
Senyum mengembang di bibir Shinar seolah berisi kepuasan. Kaca-kaca jendela berbingkai putih yang terpatri di bagian depan rumah Liz Nadiah, baru saja dilap dan dibersihkannya ... sudah terlihat kinclong.
Berlainan dengan Qinay, gadis itu tengah asyik mengayun-ayunkan sapu lidi bertungkai bambu, di bagian halaman. Menyatukan daun-daun cengkih kering yang berserak, menjadi satu gundukan. Mulut kecilnya terlihat berkomat-kamit mendendangkan sebuah lagu berbahasa Inggris yang terdengar belepotan.
Muram durja kedua gadis itu tak nampak lagi, seolah tak pernah ada kepahitan apa pun yang merundung mereka sebelumnya. Tubuh kerontang Qinay bahkan sekarang terlihat jauh lebih berisi. Pipi tirus dengan rahang menonjol, kini tertutup daging pipi yang mulai mengembung.
Liz Nadiah benar-benar seperti malaikat tanpa sayap bagi Shinar dan Qinay.
Dan hari ini, pagi-pagi sekali dokter muda itu telah berpamitan pada keduanya untuk pergi ke pasar, membeli beberapa keperluan, dan berjanji akan kembali sebelum jam sembilan.
"Nay, apa kau mau kopi?" Shinar berseru menawarkan, mengarah pada Qinay yang masih sibuk dengan gawainya .
Sesaat Qinay menghentikan kegiatannya untuk sekeder menyahut, "Boleh saja. Tapi jangan terlalu manis, karena aku sudah manis," candanya tersenyum renyah.
Shinar menanggap dengan senyuman geli seraya mengangkat jempolnya tinggi-tinggi, lalu melenggang masuk ke dalam rumah, dengan membawa serta lap dan ember berisi air, bekasnya membersihkan kaca-kaca itu.
__ADS_1
Daun-daun kering yang sudah menggunung, mulai dimasukkan Qinay ke dalam polybag hitam besar yang memang disediakan khusus untuknya. Dendang bibirnya kini diganti dengan sebuah lagu bertema cinta dengan bahasa melayu. Namun tetap saja ... tak juga terdengar lebih sedap. Sepertinya ia memang tak berbakat dalam seni itu.
"Permisi, Nona."
Suara dengan intonasi pelan namun tegas itu, membuat bait lagu Qinay sontak terpotong dan terhenti. Ia menoleh ke asal suara sembari mengangkat bungkuk tubuhnya. "Ya," sahut Qinay. Matanya mulai menyapu sosok asing yang saat ini berdiri di ambang pagar bambu rumah itu. "Anda cari siapa?"
Seorang pria dengan tampilan rambut belah tengah. Mengenakan kaos berlengan pendek dengan corak belang hitam putih yang diselipkannya rapi ke bagian pinggang celana jeans panjang berwarna abu, cukup percaya diri kelihatannya.
Dan Qinay, gadis itu jelas terheran. Sudah cukup lama baginya tinggal di sana, untuk bisa mengenali satu persatu wajah orang-orang di desa itu. Namun lelaki di depannya ini ... ia benar-benar baru melihatnya kali ini.
Kening Qinay berkerut dalam. "Shinar?" ia bertanya mengulang.
Pria itu mengangguk. "Betul, Nona."
"Maaf, kalau boleh tahu, Anda siapanya, ya?" tanya Qinay penuh antisipasi. Ia jelas harus tahu. Karena masalah yang dialami Shinar, cukup sensitif. Jadi ia merasa perlu berhati-hati menghadapi orang ini. Demi keselamatan gadis yang baru lima hari ini menjadi sahabatnya.
__ADS_1
"Saya sahabat kecil Shinar, Nona," jelas pria itu. "Saya sudah mencari dia kemana-mana. Dan baru hari ini mendapat titik terang," tambahnya dengan raut sendu. "Jadi, apakah Shinar benar-benar ada di rumah ini?"
Sejenak Qinay terdiam. Bagaimana ini? tanya hatinya. Ia bingung, harus jujur atau tidak.
Belum sempat Qinay mendapat jawaban dari pertanyaannya, Shinar muncul dengan sebuah nampan lonjong berisi satu cangkir kopi milik Qinay, dan satu cangkir teh manis hangat miliknya, yang kemudian diletakannya di atas meja yang berada di pojokan teras.
Dan gerakan Shinar jelas tertangkap oleh si pria berkacamata. "Shinar," panggilnya dengan suara lembut. Matanya menyiratkan ketidakpercayaan, juga kerinduan yang teraduk menjadi satu. Qinay mengikuti arah pandangnya.
Di posisinya, Shinar sudah berdiri tegak, menatap pria yang memanggil namanya, seraya menelisik sosok itu dari kejauhan. Siapa orang itu? Kenapa dia tahu namaku?
"Shin, kaukenal dia?" Qinay bertanya ingin tahu. Sedangkan yang ditanya masih geming mengamati.
Namun gerakan pria kacamata itu, membuat Qinay terlonjak. Pria itu melangkah cepat ke arah Shinar. Lalu menghambur memeluk tubuh gadis itu erat, seerat-eratnya. Tak ada keraguan. Seolah keyakinannya tentang siapa Shinar, telah dibenarkan oleh kenyataan. "Aku rindu kamu, Shishi. Akhirnya aku menemukanmu."
..........
__ADS_1