
"Aku akan membuatmu melihatku kembali Andromeda!"
Zack Shangra hanya tersenyum geli seraya berjalan ke arah Jennefit Moon yang terus mengumpat kekesalan hingga mobil Andromeda berlalu meninggalkan tempat itu.
Dengan kedua tangan terselip di kiri dan kanan saku celananaya, ia bertanya ingin tahu, "Jadi dia pria yang dulu gagal menikah denganmu?" Melongokan tipis wajahnya menatap ke arah pintu yang masih menganga.
"Iya, Zack!"
Senyum Zack Shangra bertambah lebar. "Sayangnya dulu aku tak menyaksikan drama konyolmu dengannya itu."
Jennefit mendengus. "Setidaknya sekarang bantulah aku!" Tak luntur kecantikannya walau bibir merah itu dibuatnya mengerucut.
"Berusahalah lebih keras, Adik Kecil," ucap Zack Shangra, sekilas mengasak kepala Jennefit, lalu melenggang begitu saja menuju ke arah tangga rumah besarnya itu.
"Zack!!" Dengan hentak kesal, Jennefit Moon berlari menyusul pria itu. "Bantu aku!"
Tiga jam kemudian ....
Lebih dari delapan buah mobil mewah telah memenuhi pelataran halaman rumah Zack Shangra, yang hanya ditinggalinya sesekali saja itu.
Entah dari mana dan kapan datangnya, atau semula di mana mereka disembunyikan, belasan wanita dengan beragam busana minim dan riasan tebal di wajahnya, telah berdiri berjejer di sebuah ruangan besar yang terletak di samping bangunan utama rumah baru Zack Shangra. Senyuman termanis menjadi jurus andalan mereka untuk mengemban tugas kotornya acapkali.
Pria-pria berjas dengan ragam postur juga usia--para pemilik sejumlah mobil itu, telah santai di posisinya mengisi sofa-sofa yang seolah telah disiapkan. Dengan seringai dan kilatan penuh nafsu, pria-pria itu memilih satu atau bahkan lebih dari sederetan wanita setengah telanjang yang akan mereka jadikan teman bersenang-senang malam ini.
Tawa manja para wanita, atau huhuhaha pria-pria hidung macan itu, terdengar riuh saling berbalas sahut, seolah saling melengkapi. Belasan botol khamar kualitas tinggi, telah berserak di atas meja, men-sponsori kegiatan haram mereka.
"Selamat bersenang-senang, Tuan-Tuan." Mercy, wanita setengah baya dengan makeup tebal dan gaun ketat leopard, datang menyapa mereka. Ia berperan sebagai pengurus atau katakan saja ... Moechikari, di tempat itu.
"Terima kasih, Mercy. Aku sangat senang. Semua wanita di sini berkelas." Satu pria setengah bule yang diapit dua orang wanita, berseru dengan wajah puas. "Siapkan kamar terbaik untukku saat ini juga. Minni Meddi-ku telah menegang sejak tadi."
Mercy tergelak menanggapi. "Ouh, baiklah, Tuan Meddison. Akan segera kami siapkan." Telapak tangan Mercy terangkat memberi isyarat pada seorang pria kurus di belakangnya.
Pria itu mengangguk tanpa kata, lalu melenggang cepat menjalankan titah sang majikan.
__ADS_1
"Saya senang jika Anda semua puas. Saya mendatangkan mereka dari berbagai wilayah, dan sudah pasti melalui seleksi ketat, soal kualitas pelayanan, untuk memuaskan Anda semua." Kalimat Mercy disambut senyum-senyum jahannam oleh pria-pria itu. "Saya juga punya satu lagi aset. Dia masih murni. Baru didatangkan tadi siang."
Para hidung belang itu tampak tegak bersemangat.
"Tunjukkan dia pada kami, Mercy."
"Baik." Mercy tersenyum. Sepasang kakinya mulai berayun, berjalan menuju sebuah sofa kosong lalu mendudukinya dengan satu kaki terangkat menyilang. "Tapi saya ingatkan dulu, pada Tuan-Tuan semuanya. Untuk yang satu ini ... harganya berlainan dengan yang biasa."
"Aku siap membayar berapa pun asalkan dia benar-benar masih perawan," imbuh salah satu dari pria itu antusias.
Berbanding terbalik, wajah masam ditunjukkan para wanita pelayan nafsu. Ucapan Merry seolah menjatuhkan diri mereka yang mungkin merasa telah total dari segala sisi. Lalu tiba-tiba datang anak baru yang akan berdiri sombong sebagai ratu dengan harga tinggi. Yang benar saja!
