
"Nona, apa tidak sebaiknya kita pulang saja?" Sean mulai terlihat jengah. Ia berjalan ke sana kemari tak cukup tenang. "Mungkin Tuan Muda sudah ada di rumah," terkanya.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar servis area.
Liz Nadiah mendesah gusar. Setelah belasan kali ia coba menghubungi ponsel Andromeda, namun tetap tak diangkat. Dan panggilan terakhir, nomor itu malah tak lagi aktif. Mungkin baterainya habis, pikir Liz Nadiah mencoba tenang. Celotehan Sean sama sekali tak dihiraukannya.
Keduanya kini berada di bagian paling ujung Alun-Alun, duduk di sebuah kursi taman di bawah sebuah pohon rindang tanpa buah, yang entah apa jenisnya. Sedangkan kemeriahan konser, telah lebih dari dua jam berlangsung menggema hampir di seantero jagat wilayah itu.
Sean menatap wanita itu dengan raut iba. Berulang kali ia menyarankannya untuk memilih pulang, namun kekeraskepalaan calon nyonya-nya itu membuatnya kehabisan jurus.
Seraya melipat kedua tangan di depan dada, Sean menyandarkan tubuhnya di badan pohon yang menjulang itu seraya memperhatikan Liz Nadiah yang masih sibuk dengan ponselnya.
Ternyata jika diperhatikan, Nona sangat manis. Dia juga berani dan apa adanya. Pantas saja Tuan Muda konyol itu sampai segila itu ingin memilikinya. Sekarang, aku pun tak akan mengelak jika Tuan Muda sudah bosan dan membuangnya, aku siap menadahnya, pikir Sean tak kalah konyol dari tuannya.
Kenan Lingga berjalan seraya berkeliling tubuh mencari-cari, membelah keramaian orang-orang di tempat acara konser itu berlangsung.
Ia datang ke tempat itu setelah mendapat kabar dari Magda--Asisten Rumah Tangga Andromeda, bahwa Liz Nadiah pergi tanpa dampingan rival-nya--Andromeda. Di sinilah sekarang ia berada, dengan segenap harapan yang dikaisnya. Dan ....
"Nadiah." Sepasang matanya berbinar seketika. "Akhirnya aku menemukanmu."
Meski dari jarak yang tidak dikatakan dekat, namun Kenan Lingga jelas mengenali sosok itu, sosok yang sangat dirindukannya. Berbulan-bulan terpisah berjauhan, sama sekali tak membuatnya melupakan gerak-gerik juga tampilan wanita yang tak pernah pergi dari ruang hatinya itu.
Zack Shangra memasang seringainya. Seperti biasa, wajah santai itu selalu ia tunjukkan.
Cukup lama bergumul di tengah lautan manusia mencari keberadaan Liz Nadiah, akhirnya ia bisa melihat sosok itu dari kejauhan.
__ADS_1
"Tunggu aku, Nadiah. Aku akan membawamu dari sana segera. Kau tak perlu menunggu pria bodoh itu lagi," gumamnya seraya kembali menuntun langkahnya mendekat ke arah di mana Liz Nadiah dan Sean berada.
Tanpa mereka sadari, kedua pria itu--Zack Shangra dan Kenan Lingga, keduanya berjalan dengan jarak nyaris serupa, namun dari sudut yang berbeda--menghampiri satu titik yang sama ... Liz Nadiah.
---
Kembali pada Liz Nadiah.
"Baiklah jika Nona masih ingin menunggu," kata Sean yang sudah berdiri di depan Liz Nadiah. "Tunggu sebentar saja. Aku belikan Nona minum dulu. Aku janji tidak akan lama."
Liz Nadiah hanya mengangguk tipis menanggapi Sean yang saat ini telah berbalik badan dan berjalan menuju deretan gerai dadakan yang berjejer di sebuah sisi yang memang disediakan khusus untuk para pedagang.
Perasaannya semakin gusar. Antara cemas, bingung, dan bertanya, "Kemana sebenarnya kau, Andro?" Seiring perasaan itu bergelut dalam dirinya, tanpa terasa, air mata Liz Nadiah jatuh menitik menerjuni halus pipinya yang polos tanpa pulasan berlebihan dari ramainya warna-warni make up.
