
"Hey, kau mau kemana?" Suara bariton itu mengudara. Dengan sarung yang masih melingkar menutupi bagian pinggang hingga ke kakinya, Andromeda yang berdiri di ambang pintu kamar, menatap Liz Nadiah yang tengah mengeluarkan sepeda tua milik Kakek Panca itu dari ruang tengah rumahnya.
Sepertinya tubuh pria itu sudah terlihat lebih siap pagi ini. Terlalu ajaib. Biasanya ia akan menghabiskan setidaknya waktu tiga hari berbaring di dalam kamar, untuk memulihkan kondisi fisiknya karena alergi terhadap air hujan.
Lantas saat ini ...?
Bukan hanya tertimpa air hujan, ia bahkan terseret beberapa saat dalam derasnya air sungai dua hari lalu. Apakah cara penanganan Liz Nadiah mengandung sihir? Atau ia yang terlalu manja menyikapi penyakit anti itu sebelum-sebelumnya?
"Aku mau ke pasar. Gara-gara menyelamatkanmu kemarin, aku jadi gagal melakukan semuanya." Liz Nadiah berkicau tanpa menoleh. Fokusnya masih tertuju pada sepeda tua, yang kini mulai didorongnya ke teras depan.
"Memangnya apa yang ingin kaulakukan?" tanya Andromeda lagi tanpa beranjak dari tempatnya.
"Apa untungnya jika aku menceritakannya padamu?"
Andromeda tersenyum kecut. Memalingkan sekilas wajahnya ke lain arah. Bagian sisi tubuhnya tersandar pada bingkai pintu yang tak berdaun itu. "Baiklah, lakukan apa pun yang ingin kaulakukan." Lantas berbalik masuk kembali ke dalam kamar ... tak peduli.
Hanya dengusan kesal yang ditunjukkan Liz Nadiah. Ia tak mau menggubris. Akan sangat membuang waktu jika meladeni pria sombong itu.
Sesaat mengecek dompetnya. Menyusur sekat demi sekat di dalamnya. Lalu dirapikannya kembali setelah memastikan isinya lengkap tak ada satu apa pun yang terlewat. Laju dimasukannya kembali dompet persegi panjang berwarna putih dengan corak polkadot itu, ke dalam tas selempang yang sudah melingkar mesra di pundak kanan hingga ke pinggang kirinya.
Dengan perlahan ia mulai mengayuh sepeda tua itu meninggalkan rumahnya setelah pintu ditutup sempurna dari luar.
Terlihat beberapa warga menyapa, yang lalu dibalasnya berpulas senyuman ramah.
Selepas kepergian Liz Nadiah.
Sepiring nasi goreng dengan toping telur ceplok yang diletakan Liz Nadiah di samping ranjangnya, masih ditatap Andromeda. Sebenarnya dia tak terbiasa menyantap makanan berat di waktu sarapan seperti saat ini. Selain segelas susu, juga sepotong roti dengan selai rasa berbeda setiap pagi di rumah besarnya.
__ADS_1
"Tapi aku lapar." Ia menggaruk kepalanya yang jelas tak ada gatal. Lalu dengan slow motion, diraihnya bibir piring itu, lalu diangkatnya. Mengendus nasi berlumur kecap itu sesaat. Aroma dari hangatnya merica dan bawang putih menyeruak memenuhi penciumannya. Tak ada kernyitan atau pun ringisan. "Sepertinya tak masalah jika aku mencobanya."
..........
..........
Isi piring itu telah tandas. Andromeda menelan suap demi suap dengan lahap. "Masakan wanita itu ... enak juga." Ia tersenyum seraya mengunyah suapan terakhirnya.
Setelah cukup perutnya terisi, Andromeda memutuskan untuk keluar dari dalam kamar, menanggalkan piring dan gelas kotor bekasnya begitu saja di atas meja.
Langkah kakinya mulai menyusur setiap bagian dari rumah sederhana yang beberapa saat lalu ditinggal pemiliknya itu. Ruang demi ruang ditapakinya. Mulai dari ruang tengah, depan, dapur, halaman belakang, hingga kamar mandi tak luput dari pijaknya. Ia bahkan sempat melepas beban kandung kemihnya di dalam toilet yang menurutnya aneh itu.
Mengapa bisa ada sumur di dalam rumah? Kepala Amdromeda menggeleng tak mengerti. Untung saja ada air yang tertampung di dalam ember, meskipun hanya setengahnya saja. Jadilah ia tak perlu repot mengambil air dari sumur, yang bahkan ia pun tak mengerti bagaimana cara mengambilnya.
