Liz Nadiah

Liz Nadiah
Harap Cemas


__ADS_3

Rasa tak percaya tentu saja menguasai Liz Nadiah dan Muana. Sepersekian menit keduanya melakukan aksi kecup peluk melepas rindu, meskipun kegiatan itu dibatasi keras dan tangguhnya besi-besi penyekat ruangan. Cukup mengharukan.


"Pergilah secepat mungkin, cari bantuan!" Semua tawanan mengangguk mengiyakan kalimat Muana.


"Tapi, Bu ...."


"Pergilah, Liz. Ibu mohon. Jika kau terus berada di sini, yang ada malah kau ikut terkurung bersama kami."


Manik mata sayu itu ditatap Liz Nadiah dengan linangan air mata. Benar, ia tak akan mungkin bisa membebaskan orang-orang itu dengan tangannya sendiri. "Baiklah, Bu."


....


Sebilah kayu menyilang disingkirkan Liz Nadiah susah payah dari sebuah pintu rapuh yang tersampir di sudut tak terlihat bagian kanan penjara, sesuai arahan seorang tawanan lelaki yang terkurung di dalamnya.


Berkali-kali ia menengok ke arah Muana yang masih menangis menatapnya, cukup berat meninggalkan wanita itu di tengah keadaan demikian. Tapi ia harus pergi. Setidaknya membawa bala bantuan--jika ia berhasil tanpa tertangkap, begitu tentunya.


Wajah-wajah naas itu sungguh meremas hati Liz Nadiah. Ia berpaling menepis keraguannya. Menggeser sedikit demi sedikit tubuhnya melewati celah yang baru saja ia ciptakan.


"Cepat!! Mereka mulai datang!"


Seruan itu membuat Liz Nadiah tersentak.


Dengan cepat ia mengeluarkan tubuhnya tanpa melihat lagi ke belakang.


Semua menatapnya penuh pengharapan yang tinggi. Hingga ....


"Dia tidak di sini." Dalam setidaknya lima menit, tiga orang anak buah Diraga Madewa telah berada di tempat itu. Menyisir setiap sudut ruangan.


"Heyy! Lihat!" Satu orang menemukan bilahan kayu yang tergeletak di bawah lantai, memperlihatkan celah vertikal sebesar satu badan orang dewasa, bekas Liz Nadiah melarikan diri beberapa saat lalu.


Beruntung, meskipun berbentuk sabit, bulan di atas sana cukup memberikan sinarnya menerangi keadaan di sekitar Liz Nadiah, yang saat ini tengah mendorong dirinya untuk terus bergerak, berlari dengan sisa tenaga yang sebenarnya sudah cukup terkuras.


Suara deru napasnya terdengar bergemuruh memecah kesunyian. Sesekali disekanya air mata yang terus jatuh menimpa pipinya yang terasa bagaikan es.


Muana ....


Ia benar-benar tak pernah membayangkan akan bertemu wanita itu di tempat sebusuk demikian, setelah belasan tahun lamanya mereka tak bersua tatap. Apa yang telah terjadi pada ibu tirinya itu? Kenapa bisa terkurung di dalam sana? Lalu Kahfi? Bukankah ia bersama Diraga selama ini, kenapa sampai tak tahu jika ibunya menjadi tawanan ayah angkatnya sendiri yang sadis itu?


....


Ah, iya ... dia lupa, Kahfi dalam keadaan hilang ingatan sekarang. Laki-laki itu Zack, bukan lagi Kahfi.


Tapi kemana jiwa penyayangnya yang dulu begitu kental? Tidak mungkin luntur begitu saja, 'kan?


Apakah kesalahpahaman saat itu benar-benar membuatnya menjadi buta?


Atau ....


Kahfi tak pernah tahu tindak-tanduk Diraga Madewa sebenarnya?


Mungkin seperti itu.


Semoga seperti itu.

__ADS_1


Jalanan setapak itu terus disusur Liz Nadiah tanpa berniat menghentikannya. Tak peduli letih yang mulai menindih. Tak peduli napas yang mulai terasa sesak. Ia harus sejauh mungkin menghindari bangunan neraka itu beserta para algojonya.


Terlihat rona jingga mulai mengintip dari arah timur. Matahari akan menyingsing sebentar lagi. Hatinya mengadu ampun pada Tuhan, karena mungkin tak akan sempat menunaikan kewajiban subuh hari ini.


"CEPAT TEMUKAN DIA!!!"


Teriakan itu spontan menghentikan laju langkah Liz Nadiah. Debaran di ujung dadanya merebak hingga ke ubun-ubun. Membuat sekujur tubuhnya bergetar. Pasalnya, ia sudah tak memiliki tenaga untuk menghadapi orang-orang itu. Dengan perlahan Liz Nadiah memundurkan tubuhnya, lalu merunduk. Bersembunyi di balik semak-semak rimbun di sekitarnya.


Semoga mereka tak menemukannya.


Orang-orang itu masih terlihat berkeliaran. Satu orang nampak mulai mendekat ke arah di mana Liz Nadiah menyembunyikan dirinya. Di tangan orang itu, sebilah senjata api tergenggam apik siap ditembakkan. Namun tak lama pria itu berlalu, setelah lainnya berteriak memanggilnya.


Liz Nadiah semakin merundukkan tubuhnya, berharap mereka tak bisa melihatnya.


Lindungilah aku, ya Allah .... Harap cemasnya dalam hati.


