Liz Nadiah

Liz Nadiah
Tanpa Diduga


__ADS_3

Jika aku tahu caranya mencegah, aku pasti tak akan membiarkan perasaan ini tumbuh.


Jika aku tahu di dalam ruang itu ada jebakan, aku pasti tak akan memaksakan diriku menembusnya.


Perasaan ini terlanjur kuat mencengkramku.


Aku tak bisa melepaskan diri, aku tak bisa pergi.


Tapi melihat cintanya lebih besar padamu dari padaku, aku akan memaksa diriku untuk berbalik, lalu pergi walau kakiku terasa berat untuk melangkah.


Aku hanya berharap Tuhan menghapus perasaanku secepatnya.


Banyak hal di luar sana yang ingin kupastikan.


Nadiah ... selamat berbahagia.


Aku pergi.


^^^~Zack^^^


Tulisan dalam secarik kertas berwarna abu-abu yang lima menit lalu dibawa seorang perawat untuknya, diremas Liz Nadiah di dada dengan sepasang tangannya dengan kepala tertunduk dalam. Air matanya luruh menganak sungai. Hatinya begitu sakit membaca setiap goresan tinta yang dituang dan dikirimkan Zack Shangra tersebut.


Ia tak menyangka, perasaan terlarang di hati kakaknya itu begitu besar teruntuknya. Dan Zack begitu keras kepala. Pria itu bahkan tak menyinggung apa pun tentang persaudaraan mereka. Ingatannya benar-benar telah tertutup kabut yang menyesatkan.


Kenapa waktu begitu terasa cepat membalikkan semuanya? Dulu Kahfi bahkan sangat membencinya karena sebuah kesalahpahaman.


.....


Sepasang telapak tangan terasa hangat menyentuh pipi dan menyapu air matanya dengan lembut. Liz Nadiah mendongak menatapnya masih dengan derai-derai kepedihan yang menjadikannya nampak berantakan. "Andro."


"Dia akan baik-baik saja," kata Andromeda dengan suara berat namun terkesan lembut. Satu kaki ditekuknya di atas ranjang, dan kaki lainnya ia juntaikan begitu saja menyentuh lantai. Tubuhnya ia hadapkan lurus pada wanita yang kini telah sah menjadi intisari hidupnya--melengkapinya sebagai tulang rusuk yang akan menyertai bagaimana dan kemana pun tubuhnya bergerak. "Dia pria yang kuat," lanjut Andromeda.


Rasanya semua ucapan akan menjadi salah bagi Liz Nadiah. Ia tahu Zack luar biasa. Ia merasakan bagaimana pria itu melindunginya ketika tragedi mobil terjun disengaja itu terjadi.


Hangat punggung kekar Zack saat menggendongnya di tempat suram itu bahkan masih terasa di tubuh Liz Nadiah. Zack membawa kehidupan untuknya. Mengembalikannya ke pelukan Andromeda tanpa syarat. Dan kepergiannya, tentu terasa merajam seisi jiwa Liz Nadiah.

__ADS_1


Bukan memberi komentar untuk ucapan lelaki halalnya itu, Liz Nadiah malah semakin tenggelam dalam isak tangisnya.


Melihat demikian, Andromeda merasakan lain di ulu hatinya. Jika itu dikatakan sebentuk cemburu, apakah tidak berlebihan? Ia jelas tahu, apa, siapa dan sebatas apa pria itu untuk Liz Nadiah. Dan istrinya itu tentu menangisi keadaan layaknya seorang adik--bukan seorang wanita pada pria dengan perasaan tanpa ikatan darah. Andromeda menyakini itu.


Menepis perasaan konyol di kepalanya, direngkuhnya Liz Nadiah yang semula terduduk bersandar pada kepala ranjang, untuk dipeluknya. Mengusap-usap lengan atasnya dan mengecupi pucuk kepala wanitanya itu bertubi-tubi. Ia harus mengerti, ini tak akan mudah.


"Kau sudah cukup sehat. Dokter bilang, kau sudah bisa pulang," cetus Andromeda dengan suara pelan seraya mengelus-elus pipi istrinya dengan jari telunjuknya-- mengalihkan pembicaraan.


Liz Nadiah terperanjat, mendongakan kepalanya menatap wajah Andromeda meminta kepastian. "Apa itu benar?"


"Hmm." Andromeda mengangguk dengan rekah senyumnya.


Kabar itu berhasil merubah situasi. Tanpa menghitung cukup banyak detik jarum jam, Liz Nadiah langsung terlihat ceria karenanya. "Aku mau. Aku mau pulang!" ujarnya dengan semangat.


"Ya. Seminggu di sini, rupanya cukup membuatmu lupa bagaimana caranya bersemangat," ujar Andromeda seraya mengasak gemas kepala istrinya. "Padahal kau seorang dokter."


Liz Nadiah mendengus. "Dokter merawat, tidak dirawat!" hardiknya.


