Liz Nadiah

Liz Nadiah
Lagi-Lagi Dia


__ADS_3

"Tidak baik menunda kebaikan. Sebaiknya kalian segerakan."


Andromeda tersenyum. "Pasti, Gus. Minggu ini aku akan membawa Nadiah terbang ke Kanada untuk menemui kedua orang tuaku," cetusnya.


Gus Ammar balas tersenyum. Ditepuknya sekilas pundak Andromeda yang dua puluh senti lebih tinggi darinya. "Gus hanya mampu membantu lewat do'a. Semoga Allah melancarkan perjalanan kalian."


"Amin. Terima kasih, Gus," Andromeda menyahut lembut. "Terima kasih juga karena Gus sudah menjadi orang tua untuk Nadiah."


"Sudah seharusnya, Nak." Pandangan Gus Ammar kini jatuh pada Liz Nadiah. "Dia pantas dibahagiakan," katanya dengan tatapan penuh kasih. "Lanjutkan tugas Gus untuk menjaganya, Andro. Bahagiakanlah dia. Bantu dia menemukan ibunya."


Andromeda turut menatap Liz Nadiah yang masih terdiam haru di sampingnya. "Apa pun akan aku lakukan untuk dia, Gus."


"Gus percaya padamu," kata pria tua itu lagi. "Nadiah ...."


Liz Nadiah sudah menatapnya dengan mata berkaca. "Iya, Gus."


"Berbahagialah, Nak."


Liz Nadiah mengangguk. "InsyaAllah, Gus. Gus jaga kesehatan. Aku pasti akan sering-sering datang ke sini menjenguk Gus dan lainnya."


"Aku tunggu, Nadiah. Jangan lupa aku belum mencoba kepal tinjumu." Satu orang lelaki muda yang sedari tadi berdiri di samping Gus Ammar berujar dengan senyumnya.


Liz Nadiah membalasnya dengan rekah senyum seraya menyeka tetesan kecil di pipinya--terharu. "Pasti, Kak."


"Baiklah, kalau begitu kami permisi," ucap Andromeda mulai dengan gerakan undur diri.


Gus Ammar mengangguk. "Berhati-hatilah kalian. Jangan lupa kabari kami saat pernikahan kalian nanti." Wajah tuanya terlihat berat melepas anak gadis yang meskipun bukan darah dagingnya itu untuk pergi. Jauh di lubuk hatinya, ia masih menginginkan Liz Nadiah lebih lama di Padepokan--menemaninya. Namun apa mau dikata, suaminya kelak yang akan merengkuh hak atas gadis itu sampai seterusnya.



Setelah melalui perjalanan panjang berjam-jam lamanya, akhirnya, Andromeda, Liz Nadiah dan juga Sean tentunya, telah sampai di kediamannya. Ketiganya kini berjalan menapaki teras luas rumah Andromeda tersebut.

__ADS_1


"Beristirahatlah, kau pasti lelah," ucap Andromeda saat tapak kakinya mencapai ambang pintu. Sean sudah bersiap menekan bell rumah itu untuk memanggil Magda--membukakan pintu.


Liz Nadiah mengangguk. "Ya."


Namun belum sempat bell itu ditekan Sean, pintu telah terbuka lebih dulu.


"Bagus." Sean mencebik karena cukup dibuat terkejut dengan itu.


"Ka-kalian sudah pulang?" tanya Magda kaku.


Sean dan Andromeda mengernyitkan wajah melihat ekspresi asisten rumah tangganya itu.


"Ada apa denganmu, Magda?" Sean mewakili bertanya.


Terlihat Magda mengerjap. Ekspresinya kini berubah seperti orang linglung. Mata Adromeda mulai terpicing menelisik wajah pembantunya itu. Pasti ada yang tidak beres, terkanya dalam hati. Sedangkan Liz Nadiah masih diam memperhatikan.


"Ngg ... itu ...." Telapak tangan Magda terangkat mengarah ke bagian dalam rumah.


Pergerakan lambat Magda memantik ketidaksabaran Andromeda. Tanpa menunggu lagi, pria itu menghambur masuk ke dalam rumahnya dengan langkah cepat.


