Liz Nadiah

Liz Nadiah
Kembali Utuh - End


__ADS_3

Akad nikah Zack dan Shinar tengah dilangsungkan saat ini, dengan sebuah pesta yang cukup megah di hotel peninggalan Diraga Madewa yang kini dikelola penuh oleh Zack Shangra.


Kebahagian direngkuh mereka dalam kebersamaan yang menembus hingga ke cakrawala. Langit cerah meniupkan angin di antara sesaknya lautan manusia yang tengah menikmati kemeriahan acara pesta.


Pasangan pengantin--Zack dan Shinar nampak berkilau di tengah keramaian. Senyum semua orang tak henti berpendar seolah tertular intisari kebahagiaan yang menyebar di sekitarnya.


Tak terkecuali Andromeda dan Liz Nadiah, yang juga terlihat serasi dengan kostum senada mereka. Cukup mencubit rasa iri semua pasang mata yang melihat keduanya. Terlebih ketampanan Andromeda yang siapa pun pasti terpukau dibuatnya.


Namun senyuman pasangan suami istri itu terhenti ketika sosok Tirta Patih berjalan dengan wajah cemas menghampiri keduanya. "Andro, sepertinya aku harus pulang. Pembantuku menelpon, ibuku sakit," ujarnya dengan selipan wajah cemas.


Kening Andromeda nampak berkerut dalam. "Ibu katamu?"


Tirta Patih mengangguk. "Iya, ibuku!"


"Bukankah ibumu ...?"


Tirta tersenyum. "Kau benar. Tapi aku memiliki ibu lain yang maaf ... belum sempat kuceritakan padamu," ungkapnya sedikit dengan rasa bersalah. "Dia baru kuajak untuk tinggal bersamaku sebulan yang lalu. Setelah sebelumnya ia kutempatkan di rumahku yang lain di luar kota."


Walaupun cukup terkejut, Andromeda tetap menerima. "Baiklah. Kalau begitu kenalkan aku padanya."


Tirta kembali tersenyum seraya menepuk sekilas pundak Andromeda. "Kutunggu kedatanganmu besok bersama istrimu. Aku yakin ibuku pasti senang mengenal kalian."


"Ya, bahkan akan kugelitiki ibumu sampai ia tertawa-tawa."


Tirta terkekeh menanggapi celoteh Andromeda. "Baiklah. Akan kutunggu!" katanya. "Kalau begitu aku permisi. Nadiah, jaga kandunganmu. Jangan biarkan Andro menunggangimu terlalu kuat!"


Liz Nadiah yang sedari tadi hanya diam sebagai pendengar, kini memandangi Tirta dengan tatapan tak paham.


"Aku menari balet, bukan bermain basket!" Andromeda menyela sekenanya.


"Hahaha ...!"




Mobil Andromeda telah terparkir di halaman hijau kediaman Tirta Patih.


Sesuai janjinya, ia datang bersama Liz Nadiah untuk menjenguk ibunya Tirta yang katanya sedang sakit itu.


Belum sampai pasang kaki sejoli itu naik ke atas teras berlantai kramik biru milik rumah Tirta tersebut, pintu telah tersibak lebih dulu.

__ADS_1


Tirta Patih menyembul dengan senyumnya sebagai penyambutan. "Kukira kau berbohong!"


"Aku bukan kau yang selalu menyembunyikan kartu di balik bajumu saat berjudi." Andromeda menghardik ringan.


"Yayaya ...." Merasa tak akan menang, Tirta hanya mengangguk-angguk mengalah saja. "Ayo masuk."


Andromeda dan istrinya lalu mulai melangkah mengikuti Tirta yang berjalan lebih dulu di depannya memasuki rumah.


Ruang demi ruang mereja lewati.


Sampai ....


"Itu ibuku," kata Tirta mengarahkan telunjuknya pada seorang wanita yang terbaring terpejam di ranjang dalam sebuah kamar yang baru saja mereka masuki.


Saat sejurus pandangnya menangkap sosok itu dengan jelas, kening Liz Nadiah terlihat berkerut--mengamati. Lalu seolah digerakkan oleh angin, wanita hamil itu melangkah gamang mendekati ranjang, tanpa kedip. Ekspresinya pun nampak berubah aneh.


Andromeda yang belum sempat secuil pun kata menyahuti perkataan Tirta, kini memasang wajah heran menatap Liz Nadiah.


Tak terkecuali Tirta yang turut tercenung melihat istri sahabatnya seolah menyongsong sesuatu yang dikenalinya.


"Ibu ...."


"Ibu ...."


Andromeda dan juga Tirta melangkah maju menghampiri Liz Nadiah.


"Sayang." Andromeda merangkul pundak istrinya, seraya ditelisiknya ekspresi istrinya itu yang tiba-tiba berubah sendu. "Sayang kau kenapa?"


"Andro ... aku mengenali wajah itu," ujar Liz Nadiah masih menatap lurus wajah wanita yang tengah tertidur di atas ranjang besi di hadapannya.


"Sayang, apa maksudmu?" tanya Andromeda lagi belum mengerti.


Tirta Patih mengambil posisi berdiri di seberang keduanya, di samping lain ranjang yang sama-sama mereka hadapi. "Nadiah, apa maksudmu ... kau mengenal Ibuku?"


