
Hidup selalu punya cerita.
"Kau senang?" tanya Andromeda. Ia kini tengah menemani Liz Nadiah dengan seabrek cucian piring bekas makan malam mereka yang berlangsung beberapa menit lalu, bersama keluarga besar Andromeda tentunya.
Air kran wastafel juga suara piring dan gelas-gelas berdenting di depannya, serasa menjadi backsound manja yang mengiringi obrolan kecil keduanya.
"Kurasa begitu," jawab Liz Nadiah. "Aku masih tidak menyangka, keluargamu ... mau menerimaku dengan hangat. Terlebih Dady-mu."
Andromeda memulas kekehan kecil. "Ya. Dia selalu seperti itu. Terlebih pada orang yang dia suka," ungkapnya.
"Maksudmu ... Dady-mu menyukaiku?" Liz Nadiah dengan senyumannya, sekilas melirik Andromeda di sampingnya yang nampak asik menata gelas-gelas yang baru saja dicucinya.
"Mungkin," sahut pria itu. "Dia selalu menginginkan anak perempuan hadir di tengah-tengah keluarga kami. Tapi sayangnya, Momy mengidap suatu penyakit yang akhirnya membuat rahimnya terpaksa diangkat. Saat usiaku enam tahun."
"Innalillah," ucap Liz Nadiah dengan raut prihatin. "Dan karena hal itu, Momy-mu tidak bisa mengandung lagi?"
Andromeda mengangguk. "Ya. Karena itu juga mereka begitu senang dengan adanya kau."
Senyuman tipis kembali ditunjukkan Liz Nadiah. "Semoga ke depannya, aku tidak sampai mengecewakan mereka," harapnya.
"Tidak akan! Kau terlalu manis untuk berteman dengan kalimat bodoh itu!"
__ADS_1
Waktu akan selalu bergerak. Melewati berbagai rasa, hingga mengukir beribu kisah yang kemudian menjadi kenangan di kemudian hari.
Tanpa terasa, 27 hari berlalu.
Tidak dimegahkan dengan guyuran pesta bertabur hiasan-hiasan memanjakan mata, tidak juga dikerumuni orang-orang sebagai tamu undangan. Hanya sebuah acara sederhana yang lebih mirip pertemuan keluarga.
...Padepokan milik Gus Ammar...
...🌙⭐...
Hari ini, bertepatan dengan ulang tahun Liz Nadiah yang ke-27 ....
....
....
Kata itu menjadi penutup dari deretan kata qabul yang baru saja disuarakan Andromeda. Pasang-pasang telapak tangan milik para saksi acara, terlihat mengusap masing-masing wajahnya--meng-aminkan untaian do'a di akhir sesi sakral itu berlangsung.
Semua mata nampak berbinar bening penuh haru.
__ADS_1
Liz Nadiah nampak menitikkan air matanya, ketika Andromeda memasangkan selingkar cincin mungil bermata satu di jari manisnya. Yang kemudian ia pun melakukan hal serupa di jari Andromeda.
Masih cukup tak percaya, Liz Nadiah menatap pria tampan kebulean yang kini telah sah menjadi pemimpin atas dirinya dalam sucinya bahtera rumah tangga--di hadapannya. Andromeda nampak gagah dengan segala karismanya. Pun dengan dirinya yang nampak anggun dengan gamis berenda putih yang dikenakannya.
Pernikahan mereka sengaja dilakukan secara diam-diam. Andromeda menolak kemewahan pesta yang ditawarkan kedua orang tuanya. Demi menjaga sesuatu yang menjadi kecurigaan pria itu.
Selama ini ia merasakan ada yang tak beres. Selain penarikan saham yang ditanam Diraga Madewa, ribuan pepohonan di perkebunannya secara mencengangkan ditemukan dalam keadaan hancur beberapa waktu lalu.
Dan itu pasti berhubungan dengan Liz Nadiah! Andromeda menyimpulkan. Karena itu ia memutuskan menikahi Liz Nadiah di tempat ini demi menjaga keselamatan wanitanya itu
lebih leluasa.
Hanya ada Gus Ammar beserta para anak didiknya, Sean, juga tentu saja kedua orang tua Andromeda. Liz Nadiah menggunakan wali hakim sebagai wali sahnya, karena Zack Shangra yang ia harapkan menjadi walinya, jelas tak memungkinkan--hampir dari segala sisi. Pria itu menghilang.
Aksi sungkem dengan warna-warni haru baru saja dilaksanakan. Zalisa--Momy Andromeda, nampak sangat dalam mengecup pucuk kepala putra semata wayangnya itu teriring tetesan bening dari pelupuk matanya. "Jadilah suami yang bertanggung jawab, Sayang. Jaga dan cintai istrimu seperti kau mencintai Momy."
"Demi segala kebaikan yang tersemat di muka bumi ini ... Andro berjanji pada Allah, juga pada Momy, Andro akan menjaga dan mencintai Nadiah, sampai takdir yang menuliskan perpisahan untuk kami."
Zalisa tersenyum bangga. "Momy percaya padamu, Sayang."
Usai mengecup kembali punggung tangan Zalisa, Andromeda lalu bergeser ke samping kirinya, di mana sang ayah--Anderson, telah menunggunya dengan tatapan haru.
__ADS_1
"A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way," kata Anderson seraya menepuk pundak bidang Andromeda yang bersimpuh di hadapannya. Kemudian mengarahkan wajahnya pada menantunya--Liz Nadiah yang saat ini tengah sungkem di hadapan Gus Ammar. "Jadilah pemimpin yang hebat untuk dia ... juga anak kalian kelak," lanjut pria setengah abad berbadan setara Andromeda itu dengan logat cadelnya, namun tetap terlihat penuh wibawa.
Wajah Andromeda terangkat menatap sang ayah, lalu tersenyum. "It must be, Dad!" sahutnya penuh keyakinan.