Liz Nadiah

Liz Nadiah
Keraguan


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Andromeda mulai merangkak perlahan, meninggalkan tempat di mana ia menjemput Liz Nadiah, setelah berpamitan dan mengucapkan berkali-kali terima kasih pada pria muda yang telah menolong Liz Nadiah saat dalam pengejaran anak-anak buah Diraga, pagi buta tadi.


Sedikit tentang pemuda itu; Namanya Mufti. Ia adalah seorang pemuda desa pencari kayu bakar yang berasal dari desa di hulu sungai. Pemuda itu menyaksikan dengan waswas, bagaimana para penjahat itu mengayun-ayunkan pistol rakitan di tangan mereka seraya berkeliaran dengan gestur mencari-cari.


Ia bersembunyi di balik sebuah pohon. Sejauh matanya memandang, memperhatikan pria-pria berbadan kekar itu, matanya menangkap sosok seorang wanita yang tak lain adalah Liz Nadiah, merunduk ketakutan dibalik rumput liar tak jauh di depannya. Dengan itu ia menyimpulkan; Bahwa wanita itu adalah orang yang mereka cari. Mengikuti rasa kemanusiaannya, Mufti lalu memutuskan menolong wanita itu--mengamankan ke kediamannya.


...-...


Perjalanan mereka sudah cukup jauh, namun tak satu pun kata terlontar dari mulut masing-masing, selain suara mesin mobil yang berderu menjadi latar keheningan.


Andromeda merasa, ini bukan waktu yang tepat untuk menanyai apa yang telah terjadi pada Liz Nadiah selama ia diculik. Juga bagaimana bisa gadis itu melarikan diri. Biarkan tenang dan mengistirahatkan pikirnya yang mungkin masih dalam keadaan syok, setelahnya baru ia akan mengupas semuanya.


Dan Liz Nadiah, ia bukan hanya syok, melainkan juga merasakan sakit yang teramat di ulu hatinya. Mengingat keadaan Muana, terbentur dengan Kahfi yang kini bahkan tak ingat siapa dirinya. Lalu jika seperti ini, pada siapa ia akan meminta pertolongan untuk membebaskan Muana?Rasanya tak akan cukup jika hanya melibatkan polisi. Orang selicik Diraga, pasti akan dengan mudah mengelabui aparat, atau menjejali mereka dengan uang berlimpah. Selebihnya pria tiran itu pasti akan terbebas dengan mudah tanpa jeratan hukum.


Di tengah seteru pikiran dan hatinya, Liz Nadiah melirik pada pria di sampingnya.


Andromeda!


....


Benar, Andromeda! Kenapa ia bisa lupa, pria itu kini berada bersamanya. Mungkin ia bisa membantunya, mengingat perannya yang cukup berpengaruh di kota itu, sebagai dewanya bisnis perkebunan.


Dengan sekuat hati, Liz Nadiah memantapkan niatnya--bertaruh pada harapan. Semoga pria itu bersedia membantunya. Ia membuka suaranya walaupun terdengar ragu, "Tuan Andro."


Mendengar suara laun itu, Andromeda menoleh ke arahnya. "Ada apa?" tanyanya dengan wajah sedikit memperlihatkan kecemasan. "Apa kau lapar?"


Liz Nadiah menggeleng cepat. "Tidak, bukan itu," sanggahnya.


"Lalu?"


"Umm ...." Cukup ragu mengutarakan apa yang ingin disampaikannya. Jari-jemarinya saling meremas resah. Alhasil, Liz Nadiah malah bungkam seolah kelu lidahnya untuk bergerak.


Andromeda masih menunggu. Namun melihat kediaman gadis itu, ia memutuskan .... "Sebentar, aku cari tempat yang nyaman dulu, agar kau bisa berbicara lebih leluasa tanpa terganggu stir mobilku."


Liz Nadiah hanya diam. Keraguan itu berubah menjadi rasa tak nyaman. Ia tak terlihat mengangguk atau pun menggeleng menanggapi Andromeda yang saat ini tengah celingukan ke kiri dan kanan, mencari sebuah tempat yang dikatakannya tadi, seraya terus memutar stir-nya.

__ADS_1


Tak lama, sepasang mata Andromeda menangkap sebuah plang penunjuk arah bergambar aneka ragam makanan, di tepi jalanan di depan sana.


Sebuah kafe. Letaknya lima puluh meter di dalam sebuah gang. Cukup nyaman, dengan konsep alam terbuka. Kursi-kursi besi dengan meja yang tergabung dengan payung bercorak pelangi di tengahnya, tersebar-sebar di beberapa titik. Terdapat sebuah danau kecil buatan di sudut area. Sangat pas dipadukan dengan bambu-bambu Jepang yang berjejer terpisah-pisah membentuk kelompok--mengelilingi sebagian tepinya.


Satu set kursi dipilih Andromeda.


Liz Nadiah, seperti kemarin ketika di restoran Arab--mengambil posisi berseberangan dengan pria itu. Dua kursi lainnya jelas terabaikan.


Seorang pelayan wanita baru saja meletakan makanan dan minuman yang telah dipesan Andromeda sesaat yang lalu. Dua gelas dingin minuman jeruk, juga dua porsi curry puff singapore berukuran medium isi tuna, masing-masing dua buah di tiap porsinya, lengkap dengan rawit tua tertabur di atasnya.


"Makanlah dulu," kata Andromeda. "Setelah itu, kau boleh melanjutkan apa yang tadi ingin kaubicarakan di dalam mobil."


