Liz Nadiah

Liz Nadiah
Gadis Petarung


__ADS_3

"Lepaskan aku! Lepaskan!!"


Shinar, gadis itu terus meronta. Sementara dua pasang tangan kekar menyeretnya tak peduli apa pun, seolah menyeret seekor binatang peliharaan. Tak ada setitik pun bagian dari energinya yang bisa ia fungsikan. Mereka terlalu kuat.


Gaun minim yang hanya menutup bagian-bagian intimnya itu masih melekat di tubuh Shinar. Ia melarikan diri dari Nolan, pria yang telah membayarnya dengan harga paling tinggi, setelah berhasil mengecoh pria itu dengan sedikit kalimat godaannya. Kalimat yang bahkan tak pernah dipikirkannya sama sekali ... malam tadi.


Pria di sisi kanannya menghardik, "Diam kau!!"


"Cepat bawa dia ke mobil!" Dengan masih mengenakan gaun tidur ungu selutut ber-outer warna senada, juga roll yang menggulung bagian depan rambutnya, Mercy, si wanita muchikari itu, berseru memberi perintah. Wajah bengisnya nampak semakin ketat.


"Tidak, aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu! Tolong jangan paksa aku!" Shinar terus berteriak. Teriakan yang tak akan pernah mengundang belas kasih dari orang-orang jelmaan iblis di sekitarnya.


Shinar bahkan tak lagi peduli pada bagian-bagian intim tubuhnya yang sesekali terlihat, karena rontaannya cukup kencang ia gerakkan.


Orang-orang desa seakan menutup mata melihat tindak para penjahat itu pada Shinar. Seolah mengatakan, 'itu bukan urusan saya'. Tak ada yang berani menghardik. Meskipun rasa iba dan tak tega jelas memenuhi wajah-wajah tolol mereka. Terlalu bodoh untuk melakukan sebuah kebajikan, walau pun sebenarnya mereka mampu.


Meraung meminta tolong dengan suara yang menyedihkan, tak ada yang peduli -- Shinar.


Sampai ketika waktu menghadirkan ....


"LEPASKAN DIA!!"


Keempat orang itu termasuk Mercy, menghentikan langkah lalu berbalik, melihat siapa yang seenak jidat memerintah mereka.


"Siapa kau?" Mercy bertanya dengan wajah keruhnya.


Dengan santai, yang ditanya Mercy itu menjawab, "Aku bukan siapa-siapa. Hanya sebutir debu yang tak sengaja tertiup angin."


Sedikit membuang wajah mengulas senyuman kecut, Mercy lalu melangkah mendekati ... anggap saja 'butiran debu' sesuai yang dikatakan orang itu, yang tentu julukan tersebut juga disetujui Mercy. Dalam pandangnya, meremehkan. "Lalu apa yang akan kaulakukan jika aku tidak mau melepaskan gadis ini?" tanyanya dengan wajah terangkat angkuh.

__ADS_1


Usai men-standart sepeda tuanya, sosok yang tak lain adalah Liz Nadiah itu, berdiri menghadap Mercy yang hanya setinggi pundaknya. "Apa yang kauinginkan sebagai timbal balik untuk pembebasan gadis itu?"


Mercy tergelak. "Pertanyaan yang menarik, Nona Manis." Satu tangan ditempelkannya di perut bagian atasnya, sementara satu lainnya ia letakkan di bawah dagu, Mercy lalu bergerak mengelilingi Liz Nadiah dengan tampang menelisik. "Tubuhmu lumayan juga. Tinggi, tidak gemuk ... juga tidak kurus. Hanya pakaianmu saja yang salah."


Liz Nadiah masih bergeming, selain ekor matanya yang bergerak mengikuti Mercy. Menunggu akan sampai mana wanita pendek itu berbicara.


Beberapa waktu lalu, ia merasa pengecut karena tak bertindak apa pun saat Qinay mendapat perlakuan buruk dari ibu dan adik tirinya hingga terusir dari rumahnya sendiri. Karena ketika itu ia merasa itu adalah urusan keluarga. Tapi kali ini, matanya menangkap lain.


Shinar memandang cemas ke arah Liz Nadiah. Takut wanita itu juga akan terlibat, dan berakhir sama seperti dirinya di tangan Mercy. Tubuhnya masih terus meronta-ronta, berharap kedua pria di kiri dan kanannya bisa melepaskan cekalan tangannya.


"Kau masih gadis, 'kan?" lanjut Mercy bertanya pada Liz Nadiah.


Setipis senyum tersungging di bibir Liz Nadiah. Ditangkapnya dari penampilan Mercy dan keadaan naas Shinar dengan pakaian nyaris telanjangnya, ia menerka dalam pikirnya, apa yang diinginkan Mercy juga orang-orangnya. "Jika aku katakan aku sudah memiliki lima orang anak, apa kau akan percaya?"


Mercy menghentikan gerak sok detektifnya tepat di depan Liz Nadiah. "Apa katamu?" Ia tersenyum kecut. "Kaupikir aku tidak bisa menilaimu? Aku sudah mengurusi puluhan wanita, dan aku tahu, mana yang masih murni dan mana yang sudah sepah."


