
Semua wajah dibuat terperangah. Tak disangka, sosok pertarung wanita yang semula mereka remehkan, ternyata mampu menumbangkan satu petarung lawannya yang jelas adalah seorang pria tegap, dengan cukup mudah. Samwise bahkan sampai mengangkat tubuhnya terperanjat, saat tubuh kawannya terlempar ke sudut arena karena tendangan keras wanita itu.
Kini lawan Liz Nadiah berganti orang keempat. Sebenarnya tenaganya sedikit mulai menurun. Namun ia tak boleh menyerah. Kembali dipasangnya kuda-kuda yang masih terlihat cukup kokoh.
....
"Tuan Muda! Petarungnya seorang wanita, kau lihat?!" Sean berseru riang dengan telunjuk yang mengacung ke arah arena tanding.
Posisi keduanya kini telah berada di barisan kedua dari depan. Setelah Andromeda membayar sedikit lebih pada seorang satpam untuk mendapatkan tempat duduk yang cukup nyaman, dan bisa menyaksikan sisa waktu pertandingan itu dengan jarak pandang yang jelas.
Pandangan Andromeda telah lurus tertuju ke arena tanding dengan posisi duduk tenang. Namun setelah cukup lama ia memperhatikan, ekspresi wajahnya menjadi lain. Menelisik, meyakinkan, lalu menegang.
"Tidak mungkin," ucapnya.
Sean mengernyitkan wajahnya menoleh Andromeda yang tiba-tiba terlihat aneh. "Apanya yang tidak mungkin, Tuan Muda?" tanyanya heran.
Tak peduli pertanyaan Sean, Andromeda bangkit dari tempatnya, maju bergerak menyibak satu barisan di depannya, lalu melompat turun tanpa ragu ke lantai paling dasar gedung itu. Jika itu bukan Andromeda atau orang-orang yang memang ahlinya, siapa pun pasti akan menjerit kesakitan, karena jarak loncatan itu cukup tinggi untuk sekedar melompat. Semua perhatian sekitar berhambur ke arah pria tampan itu--takjub.
"Tuan Muda! Apa yang kau lakukan?!!" teriak Sean terperanjat.
"Permisi, apa wanita petarung itu ... Nadiah?!" Sekelompok orang berbaju putih yang tak lain adalah kubu Padepokan Bulan Bintang, tersentak dengan pertanyaan Andromeda.
Gus Ammar yang masih nampak cemas memikirkan keadaan fisik Liz Nadiah juga menoleh ke arahnya. "Iya, dia Nadiah. Siapa kau, Anak Muda?" tanyanya ingin tahu. Sejenak teralihkan perhatiannya.
"Aku calon suaminya," ungkap Andromeda tanpa basa-basi. Dan semua spontan beradu pandang keheranan.
Pada saat bersamaan ....
Uhuk, uhuk!!
Liz Nadiah memegangi perutnya yang baru saja mendapatkan hantaman tinju yang cukup keras dari lawannya, dengan wajah meringis kesakitan. Tubuhnya terjerembab membentur pembatas arena tanding, hingga membuat cadar yang menutupi wajahnya kini terlepas seluruhnya.
__ADS_1
Samwise membulatkan matanya menatap kebenaran di atas arena. Ia maju mendekat ke sisi pentas tanding memastikan tak ada yang salah dengan penglihatannya. "Nadiaah!!" teriaknya keras setelah wajah itu jelas adalah gadis yang malam lalu bersamanya. Kenapa aku sampai tak mengenalinya? "Ya, Tuhan. Bagaimana ini"
Beriringan dengan Samwise, teriakan yang sama juga keluar dari mulut Andromeda, Gus Ammar, juga teman-teman satu perguruan Liz Nadiah. Mereka berhambur bersamaan mendekati pentas tanding.
Samwise kalah cepat, ia tercenung di tempatnya, saat baru saja kakinya terangkat menaiki arena, Andromeda lebih dulu naik dengan satu kali lompatan tinggi.
Tubuh Liz Nadiah direngkuh Andromeda gegas. Sangat lemah, namun masih cukup kesadaran untuk mengetahui siapa yang ada di hadapannya saat ini. Gadis itu tersenyum. "Andro ... kau di sini?" tanyanya nyaris tak percaya.
