
DUAAAAARRRRR ....
"TIDAAAAKKK ...!! NADIAAAAHH ...!!"
Andromeda berteriak sekeras-kerasnya di tepian tebing. Padahal baru saja kakinya menapak tanah ujung itu setelah mengetahui kenyataan sejelasnya dari mulut salah seorang anak buah Diraga yang telah tertangkap.
Bahwa benar, Zack Shangra telah membawa seorang wanita berhijab yang telah mereka culik dari Padepokan, menerjuni jurang bersama mobil yang mereka tumpangi.
Dan sedetik yang lalu ... suara ledakan terdengar menggelegar di bawah sana. Andromeda bersimpuh meraung-raung menghadap ke arah jurang yang cukup terjal itu.
Cahaya kekuningan kini terlihat meliuk menari-nari di bawah sana. Berkibar-kibar menertawakan.
"Tidak ...." Andromeda menggeleng-geleng tak terima. "Jangan dia aku mohon, Ya Allah ...." Untuk pertama kali dalam hidupnya, hati dan jiwanya terasa dicabik-cabik. Sakitnya bahkan tak mampu ia lukiskan dalam bentuk apa pun--terlampau hancur dan menyesakkan.
Jiwanya terasa ikut terenggut-renggut.
Mati saja.
Ya, ia tak ingin hidup! Tidak jika wanitanya benar-benar menyerah dalam pelik dan pahitnya perpisahan karena kematian.
Di sampingnya, Sean bahkan tak bergerak. Memandang nyalang pada kobaran api yang sesekali terdengar letupan di dalamnya--di dasar jurang.
"Nona," gumamnya pedih. Lalu dengan kaku ditolehnya Andromeda yang jelas terlihat kehancurannya. Tak sedikit pun kata terucap dari bibir yang biasanya berisik. Sean bisa merasakan kepedihan tuannya.
"Aku harus mencarinya!" Andromeda berdiri gegas, namun lebih terlihat seperti orang linglung.
"Tuan Muda!" Sean dengan sigap menahan tubuhnya yang hendak bergerak mengambil langkah cepat--tak tentu arah.
"Aku ingin mencari istriku!!" bentak keras Andromeda seraya menepis keras tangan Sean dan mendorong tubuh asistennya itu hingga terhuyung.
Beberapa polisi datang menghampiri--mencoba menenangkan si tampan tak manusiawi itu.
"Tenang, Tuan! Kami pasti akan turun untuk mencari istri Anda," ujar salah seorang dari mereka.
__ADS_1
"Tenang katamu?! Tolol!!" Andromeda semakin tak bisa menguasai dirinya.
Bumantara merunduk menebar kegelapan. Mentari telah mengalah pada masanya, lebih dari empat jam yang lalu.
Diselimuti kebekuan udara yang menusuk.
Dua anak manusia bergelung dalam gelisah. Saling terdiam dalam pasrah.
Ah, tidak!
Tidak dua-duanya.
Bukan hanya diam, Liz Nadiah benar-benar dalam keadaan tak sadarkan diri di pelukan Zack Shangra saat ini. Sedangkan pria itu sendiri, dengan punggung tersandar badan pohon, cukup terlihat pucat menggambarkan kelelahan juga kesakitannya.
Luka-luka kecil nampak mulai membiru di beberapa bagian tubuh mereka.
"Maafkan aku, maaf. Kumohon bangunlah. Kau harus baik-baik saja." Tubuh menggigil itu semakin erat dipeluknya, walaupun kekalutan semakin tebal menyiksanya.
Dari kejauhan sana, kobaran api yang berasal dari mobil yang diajaknya terjun, masih nampak berkibar-kibar.
Keduanya kini berada di bawah sebuah pohon berakar besar yang tak jelas apa jenisnya--beberapa puluh meter berjarak dari mobil yang sesaat lalu mereka tumpangi. Mobil yang kini diselimuti api, setelah mengalami ledakan hebat beberapa menit lalu.
Ia dan Liz Nadiah selamat, saat mobil yang dipacu terjun olehnya mendarat miring dan menggantung di atas akar berbelit sebuah pohon besar di tepian jurang. Hanya tersisa sekitar dua setengah meter menyentuh dasar tanah di bawahnya.
Beruntung, intuisi Zack Shangra mengajak nya dan Liz Nadiah untuk secepatnya keluar dari dalam mobil itu--walaupun cukup kesulitan karena mobil dalam keadaan miring juga tubuh mereka yang merayang sakit luar biasa akibat benturan. Keduanya turun perlahan bergelantungan menginjak akar-akar kecil yang menjalar berbelit-belit dengan pijakan hati-hati.
Dan benar saja!
Setelah berjalan cukup jauh, Liz Nadiah yang semakin lemah dalam gendongan Zack Shangra menyaksikan dengan nyata, bagaimana akar pohon itu terlepas dari tanah karena tak mampu menahan bobot mobil, menyusul sebuah batu besar yang tercongkel karena getaran di ketiggian.
Batu raksasa itu menimpa mobil setelahnya hingga hancur, lalu meledak menggelegar--menghamburkan serpihan-serpihan kendaraan itu ke sana kemari, mengerikan.
__ADS_1
Kilas balik beberapa waktu yang lalu ....
"Lebih baik kita mati di dasar jurang, daripada di tangan Diraga. Mati sekaligus lebih indah, daripada harus disiksa dalam amarah."
Kalimat itu menghentak sisi rapuh Liz Nadiah yang hanya mampu melukiskan perasaannya lewat tangisan tertahan.
Ditolehnya satu persatu, manusia-manusia bersenjata yang kini mengelilinginya di luar kaca mobilnya. Mereka mungkin hanya memerlukan uang. Dan mungkin saja ada istri dan anak-anak yang menunggu mereka untuk pulang ke rumah masing-masing setelah ini.
Jika kendaraan ini bergerak sedikit saja untuk melawan--menabrak orang-orang itu, maka sudah jelas ... akan lebih banyak nyawa yang melayang, Liz Nadiah bergelut kalut dengan pikirnya.
Sampai yang dikatakan Zack barusan ... ia menyetujui akhirnya. Baik itu melawan, menyerahkan diri, dan tertangkap ... sama-sama tak ada bedanya. Diraga pasti akan melakukan banyak hal menyakitkan untuknya juga Zack Shangra selanjutnya.
Jadi ....
"Lakukan, Kahfi." Liz Nadiah memejamkan matanya menghadap lurus ke depan. Sepasang tangannya saling meremas kuat di atas pangkuannya. Sisa basahan air mata masih membekas memanjang di kedua pipinya.
Zack Shangra yang semula telah rekat dengan kemudinya dengan mata berkilat tajam, menoleh ke sampingnya. Dalam sekejap, tatapannya berganti sendu. Liz Nadiah begitu terlihat teguh, walaupun akan menghadapi maut sesaat lagi.
"Siapa pun dirimu, meskipun kau adikku sekali pun, aku tak peduli. Yang aku tahu, aku benar-benar telah jatuh hati padamu. Dan meski takdir kita bukan di dunia ini, setidaknya ... aku masih memiliki kesempatan untuk mati bersamamu. Nadiah, aku mencintaimu."
Sebulir air mata jatuh menggelinding melewati pipi kurus dan putih Zack Shangra. Wajahnya telah kembali berpaling lurus ke depan. Perlahan pria itu mengatupkan matanya. Telapak kiri tangannya mulai menggerakan persneling mobil di sisian tubuhnya--siap pacu.
Dan ....
....
....
"ZAAACCCCCKKKKK!!!"
Teriakan Diraga mendengking di udara sesaat kemudian.
__ADS_1