
"Maafkan aku, Bu!"
Zack masih bersimpuh di bawah kaki Muana yang saat ini tengah terduduk di sebuah sofa.
Air mata Muana tak henti mengalir. Menanggapi kenyataan bahwa putera semata wayangnya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Namun ia harus apa? Nasi telah menjadi bubur. Perpisahan membuat ia telah gagal dalam sesi mendidik anak.
"Tidak! Kau tidak salah, Nak." Muana mengangkat wajah Zack yang nampak basah dibanjiri air mata, lalu membelainya penuh kasih. "Mana dia? Bawa dia ke hadapan Ibu. Ibu juga ingin melihat cucu Ibu."
....
....
Mencoba memupuk kembali kepercayaannya pada pria itu, akhirnya Shinar menerima permintaan Zack untuk ikut pulang besertanya.
Dan kini sudah hampir setengah jam lamanya, Zack berada di dalam rumah itu. Shinar menolak masuk ikut dengan pria itu sebelum Muana benar-benar mau menerimanya. Ia dan Damar, putera kecilnya, masih berada di dalam mobil Zack yang terparkir di depan halaman. Pintu besar rumah yang masih tertutup itu masih ditatapnya melalui jendela mobil yang dibiarkannya terbuka. Hatinya dilumuri harap dan cemas yang saling menampar.
Sebelumnya Shinar cukup terkejut juga sempat ketakutan, kenapa Zack membawanya ke rumah itu. Rumah yang pernah dijejakinya ketika ibunya menjualnya pada Mercy. Ia berpikir, Zack kembali membohonginya lagi-lagi seperti dulu.
Namun dengan segenap rasa, Zack berhasil memberi penjelasan yang bisa membuatnya percaya. Meskipun juga teramat mengejutkan baginya.
Bagaimana tidak, Zack mengakui, bahwa ia adalah sumber dari kegiatan asusila, yang di mana pernah menjerat ia di dalamnya.
Kenyataan yang sekali lagi terasa berat dirasakan Shinar.
Dalam langlang buana pikirnya, tanpa disadari Shinar, sebuah mobil baru saja merangkak bergerak memasuki halaman yang sama dengannya--terparkir di belakang mobil Zack tepatnya.
Liz Nadiah dan juga Andromeda.
__ADS_1
Pasangan itu datang setelah Zack menghubunginya satu jam yang lalu--meminta untuk datang ke rumahnya karena suatu hal.
Terlihat Liz Nadiah keluar lebih dulu dari dalam mobil suaminya itu.
Kaca mobil Zack yang terbuka menarik perhatian Liz Nadiah untuk menolehkan kepalanya ke arah kaca tersebut. Ia bergerak layaknya orang mengendap. Sampai wajah itu ditangkapnya seluruhnya. Kini tatap mereka saling bertemu dalam keterkejutan.
"Shi-Shinar!!" .... "Kak Nadiah!"
Andromeda yang baru menutup pintu mobilnya spontan mengalih kepalanya ke arah istrinya. "Ada apa, Sayang?" tanyanya seraya melangkah cepat mendekati istrinya. Dua pasang mata yang saling bertatap dengan mata berkaca-kaca.
Lalu sedetik kemudian, Liz Nadiah membuka pintu mobil di mana Shinar terduduk di dalamnya, kemudian menghambur memeluk wanita muda itu tak serta merta. "Kemana saja kamu, Shinar?! Bagaimana kabarmu?" tanyanya dalam tangis melepas rindu.
"Aku baik, Kak Nad!" sahut Shinar juga sama dengan burai air matanya.
Sekitar satu menit, pelukan itu lalu terlerai. Tatapan Liz Nadiah kini jatuh pada sosok mungil yang tertidur pulas di samping Shinar berbantal Sweater tebal milik Zack Shangra. "Dia ...."
"Dan putraku!"
Kedua wanita itu terperanjat, serempak menoleh ke asal suara. "Kahfi."
Tak terkecuali Andromeda, yang juga sama-sama dibuat terperangah dengan pernyataan itu. Ia lantas bergerak melongokan kepalanya ke dalam mobil di depannya, lalu kembali menatap Zack di sampingnya.
"Ya, dia putraku, Andro!" ungkap Zack tersenyum antara getir dan terharu yang teracak dalam satu wadah di wajahnya.
"Mana cucuku?!" Karena terkejut, suara Muana terdengar menggelegar di telinga semua orang, meskipun sebenarnya tak cukup keras.
Awalnya wanita tua itu memilih menunggu Zack membawa Shinar dan anaknya masuk ke dalam rumah. Namun karena tak cukup sabar, akhirnya ia menyusul Zack ke halaman di mana Shinar berada.
__ADS_1
Shinar mulai bergerak turun dari dalam mobil dengan rasa tak cukup yakin, dan malah terkesan kaku. Damar telah diangkat dalam gendongannya. "Assalamu'alaikum, Ibu," ucap Shinar dengan nada sopannya. Telapak tangannya terjulur ke arah ibunya Zack itu.
"Wa'alaikumsalam, Nak."
....
....
....
Semua nampak terkejut dengan penjelasan yang dituturkan Zack, tentang Shinar juga tentang bagaimana balita laki-laki itu hadir sebagai anaknya secara mengejutkan.
Air mata Liz Nadiah nampak tak henti menitik mendengar semua cerita yang dibeberkan Zack dan juga Shinar secara bergantian. Ia membayangkan ... bagaimana sulitnya Shinar menghadapi kehidupannya seorang diri, akibat ketololan kakaknya itu.
Andromeda tak mampu berkata apa pun selain menarik istrinya itu ke dalam pelukannya.
Terkecuali Muana yang telah lebih dulu mengetahui semua hal itu dari putranya. Wanita itu kini tengah asyik mengelus pucuk kepala Damar yang terlelap di pangkuannya. Namun tak ayal, air matanya tetap saja masih belum mau berhenti mengalir.
Zack tak henti-henti bertutur maaf pada ketiga keluarga yang disayanginya itu. Juga pada Shinar yang memang adalah inti utama dari kepingan dosanya.
"Sudahlah, Zack. Semua sudah berlalu," Andromeda mengambil kata. "Dan Shinar ... juga Damar ... kami semua menerima kalian! Selamat datang!"
Liz Nadiah mengangkat diri dari pelukan suaminya. Mengusap sekilas pipi basahnya, lalu menimpal, "Benar, Shinar. Sekarang kita adalah keluarga."
"Jangan sungkan, Nak. Kau anak Ibu mulai sekarang!" Muana menambahkan dengan tatapan penuh kasih sayang.
Rasa terharu meliputi hati dan perasaan Shinar. Ditatapnya berkeliling semua wajah di dekatnya. "Terima kasih semua."
__ADS_1