"Andro ... kau datang?"


Seketika, suara dan pemiliknya itu membuat kelopak mata Andromeda membesar. Jennefit Moon mulai berdiri dari posisi santainya di depan ruangan televisi di bagian tengah rumah. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Andromeda dengan nada geram. Sepasang tangannya telah mengepal keras.


Dengan tidak tahu malunya, Jennefit Moon melangkah menyongsong Adromeda yang berdiri terpaku di tempatnya. Mini dress berlengan pendek yang menjuntai sejengkal di atas lututnya terlihat beringsut naik seiring geraknya.


Andromeda menahan pundak seksi itu dengan kedua telapak tangannya, ketika gadis itu hendak menghamburkan diri memeluknya. "Jangan pernah berharap!" geramnya.


Jennefit Moon menatapnya sedih. "Bukankah dulu kau bilang, hanya aku yang akan kaucintai?" tanyanya langsung saja.


"Iya jika kau tetap pada tempat dan batasanmu di sisiku saat itu, Jenn!" sergah Andromeda dengan nada tingginya. "Tapi kau pergi seenak jidatmu!" lanjutnya. "Dan sekarang, nikmati saja apa yang telah kaupilih, tanpa aku!! Kau mengerti?!"

__ADS_1


Jennefit Moon tersentak. Ini memang salahnya, ia mengakui. Tapi anggap saja dulu itu sebuah kekhilafan, bukankah begitu? Ia masih tetap yakin, jauh dalam hati Andromeda, masih tersimpan namanya, meskipun pria itu bilang, telah ada nama lain dalam hatinya kini.


Ia ingat, bagaimana dulu Andromeda begitu mencintainya. Ya, pasti sekarang masih tetap sama.


Namun keyakinannya mulai meleleh kembali, ketika matanya menatap sosok itu muncul dari ambang pintu.


"Apa wanita itu yang kau bilang telah menggantikanku?"


Andromeda mengikuti kemana wajah Jennefit Moon menghadap. "Ya. Dia!" jawabnya mantap.


Dan ya, Liz Nadiah sudah berdiri bersama Sean di sebelahnya. Gadis itu masih diam memandang gugup kekasihnya dan wanita itu.


"Biasa saja, Nona. Jangan kaku. Wanita itu masa lalunya Tuan Muda. Dia itu ulet bulu," bisik Sean seringan jarinya menjentik.


Liz Nadiah hanya menolehnya tipis dengan tatapan heran. Namun teralihkan ketika dilihatnya Andromeda kini berjalan ke arahnya. Kemudian dengan santainya pria itu merangkul pundaknya dari samping.


"Perkenalkan, Jenn. Dia Nadiah ... Liz Nadiah," ujar Andromeda dengan nada menekan. "Calon istriku!"


Jennefit membuang wajahnya tak suka.


Kenapa juga wanita itu ada di sini? tanya hatinya. Dan apa yang diharapkan Andromeda dari wanita sekolot itu?


"Sekarang kau bisa pergi. Karena sampai kapan pun ... kau tak akan pernah menjadi nyonya di rumah ini!"


Bersamaan, Jennefit Moon juga Liz Nadiah menatap tak percaya satu jurus ke arah Andromeda.


Apakah itu tidak terlalu menohok?


Meskipun wanita itu pernah menyakiti di masa lalu, tapi tidak seharusnya Andromeda berkata setajam itu, pikir Liz Nadiah.


Dengan perasaan geram, Jennefit Moon membungkuk--meraih tasnya yang tergeletak di atas sofa, lalu melangkah gegas meninggalkan tempat itu dengan raut kesal.

__ADS_1


Sejenak ia menghentikan langkahnya di dekat ketiga orang yang berjejer itu. Tatapan matanya menghunus tajam pada Liz Nadiah. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Lihat saja nanti!


Saat bersamaan, Sean mengangkat sebelah telapak tangannya. Melakukan gestur mengusir dengan tatapan mencemooh ke arah Jennefit. Terlihat bibirnya mengerucut berkedut-kedut, membentuk kata, "Hush, hush!"-


__ADS_2