Liz Nadiah

Liz Nadiah
Selamat Jalan


__ADS_3

"Dia sudah tidak ada, Nadiah."


Sekencang memukul cymbal drum, setara itulah suara degup keterkejutan Liz Nadiah. Ia menatap Andromeda yang juga menatapnya seraya menggeleng. "Tidak, kau pasti salah," tepisnya tak percaya. Matanya telah membayang berkaca-kaca.


"Jika aku salah, maka seorang dokter pasti benar."


Jawaban Andromeda membuat Liz Nadiah terhenyak. Buliran air matanya telah jatuh seiring kedipnya. Lalu dengan perlahan, ia mengambil pergelangan tangan Qinay, meraba sejenak titik nadinya untuk meyakinkan diri, dan berharap bahwa ucapan Andromeda benar-benar salah.


Namun dilihat dari tubuhnya yang tiba-tiba lunglai terduduk ambruk dengan tubuh bergetar dan pundak berguncang, semua bisa menilai tanpa butuh penjelasan darinya. Qinay ... benar-benar telah tiada. "Naaayyy," raungan Liz Nadiah penuh luka. Ia menunduk seraya terus menggenggam tangan Qinay yang terasa mulai menyejuk.


Bersamaan dengan itu, terlihat Petugas Pemadam Kebakaran baru saja tiba. Disusul dua mobil aparat di belakangnya. Mereka mulai bergerak cepat menjalankan tugasnya masing-masing.


Liz Nadiah tak peduli dengan sekitar. Ia masih merundukan tubuhnya memeluk Qinay, seolah menikmati detik-detik terakhirnya sebelum jasad gadis itu dikebumikan.


"Nad." Andromeda mengelus punggungnya lembut. "Sudah. Ikhlaskan." Ia mengangkat pundak Liz Nadiah pelan. Membantu wanita itu untuk bangkit dari posisinya. "Saya minta tolong kalian semua untuk membantu mengurus jenazahnya," pinta Andromeda seraya mengedar pandang pada warga yang berkerumun mengelilinginya--penuh harap.


Semua mengangguk tanda menyanggupi.



Wajah dan senyuman Qinay masih terus membayang di pelupuk mata juga pikiran Liz Nadiah. Air mata jua masih nampak enggan untuk berhenti menerobos keluar dari kelenjarnya.


Rasanya perpisahan terlalu cepat mengambil peran, dalam pertemuan yang bahkan belum membentuk tahun.


Tanah lahad menjadi penyekat dunia di antara Liz Nadiah dan Qinay.


Sepahit itu.


Selamat jalan, Qinay ....


Andromeda berjongkok di samping Liz Nadiah yang masih bergeming di depan segunduk tanah dengan bunga-bunga tabur di atasnya.


Qinay baru saja usai dikuburkan. Para pelayat sudah terlihat menjauh meninggalkan area, satu demi satu.


"Kita pulang."


Liz Nadiah menoleh ke samping kirinya di mana Andromeda berjongkok. Di belakangnya, Sean berdiri diam menyaksikan kegetiran itu dalam bisu.


"Pulang? Kemana aku harus pulang?" tanyanya dengan suara parau. Raut wajah rapuh itu, masih cukup melukiskan segala luka dan dukanya.


"Rumahku terlalu besar untukku tinggali seorang diri. Ada banyak kamar yang bisa kau pilih."

__ADS_1


Liz Nadiah menatapnya dengan wajah mengernyit. "Rumahmu?"


Dengan pasti Andromeda mengangguk. "Ya. Apa kau keberatan? Atau ... kau takut?"


Pandangan Liz Nadiah terlihat gamang. Dan Andromeda mengerti itu. "Setidaknya untuk sementara, sampai rumahmu selesai direnovasi nanti."


Belum sempat Liz Nadiah menjawab, suara dering ponsel Andromeda terdengar memecah irama. Andromeda menoleh ke belakangnya memandang Sean.


"Tirta Patih, Tuan Muda," ungkap Sean usai melihat nama yang terpampang di layar ponsel tuannya itu.


Diambil Andromeda benda itu dari tangan Sean. "Ya, Tirta."


"...."


"Baiklah. Kita bicara di rumahku. Nadiah akan aku bawa ke sana," sahut Andromeda seraya menoleh ke arah Liz Nadiah. Menatap wanita itu mantap, seolah perkataannya adalah jawaban telak dari pertanyaannya sebelumnya. "Oke." Kemudian menyerahkan kembali ponselnya pada Sean.


Liz Nadiah masih nampak bimbang. "Tapi Andro, acara tahlilan Qinay baru akan dimulai sore ini."


Andromeda tersenyum menepuk pundaknya sekilas. "Kau tenang saja, aku sudah menyerahkan sejumlah uang pada pengurus masjid di tempatmu, untuk mengurus acara tahlil itu sampai hari keempat puluh."


Bukankah itu terlalu mengejutkan? Pria itu ... bagaimana bisa? Liz Nadiah bahkan belum memikirkan sejauh itu. Ia menatap Andromeda dengan bingkai mata lebar dan mulut sedikit terbuka. "Kau ...."


"Tunggu, Andro!"


