isi kepalanya berganti kacau. "A-aku ...." Dadanya semakin sesak terasa. Ia sangat ingin memeluk pria itu--sebagai kakaknya. Tapi ... bagaimana jika ia salah?


Tatapan elang Zack Shangra semakin menusuk. Menanggapi kediaman Liz Nadiah cukup membuatnya geram. "Pulanglah."


Kahfi Albareeq atau Zack Shangra?


Tapi Liz Nadiah bahkan tak mampu menggerakkan bibirnya untuk bicara. Kerongkongannya seolah menyempit tak memberi ruang untuknya bersuara, meskipun hatinya cukup meyakini tentang pria itu.


Perlahan pintu balkon itu tertutup. Menelan tubuh Zack Shangra di baliknya. Liz Nadiah menatapnya penuh luka, dibanjiri air mata kecewa--lebih pada dirinya sendiri.


Suara sesenggukan tangis gadis itu didengar jelas Zack Shangra dari luar. Yang saat ini menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang baru saja memisahkan keduanya. Kepala belakangnya ikut merapat pada helai kayu penyekat itu. Matanya terpejam dengan kembang-kempis dada tak beraturan--penuh gejolak.


Siapa? Siapa Kahfi?

__ADS_1


Kenapa mereka mengira dia adalah Kahfi?


Bagaimana ia mendapatkan jawaban tentang itu?


Ia bahkan tak mengingat apa pun tentang masa kecilnya. Selain yang pernah diceritakan Diraga Madewa, saat ia bertanya; Kenapa hidupnya terlalu janggal dengan tak bisa mengingat apa pun tentang dirinya di masa sebelum usianya 16?


Sepenggal jawaban Diraga Madewa saat itu;


"Kau tak dilahirkan dan dibesarkan di negara ini, sampai usiamu 15 tahun. Papa membawamu pulang ke sini, karena suatu hal menyangkut pekerjaan. Tapi naas, kau mengalami kecelakaan mobil saat pergi ke sekolah. Kejadian itu mengakibatkan hilangnya semua memory di kepalamu. Bahkan kau lupa, bahwa aku adalah papamu."


Dan Zack Shangra mempercayainya.


Ia masih bisa menepis, ketika Shinar yang mengiranya sebagai Kahfi, karena itu termasuk prestasi keberhasilan atas penyamarannya saat itu. Tapi entah kenapa, saat nama itu tercetus dari mulut Liz Nadiah tadi ... ia merasakan getar luar biasa yang tak dipahaminya sama sekali, jauh di palung jiwanya, berkerubung mencakar-cakarnya, menyakitkan.


Tidak!


Ia kembali menepis sekuat hati. Menegakkan tubuhnya meyakinkan diri.


Kahfi bukan dirinya.


Bukan!


Ia adalah Zack Shangra.


Tetap Zack Shangra.


Iya! Zack Shangra!

__ADS_1


Sampai kapan pun.


Akan tetap begitu.


__ADS_2