"Ya!" Liz Nadiah menyela cepat, menatap tajam Tirta Patih dengan mata berkaca merah. "Dia ibuku! Bukan ibumu!"


Satu yang membuat Liz Nadiah meyakini itu ialah, luka goresan berwarna putih di pelipis wanita itu, yang jelas masih dia ingat bentuk dan ukurannya. Terlebih secara garis wajah, hidung kecil tinggi, juga alis lebatnya, persis menyerupai sosok ibunya secara jelas--Galuh Aisyah. Hanya mata yang perlu ia pastikan satu poin lagi.


Andromeda terperanjat sangat, pun dengan Tirta yang bahkan hingga memundurkan tubuhnya saking terkejut. Kini tatapan keduanya terjurus lurus ke arah wajah Liz Nadiah.


"Nadiah ... kau terlalu lelah, Sayang." Mencoba menenangkan istrinya, Andromeda jelas merasa tak enak dengan sahabatnya. Sedangkan Tirta masih membungkam tanpa sepatah kata pun menimpali. Ia masih memandangi Liz Nadiah dengan wajah sulit dideskripsikan.

__ADS_1


"Nad-Nadiaah ...."


Kini sosok-sosok yang berdiri itu dibuat terperanjat ketiga-tiganya.


Wanita yang terbaring itu telah membuka matanya lebar-lebar, walaupun terlihat sayu dan pucat. "Apa benar kau Nadiah, Nak?" tanyanya dengan suara parau.


Liz Nadiah mendekatinya, kemudian menurunkan tubuhnya duduk di samping wanita itu. "Iya, aku Nadiah, Liz Nadiah!" akunya dengan suara serak di sela tangis yang tiba-tiba merebak luluh lantak. Diamatinya sepasang mata wanita tua itu untuk melengkapi poin akhir keyakinannya. "Apakah ibu ... Galuh Aisyah?"


Wanita itu nampak tersentak. Lalu tanpa berpikir lagi, ia menganggukan kepalanya cukup cepat. "Iya, Nak!" jawabnya teguh. "Dan kau Nadiah ...? Kau benar-benar Nadiah, anakku?!"


Dengan anggukkan teriring tangis yang menderas, Liz Nadiah menyahuti lagi, "Iya. Aku Nadiah, Ibu ...!"


Telapak tangan Galuh Aisyah merayap meraba pipi Liz Nadiah yang telah basah bermandi air mata. "Wajahmu ... semakin mirip ayahmu. Kau sangat cantik, Nak!"


Mendengar itu, tak serta merta, Liz Nadiah menghambur memeluk Galuh Aisyah dengan tubuh sedikit membungkuk. "Akhirnya aku menemukan Ibu ...!"


...o--o...


...Cerita Tirta Patih - Galuh Aisyah...


Galuh Aisyah ditemukan Tirta Patih di kediaman seorang pria bernama Risman yang menjadi target buronan kepolisian terkait banyak kejahatan yang dilakukan pria itu, sembilan tahun lalu.


Risman tak lain adalah mantan kekasih Galuh Aisyah sebelum ia menikahi Shada Yasin. Dan pria itu juga yang menjadi penyebab kenapa Liz Nadiah dibiarkan Galuh mengikuti Jaya Purnama ke Kota S, sebelas tahun silam.


Risman mengancam Galuh setiap saat--memantau kehidupan wanita itu tanpa celah, karena obsesi ingin memiliki yang kuat, membuatnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan wanita itu kembali.


Jika Galuh tak mau mengikuti keinginannya untuk ikut bersamanya, maka Liz Nadiah akan ia habisi sebagai gantinya. Merasa tak ada pilihan, Galuh akhirnya mengalah mengikuti Risman dan menerima dengan terpaksa pinangan pria itu sebulan setelah Liz Nadiah berada di Kota S.


Kenyataan lainnya ... ternyata Risman lah yang juga membuat Shada Yasin meregang nyawa di tengah lautan lepas, setelah merusak bagian mesin perahu yang ditumpangi ayah kandung Liz Nadiah tersebut.


Dan Tirta Patih ... entah perasaan semacam apa yang saat itu dirasakannya, ia membawa Galuh Aisyah pulang setelah puas kepolisian memintai keterangan dari wanita itu. Galuh dinyatakan bersih tanpa bersalah dan tanpa terlibat apa pun atas tindak-tanduk kasus kriminal yang dilakukan Risman.


"Kelembutannya mengingatkanku pada Ibu."


Hanya sebait kata itu, yang akhirnya menggerakkan hati Tirta untuk mengangkat wanita tua sebagai pengganti sosok ibunya yang telah lama tiada.



Kini lengkap sudah kebahagian Liz Nadiah di tengah- keluarga utuhnya. Selain memiliki seorang suami yang luar biasa sempurna dari segala sisi, ia juga memilki dua sosok malaikat yang memeluknya penuh kelembutan--Galuh Aisyah dan Muana. Juga tentu saja .. dua sosok kakak laki-laki yang luar biasa hebat teruntuknya--Zack Shangra dan lainnya--Tirta Patih. Dilengkapi Shinar, Damar dan satu yang tengah ditunggu-tunggu kehadirannya ... malaikat kecil di dalam kandungan Liz Nadiah sendiri.


__ADS_1


__ADS_2