Liz Nadiah mengangguk menyetujui. Tak ada alasan untuknya menolak. Sepotong ubi rebus yang dimakannya di rumah Mufti, tak cukup membuat perutnya kenyang.


Andromeda tersenyum melihatnya. Liz Nadiah nampak lebih apa adanya. Terlihat polos, tanpa mati-matian menjaga image menutupi sifat sebenarnya, seperti yang selalu ditunjukan kebanyakan wanita yang pernah dikenalnya sejauh ini.


Tak lama setelahnya.


"Sekarang coba kaukatakan."


"Tidak usah ragu. Katakan saja," kata Andromeda lagi, melihat Liz Nadiah yang masih memasang ekspresi gamang.


Sejenak menarik lalu menghembuskan napasnya, Liz Nadiah berusaha menepis keraguannya. Setelah merasa mantap, ia mulai membuka mulutnya, berkata, "Bisakah kau membantuku sekali lagi, Tuan Andro?"


Kening Andromeda sedikit berkerut. "Tolong?" Liz Nadiah mengangguk pelan. "Tolong apa?"


"Tolong bantu aku membebaskan ibuku."


Andromeda menurunkan kedua sikutnya. "Ibumu?" tanyanya merevisi.


"Iya, Tuan."


"Maksudmu?" Andromeda jelas masih belum paham.


"Ibuku ditawan di bangunan tua di tepian bukit, bersama belasan orang lainnya," ungkap Liz Nadiah dengan wajah sedihnya. Tatapnya terbentur nanar pada sebuah titik. Pikirnya mulai kembali melayang pada wajah sendu Muana. Sungguh ia merasa menyesal meninggalkan wanita itu di tempat busuk yang sungguh tak layak--bahkan jika dibandingkan dengan penjara di rumah tahanan negara. Dan bodohnya, sekarang ia malah terduduk manis dengan perut kenyang di tempat ini.

__ADS_1


"Ditawan?" Andromeda semakin mengerutkan wajahnya keheranan. "Apakah tempat itu juga tempat yang sama di mana para penjahat itu menahanmu?"


"Benar." Liz Nadiah kembali memindahkan fokusnya pada pria itu. "Aku tidak sempat menceritakannya padamu tadi di telpon, karena mendadak jaringan di tempat Mufti memburuk."


Andromeda terdiam sejenak, lalu kembali bertanya, "Apa kau mengenali, siapa orang-orang yang telah menculikmu?"


Tatapan Liz Nadiah kembali menerawang, membentuk bayangan wajah Diraga Madewa yang sungguh menjijikan baginya. "Aku tidak mengenalnya, tidak juga tahu namanya. Tapi ...."


"Tapi apa?" Andromeda menyela tak sabar.


"Aku tahu siapa dia," kata Liz Nadiah lagi, mengingat jelas, bagaimana Diraga mengakui dengan gamblang, bahwa ia adalah ayah angkat dari kakaknya, Kahfi Albareeq, atau ... Zack Shangra.


"Bisa katakan padaku lebih jelas?"


Liz Nadiah menatap sontak wajah tampan di depannya. "Kakakku ... dia adalah ayah angkat dari kakakku."


"Kakak?" Tentu saja Andromeda belum bisa memahaminya. Wajahnya berhias kernyitan yang semakin menebal. Rasanya terlalu berbelit untuk mengurai penjelasan yang berbentuk kalimat-kalimat ambigu seperti itu. "Aku masih tidak paham," kata pria itu seadanya.


Bukankah dia tidak memiliki siapa pun di kota ini? Tentu saja informasi itu ia dapatkan dari Sean, yang telah diutusnya untuk mengorek kehidupan pribadi gadis di depannya itu--mungkin sebulan yang lalu.


Dan anehnya, selama Sean menyelidiki, tak satu pun warga desa mengetahui masa lalunya. Jadi yang ia dapatkan ... hanyalah Liz Nadiah yang sebatang kara, selain Qinay yang kini menemaninya.


"Iya. Kakakku ... Kahfi Albareeq," ungkap Liz Nadiah dengan suara bergetar. Cukup menyakitkan membayangkan wajah pria itu. Ia menunduk, terlihat pundaknya berguncang kecil, tanda tangisnya mulai merebak mengikuti perasaannya. "Tapi lelaki tua yang menculikku itu ... telah merubah kakakku menjadi orang lain."


Air mata itu jelas melukiskan sebuah luka ... juga sesal. Andromeda bisa menangkap itu. "Bagaimana bisa begitu? Lalu di mana kakakmu sekarang?"


"Kakakku hilang ingatan. Dia bahkan tak mengenaliku. Padahal aku sangat berharap, dia bisa membantuku membebaskan ibunya."


"Ibunya?" Lagi-lagi Andromeda dibuat terperangah. Terlalu pening mencerna setiap bait kalimat Liz Nadiah. Bukankah tadi dia bilang ibuku?


Selanjutnya, Liz Nadiah menceritakan yang sesungguhnya pada Andromeda, tentang siapa Muana, mengingat pria itu cukup menunjukkan kebingungannya. "... Dan saat ini, Kahfi menggunakan nama ... Zack Shangra sebagai indentitasnya. Nama yang diberikan ayah angkatnya."


Pasang mata Andromeda membesar seketika. "Zack Shangra ...?" ucapnya mengulang dengan raut tak percaya. Apakah nama itu ... adalah milik Zack Shangra yang aku kenal?"


^^^••••^^^

__ADS_1


__ADS_2