Seolah mengolok keadaan itu, gerimis mulai turun berjatuhan di atas kepalanya. Liz Nadiah bangun dari duduknya, lalu menengadah ke atas langit memastikan basahan yang menimpanya. Telapak tangannya ia angkat ke depan seolah menadah titik-titik air itu.
Di dua titik berjarak itu, Kenan Lingga juga Zack Shangra semakin mempercepat langkahnya. Karena butiran hujan mulai terasa lebih besar dari sekedar gerimis. Keduanya berlari semakin dekat hingga menyisakan hanya beberapa jarak saja.
Seiring dengan itu ....
Liz Nadiah yang semula hendak berlari ke arah di mana Sean membeli minuman, tiba-tiba membeku. Seseorang merenggut tubuhnya dan memeluknya cepat dari belakang. "Maafkan aku ...," suara seseorang itu yang membuat Liz Nadiah melebarkan matanya karena terkejut.
"Maaf terlalu lama membuatmu menunggu." Suara lemah itu terdengar penuh sesalan yang mendalam.
Liz Nadiah terdiam. Ia tahu suara itu. Sejenak memejamkan matanya untuk menikmati perasaan gelisah yang saat ini telah mendapatkan penawarnya.
"Apa kau marah padaku? Apa kau akan membenciku setelah ini?"
Kali ini suara itu menuntun Liz Nadiah menarik diri dari rengkuhan tanpa diduga tersebut. Lalu membalik tubuhnya segera. Menatap manik mata indah itu bergiliran. "Andro ...." Entah kenapa ia begitu bahagia melihat wajah tampan Andromeda kini berada tepat di hadapannya. Air matanya telah kembali pecah. "Kenapa kau lama sekali?" Meskipun kata itu terdengar marah, namun ia sama sekali tak bisa menahan, untuk tak menerjangkan tubuhnya kembali, memeluk prianya itu, menumpahkan seluruh perasaannya.
__ADS_1
"Maafkan aku. Maaf ...." Hanya itu, Andromeda benar-benar tak memiliki kata lain untuk ia keluarkan sebagai alasan kepergiannya sebelumnya. Semakin rekat ia mendekap tubuh dingin Liz Nadiah yang saat ini bergetar dalam tangisnya.
Di tengah derasnya guyuran air hujan, perasaan mereka bersatu. Terasa mungkin putaran dunia berhenti karenanya. Seolah hanya ada mereka. Hanya napas mereka yang berderu terdengar memecah keheningan abstrak yang menenangkan.
Sungguh, Liz Nadiah hanya wanita biasa, ia belum mampu menjadi manusia yang baik dan tulus di mata Tuhan. Bukan ia tak mengindahkan ketentuan seorang muslimah dan keyakinan yang dianutnya, tentang sebuah larangan hubungan dan sentuhan dari bab perbab aturan yang menuliskan. Tapi karena ia hanya Liz Nadiah. Dan Liz Nadiah belum merengkuh iman setangguh itu.
Di dua titik berbeda.
Kenan Lingga dan Zack Shangra ....
Keduanya terpaku di tempatnya masing-masing dengan mata membola tak menyangka. Pemandangan yang mereka lihat di depan sana, sungguh sangat menyesakkan dada.
Terlambat!
Dan itu ... hanya disebabkan oleh dua kata saja ....
Rasanya tinggal selangkah lagi mereka akan bisa merengkuh gadis itu. Melindungi dari derasnya hujan yang membuncah. Namun tiba-tiba Andromeda datang dengan lari supernya menyongsong gadis itu dan menghancurkan harapan mereka dalam sekelip mata.
Sungguh ironi!
Dengan perlahan, Zack Shangra memundurkan tubuhnya, lalu berbalik dan pergi secepat mungkin sebelum Liz Nadiah atau pun Andromeda menyadari keberadaannya.
Pun dengan Kenan Lingga.
Rasanya tak akan pas jika ia datang dan tiba-tiba menghancurkan romansa kedua orang itu. Melerai pelukan mereka dalam kecanggungan. Juga wajah tolol yang pastinya akan ia tunjukkan nantinya.
Sesaat menoleh kembali untuk sekedar menatap Liz Nadiah yang masih bergeming di pelukan Andromeda, lalu dengan langkah gontai, Kenan Lingga pergi dari tempat itu dengan perasaan berkecamuk menyakitkan.
__ADS_1