
Saat ini cuaca baru berjalan menuju pelukan jingga di langit sore. Hangat matahari bahkan masih terasa. Selepas sesi inti Ijab Qabul pernikahan Liz Nadiah dan Andromeda ba'da dzuhur tadi, acara dilanjutkan hanya dengan mengobrol santai, ditemani berbagai kudapan yang cukup membuat Sean mengusap perutnya hingga berulang kali, lambungnya telah padat tanpa menyisakan celah, bahkan untuk air putih seteguk pun.
Suara mendayu seorang pemuda--salah seorang murid Gus Ammar, baru saja mencapai bait akhir kalimat-kalimat adzan yang dikumandangkannya.
Semua pria yang berkumpul di antaranya nampak berhambur menuju surau yang terletak di sisi paling kanan Padepokan. Sedangkan untuk wanita yang hanya terdiri dari Liz Nadiah, Zalisa--momy Andromeda, juga beberapa emban yang membantu proses acara itu berlangsung, mereka lebih memilih melaksanakan ibadah perorangan di salah satu pondok kosong di selatan Padepokan.
Suasana nampak hening sejenak.
Semua larut dalam lingkaran kekhusyukan dalam ibadah.
Setelahnya, sedikit pencerahan kecil dari Gus Ammar nampak tengah didengarkan para jamaah yang menjadi makmum sholatnya di surau itu.
"GUS!"
Panggilan itu lebih pas dikatakan sebagai teriakan. Dan itu memang teriakan.
Semua orang terperanjat menyikapi suara gaduh yang meluncur berantakan dari mulut seorang wanita 35 tahunan--tukang masak di Padepokan.
Wanita berbadan gempal bernama Martina itu nampak terengah. Setengah membungkuk menetralkan napasnya akibat berlari terlalu bersemangat--dalam arti berbeda. Ia lalu berdiri mengusap-usap dadanya yang cukup nyeri.
"Ada apa, Marti?" tanya Gus Ammar seraya melangkah menghampirinya.
Telapak tangan Martina nampak dengan gerakan cepat menggapai-gapai udara--seperti gestur meminta semua orang mendekat. Tapi bukan itu alasannya. Mulutnya yang menganga nampak ingin mengeluarkan kata-kata, namun seperti tercekat, jadilah ia hanya mengibaskan kedua tangannya, hingga menjadi teka-teki yang tentu saja membuat kernyitan bingung di wajah semua orang di tempat itu.
"Bisa kau bicara lebih jelas, Marti?!" Gus Ammar menghardik dengan raut tak sabar.
Terlihat Andromeda maju mendekat ke arah Martina. Lalu memulai sesi tutorial menenangkan diri. "Tarik napas." Ia menuntun wanita itu bergerak seperti dirinya. "Lalu hembuskan perlahan," ucapnya perlahan.
Cukup memperlihatkan hasil, Martina mulai bisa mengatur napasnya setelah mengikuti cara pria tampan itu. "Nona Liz, Tuan!" cetus wanita itu akhirnya.
Semua mengernyit terheran.
"Maksudmu ... istriku?!" Andromeda menyergah dengan tampang tak enak.
Anggukkan cepat digerakkan Martina. "Saat ke dapur umum tadi, Nona tiba-tiba dibekap, lalu diseret-seret dan dimasukkan ke dalam mobil oleh beberapa orang!"
...........
__ADS_1
"Apa yang kalian inginkan dariku?!" Liz Nadiah terus meronta--berusaha melepaskan diri, namun sama sekali tak bisa melakukan perlawanan apa pun. Kedua tangannya terikat kuat ke belakang. Sisi kiri dan kanan tubuhnya direjang dua orang pria yang wajahnya tertutup buff.
Ia dibekap secara mendadak dan tak disadarinya pergerakan cepat orang-orang itu. Hingga tak ada perlawanan yang berarti yang sempat dilakukannya untuk mencegah mereka.
Kini ia berada di dalam sebuah mobil hitam yang melaju dengan kecepatan menggila.
"Mohon kerja samanya, Nona! Kami tidak akan menyakiti Nona, asalkan Nona mau diam. Bos kami ingin Nona dibawa dalam keadaan baik-baik saja!" ujar salah satu dari mereka yang duduk di bagian depan, di samping kemudi, seraya menoleh ke arahnya.
Kini Liz Nadiah memasang wajah tercenung. "Bos?" ulangnya dengan raut ingin tahu. "Siapa yang kalian sebut bos?"
"Nona akan tahu saat kita sampai nanti."
Baiklah, tak ada gunanya pula ia melawan. Sekarang tunggu saja, siapa sebenarnya bos yang mereka maksudkan itu.
"Oke, aku akan diam!" kata Liz Nadiah. "Tapi bisa lepaskan pegangan kalian berdua di pundakku? Aku tak suka!"
.....
Selang satu jam kemudian.