Langkah mereka terhenti. Andromeda menatapnya dengan sorot mata menuntut. Apa lagi? "Aku harus menemui Kakek Panca terlebih dahulu."


"Kakek Panca?" Nama itu cukup asing di telinga Andromeda.


"Iya, dia kakekku. Dia tinggal di gubuk kecil sebelah selatan rumahku. Selama ini aku yang merawatnya. Jadi jika aku pergi ... dia akan terlantar." Suara Liz Nadiah melemah. Terdengar seolah ada kebingungan di baliknya.


"Lalu?" Sebenarnya Andromeda cukup terkejut dengan ungkapan itu. Pasalnya, ia sama sekali tak mengetahui jika Liz Nadiah masih memiliki keluarga, selain Zack Shangra dan Muana--yang masih hidup.


Liz Nadiah terdiam. Cukup ragu mengutarakan keinginannya. Jika begini, maka jelas ia akan merepotkan Andromeda lebih banyak lagi, pikirnya gamang.


"Baiklah. Kita akan membawanya serta." Bukan Andromeda jika tak cukup tanggap dengan tatapan semacam itu. "Sean, kita jemput kakeknya Nadiah terlebih dahulu."


..........


Setelah melalui rangkaian penjemputan, juga menjawab beragam pertanyaan keingintahuan Kakek Panca dalam perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai Sean telah tiba di halaman rumah besar Andromeda di pusat kota.


Semua turun dari dalam mobil. Sean nampak membantu Liz Nadiah memapah Kakek Panca.

__ADS_1


"Sean, bawa kakek ke kamar tamu. Biarkan dia istirahat. Setelah itu, kau carikan perawat untuk membantu Nadiah mengurusnya selama di sini."


Liz Nadiah cukup terperangah dengan perintah itu. Ia menanggap cukup keberatan. "Andro, bukankah itu berlebihan. Aku masih sanggup merawatnya."


"Tidak, Nadiah. Kau akan sangat sibuk setelah ini." Tatapan Andromeda kembali pada Sean. Dan pria itu hanya mengangguk--cukup paham dengan keinginan tuannya.


Terdengar Liz Nadiah mendesah. Perasaan tak enak semakin menyelubung dirinya. Andromeda sudah cukup berbuat banyak untuknya. Dengan apa ia akan membalas?


"Jangan pikirkan apa pun. Aku tulus melakukan semuanya untukmu," ujar Andromeda setelah pintu kembar rumahnya itu menelan Sean dan Kakek Panca.


"Tapi, Andro ...."


"Sudahlah. Kita masuk. Tirta bisa menghancurkan rumahku jika kita biarkan menunggu terlalu lama," kata Andromeda lagi seraya menunjuk motor gede milik Tirta Patih yang sudah terparkir di sisi lain halaman rumahnya--entah sejak kapan.


Liz Nadiah hanya mengangguk. Rasanya masih terlalu kelu untuk membalas candaan pria itu.


Dan benar saja. Baru langkah mereka mencapai bagian tengah ruangan ....


"Aku menyesal tak membawa kekasihku dalam pertemuan ini," celetuk Tirta Patih yang sudah terduduk santai di salah satu bagian sofa ruangan itu, bersama segelas kopi buatan Magda di atas meja di hadapannya. "Kalian membuatku iri."


Andromeda hanya memasang wajah datar. Ia berjalan menghampiri sahabatnya itu diikuti Liz Nadiah di belakangnya. "Aku sarankan jangan coba-coba, Tirta."


"Kenapa?" tanya Tirta Patih ingin tahu.


Andromeda sudah mengambil posisi duduk berseberangan dengan Tirta. Dan Liz Nadiah di samping kirinya. "Aku khawatir tunanganmu akan terjerat pesonaku, lalu membuangmu."


Sebuah senyuman menggelitik terpulas di wajah Tirta Patih. "Dan aku yakin, kau bukan jenis pria yang mau menadah sisa."


Andromeda hanya tersenyum menanggapi. "Itu bisa saja berubah, jika kabar yang kaubawa saat ini, tak cukup membuatku, atau pun Nadiah tenang."


"Hahaha." Gelak Tirta Patih memenuhi ruangan. "Aku pastikan kau akan meringis jijik saat mencobanya! Karena senjataku sudah membuat lubangnya melonggar seperti karet terendam minyak tanah. Bukankah itu tak enak?"


Liz Nadiah terlihat tak nyaman dengan percakapan unfaedah kedua pria itu. Ia membuang perhatiannya pada ponsel yang kini digenggamnya.


Lagi-lagi, wajah Qinay dalam potret di galery ponsel tersebut, menambah robekan luka di hatinya yang masih sangat basah. Aku sangat merindukan teh mint buatanmu, Nay .... Jemarinya meraba layar yang menyala itu, halus.


Menangkap air mata itu, Andromeda menggerakan telapak tangan--meminta Tirta Patih menghentikan lelucon absurd-nya. "Nad, sepertinya kau butuh istirahat."


Dengan cepat Liz Nadiah menyapu air matanya. Mematikan layar ponselnya, lalu menggeleng. "Tidak. Aku tidak apa-apa," elaknya. "Jadi Tuan Tirta, kabar apa yang kaubawa untukku sebenarnya?"


...°°°°°°...

__ADS_1


__ADS_2