Liz Nadiah

Liz Nadiah
Gadis Pemuas


__ADS_3

BRUGG


Pintu mobil itu dibantingnya keras. Zack Shangra lalu masuk ke dalam rumah besarnya yang terletak di dekat perkebunan Andromeda di ujung desa tempat tinggal Liz Nadiah.


Dengan keadaan basah kuyup, pria itu menaiki setiap anak tangga rumahnya dengan ekspresi dingin yang cukup terlihat menakutkan.


"Zack!"


Mercy datang menghampiri tepat sesaat ketika Zack Shangra hendak memutar knop pintu kamarnya.


"Bagaimana?" tanya Zack dengan tatapan menuntut.


"Dia sudah ada di kamarku," kata Mercy dengan gaya dan kipas meraknya. Cukup gila berkipas di saat hujan turun dengan deras hampir di seluruh pelosok kota seperti saat ini.


"Sudah kau pastikan dia bersih?"


Mercy tersenyum. "Tentu, Zack. Aku yakin kau tidak akan kecewa dengan pilihanku. Dia seorang gadis manis. Pelayan toko di ujung jalan, yang sepertinya sangat membutuhkan uang untuk biaya kuliahnya."


Zack Shangra menyela cepat, "Baiklah, bawa dia padaku segera." Tanpa menoleh lagi, ia masuk ke dalam kamarnya. Lalu menutup keras pintunya tanpa peduli Mercy yang terkaget dengan ekspresi menganga.


--


Membuka helai demi helai busana yang melekat di tubuhnya, hingga hanya tersisa tubuh polos dengan segala kelebihanya itu. Dengan perlahan, Zack Shangra mulai menyiram dirinya dengan air hangat yang mengucur dari lubang shower di atas kepala yang ia buat menengadah, dengan mata memejam. Kelebatan bayang pelukan antara Andromeda dan Liz Nadiah beberapa waktu lalu, terlampau menyesakkan untuknya.


Ia gagal!


Di lain ruang, di dalam kamar utamanya.


Pintu baru saja dibuka seseorang dari luar.

__ADS_1


"Jangan kecewakan aku. Layani dia dengan baik! Ingat, kau akan dibayar mahal dengan itu." Mercy kembali mengingatkan. Dan gadis lugu yang dibawanya hanya mengangguk patuh, meskipun nampak jelas ketakutan di wajahnya yang ayu itu. "Bagus. Aku keluar. Jangan macam-macam. Zack tidak suka dengan gadis bodoh. Jadi kau hanya cukup diam, dan biarkan dia melakukan apa pun yang diinginkannya darimu."


Lagi-lagi gadis itu hanya mengangguk, seolah tak ada jalan lain yang harus ia lakukan untuk menghindari masalahnya.


Setelah pintu tertutup.


Terlihat jelas, busana yang dikenakannya tak cukup membuat gadis dengan kulit sawo matang itu nyaman. Gaun tipis di atas lutut tanpa lengan, dengan belahan dada terbuka itu, lagi-lagi dibetulkannya, meskipun tak nampak ada perubahan tatanan darinya sama sekali.


KLEK


Jantungnya berdebar cepat bukan kepalang. Sosok tegap dengan kimono putih itu telah menyembul dari balik pintu kamar mandi. Namun ia sama sekali tak ingin menolehnya. Gadis itu hanya diam membatu, berdiri membelakangi arah di mana Zack Shangra baru saja muncul. Menunduk dengan ekspresi takut yang cukup kental dan jelas kentara.


"Siapa namamu?" tanya Zack Sangra yang kini berjalan ke arahnya. Rambut hitamnya kini terjuntai ke depan dengan sisa-sisa basahan yang demi apa pun, malah membuatnya semakin mempesona.


"Se-Selia, Tuan," sahut gadis itu dengan nada gemetar.


Perintah itu bahkan disuarakan Zack dengan sangat halus, namun entah kenapa, kaki Selia terasa berat, bahkan untuk sekedar menggerakkan kelingkingnya sekali pun. Ia masih tak berani menatap pria itu walau dengan ekor matanya.


Ketakutan itu tentu sangat dimengerti Zack Shangra. Setelah menekan batang rokoknya di sebuah asbak di atas meja di depannya, ia lalu bangkit dan berjalan mendekati Selia yang masih membeku di posisinya. "Jangan takut, Manis. Aku bukan seorang monster di film robot anak-anak." Perlahan, tunduk wajah Selia diangkat Zack Shangra melalui dagu manisnya.