Sebuah rumah--yang dari tampilannya, lebih pantas disebut villa, terpampang luas di pelupuk matanya. Jauh dari keramaian. Sekelilingnya dipenuhi pohon-pohon beringin yang menjulang. Ia merasa tak perlu tahu tentang rumah siapa itu, karena mungkin sesaat lagi, jawaban itu akan menyongsong dengan sendirinya.
Siapa gerangan yang menunggunya di dalam sana?!
Sebentar lagi!
"Mari, Nona."
Dengan penjagaan ketat, Liz Nadiah yang masih dalam keadaan tangan terikat, dituntun masuk ke dalam bangunan teduh itu. Ia tak melawan, meskipun ia sanggup untuk sekedar menendang. Namun ia sadar, itu hanya akan jadi sia-sia. Jumlah mereka cukup banyak untuk membuatnya bonyok.
Dan itu jelas konyol!
Melewati sebuah ruangan di mana satu set sofa tersandar santai, laju menapaki sebuah koridor membentuk huruf L yang cukup memantulkan keras suara-suara langkah kaki para penapak, termasuk Liz Nadiah. Ia masih diam, dengan wajah bertanya-tanya tentu saja.
Bangunan yang nampak mungil di luar itu, ternyata malah terasa seperti labirin di bagian dalamnya. Penuh kelokan yang berliku.
__ADS_1
Hingga sesaat kemudian, sampailah mereka di sebuah ruangan penghujung, yang menampakkan pemandangan luar dari jendela dengan kaca bening kehitaman di satu bagan dindingnya.
"Silahkan duduk, Nona. Jaga sikap Anda. Kami ada di setiap sudut, mengawasi Nona." Salah seorang pria berujar lagi. "Termasuk di belakang pekarangan di balik jendela itu!"
Belum nampak ada ketakutan di wajah Liz Nadiah. Ia masih diam, menuruti apa pun yang dikomandokan pria itu padanya. Kini tubuhnya telah tertekuk--duduk di salah satu dari tiga buah sofa yang ada di ruangan itu.
Masih menunggu.
Ruangan yang sangat senyap. Suara detak jarum jam bahkan terdengar seperti ketukan jari di atas meja dengan kekuatan penuh.
TAK TAK TAK
Itu adalah suara hentak kaki, Liz Nadiah tentu tahu. Seseorang tengah berjalan dari arah belakang di mana pintu yang tak rapat tertutup itu berada--di belakangnya.
Sepasang mata wanita itubergerak-gerak seolah mengantisipasi. Menunggu siapa pemilik hentak kaki yang kian mendekat ke arahnya itu.
"Senang bertemu denganmu kembali, Nona?"
Dan tentu saja Liz Nadiah terperanjat. Sejurus pandangnya telah menangkap sosok yang baru saja menurunkan tubuhnya, duduk bersilang kaki, dengan iras congkak di sofa berseberangan dengannya. "Kau ... bukannya kau?!"
"Jenn! Aku Jenn! Jennefit Moon!" sergah wanita itu menegaskan. "Aku adalah wanita yang pernah menjadi cinta matinya Andromeda," katanya percaya diri. "Dan sekarang kau dengan bodoh mengambilnya dariku." Laju tersenyum remeh.
Liz Nadiah mengendurkan pundaknya yang sempat menegang. Ia membuang wajahnya dengan senyuman kecut. Lalu kembali menatap Jennefit Moon tanpa ketakutan sama sekali, kemudian berkata, "Mungkin yang kau maksud cinta mati ... cinta yang benar-benar sudah mati."
Tak enak didengar. Dan sangat! Bagi Jennefit Moon tentu saja. "Tidak!" elaknya tak terima. "Dia masih mencintai aku! Camkan itu, Wanita Murahan!" Ia sampai bangkit dari tempatnya hanya untuk memelototi wanita di hadapannya.
Liz Nadiah nampak sedikit terpancing dengan kata-kata akhir itu, namun berusaha ditahannya sekuat hati. "Ya, kau benar. Aku memang murah. Dan karena kemurahan itu, pria yang kau cintai ... Andromeda! Dia memilihku! Bukan kau yang membandrol dirimu dengan harga tinggi--setinggi mata kaki!" sarkasnya diakhiri seringai mencemooh.
"Apa kau bilang?!" Jennefit Moon meradang.
PLAK
Liz Nadiah memejamkan matanya. Menahan nyeri dan panas di pipinya akibat tamparan keras Jennefit Moon.
Sejenak menarik napasnya. Lalu kembali menegakkan wajah, mengembalikan ekspresinya seperti semula--santai. Namun terlihat menantang. "Ya! Tinggi mata kaki itu akan membuatnya pegal. Dan lagi, Andromeda tak suka membungkuk di hadapanmu. Karena itu ... dia memilih melepaskanmu!"
"Kaauuu ...!!" Sebuah asbak di atas meja, diambil Jennefit dengan perasaan murka. Diangkatnya tinggi-tinggi benda itu, lalu di arahkannya ke wajah Liz Nadiah.
__ADS_1
....
"JENN, HENTIKAN!!"