"Lalu kenapa kau bertanya aku gadis atau bukan, jika kau sudah tahu?" Liz Nadiah masih dengan santainya.


Tindak cepat pria kekar itu ternyata tak semulus pikirannya. Tanpa diduga, Liz Nadiah melakukan gerak menghindar, dengan kepal dan tangkis juga kuda-kuda kokohnya. Selain berprofesi sebagai seorang dokter, satu yang tak diketahui siapa pun termasuk Kenan Lingga, wanita ini ... adalah seorang petarung. Kecuali si bapak tua di kota sana, yang ia sebut ... Guz Ammar.


Semua mata terbelalak, termasuk para penduduk yang mulai berkerumun penasaran. Tak disangka mereka, dokter muda yang mereka tahu baru membuka klinik selama beberapa hari itu, adalah seorang petangguh.


Cukup terpancing, setelah melihat teman kekar mereka berhasil ditumbangkan Liz Nadiah hanya dengan beberapa pukulan juga tendangan ringan, kedua pria yang mencekal Shinar ikut maju melawan. Sedangkan tanpa disadari Mercy, Shinar telah melarikan diri dan bersembunyi di belakang sebuah pohon besar berakar tinggi dan tebal di dekat salah satu rumah warga.


Mercy, tubuh wanita muchikari itu nampak bergetar ketakutan. Melangkah mundur secara perlahan, lalu masuk dengan cepat ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan ketiga pesuruhnya yang terlihat mulai limbung, dan sudah dipastikannya, akan tumbang sesaat lagi.


"Nyonya! Jangan tinggalkan kami!!" Si pria kekar berteriak dengan sisa tenaganya. Melihat mobil yang semula dikendarainya, kini melaju tak peduli ... meninggalkan mereka.


"Pergilah! Sebelum kubuat retak seluruh tulang-tulang di tubuh kalian!"

__ADS_1


Ancaman Liz Nadiah cukup membuat ketiga pria itu ketar-ketir.


Tenaga wanita itu ... benar-benar tak bisa diremehkan. Satu dari ketiga pria itu berujar dalam hati. "Ayo!" ajaknya pada kedua rekannya yang mulai bangkit dengan wajah meringis. Ketiganya lalu berjalan dengan sedikit membungkuk, memegangi perut dan dada masing-masing, meninggalkan situasi yang cukup mengancam bagi ketiganya.


Selepas kepergian ketiga pria itu, semua warga bersorak sorai menyerukan nama Liz Nadiah penuh kekaguman.


Liz Nadiah hanya tersenyum sungkan menanggapi orang-orang itu. Wajahnya nampak mengedar, seolah mencari sesuatu.


Tak lama, dilihatnya sosok Shinar yang kini berjalan perlahan memeluk tubuhnya sendiri dengan wajah tertunduk, ke arahnya. Terlalu malu dengan keadaannya saat ini. Liz Nadiah lalu menyongsongnya. "Nona, kau tidak apa-apa?!" tanyanya cemas. Namun sebelum mendapat jawaban dari mulut Shinar, ia bergerak memandang ke arah warga yang kini mengelilinginya. "Siapa pun, aku pinjam kain untuk menutupi tubuh Nona ini. Tolong!"


"Baik, Nona." Salah seorang ibu menyahut cepat, lalu melanting masuk ke dalam rumahnya yang berada beberapa jarak di belakangnya.


Tak lama, wanita tua itu kembali dengan sehelai kain batik yang masih rapi dengan lipatannya. "Ini, Nona."


"Terima kasih," ucap Liz Nadiah tersenyum.


Kemudian membalutkan kain itu ke tubuh Shinar yang nampak menggigil kedinginan.


Shinar mengangkat tunduk wajahnya menatap Liz Nadiah dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih. Terima kasih karena telah menolongku."


Senyuman manis tersabit di bibir Liz Nadiah. "Sudah seharusnya seperti itu," balasnya lembut, seraya dielusnya pundak Shinar penuh kehangatan. Membuat semua warga terutama para pria, menjadi kerdil di hadapan dokter muda itu.


Terlalu memalukan bagi mereka yang malah menjadi penonton saat orang-orang biadab itu menyeret Shinar layaknya binatang.


"Ikutlah dulu ke rumahku. Setelah itu kau bisa ceritakan semuanya padaku ... jika kau berkenan."


Sejenak terdiam, menatap ketulusan di mata Liz Nadiah, Shinar lalu mengangguk dengan seulas senyuman tipis.


....

__ADS_1


"Wanita yang menarik." Seraya membenarkan sedikit kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, seorang pria berdiri di balik sebuah pohon mangga milik warga, tersenyum menatap ke arah kerumunan, di mana Liz Nadiah yang saat ini mulai mendorong sepeda tuanya, juga Shinar yang berjalan di sampingnya. Keduanya melangkah berdampingan meninggalkan tempat itu.


...🕊️🕊️🕊️...


__ADS_2