Tak ada apa pun yang menarik menurutnya. Semua bagian nyaris ketinggalan zaman. Lemari, buffet kecil, juga tiga buah kursi kayu berukuran tak selaras, bersetel meja tak kalah usang, mengisi ruang paling depan rumah itu, entah mengapa masih dipertahankan. Karena dilihat dari segi apa pun, benda-benda itu, jelas telah tak layak pakai.
Sampai kaki panjangnya mencapai sebuah ruangan yang berada di pojok kiri ... masih di bagian dalam rumah itu.
Mengapa bisa wanita itu betah tinggal di tempat seperti ini? Kamar tidur bahkan toiletnya tak berdaun pintu. Bagaimana jika ada yang mengintipnya? Atau tiba-tiba menyibak gordeng itu saat ia tengah berganti busana? Lagi-lagi Andromeda menggeleng tak habis pikir.
Rasa penasaran ternyata mengalahkan keraguannya. Disibaknya perlahan gordeng lusuh berwarna merah ati itu, perlahan. Sedapat korneanya menangkap, ia cukup terkejut. Tak ada ranjang bermatras, lemari atau lainnya yang biasa mengisi sebuah ruangan kamar pada umumnya. Hanya sehelai permadani kecil yang terhampar di bagian tengahnya sebagai alas, juga dua buah koper medium berdiri di salah satu pojok ruangan itu.
"Apakah wanita itu tidur di kamar ini, semalam?" Andromeda bergumam. Matanya mulai menyapu seisi ruangan dengan langit-langit bolong dan lapuk tersebut.
Benar, jika bukan di sini, lalu di mana lagi?
Ada sebersit rasa bersalah menyusup ke sela hatinya. Ia berbaring nyaman di atas kasur yang seharusnya ditiduri Liz Nadiah, semalam. Sementara gadis itu meringkuk di lantai beralas permadani tua yang bahkan tak terlihat ada satu pun bantal yang menyangga kepalanya.
__ADS_1
Lalu pandangnya jatuh pada sebuah ponsel yang tergeletak begitu saja di samping salah satu koper. "Kenapa ia tak membawanya?" ucapnya seraya membolak-balik benda pipih yang baru saja diambilnya itu. "Ternyata mati."
Lalu tanpa berpikir lagi, ia menekan tombol power on-off di bagian samping benda itu. Dan .... "Masih berfungsi." Ia tersenyum. Senyum yang menyiratkan sebuah harapan. "Bagus! Kunci layarnya tidak diaktifkan." Ia mulai memainkan ibu jarinya menekan beberapa deretan angka yang jelas telah dihafalnya. "Semoga bisa."
Bibir Andromeda merekah seketika. Manakala didengarnya sahutan seseorang diseberang line telponnya. "Hallo, Magda."
"...."
Nyaring suara sahutan itu berseru riang.
"Iya, ini aku, Andro." Ponsel telah diposisikannya menempel di telinga.
"...."
"Iya, aku baik-baik saja. Apa Sean di sana?" Raut antusiasnya sedikit meredup, mendengar jawaban lawan bicaranya. "Kemana pria sialan itu?"
"...."
"Mencariku? ... polisi?" Memijat pangkal hidungnya, seraya berjalan keluar dari ruangan pengap itu.
"...."
"Hubungi Sean, katakan padanya aku baik-baik saja. Batalkan pencarian para aparat itu. Lalu suruh dia jemput aku di ...." Ia mengedar pandangnya bingung. "Di mana ini, ya?"
"...."
"Sebentar, aku tidak tahu tempat ini di mana," ujarnya menggaruk kepala. Sementara tak satu pun petunjuk didapatnya di dalam rumah itu perihal keberadaannya saat ini. "Tunggu, nanti aku hubungi lagi." Ia mematikan sambungan telponnya lalu berjalan ke arah luar. Tujuannya mungkin untuk melihat alamat yang biasanya tertera pada panel nomor rumah. Atau jika tidak ada, ia akan bertanya pada warga soal apa nama daerah yang dipijaknya saat ini, untuk memudahkan Sean menemukannya.
__ADS_1
Namun baru saja kaki panjang itu menapak bagian depan halaman, sesuatu berhasil mencegat langkahnya. Ponsel yang digenggamnya tiba-tiba bergetar, namun tanpa dering. "Siapa orang ini?" gumam Andromeda, setelah sederet nomor lengkap dengan nama juga sebingkai photo yang mengisi kontak itu, terpampang jelas memenuhi layar ponsel yang menyala tersebut. "Kenan Lingga."