
Setelah menimang kurang dari satu menit, akhirnya, Andromeda menggeser ikon hijau bergambar telpon di layar android tersebut.
Belum sampai telapak tangannya mencapai telinga, suara di seberang sana telah ricuh terdengar memanggil-manggil nama Nadiah.
..........
..........
Jauh di kota S.
Kenan Lingga terperanjat. Spontan bangkit dari kursi kerjanya, manakala angka penghitung waktu panggilan di layar ponselnya mulai timbul dan merangkak. "Nadiah! Nad! Akhirnya kamu angkat telpon aku, Nad! Kamu ada di mana? Kenapa resign tanpa memberitahuku?!"
Hening ....
Belum ada satu pun kata terdengar di seberang sana menyahuti berondongan pertanyaannya. Kenan cukup terheran. Kenapa dia diam saja? "Nadiah ... Nad ... kenapa diam? Apa kamu tidak rindu aku? Atau kamu marah padaku? Apa salahku, Nad? Jawab aku, aku mohon!"
Sekian detik kemudian, suara deham di seberang line telponnya, berhasil membuatnya terperanjat, dalam mode yang berbeda dari sebelumnya. "Anda siapa?"
"...."
"Andromeda?" Kening Kenan Lingga mengerut tebal. "Kenapa ponsel Nadiah ada pada Anda?"
"...."
Sepertinya kalimat Andromeda cukup panjang.
"Tinggal di rumah Nadiah?" Untuk ke sekian kalinya, Kenan dibuat terperangah. Isi dadanya sudah bertalu-talu. Sampai panggilan itu diputus Andromeda sepihak, ia masih bergeming. Ponsel itu masih belum terangkat menutupi telinganya. "Nadiah ...."
Dadanya terasa terbakar, laju menjalar hingga ke ubun-ubunnya. Ada apa dengan Nadiah? Kenapa wanita itu tiba-tiba berubah? Pertanyaan itu menjadi raja dalam pikirnya saat ini. Seingatnya, ia bahkan tak pernah melakukan kesalahan apa pun. Jika pun iya, setidaknya katakanlah--bukan menjauh tanpa kejelasan.
Suara ketukan pintu sukses mengalihkan dunianya. "Ya, masuk."
Dan tersebullah sesosok pria yang mungkin ... lebih muda darinya, berseragam perawat. "Permisi, Dok. Autopsi harus dilakukan saat ini juga."
"Kenapa?"
"Pihak keluarga menuntut cepat."
Terdengar hembusan napas kasar dari mulut Kenan Lingga. "Baiklah. Aku menyusul segera."
Anggukan juga gerak pamit dilakukan lelaki muda itu.
__ADS_1
Layar ponsel yang telah meredup itu ditatap Kenan Lingga, nanar. Kemudian mengalihkan wajahnya ke dinding kosong di depannya. Dalam sekejap tatapnya berubah tajam. "Aku harus menemukannya, apa pun keadaannya. Meskipun dia telah dimiliki pria itu."
Setidaknya untuk memastikan, tujuan Kenan Lingga dalam tekadnya.
...**...
Niat hati mencari tahu keberadaannya saat ini, Andromeda malah duduk mengisi satu bagian kursi di ruang tengah rumah kecil Liz Nadiah. Dengan kaki diselonjorkan ke atas meja, juga punggung bersandar santai ke bagiannya, ia nampak asyik memainkan ponsel milik wanita itu.
"Jadi dia seorang dokter. Pantas saja dia berani mengambil resiko membawaku ke rumahnya ini," gumamnya setelah melihat beberapa photo yang menampakkan Liz Nadiah dengan blazer putih kebanggaannya. Sederetan gambar itu juga menunjukkan kesibukan Liz Nadiah bersama rekan-rekan kerjanya, termasuk pria yang tadi berbicara dengannya di sambungan telpon. Ia jelas masih ingat photo kontak atas nama Kenan Lingga. "Pria ini. Apa dia kekasihnya?" Selanjutnya ia kembali tak peduli.
Mungkin ada bagian yang menggelitik, bibir Andromeda sedikit tertarik membentuk lengkungan tipis, manakala sebuah photo tunggal di mana wanita dokter itu tengah tersenyum lebar, dengan posisi serampangan. Sepertinya photo itu diambil secara spontan tanpa aba-aba bergaya.
"Jika diperhatikan ... dia manis juga."
Awalnya jemarinya mulai nakal menekan sebuah ikon aplikasi media sosial milik Liz Nadiah. Fitur beranda telah terpampang dengan berbagai postingan para manusia narsis itu. Namun sesaat kemudian ia sadar-- menggunakan ponsel itu tanpa izin saja sudah sangat tidak sopan, apalagi sampai menguak hal-hal pribadi si pemiliknya.