Kedua bola mata Selia membulat seketika, menatap lekat pemandangan magic di depannya.


Semula dia berpikir, sosok seorang boss yang dikatakan Mercy ketika wanita muchikari itu mendatanginya satu jam yang lalu, memiliki tubuh yang pendek, perut buncit dengan kepala yang tak berambut di bagian depan, berbau aneh juga kumis yang tebal. Namun kenyataannya, pria itu ... seribu kali melindas bayangan konyol di kepalanya.


Pria ini ... sungguh lebih dari sekedar tampan. Tubuh tinggi dan tegapnya, bola mata indahnya, juga ... senyuman yang sumpah demi apa pun membuatnya ingin pingsan saja saat ini juga.


Seolah tersihir, Selia bahkan tak sadar, tubuhnya kini telah dibaringkan Zack Shangra di atas kasur empuk di belakangnya, setelah sebelumnya gaun tipis yang dikenakannya, telah lebih dulu dipereteli pria itu dan dilemparkannya jauh ke sudut lantai.


Gadis itu tersadar ketika bibir Zack Shangra mulai menciumi bagian dadanya. Dan anehnya, ia sama sekali tak punya minat untuk berontak, membiarkan begitu saja pria itu melakukannya. Hingga lenguhan halus di bibir keluar tanpa disadarinya--Selia mulai menikmati setiap sentuhan yang merayangi tubuhnya. Terlalu memabukkan untuk menolak sentuhan halus dari pria semanis itu.

__ADS_1


Suara hujan deras bahkan masih berderu keras di luar sana. Namun itulah yang membuat pergulatan panas di ranjang itu menjadi lebih memburu dan jauh lebih menggairahkan daripada udara tanpa hujan.


Selia semakin lupa diri. Ia bahkan terlihat lebih mendominasi permainan penuh gelora naf.su itu. Dan Zack Shangra justru lebih senang karenanya. Kegiatan itu seolah tak menemukan kepuasan di diri masing-masing penikmatnya.


Tanpa disadari keduanya, pintu itu tersibak perlahan. Dan ....


"Zack."


Terdengar cukup pelan, bahkan nyaris seperti sebuah bisikan. Namun suara itu sepertinya berhasil ditangkap pendengaran Zack Shangra. Ia yang masih berada di bawah kungkungan tubuh Selia yang kini mengambil peran di atasnya, tiba-tiba terperanjat.


Dan Selia yang juga masih nyaman di posisinya, jelas terheran. Zack Shangra menggeser paksa tubuhnya ke samping--seolah menyingkirkannya. Dan ia sadar penyebabnga setelah ....


"Aaauugghh!!" Selia berteriak mendengking. Seseorang baru saja menjambak rambutnya keras dari belakang.


"Dasar wanita ja.lang!!! kubunuh, kau!!"


Shasi Maretha dengan emosi dan teriakan histerisnya.


"Hey! Jangan seperti ini!!" Zack Shangra yang masih dalam keadaan tubuh polos berusaha melerainya. Ia menarik keras tangan Shasi Maretha yang masih memukuli Selia. Dengan sekali hentak, gadis itu terjungkal ke pelukannya.


"Apa?! Jangan seperti ini kau bilang?!" Shasi Maretha berontak dan menarik diri dari pelukan Zack Shangra, yang sampai saat ini, pria itu masih berstatus kekasihnya. "Kau sudah mengkhianatiku, Zack!!" Masih dengan nada histerisnya. "Jika kau ingin seperti ini, kenapa tidak menghubungiku?!"


Selia tengah membalutkan busana ke tubuhnya--kimono mandi Zack Shangra. Dan itu tak lepas dari tangkapan mata pria yang baru sesaat lalu memberinya surga dunia. Dengan tangis memburai di kedua matanya, Selia berjalan gontai menuju ke arah pintu keluar, tanpa lagi berniat memandang ke belakang, di mana Zack Shangra masih menenangkan wanitanya. Dan Selia sadar dengan posisinya, ia tak mungkin meminta pembelaan pria itu. Selia ... hanya seorang ja.lang yang dibayar untuk memuaskan kebutuhan biologis seorang pria berkekasih.


"Aku akan menyuruh Mercy melengkapi pembayaran atas jasamu!!"


Meskipun menyakitkan, Selia tak bisa menyangkal kalimat itu. Ia hanya mengangguk tipis menanggapi--tanpa menoleh. Lalu melanjutkan kembali langkahnya--keluar sesegera mungkin dari kamar itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2