
Tak peduli guyuran hujan yang semakin kuat menerjangnya.
Tak peduli waktu yang menunjukkan lewat tengah malam.
Tak peduli suara-suara di sekitaran yang meneriakinya.
Liz Nadiah terus berlari, menerobos malam, menerjang derasnya hujan, mengesampingkan waktu yang tak seharusnya dilaluinya seperti ini.
Air matanya mengalir bersama siraman hujan--hingga tak dapat dibedakan, mana air matanya, dan mana air rahmat dari langit itu.
Liz Nadiah keluar dari kamar hotelnya setelah membekukan pergerakan Zack Shangra yang berniat melecehkannya. Ketika pria itu menerkamnya dalam keadaan bertelanjang dada, dengan sekali hentak, Liz Nadiah berhasil mengelak. Menghindar, berputar, lalu menendang bagian belakang lutut Zack Shangra, hingga pria itu terjatuh. Lalu meraih lengannya, menarik dan menguncinya, hingga menimbulkan ringisan kesakitan di wajah Zack Shangra.
Liz Nadiah tersadar, Zack Shangra tak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Ia tak mungkin melawannya lebih banyak. Mengingat itu, yang ia lakukan; menendang pelan tubuh Zack hingga tersungkur, lalu melanting membuka pintu--melarikan diri.
Kota itu tak pernah sepi. Beberapa gerai makanan nampak berjejer di tepian jalan, terlihat penuh disesaki pengunjung. Entah mereka benar-benar makan, atau hanya sekedar berteduh--menghindari derasnya hujan.
Liz Nadiah ingat, ia bahkan tak membawa uang sepeser pun. Semua barang-barang ia tanggalkan di kamar hotel karena keadaan yang mendesaknya untuk pergi--termasuk ponsel dan dompetnya. Bukan karena perutnya yang menuntut, namun ia butuh uang untuk ongkos transportasi menuju suatu tempat yang baru saja melintasi kepalanya.
"Hay, Nona. Kenapa sendiri? Hujan-hujanan pula." Liz Nadiah hanya mengamati melalui sudut matanya. Ia kini tengah terduduk memeluk dirinya sendiri, di bangku panjang yang tersampir di depan sebuah toko yang telah tutup. "Kami temani, ya?"
Kenapa tengah malam begini, begitu banyak pria yang tak waras? pikir Liz Nadiah. Ia bangkit dari duduknya. Pria yang terdiri dari dua orang itu, mulai terlihat jahil memanfaatkan telapak tangan--berniat menyentuh bagian tubuhnya. "Tolong jangan kurang ajar!" seru Liz Nadiah menghardik.
Namun ketika Liz Nadiah mulai memasang gerak untuk melawan kedua pria itu, seseorang telah lebih dulu menumbangkan keduanya dengan satu kali tendangan memutar. "Kau tidak apa-apa, Nona?" tanya pria itu sekilas menoleh ke arah Liz Nadiah yang nampak tersentak dengan ulahnya.
__ADS_1
"A-ku ... aku baik-baik saja!" jawab Liz Nadiah masih dalam sergapan keterkejutan.
"Syukurlah," ucap pria itu lagi. Satu tendangan juga sedikit pukulan susulan membuat kedua berandal itu lari pontang-panting, bahkan nyaris terpeleset.
"Terima kasih, Tuan," ucap tulus Liz Nadiah. Entah kenapa, ia merasa begitu tak asing dengan setiap gerakan pria itu ketika melawan pria-pria penjahat tadi. Tapi sayang, ia sama sekali tak mengenalinya.
Rambut ikal sebahu juga kacamata beningnya, membuat Liz Nadiah kembali menelisik. Di mana ia pernah melihat pria itu sebelumnya. Kenapa wajahnya terasa familiar?
"Aku Samwise," ungkap pria itu seraya mengulurkan telapak tangannya ke arah Liz Nadiah, seolah bisa membaca isi kepalanya. "Kau pasti pernah melihatku lalu lalang di televisi dengan gitarku?" Disusul senyumannya.
Liz Nadiah menerima uluran tangan itu dengan kaku. "Aku Nadiah." Televisi? Apakah dia seorang aktor? tanya hatinya mengingat-ingat.
Berlainan dengan Liz Nadiah yang merasa familiar dengan rambut dan kacamata, pria itu malah terlihat mengernyitkan wajahnya kala mendengar nama Nadiah. "Nadiah?" tanyanya mengulang. Tanpa berpikir lagi, Samwise menarik lengan Liz Nadiah ke tempat yang lebih terang. Karena lampu di depan toko itu dalam keadaan mati, selain cahaya yang menyorot dari toko lain di sampingnya.
Setelahnya ....
"Apakah kau mengenal Kenan?" tanyanya setelah melihat dengan jelas wajah bulat manis milik Liz Nadiah.
"Kenan?" Liz Nadiah terheran.
"Iya, Kenan. Kenan Lingga!"
Tentu saja Liz tersentak karenanya. "Kau kenal Kenan?"
__ADS_1
"Ya, dia temanku," kata Samwise tersenyum senang.
...---...
"Apa yang membuatmu menolak pria sebaik Kenan?" tanya Samwise ingin tahu. Sebuah mobil tengah dikendarainya kini, untuk mengantar Liz Nadiah ke tujuannya.
Hoodie berwarna hitam milik Samwise dikenakan Liz Nadiah kini. Cukup meringankan sedikir rasa dingin yang sedari tadi memeluknya. Wajah Liz Nadiah menatap lurus ke depan. "Aku sudah memiliki calon suami," ungkapnya tanpa menoleh.
"Benarkah?" Samwise memastikan.
"Hmm."
"Kalau begitu, alangkah beruntungnya pria itu mendapatkanmu."
Liz Nadiah hanya tersenyum tipis menanggapi.
Seketika, bayangan wajah Andromeda merayangi pikirannya. Bagaimana caranya ia mengabari pria itu keberadaannya? Sedangkan tak ada nomor kontak yang bisa dia ingat untuk terhubung dengan kekasihnya itu.
Tanpa terasa, air matanya kembali menetes.
Aku membutuhkanmu, Andro.
__ADS_1