Andromeda mengangguk cepat dengan wajah cemas. "Iya, Sayang. Aku di sini," jawabnya berusaha tersenyum, meski yang terlihat jelas hanyalah senyuman getir.
"Nona, apa Anda masih sanggup untuk melanjutkan pertarungan?" Pria yang bertugas sebagai wasit dalam pertandingan itu, mendekat ke arah sejoli yang tengah bertatap sendu di sudut arena.
"Ak--"
"Tidak!" Andromeda memungkas cepat. Memotong jawaban yang hendak dilontarkan Liz Nadiah.
"Tapi, Andro ...." Liz Nadiah berusaha mengangkat tubuhnya. "Aku harus menyelesaikan pertarungan ini. Dua temanku mengalami kecelakaan. Mereka tidak bisa datang untuk bertanding."
"Kalau begitu, biarkan aku yang meneruskan!" cetus Andromeda dengan kilat tajam yang menusuk.
Rose Gold--termasuk Samwise, menatapnya dengan mata terbelalak.
Samwise bahkan sempat menyaksikan, bagaimana pria itu terjun dari atas ketinggian balkon tanpa rasa takut. Dari sana ia menilai; Pria itu ... pasti bukan orang sembarangan.
Dan keputusan itu kembali disetujui pihak penyelenggara. Beberapa panitia bahkan terkejut, setelah menyadari siapa Andromeda. Mereka mengingat, pria itu adalah petarung yang pernah menjuarai MMA di kota ini beberapa bulan lalu.
Selang beberapa waktu.
Liz Nadiah sudah turun dari arena tanding. Ia kini terduduk kembali sebagai penonton di samping Gus Ammar yang masih memasang wajah cemas di sampingnya.
"Aku baik-baik saja, Gus," ucap Liz Nadiah menenangkannya seraya tersenyum.
Pria tua itu membalas dengan senyuman nanar. "Gus tahu, kau hebat, Nak," ucapnya seraya menepuk pundak anak angkatnya itu lembut. "Sekarang kita do'akan calon suamimu."
__ADS_1
Liz Nadiah mengangguk masih dengan senyumnya, kemudian mulai menyorotkan pandangnya ke arah Andromeda yang telah siap dengan pertarungannya.
Berbeda dari yang lainnya, Andromeda memilih bertelanjang dada di atas arena. Karena kemeja putihnya tak cukup nyaman ia gunakan untuk pertarungan seserius ini. Ia juga menolak mengenakan pakaian tanding Bulan Bintang. Entah apa alasannya.
Dan sukses, pemandangan itu menciptakan jerit histeris dari sekeliling beratus deret penonton yang hadir di dalam gedung itu. Terutama wanita--seperti biasa.
Gerak cepat dan tangkas Andromeda membuat keadaan semakin bergemuruh riuh. Andromeda berhasil menumbangkan si pria Pilih Tanding, yang telah membuat Liz Nadiah terpental sebelumnya.
Dan turunlah petarung terakhir Rose Gold ... Samwise!
Kali Liz Nadiah yang dibuat terbelalak hingga terperanjat dari tempat duduknya. "Sam," ia bergumam. Kenapa ia baru menyadari, pria itu berada di antara deretan petarung Rose Gold?
Dan kenyatan itu membuat kilas balik ingatannya pada tingkah pria itu kemarin malam, saat mengantarnya ke Padepokan.
Samwise mengenali Bulan Bintang.
Dan teka-teki itu, kini terjawab sudah.
Samwise ... adalah bagian dari Rose Gold--lawan tanding perguruannya di babak final ini.
....
....
....
Lain di sebuah sudut.
Entah sejak kapan, Kenan Lingga telah menelan hampir seluruh adegan yang tertangkap penglihatannya. Rasa bahagianya karena mendapat kabar dari Samwise tentang keberadaan Liz Nadiah, pupus dalam sekejap. Juga rasa cemasnya melihat gadis itu kesakitan, terpaksa hanya bersisa perasaan--tanpa tindakan.
Lagi-lagi ia kalah! Andromeda selalu bergerak jauh lebih cepat daripadanya.
...---...
__ADS_1