
Suasana di gedung olahraga itu cukup sesak.
Ratusan orang berbondong-bondong memadati balkon penonton yang dibuat melingkar, mengelilingi arena tanding yang terpasang tepat di bagian tengah.
Nampak dua kubu dengan seragam berbeda mengisi sederetan kursi di bagian paling depan--bersebrangan-- terhalang arena tanding.
Satu kubu mengenakan seragam serba hitam, menamai padepokan mereka dengan sebutan 'Rose Gold'. Sedangkan kubu lainnya yang tak lain adalah kubu di mana Liz Nadiah berada di antaranya sebagai pendukung--berkostum beladiri putih, menamai perguruan mereka dengan nama 'Bulan Bintang', mengikuti lambang yang acapkali bertengger di puncak kubah masjid.
Hari ini adalah hari penentuan--final. Di mana salah satu perguruan akan keluar sebagai pemenang, dan lainnya berada di peringkat setelahnya. Dan yang akan bertanding hari ini adalah dua kubu yang telah berhasil menumbangkan perguruan-perguruan lainnya di babak sebelumnya. Keduanya dipertemukan setelah berhasil menjadi juara klasemen di tahap pertemuan sesuai pembagian yang diatur oleh pihak penyelenggara.
Setiap kubu menurunkan lima orang Pilih Tanding, yang sudah dipersiapkan guru-guru mereka. Setiap babak mempertandingkan satu lawan satu. Jika salah satu kalah, maka akan diturunkan pemain lainnya untuk meneruskan, yang berarti mengurangi jumlah Pilih Tanding dari yang telah dipersiapkan setiap kubu. Dan begitu seterusnya hingga menghasilkan yang terkuat--sebagai pemenangnya.
Namun sepertinya ada masalah dari pihak Bulan Bintang. Dua orang petarung andalan mereka belum tiba di tempat itu. Keduanya berjanji akan datang secepatnya karena memilih pergi dari tempat berbeda--bukan dari Padepokan.
Bait-bait sambutan telah terdengar dari tiga orang berlainan usia, yang tentu saja merupakan para petinggi dari turnamen tersebut.
Sekelompok pemusik juga telah tampil sebagai penyemangat.
Gus Ammar masih nampak gusar. Sepasang matanya terus mengamati lorong yang entah kapan akan memunculkan sepasang anak didik andalannya. Yan dan Imran.
Dan saat ini, waktu telah menyeret pada sesi yang ditunggu-tunggu semua orang yang ada di sana.
Masing-masing satu orang Pilih Tanding dari dua perguruan pelaku final, telah diturunkan ke arena tarung.
Musik degung telah memenuhi seantero gedung sebagai pelengkap.
__ADS_1
Kuda-kuda telah kokoh terpasang di dua pasang kaki di atas arena. Lalu tanpa banyak berbasa-basi, kedua petarung itu telah saling bergelut mengeluarkan jurus masing-masing, hingga menimbulkan bunyi berdebug yang memacu adrenalin.
Semua tatap diiringi sorak sorai cukup membuat pertandingan terasa semakin sengit.
Berlainan dengan itu, sepasang mata intens mengamati sebuah pemandangan yang tak terkait sama sekali dengan pertandingan.
"Nadiah juga ada di sana," gumam orang itu.
Samwise.
Pria yang tak lain adalah gitaris dari salah satu band ternama di tanah air itu ternyata juga termasuk salah satu Pilih Tanding yang akan meramaikan arena tarung. Kostum beladiri yang ia kenakan adalah berwarna hitam, yang itu artinya, dia adalah pihak lawan yang akan bertanding menghadapi perguruan yang dipimpin oleh Gus Ammar--Bulan Bintang.
"Kenan harus tahu ini." Terlihat ia mengambil ponselnya yang tersusup di dalam salah satu sekat tasnya. Lalu menghubungi Kenan Lingga melalui beberapa bait pesan. Juga sebuah gambar yang baru saja ia ambil dari kejauhan. Karena tak memungkinkan melakukan panggilan telpon di tengah gemuruh sorak sorai penonton. Terlalu sulit untuk bisa menangkap hanya satu suara saja, terlebih hanya dengan mengandalkan jaringan yang tak sejelas bercakap secara langsung.
Samwise sengaja memposisikan dirinya sedikit ke belakang, agar Liz Nadiah tak sampai menangkap sosoknya. Kecuali nanti--saat namanya dipanggil untuk naik ke atas arena. Itu pun jika ia kebagian jatah tanding.
....
BUG
"Satu! ... dua! ... tiga!"
Hitungan terakhir seorang pria yang berlaku sebagai ... anggap saja wasit, membuat sekumpulan orang yang di mana ada Liz Nadiah juga Gus Ammar di antaranya, terperanjat, berdebar, kemudian lesu. Satu orang Pilih Tanding andalan mereka telah tumbang di atas arena, lalu dinyatakan gugur sesaat setelahnya. Pihaknya menyayangkan dengan kalut, termasuk Liz Nadiah.
Setelah menyisikan andalan yang tumbang, seorang lainnya naik menggantikan.
__ADS_1
Dan orang kedua ini berhasil menumpas lawannya.
Yang itu berarti, skor mereka dalam keadaan berimbang. Empat lawan empat.
Waktu semakin merambat. Padepokan Bulan Bintang berada dalam keadaan terdesak. Kubu mereka hanya menyisakan satu andalan lagi. Sedangkan Rose Gold masih utuh dengan empat orang Pilih Tanding yang cukup tangguh diakui. Parahnya, dua andalah terbaik milik Bulan Bintang, tak akan pernah menunjukkan batang hidungnya, setelah satu jam lalu, kedua orang yang ternyata adalah kakak beradik itu menghubungi, bahwa mereka dan mobilnya mengalami kecelakaan yang cukup serius saat dalam perjalanan menuju tempat turnamen berlangsung.
BRUK!
Satu lainnya menyusul kekalahan.
Dan yang akan naik ke pentas berikutnya adalah petarung ketiga--satu yang tersisa dari Bulan Bintang. Dan jika ia pun kalah, maka Rose Gold akan keluar sebagai pemenangnya secara telak.
Di tengah perjuangan satu orang yang tersisa, Liz Nadiah, dengan kaku menghampiri Gus Ammar yang telah terlihat pasrah bersidekap tangan di bawah pentas arena. Namun tak ayal, wajah tua itu jelas menggambarkan rasa cemas tiada tara.
"Gus ...," panggilnya ragu.
"Gus Ammar menoleh ke arahnya. "Ya, Nak."
Sejenak Liz Nadiah terdiam takut, kemudian mulai meneguhkan dirinya, lalu berujar, "Aku mau bertarung!"
Ungkapan itu menghentak sisi lemah Gus Ammar yang lebih dari sekesar gusar. Ditatapnya wajah manis yang juga menatapnya serius. "Nadiah, apa yang kau katakan, Nak?" Dekap tangannya telah tercerai.
Liz Nadiah menguatkan tatapnya penuh keyakinan. "Izinkan aku bertarung menggantikan Yan dan Imran."
Gus Ammar terperanjat bukan kepalang. "Tapi, Nad ... itu terlalu berbahaya untukmu! Kau itu wan--"
__ADS_1
"Tidak ada peraturan tentang larangan menurunkan petarung wanita, 'kan, Gus?!" Liz Nadiah menyergah. Sorot matanya penuh keteguhan. "Aku janji aku akan baik-baik saja."