Andromeda terkekeh menanggapi. "Ya ya ya ... ya sudah, nikmati saja. Karena memang mulai sekarang ... peranmu bukan lagi untuk umum," imbuhnya seraya menarik dagu manis istrinya, menggilir manik matanya ke kiri dan ke kanan menatap lekat wajah oval yang saat ini menunjukkan ekspresi tak nyaman menerima perlakuannya. "... tapi untukku. Untuk aku seorang." Suara Andromeda terdengar lemah dan berat.


Terlihat mata indah Andromeda menatap bibirnya lekat, lalu mulai mengatupkan matanya setelah jarak itu benar-benar terkikis habis. Bibirnya dan Bibir Liz Nadiah kini telah saling beradu.


Mengikuti iramanya, Andromeda menarik tubuh ramping Liz Nadiah semakin rekat direngkuhnya. Satu telapak tangannya naik menahan tengkuk Liz Nadiah, untuk menciptakan posisi yang lebih intim.


Liz Nadiah membatu. Jelas situasi ini adalah pertama kali untuknya. Dan Andromeda melakukannya tanpa diduga.


Anehnya, ia menerima itu, bahkan sebelum dirinya mencoba berontak.


Perasaannya saat ini benar-benar tak bisa ia kendalikan.


Andromeda semakin memperdalam ciumannya. Melakukan gerak-gerak kecil di antara gelenyar yang mulai merambati tubuhnya. Ia menarik lidahnya untuk ikut berperan. Kepalanya meliuk-liuk mengikuti setiap pergerakan bibirnya yang jelas memperlihatkan kehandalannya.


Cukup lama bertahan dalam kekagetan, akhirnya Liz Nadiah bisa menerima pelatihan singkat suaminya itu, lalu mulai memperagakannya, mengimbangi permainan dengan turut aktif menggoyang-goyangkan lidahnya dengan mata terpejam--menikmati, walaupun masih terkesan kaku, dan belum seagresif lawan mainnya.


Andromeda melepas pagutan bibirnya, lalu tersenyum. Merasa senang telah membuat Liz Nadiah turut tenggelam dalam aksi liarnya. "Kau mulai nakal," katanya. "Kurasa aku akan gila jika terlalu di sini. Kita harus cepat pulang."

__ADS_1



Liz Nadiah memilih membersihkan diri sebelum mengistirahatkan tubuhnya. Ia masuk ke kamar mandi setelah Andromeda keluar dari kamarnya untuk menemui kedua orang tuanya di ruangan lain.


Ia dan Andromeda baru saja tiba di kediamannya beserta Momy dan Dady Andromeda dan juga Sean, yang turut mengantar kepulangannya dari rumah sakit setelah seminggu lamanya menjalani perawatan pasca tragedi mobil terjun itu terjadi.


Sebuah rumah sederhana yang hanya terdiri dari satu lantai dengan tiga buah kamar, dihadiahkan orang tua Andromeda untuk pernikahan mereka, di kota S.


....


Hanya beberapa menit saja Liz Nadiah bergelung dengan air beserta segenap rengrengannya di dalam kamar mandi.


Kimono mandi berwarna putih selutut kini dikenakannya percaya diri. Ia nampak santai saja. Karena merasa tak ada siapa pun di sana.


Setelah sibuk menggosok-gosokkan handuk ke kepalanya seraya berjalan, ia mulai duduk di depan meja rias yang berada di samping ranjang. Meraih sebuah hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Setelah rambutnya nampak terlerai-lerai tanpa gumpalan basah, Liz Nadiah meraih sebuah body lotion di meja yang entah sejak kapan telah tersedia lengkap dengan yang lain-lainnya. Ia mengganti hadapnya menyamping membelakangi ranjang, lalu menurunkan tubuhnya--nembungkuk untuk mengoleskan lotion yang telah ia tuang di telapak tangan, ke bagian kakinya.


Namun di saat bersamaan ....


Seketika Liz Nadiah terperanjat dan terbelalak, ketika tiba-tiba setungkai telapak tangan membantu kegiatannya--mengoleskan kecantikan itu di betis jenjangnya dengan perlahan tanpa diduganya.


"Biar aku saja," suara lembut milik pria yang tak lain adalah Andromeda.


Telah menegakkan tubuhnya karena kejutan itu, Liz Nadiah menatap pria itu tak percaya. Sejak kapan dia masuk ke dalam kamar? Kenapa aku sampai tak menyadarinya?


Andromeda sama sekali tak mendongakan kepalanya. Ia masih asik mengusap-usap betis mulus istrinya. Menebar lotion itu hingga tak ada setitik pun bagian kulit putih itu yang terlewat.


Setelahnya ....


Botol pipih bergambar bengkoang dan juga mangir berisi lotion itu diletakan Andromeda ke tempatnya kembali--meja rias. Demikian, otomatis tubuhnya terangkat menegak. Dan ketika itulah matanya menangkap keindahan yang sebenarnya.


"Aku baru tahu, rambut istriku seindah ini."


__ADS_1


__ADS_2