Pintu kembar dengan handle mewah keemasan di bagian kanan ruangan, perlahan tersibak. Menyembulkan satu orang pria kemayu juga seorang gadis manis dalam gandengannya. Sehelai gaun pendek yang mengekpos jelas belahan dadanya, membalut tubuh si gadis. Ia masih tertunduk, jelas terlihat enggan dengan pemandangan riuh di hadapannya.
Gadis itu bahkan tak sanggup mengangkat wajahnya walau sekilas. Ini terlalu asing untuk dunianya.
Tuhan, tolong aku! pekiknya dalam hati di antara ketakutannnya.
Pasang-pasang mata milik para pria itu, berkilat menatap gadis itu ... lapar.
Semua jelas menginginkannya. Shinar masih nampak lugu dan murni. Namun tak semua pria di sana bisa memilikinya malam ini. Seorang pria yang paling muda di antara mereka mencetuskan, "Dia milikku."
"Cepat cari dia!!" teriakan itu menggema hampir memenuhi seluruh bangunan.
"Ada apa, Mercy?!" Masih berbalut kimono tidurnya, Zack Shangra berseru seraya berjalan memasuki bagian bangunan yang biasa digunakan untuk kegiatan menyimpang ... salah satu bisnis gelapnya.
"Nolan marah, Zack. Shinar melarikan diri!" Wajah kesal Mercy menggilas udara sejuk pagi ini.
Alis Zack Sangra saling bertaut. "Shinar?"
"Iya, dia gadis baru yang dijual ibunya padaku, dua hari lalu."
__ADS_1
Mata indah Zack Shangra kini berganti memicing. "Kenapa aku tidak tahu?"
Mercy terlonjak. "A-aku ...."
"Bukankah sudah jelas peraturannya. Tidak ada pemaksaan dalam bisnis ini. Terutama dalam perekrutan wanita-wanita itu. "Dengan kilat tajam tatapnya, Zack Shangra menegaskan.
"Tapi dia dijual oleh ibunya sendiri, Zack!"
"Itu bukan bagian!" hardik Zack Shangra. "Kaupikir jika ibunya yang menjual, maka anaknya juga siap, huh?!" teriaknya lagi. "Sekarang kaulihat ... gadis itu melarikan diri! Bagaimana kalau dia melapor kantor polisi, dan namaku akan tercemar?!!"
Mercy terdiam. Diam yang berisi tabuh kencang di sekujur tubuhnya. "A-aku ...."
Belum sempat Mercy melanjutkan kalimat kakunya, pria kurus asistennya datang tergopoh. "Shinar melarikan diri ke arah desa, Nyonya."
Mercy terlonjak tanpa lagi menggubris Zack Shangra yang masih mengharap penjelasan atas kelakuan tololnya. "Benarkah? Dari mana kautahu?"
"Seseorang di ujung sana melihatnya berlari menapaki jalanan menuju desa tadi malam."
"Baiklah. Kita harus mendapatkannya sebelum Tuan Nolan menghancurkan semuanya," ujar Mercy tergesa, tak sadar dengan ucapannya.
"Apa maksudmu, Mercy?!"
Pertanyaan Zack Shangra menghentikan langkah cepat wanita itu, spontan. Mercy menoleh perlahan pada Zack Shangra. Wajahnya nampak kebingungan. Bodoh!! Merutuk dirinya sendiri dalam hati.
Bagaimana ia harus bercerita?
Akhirnya dengan kaku dan terbata, Mercy menjelaskan tentang isi ancaman perusakan yang dicetuskan Nolan, pria pelanggan di rumah bordil itu, dini hari tadi setelah menyadari Shinar melarikan diri dari kamarnya, sebelum ia berhasil menggagahi gadis itu. Obsesi yang besar atas Shinar membuat Nolan tak bisa menahan diri untuk tak mengeluarkan jiwa iblis yang bersembunyi di balik kelembutannya.
"Bodoh!!" Teriakan Zack Shangra menggema. Menghasilkan ketar-ketir ketakutan di wajah Mercy dan lainnya. "Cepat cari wanita itu!! Kalau tidak ... kalian semua ... akan berakhir dalam pusara!" Kalimat terakhir diucapkannya dengan mata tajam berkilat dan nada menekankan.
"Iya, iya, Zack. Kami akan temukan dia!"
Berlari kocar-kacir, manusia yang berjumlah empat orang itu berhambur saling dorong meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Bisa-bisanya wanita loreng itu bertindak tanpa persetujuanku!"
...---...