Ia memutuskan untuk menaruh kembali ponsel itu ke tempat asalnya, namun baru beberapa derajat tubuh tegapnya terangkat, sebentuk kesiur suara cukup menyentaknya.
"Kau sedang apa?!"
Liz Nadiah tak menanggapi. Namun matanya menangkap sesuatu tak asing yang digenggam pria itu. "Apa itu ponselku?" Telunjuknya mengarah pada benda di telapak tangan Andromeda. Jelas ia mengenali.
Sontak Andromeda mengangkat tangan yang mana benda pipih itu dikukuhnya. "Ini ...." Membolak balik benda itu seolah menimang. "Iya, ini milikmu. Aku tadi meminjamnya untuk menghubungi keluargaku."
Sontak melebarkan bingkai matanya, dengan cepat Liz Nadiah merebut benda itu dari tangan Andromeda. "Lancang sekali kamu!" Lalu mulai mengotak-atik ponselnya itu memastikan sesuatu. Dan .... "Kenan," guman Liz Nadiah, dan Andromeda jelas menangkapnya.
"Ya, pria itu juga tadi menelpon," ucap enteng Andromeda.
Liz Nadiah kembali terperangah. "Lalu kauangkat, begitu?"
Anggukan dengan tampang tanpa dosa itu digerakkan Andromeda. "Ya."
"Apa yang dia katakan?!" tanya Liz Nadiah gegas. Ada perasaan tak nyaman mulai menyusup ke dalam hatinya.
"Dia tentu saja menanyakanmu. Kau di mana? Kenapa pergi tak memberitahuku? Apa kau tak rindu aku? Apa apa denganmu? Ya, begitulah," jawab ringan Andromeda seraya menggoyang-goyangkan kepala mengikuti ritme kalimat yang diucapkannya.
Liz Nadiah terdiam. Pikirnya mulai membayangkan bagaimana wajah cemas Kenan Lingga saat pria itu menelponnya tadi. Terlebih bukan suaranya yang menyambut, melainkan suara pria songong di depannya itu.
"Ada lagi. Lelaki itu juga menanyakan ...." Dilirik sekilas wajah gadis di hadapannya. "Siapa aku."
__ADS_1
Kalimat lanjutan Andromeda itu, cukup menampar semburat cemas Liz Nadiah, menjadi lebih daripada itu.
"Lalu apa jawabanmu?"
Seraya berjalan santai menuju arah pintu keluar yang menganga, Andromeda lalu menjawab, "Aku bilang, aku teman priamu."
Wajah kejut Liz Nadiah semakin menebal. "Apa kau bilang? Teman pria?!" Tubuhnya meliuk mengikuti gerak pria itu.
"Ya, aku juga bilang, kalau aku ... tinggal di rumahmu."
"Apa?!" Tanpa sadar, dengan geram, Liz Nadiah maju memukul-mukul punggung Andromeda yang kebetulan membelakanginya.
Spontan pria itu menghindar, berbalik badan menghadap Liz Nadiah dengan raut terkejut.
"Hey, hey! Apa-apaan, kau? Kenapa memukulku?!"
"Mulutmu! Kau pasti membuatnya salah paham!" Suara Liz Nadiah cukup tinggi.
"Hh." Andromeda tersenyum kecut seraya berkacak pinggang. "Aku menjawab apa adanya."
"Tapi kau tidak tinggal di sini. Kau hanya orang asing yang menumpang di rumahku!"
"Menumpang katamu? ... Bukankah kau yang membawaku ke rumah ini?"
"Iya, tapi untuk mengobatimu! Bukan untuk membawamu tinggal!"
"Lalu kenapa tidak bawa saja aku ke rumah sakit?!"
"Karena saat itu tidak ada kendaraan!" seru Liz Nadiah menyergah. "Apa kau mau didorong dalam gerobak rumput sampai ke rumah sakit, huh?!"
Andromeda terperanjat. "Apa kaubilang?"
"Gerobak rumput. Kau dibawa ke rumahku ini menggunakan gerobak rumput! Apa kau tidak dengar?!" Liz Nadiah menekankan setiap kata.
Kali ini wajah Andromeda bertambah satu level menjadi cengang, tak percaya. "Aku yang tampan ini kaudorong dalam gerobak rumput?" Seraya menunjuk dadanya sendiri.
Dengan wajah sebal Liz Nadiah berujar, "Kaupikir di perkampungan seperti ini ada pesawat? Tidak bisa ya, kau bersyukur sedikit saja? Sudah bagus kau kuselamatkan bersama warga desa. Kalau tidak, kau pasti akan mati, satu atau dua jam kemudian." Laju melenggang masuk ke dalam kamar yang berada di bagian pojok rumah kecil itu dengan wajah geramnya.
Ditatap Andromeda tubuh Liz Nadiah yang telah hilang ditelan gordeng lusuh itu. "Aku ... dan gerobak rumput. Yang benar saja."
__ADS_1