
Sejenis virus semacam flu, tengah ramai menyerang penduduk desa akhir-akhir ini. Sebab hal itu, klinik kecil milik Liz Nadiah cukup ramai didatangi warga sejak dari seminggu yang lalu. Beruntung, Qinay cukup cekatan bertugas layaknya asisten untuk Liz Nadiah, meskipun gadis itu tak ada pendidikan apa pun dalam bidang medis, namun pelajaran kecil Liz Nadiah cukup tanggap ia pahami, juga waktu yang mulai membuatnya terbiasa.
Pasien terakhir, seorang wanita tua, baru saja meninggalkan klinik itu dengan menenteng sekantong kecil obat-obatan yang diberikan sang dokter--Liz Nadiah.
"Kak Nad, aku buatkan teh hangat." Qinay, gadis 22 tahun itu menawarkan. Nampan kecil berisi dua gelas teh, baru saja diletakannya di sebuah meja kecil yang disandarkan pada satu sisi ruangan. Aroma daun mint yang tercelup di dalamnya menyeruak berkelana di sekitaran.
"Iya, Nay, terima kasih." Liz Nadiah masih tampak sibuk. Stetoskop, tensimeter, dan sebagainya, tengah dirapikannya kembali pada tempatnya. Buku-buku data pasien juga lainnya ia tumpuk dengan rapi ke dalam laci meja kerjanya. Barulah setelahnya ia berjalan menuju di mana Qinay menaruh teh hangat itu.
Satu sesapan perlahan mengaliri tenggorokannya. Rasa manis jambu dari teh dengan taburan gula rendah kalori juga aroma menenangkan dari daun mint itu, cukup menjadi teman yang baik dalam pelepasan penat Liz Nadiah siang ini. "Sepertinya aku akan ketagihan dengan rasa teh ini," ucapnya seraya mengangkat sekilas gelasnya ke arah Qinay, dengan senyuman kecil yang membuatnya terlihat manis.
Qinay tersenyum menanggapi. "Kalau begitu aku tak perlu lagi menambahkan serbuk penggoda di dalamnya," guraunya terkekeh.
"Mungkin." Liz Nadiah membalas. "Tapi aku rasa, aku lebih suka yang menggoda."
Tawa Qinay menggema di seantero ruangan. "Untuk urusan menggoda, sepertinya aku harus mendatangkan Tuan Andromeda ke tempat ini."
Keduanya tertawa bersama-sama.
"Sayangnya dia terlalu menyebalkan untuk dijadikan pria penggoda!" Liz Nadiah berujar receh, masih dengan kekehannya.
"Tapi dia tampan!" Sepasang pipinya yang kini berisi, ditangkup Qinay dengan ekspresi gemas, membayangkan wajah tampan tak manusiawi milik Andromeda. Pria itu meskipun aneh dan menyebalkan, tapi sungguh terlalu keren untuk tak disukai. "Aaahhh, Sepertinya aku mulai gila, Kak Nad."
Berjalan menuju kursi kerjanya, Liz Nadiah menggelengkan kepala menanggapi kicau kasmaran Qinay yang tentu saja terlampau konyol. "Terus saja kau gila, Nay. Sampai kausadar, Andromeda sudah melemparmu ke puncak Himalaya."
"Kalau lemparan itu untuk ditangkap siluman tampan lainnya, aku tak keberatan," balas Qinay sekenanya.
"Kau ini."
Pintu yang menghubungkan bagian dalam klinik dan halaman rumah, dibiarkan menganga. Membiarkan angin bergelimang menyejukkan ruangan yang syarat dengan bau obat-obatan tersebut. Liz Nadiah dan Qinay masih asyik dengan obrolan ringan mereka.
__ADS_1
Sampai ....
"Permisi."
Seorang lelaki dengan kisar usia setara Liz Nadiah, berdiri di tengah ambang pintu. Sekilas membungkukan pundaknya, diiringi senyum sungkan, sangat sopan.
Liz Nadiah bergerak menghampirinya. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Begini, Dokter ... tuan saya sedang sakit. Tapi beliau menolak dibawa ke rumah sakit."
"Lalu?"
"Saya minta tolong pada Anda, Dokter. Untuk datang dan memeriksa keadaan Tuan saya di rumahnya."
Sebuah lagu milik Avril Lavigne, bertajuk 'I Will Be', disuarakan Zack Shangra lewat tuts piano di hadapannya. Berdenting gontai di antara keheningan.