Namun ....


KRAAK ... KRAAK ... KRAAK.


Liz Nadiah membulatkan matanya. Suara daun-daun kering terinjak di belakangnya, membuat jantungnya bertalu sangat hebat. Dan ....


"PPFFFTTT!!!" Mulutnya dibekap seseorang dari belakang.


..........



Andromeda sama sekali tak mampu memejamkan matanya sejak semalaman. Ia melihat sekilas jam yang tersampir di dinding kamarnya.


Belum ada kabar sama sekali dari pihak kepolisian, juga Qinay, mengenai Liz Nadiah yang hilang dibawa sekelompok orang kemarin sore.


Andromeda hingga menanggalkan pekerjaannya yang sebenarnya sudah dijadwalkan cukup sibuk oleh Sean hari ini. Demi apa pun, hilangnya gadis dokter itu membuat kepalanya nyaris meledak.


Ia benar-benar cemas di level akut.


Siapa yang telah berani menculik gadis cerewet itu?


Siapa gadis itu sebenarnya?


Sejurus pandangnya kini tertuju pada sebuah ponsel milik Liz Nadiah yang semalam ia letakan di atas meja di kamarnya, berserta tas jinjing berisi peralatan medis dan jas putih kebangaan gadis itu, yang juga ia sandingkan di dekatnya, setelah kemarin ditinggalkan pemiliknya tanpa diduga.


Ponsel itu sempat diotak-atik Andromeda semalam, usai sebelumnya ia isi baterainya yang memang telah padam kehabisan daya.


Mudah sekali terbuka. Layarnya sama sekali tak dikunci dengan pin, pola atau sejenisnya. Cukup ceroboh menurut Andromeda. Namun juga ada keuntungan lain baginya, karena dalam cemas memikirkan penculikan itu, foto-foto dengan ragam gaya Liz Nadiah dan juga Qinay yang terkumpul di dalam galery ponsel tersebut, cukup membuatnya terhibur.


Narsis juga, pikir Andromed menggelitik.


Namun sayangnya, tak ada apa pun di dalamnya yang bisa ia jadikan petunjuk--nampak biasa saja. Sepertinya gadis itu baru saja mengganti nomor ponselnya. Terlihat dari daftar kontak yang tercatat hanya kurang dari lima nomor saja.


Baru saat ibu jari Andromeda hendak mengusap kembali layar benda pintar itu, sebuah dering panggilan mengejutkannya.


Deretan nomor tak dikenal.

__ADS_1


Sesaat pria itu terdiam menatapnya, lalu memutuskan untuk mengangkatnya dengan harapan--mungkin itu sebuah petunjuk.


Dan ....


"Tuan Andro, kaukah itu?!"


DEG


Suara itu cukup menghentak perasaan Andromeda. Ia spontan mengangkat gegas tubuhnya. "Nadiah!"


"Iya, ini aku. Tolong aku ...."


....


....


....


Mobil dipacu Andromeda dengan kecepatan penuh.


Jalanan cukup lengang, tak banyak kendaraan yang biasanya memadati. Sungguh Tuhan selalu tahu apa yang paling dibutuhkan hambanya-Nya dalam keadaan genting seperti ini.


Memakan sekurangnya dua jam, mobil yang dikendarai Andromeda telah terhenti di sebuah tempat. Ia masih mengamati peta digital di dalam layar ponsel yang kini digenggamnya. Sebuah alamat yang tadi dikirimkan Liz Nadiah. Ia mulai membuka pintu mobilnya, keluar mengamati sekitar.


Jalanan yang cukup sepi. Hanya sebuah kedai kopi kecil yang terlihat baru saja dibuka di ujung jalan.


"Benarkah ini tempatnya?" tanya Andromeda pada dirinya sendiri.


Tiga menit ....


Lima menit ...


Sepuluh menit ....


Lima belas menit ....


Masih tak ada tanda-tanda kemunculan yang diharapkannya.


Andromeda mulai diserang putus asa. Ia berputar mondar-mandir mulai terkikis kesabarannya. Terlebih, nomor yang tadi digunakan Liz Nadiah juga tak bisa dihubunginya.


Sampai menit kedelapan belas, saat ia berniat masuk kembali ke dalam mobilnya ....


"Tuan Andro!!"


Terang saja suara itu dikenali Andromeda. Ia membalik cepat tubuhnya yang semula membelakangi. "Nadiah!"


Gadis itu muncul dari sebuah jalanan kecil di sisi kanan jalanan di mana mobil Andromeda terparkir, bersama seorang pria di belakangnya.


Tanpa menggunakan pikirnya lagi, pria tampan sekelas dewa itu melanting menghambur ke arah Liz Nadiah yang berdiri menatapnya tersenyum haru. Lalu memeluknya ... sangat erat. "Aku sangat mencemaskanmu!" ujar Andromeda dengan mata terpejam penuh syukur.


Gerakan Andromeda itu cukup mengejutkan Liz Nadiah. Namun ia bergeming. Membiarkan pria itu menumpahkan segala perasaannya, yang mungkin ... hanya sebentuk kekhawatiran biasa. Ya, sebentuk tanggung jawab kecil, karena pria itu yang terakhir bersamanya kemarin sore, sebelum ia diculik.


Ya, seperti itu ... mungkin!

__ADS_1


Tapi anehnya ... Liz Nadiah merasa tenang akan hal itu.


__ADS_2