Rambut man perm-nya nampak dibiarkan berantakan. Setelan piyama bergaris horizontal dengan paduan warna biru dan hitam, masih dikenakannya sedari malam hingga menjelang sore hari ini. Ia tampak kusut.
"Permainan jari Anda indah sekali, Tuan."
Suara itu membuat Zack Shangra terkesiap. Pikirannya yang sedari tadi merantau entah kemana, kembali dalam sekejap. Ia menoleh ke arah pintu ruangan yang sudah berdiri di ambangnya sosok seorang wanita. "Maaf, jika saya tidak sopan dan mengganggu Anda," kata wanita itu sungkan.
Zack Shangra bangkit dari tempatnya, lalu melangkah menghampiri wanita itu. Sesaat ditelisiknya, lalu tersenyum. "Apakah aku terlihat feminim?"
Wanita itu membalas senyum. "Tidak, tidak sama sekali, Tuan. Banyak penyanyi wanita yang menyanyikan lagu pria. Pun sebaliknya. Tadi itu keren sekali."
Senyum Zack Shangra sedikit lebih melebar. "Terima kasih atas pujiannya, dan ... terima kasih sudah datang ... Dokter."
__ADS_1
"Sama-sama, Tuan. Sudah seharusnya." Ada perasaan yang tak bisa dijelaskan Liz Nadiah dalam hatinya. Aura pria itu terlalu aneh, hingga membuatnya seolah terjebak dalam seseatu yang ... entahlah.
Ruangan itu cukup kelabu untuk bisa menangkap dengan jelas paras pria di hadapannya. Tak ada lampu dinyalakan di ruang kamar itu. Tirai-tirai tebal yang menjuntai menutupi jendela, masih dibiarkan tertutup tanpa celah. Hanya sebias cahaya yang menerobos masuk melalui ventilasi kubus di bagian atasnya memberi keremangan.
Di belakangnya, lelaki pekerja yang tadi menjemputnya, masih berdiri menunggu titah tuannya. Apakah ia harus keluar, atau tetap di sana sesuai permintaan Liz Nadiah yang merasa tak nyaman, jika ia dibiarkan berdua saja dengan Zack Shangra.
Gestur Zack Shangra mulai terlihat sesaat setelah ia duduk di atas ranjangnya, memerintah lelaki pesuruhnya untuk menyibakkan seluruh tirai agar Liz Nadiah merasa nyaman saat memeriksanya.
Setelah suasana ruangan itu terang benderang ....
"Dokter mau minum apa?" Zack Shangra menawarkan.
Tak ada jawaban.
"Dokter!" ulang pria itu.
Hening.
"Hallo, Dokter!"
Liz Nadiah masih membatu, kedua bola matanya terpaku pada wajah Zack Shangra--tak terusik.
"Nona, ada apa denganmu?!" Zack Shangra merubah panggilannya. Mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Liz Nadiah yang tiba-tiba bergeming berdiri di tempatnya, semenjak setelah semua tirai disibak, dan menampilkan dengan jelas wajah tampan pucat milik Zack Shangra, karena cahaya matahari telah memendar di seluruh ruangan.
"Nona!" Tepukan telapak tangan Zack Shangra cukup berhasil mengembalikan Liz Nadiah pada detik waktu yang tengah berputar. Namun tubuhnya melemas seolah kehilangan energi. Ia terhuyung ke belakang, yang kemudian ditangkap dengan sigap oleh Zack Shangra. "Nona, kau tidak apa-apa?" tanya pria itu cemas. "Kau! Cepat ambilkan air putih," titah Zack pada lelaki pesuruhnya, yang langsung mengangguk, lalu melanting dari tempat itu sesegera mungkin mengikuti perintahnya.
Liz Nadiah digandeng menuju tempat tidur yang ada di sana. Didudukkan di tepiannya dengan perlahan. Ia masih dalam keadaan sadar dengan mata terbuka. Namun tatapnya terlihat sendu, tak lama mulai membayang berkaca-kaca. Ia terus menatap Zack Shangra yang kini bertekuk lutut di hadapannya, tak lepas.
Tak ada kata yang terucap di antara keduanya. Zack Shangra kini bahkan ikut menatap Liz Nadiah dengan sorot tajam sulit diartikan, seolah terperangkap di dalam sebuah ilusi yang tanpa sadar tercipta begitu saja dalam dirinya. Pertanyaan demi pertanyaan batal terucap karena situasi aneh yang tercipta tiba-tiba itu.
__ADS_1
Keduanya membisu dalam irama beradu tatap yang pekat tak terpecahkan.